Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 41


__ADS_3

"Mas..." Cahaya membangunkan Arion di pagi hari itu, bahkan saat matahari belum benar-benar terbit.


"Apa sayang? Ini masih pagi banget. Kamu tidur lagi ya." Arion semakin mendekap tubuh Cahaya agar dia kembali tertidur.


"Mas, hari ini aku mau sarapan sama nasi goreng tapi Mas Rion yang buat."


Seketika Arion membuka kedua matanya. Dia selalu siap siaga saat Cahaya menginginkan sesuatu. "Sekarang?" Arion duduk lalu membuka perut Cahaya. Tidak terasa kehamilan Cahaya sudah masuk trimester kedua. Perutnya juga sudah terlihat buncit, perkembangannya sangat bagus.


Cahaya menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, aku buatin. Tapi masakan aku gak enak. Sejak kecil aku memang hidup susah tapi nenek gak pernah biarkan aku masak sendiri. Aku bisanya cuma masak telor sama mie." Arion turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.


Sambil menunggu Arion, Cahaya menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit.


Beberapa saat kemudian, setelah Arion keluar dari kamar mandi, dia tersenyum melihat Cahaya yang sedang bermain dengan perutnya. "Sayang..." Arion memeluk Cahaya dari belakang dan mengusap perutnya. "Sehat-sehat bumil cantik."


"Mas, ayo buatin nasi goreng."


Arion tertawa di belakang Cahaya. "Aku kira udah lupa."


"Ih, ayo." Cahaya menarik tangan Arion keluar dari kamar dan masuk ke dalam dapur. Di dapur sudah ada Bibi yang mulai memasak.


"Bibi mengerjakan yang lain saja, aku mau masak."


"Tuan mau masak? Biar saya saja, mau apa?"


"Bi, aku maunya Mas Rion yang masak," kata Cahaya.


"Oo, rupanya keinginan dedek di perut. Ini bumbu-bumbunya, nasi juga sudah matang. Saya ke depan dulu."


Setelah ART nya pergi, Arion mengambil beberapa bumbu dapur, tak ketinggalan video tutorial dari youtube.


Cahaya semakin tertawa melihat tingkah direktur utama yang ternyata tidak bisa memasak. "Aku kira Mas Rion bisa masak."


"Aku jagonya bersih-bersih. Kalau soal masak gak pernah. Nanti kalau jadinya gak enak gak usah dimakan, suruh bibi yang buat."


Cahaya tak menyahutinya. Dia terus menatap Arion yang sedang mengiris bawang putih lalu menyiapkan perlengkapan nasi goreng lainnya karena Arion akan memasak nasi goreng spesial.


"Sayang, kamu duduk saja nanti capek." Arion menggeser kursi agar Cahaya bisa duduk sambil melihatnya memasak.


"Mas, garamnya jangan banyak-banyak nanti asin." Cahaya tertawa berulang kali melihat Arion memasak. "Benar-benar gak ada bakat memasak. Besok-besok gak akan aku suruh lagi."


"Aya, bakatnya orang itu beda-beda. Kalau aku bakat masak, aku udah jadi chef. Dulu kerja di kafe aja bisanya jadi waitress. Pernah sekali suruh bantu goreng kentang jadi gosong." Tidak tahu bagaimana hasil masakannya sekarang yang terpenting dia sudah berusaha memberikan yang terbaik.

__ADS_1


"Gak tahu rasanya kayak gimana. Ini perdana, demi memenuhi keinginan si kecil." Setelah jadi, Arion meletakkan sepiring nasi goreng yang lengkap dengan telor dadar di depan Cahaya.


"Buat apa? Tumben sekali sudah sibuk di dapur," tanya Weni yang baru saja datang dari membeli sayuran.


"Ini, Aya mau nasi goreng tapi aku yang buat."


"Iya, Ma. Tiba-tiba pengen aja sejak aku bangun tidur," kata Cahaya.


Weni tersenyum lalu membereskan meja dapur yang berantakan akibat ulah Arion. "Mama dulu juga sukanya masakan Papa waktu hamil kamu, padahal masakannya gak enak tapi Mama justru suka."


Arion hanya tersenyum kaku saat Cahaya mencoba masakannya. Anehnya, Cahaya memakannya dengan lahap. Merasa penasaran, Arion mengambil sendok dan ikut mencobanya.


"Sayang, ini gak enak. Asin. Jangan dimakan nanti darah tinggi."


