Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 19


__ADS_3

"Tuh kan bener Rion."


Mendengar suara itu, Arion dan Nindi mendongak dan mereka sama-sama terkejut. "Loh, Mama," kata Arion dan Nindi secara bersamaan.


"Jadi kalian sudah saling kenal? Baguslah kalau begitu," kata Diah, Ibunya Nindi. Kemudian dia duduk di samping putrinya.


"Rencananya Mama memang mau kenalkan kalian berdua," kata Ida. Dia kini duduk di samping putranya.


"Astaga Ma, Nindi itu teman SMA aku. Kebetulan dia sekarang jadi sekretaris di kantor."


"Makin bagus ini," kata Ida dengan sumringah.


"Mama gak ada niat menjodohkan aku kan?" tanya Arion penuh selidik.


"Mama cuma mau memperkenalkan kalian saja. Urusan jodoh atau tidak ya lihat nanti."


"Jadi ini Mama angkat kamu Rion. Saya Nindi, Tante." Nindi mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Mamanya Arion. "Saya juga mau diadopsi jadi anak Tante."


Seketika Diah menjewer telinga putrinya. "Kamu masih punya Mama, minta diadopsi. Jadi anak mantu aja, kan sama."


"Wah, kalau itu saya tidak menolak selagi Rion mau." Nindi tertawa lalu dia kembali makan.


"Nindi, kamu kerjaannya makan aja."


"Nih, kalau Mama mau. Kapan lagi ditraktir sama bos."


Ida tertawa melihat tingkah laku Mama dan anak gadisnya itu. "Ternyata putri kamu niru kamu ya, jeng."


"Ya iya, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya."


"Jadi gimana Rion, kalian udah dekat. Gampang kan disatukan?" tanya Ida lagi.


"Iya kita dekat, tapi masalahnya Tante, hati Rion yang jauuuhhh sama hati saya," kata Nindi sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


"Mama, aku sama Nindi cuma sahabat, jangan dijodohkan gini. Nanti kalau aku udah menemukan jodoh, aku pasti akan langsung menikah."


"Lagi nunggu jandanya seseorang itu, Tante."


"Nindi! Jangan bicara soal ini sama Mama," kata Arion. Dia tidak ingin Mamanya tahu tentang Cahaya dulu.


"Oiya, Mama sempat dengar kalau kamu patah hati ditinggal nikah. Kalau sudah milik orang lain, jangan kamu harapkan lagi, Rion."


"Sama kayak Nindi, dia juga baru patah hati ditinggal pacarnya keluar kota. Udah gitu pacaran sama brownis yang baru lulus kuliah lagi."


"Mama, jangan diingatkan lagi. Jadi gak nafsu makan nih." Seketika Nindi menyudahi makannya. "Meskipun masih brownis dia bisa buat baper, gak kaku kayak Rion."


"Nindi, Mama gak melarang kamu sama siapa saja. Yang terpenting dia bisa membahagiakan kamu dan tanggung jawab. Kalau pacar kamu dulu itu kan cuma anak band yang gak jelas."


"Udahlah, gak usah bahas masa lalu. Malas banget."


"Ya, kalau begitu kalian sama-sama bersatu aja, biar bisa saling mengobati," sambung Ida.


Nindi kembali tertawa, suasana hatinya memang bisa berubah dengan cepat. "Mending kalau sembuh, kalau tambah stress saya gak tanggung jawab ya, Tante. Soalnya mode serius saya pas lagi kerja saja kalau diluar itu ya kayak gini."


"Rion, kamu sudah 27 tahun loh."


"Tidak apa-apa. Belum juga tua, Ma. Santai aja. Mama main-main dulu saja sama si kembar, atau kalau pengen cucu lagi, suruh Kak Sky buat adiknya si kembar." Kemudian Arion meneguk minuman dinginnya.


Ida mencubit kecil pipi Arion, dia juga tidak bisa memaksakan masalah hati. "Ya udah, sini makan sama Mama."


"Mama pesan sendiri saja ya."


"Ini banyak, kalian gak mungkin habis makan berdua." Ida menggeser sepiring spaghetti yang ada di depan Arion. Sesekali dia menyuapi Arion.


"Mama, aku bukan Ares yang Mama suapi."


"Rion, biasanya di rumah juga sering Mama suapi kalau pagi. Tangan kamu sibuk terus di atas laptop."

__ADS_1


"Iya, tapi ini di restoran."


Nindi semakin tertawa. "Enak dong Rion. Dulu kan kamu kekurangan kasih sayang, sekarang dapat kasih sayang berlimpah."


"Mama saja yang aku suapi." Arion mengambil alih garpu yang ada di tangan Mamanya. "Sebenarnya Mama ke sini mau ngapain?"


"Biasa, ngerumpi sama jeng Diah. Sama merencanakan pertemuan kalian tapi ternyata sudah bertemu gini. Kebetulan sekali kan. Pokoknya kalau kalian setuju menuju jenjang yang lebih serius tinggal bilang saja."


"Mama, jangan bahas soal ini lagi. Nanti kalau sudah ada calon pilihan aku, langsung aku kenalkan sama Mama."


Mereka terus mengobrol sambil menghabiskan makanan. Sampai tak terasa dua jam telah berlalu dan mereka memutuskan untuk pulang.


...***...


"Bayu, kenapa kamu jadikan Aya direktur di perusahaannya. Jangan sampai saham perusahaan itu gagal terjual," kata Tirta pada Bayu siang hari itu di kantornya.


"Papa, tapi ini permintaan Aya. Dia cuma ingin menempati posisi itu dan bekerja. Dia bosan di rumah. Aku juga sudah bilang kalau perusahaan itu sudah ditawar, dan sewaktu-waktu struktural bisa berubah sesuai keinginan direktur utama pemilik perusahaan yang baru nanti," jelas Bayu. Dia kembali menatap layar laptopnya.


"Makanya cepat punya anak biar Aya tidak bosan di rumah."


"Iya, kita lagi ikut program. Masih butuh proses."


"Kalau Aya tidak bisa punya keturunan, kamu bisa menikahi wanita lain, karena ahli waris sangat penting di keluarga kita," kata Tirta sambil berlalu.


Bayu tak menyahuti perkataan Papanya. Dia hanya mengepalkan satu tangannya di atas meja. Satu kecelakaan kecil membuatnya hampir cacat seumur hidup. Dia masih ingat kejadian hari itu. Malam hari setelah resepsi pernikahan, dia jatuh dari tangga dan membuat organ vitalnya terbentur dengan keras. Dia kira tidak ada efek setelah berobat ke rumah sakit, tapi ternyata ada trauma dalam yang membuat organ vitalnya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.


Bayu mengusap wajahnya yang kusut, mungkin merebut Cahaya dari Arion adalah kesalahan yang besar hingga dia mendapat hukuman seperti ini, tapi dia benar-benar tidak bisa melepaskan Cahaya. Selama empat tahun ini dia sudah melakukan berbagai pengobatan, tapi belum juga berhasil sembuh.


"Arrrgghhh!!!" Bayu memukul meja cukup keras. Hidup dibawah tekanan kedua orang tuanya membuatnya menjadi seseorang yang sangat egois.


Kalau Papa atau Mama tahu masalah ini, pasti posisi yang aku tempati sekarang akan diganti oleh Eric karena yang mereka inginkan adanya generasi penerus.


💞💞💞

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2