"Ini gak asin cuma kelebihan garam dikit."


"Sama aja."


"Mas, kan aku yang minta, harus dimakan."


Arion tersenyum lalu mengusap perut Cahaya. Semakin hari, dia semakin sayang dengan Cahaya dan juga calon buah hatinya.


"Oiya, aku sampai lupa belum kasih tahu kamu kalau produk baru kita sudah mendapat izin produksi. Nanti kamu atur semua biaya untuk pembelian bahan baku."


"Aya, biar Mama saja yang buatkan. Kamu jangan nyuruh-nyuruh Arion," sahut Mamanya yang mendengar perkataan Cahaya.


"Mama, aku maunya Mas Rion yang buat."


"Iya, gak papa. Aku malah senang buatin makanan untuk kamu. Tapi..." Arion menarik tangan Cahaya dan mengajaknya ke kamar. Setelah masuk ke dalam kamar, Arion mengunci pintu itu.


"Apa, Mas?"


"Aku jadi lapar, mau makan kamu."


"Makan aku?"


Arion memeluk Cahaya lalu membawanya ke atas ranjang. "Hanya butuh waktu 15 menit." Kemudian Arion mendekatkan wajahnya dan mereka menikmati momen pagi itu.


...***...


"Apa? Produk kita tidak mendapatkan izin karena produk kita sama dengan barang yang akan diproduksi AL Elektronika." Bayu melihat lagi beberapa berkas yang telah ditolak perizinannya. Dia justru dituduh meniru produk milik AL Elektronika. "Produk ini akan diproduksi di perusahaannya Cahaya. Shits! Siapa yang mencuri data aku. Apa suruhan Arion."


"Jadi ada yang mencuri data kamu. Arion! Pasti Arion menyuruh anak buahnya mencuri data itu. Kita gak bisa tinggal diam!" Tirta mengambil kunci mobilnya dan mengajak tiga anak buahnya menuju perusahaan Cahaya.

__ADS_1


"Papa, mau kemana?" Bayu juga mengikuti Papanya.


Beberapa saat kemudian dua mobil itu berhenti di depan perusahaan Cahaya. Mereka semua turun dan masuk secara paksa ke dalam perusahaan itu.


"Ada apa?" Baru saja Cahaya keluar dari lift, dia melihat mantan suami dan mantan mertuanya sudah berdiri dan membawa tiga anak buah.


"Kamu dendam sama Bayu hingga kamu bekerjasama dengan Arion untuk mencuri data perusahaan."


"Data perusahaan apa?" Cahaya tak mengerti dengan apa yang dimaksud.


"Barang yang akan kamu produksi itu milik Atlanta. Beraninya kamu mencuri dan mendahului kita." Tirta berbicara dengan keras sambil menuding Cahaya.


"Masih belum puas juga Anda menuduh saya. Saya tidak pernah mencuri data apapun dari perusahaan Anda!"


"Kamu lihat ini. Bagaimana mungkin ada produk yang sama persis seperti ini. Pengajuan izin produksi ditolak mentah-mentah karena kamu dan Arion sudah mendahuluinya."


"Pak, saya dan Arion tidak pernah mencuri!"


"Masih tidak mau mengaku! Saya akan tuntut kamu dan Arion!"


"Ada apa ini?" Arion datang dan berdiri di samping Cahaya. Dia mengeraskan rahangnya sambil menatap Tirta dan Bayu.


"Jadi, sekarang kamu juga memakai cara licik!"


"Licik? Sebenarnya apa mau kalian?"


"Kamu sudah mencuri data perusahaan kami! Aku akan tuntut kamu!"


Arion mengepalkan kedua tangannya. "Belum puas kalian semua menuduh Aya yang bukan-bukan."


Ketiga anak buah Tirta menghalangi saat Arion akan mendekat.


"Kalian tidak punya bukti apa-apa dan main tuduh begitu saja." Emosi Arion semakin terpancing. Dia mendorong ketiga anak buah itu hingga tersingkir. Tapi satu anak buah Tirta justru memukul Arion.


"Stop! Gak usah pakai kekerasan! Aku akan panggil Noval yang mencetuskan ide itu." kaya Cahaya. Dia memutar langkahnya tapi Tirta menghalanginya.


"Tidak usah mencari alasan!" Dengan sengaja Tirta mendorong Cahaya hingga terjatuh.


"Aya!"


💞💞💞


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2