Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 42


__ADS_3

"Tidak usah mencari alasan!" Dengan sengaja Tirta mendorong Cahaya hingga terjatuh.


"Aya!" Arion menahan tubuh Cahaya lalu menuntunnya agar duduk di sofa. "Kamu gak papa?" Arion mengusap perut Cahaya.


Bayu baru menyadari dengan perut Cahaya yang sudah terlihat. Jadi Aya memang hamil.


"Kalian berani membuat keributan di perusahaan aku! Satpam, tahan mereka semua! Kita buktikan siapa yang benar! Cepat panggil Noval ke sini dan bawa semua berkas yang berhubungan dengan produk baru itu!" perintah Arion pada karyawannya.


"Bu Aya, minum dulu," salah satu karyawannya memberi Cahaya air mineral.


"Makasih." Cahaya segera meneguk air mineral itu yang dibantu Arion.


"Gak papa kan?" tanya Arion lagi.


Cahaya hanya terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu dengan kondisinya.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aya, kalian akan menanggung akibatnya." Kemudian Arion mengambil berkas yang dibawa Noval. "Noval, kamu dapat rancangan produk ini darimana?" tanya Arion.


"Saya sendiri yang merancang."


Seketika Arion berdiri. "Kalau kamu tidak mau mengaku, kamu akan saya laporkan polisi!"


"Iya, beberapa bulan yang lalu ada yang menawarkan rancangan produk itu pada saya. Saya lihat bagus dan saya ambil."


Arion membuang napas kasar. "Kenapa kamu ambil! Itu data curian dari perusahaan lain!" Seketika Arion merobek semua dokumen itu dan membuangnya. "Aku akan batalkan izin produksi itu. Aku gak akan ambil ide curian seperti ini."


"Siapa yang sudah menawarkan rancangan produk itu pada kamu?" tanya Bayu.


"Saya tidak tahu. Saya hanya bertransaksi lewat situs."


"Tunjukkan semua buktinya. Aku harus mencari siapa pencuri itu!"


Noval menyerahkan ponsel yang dia gunakan untuk bertransaksi, daripada dia terlibat masalah hukum.

__ADS_1


"Kalau sudah tidak ada keperluan, silakan keluar dari sini!" bentak Arion karena dia juga harus membawa Cahaya periksa ke rumah sakit.


Bayu masih saja beberapa kali menatap Cahaya yang terlihat pucat. Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia bisa memiliki anak, pasti sekarang dia masih bersama Cahaya.


"Baik! Kita akan selidiki masalah ini. Jika pencuri di perusahaan masih terlibat dengan kalian, kita akan tuntut kalian!" Kemudian Tirta, Bayu, dan juga anak buahnya keluar.


"Mereka tidak ada habisnya membuat masalah. Noval, nanti saya mau bicara dengan kamu."


Cahaya semakin berkeringat. Dia takut karena perutnya terasa tidak nyaman setelah terjatuh.


"Aya, kita ke rumah sakit sekarang." Arion membantu Cahaya berdiri tapi Cahaya semakin memegang perutnya. Akhirnya Arion menggendongnya dan membawanya keluar. "Dika, kamu bawa mobil saya ke RSIA."


"Iya, Pak." Dika membuka pintu mobil untuk Arion. Kemudian dia duduk di kursi pengemudi dan segera melajukan mobil itu menuju rumah sakit.


Arion terus memeluk Cahaya sambil mengusap perut Cahaya. "Semoga gak kenapa-napa."


Cahaya menganggukkan kepalanya. "Mas, kenapa mereka masih saja menuduh aku. Sebenarnya apa sih salah aku sama mereka?"


"Kamu gak salah apa-apa. Mereka yang salah. Kamu punya aku yang akan selalu melindungi kamu. Kamu tenang saja, jangan stress. Kasihan baby dalam perut."


"Biar nanti aku urus semua. Kamu tenang saja. Lebih baik aku rugi daripada dituduh pencuri. Nanti aku akan cari rancangan produk baru lagi. Di perusahaan pusat ada Haikal yang bisa diandalkan. Dia sedang melakukan eksperimen."


Cahaya semakin bersandar di dada Arion, sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Arion kembali mengendong Cahaya dan membawanya ke IGD.


"Dokter, istri saya baru saja terjatuh."


Dokter kandungan segera memeriksa kandungan Cahaya dengan melakukan USG dan sebagainya.


"Kandungannya baik-baik saja. Rasa mengencang di bagian perut karena terjadi guncangan. Harus istirahat penuh paling tidak selama dua hari."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Cahaya dan Arion akhirnya bernapas lega setelah tahu kandungannya baik-baik saja.

__ADS_1


"Aya, untuk sementara kamu tidak perlu ke kantor dulu. Biar Dika yang mengurus di perusahaan kamu."


Cahaya menganggukkan kepalanya. Setelah pemeriksaan selesai dan mendapat vitamin, Arion mengantar Cahaya terlebih dahulu ke rumah baru dia akan kembali ke kantor untuk mengurus semua masalah.


...***...


"Bayu cepat cari tahu siapa yang mencuri data pribadi kamu! Apa kamu meletakkan laptop kamu sembarangan!"


"Tidak, Pa."


"Cepat selesaikan masalah ini sebelum masalah semakin melebar!"


Bayu masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Dia menautkan kedua tangannya dan menopang dagunya. "Siapa yang berani buka laptop aku?"


Semakin hari hidupnya semakin kacau. Bukan hanya soal bisnis yang terus menghimpitnya tapi semakin lama, rasanya dia semakin kehilangan Cahaya. Rasa menyesal terus menghantui hidupnya.


Bayu memejamkan kedua matanya sesaat sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Di depan ruangan ini ada kamera cctv, dan laptop juga tidak pernah aku tinggal sembarangan. Satu-satunya orang yang bisa leluasa membuka laptop aku adalah Nissa. Tapi apa Nissa yang mengambil data itu?"


Bayu berdiri dan berniat mencari Nissa. Saat dia melewati ruangan Hendri, dia melihat Nissa yang sedang berdiri di dekat Hendri. Terlihat tangan Hendri mengusap perut Nissa. Apa maksudnya?


Bayu menghampiri mereka berdua yang membuat Nissa dan Hendri terkejut. "Apa yang kalian lakukan?"


"Mas." Nissa mendekati Bayu. "Tadi ada semut besar di baju aku, jadi Pak Hendri bantu mengambilnya."


"Maaf Pak, saya tidak bermaksud menyentuh Nissa," kata Hendri.


"Nissa, ikut aku ke ruangan."


Nissa menganggukkan kepalanya dan memberi kode pada Hendri.


"Ada masalah apa, Mas?" tanya Nissa sambil duduk di sofa.


"Ada yang mencuri data rahasia perusahaan dan menjualnya ke perusahaan Cahaya. Apa kamu tahu sesuatu tentang itu?"

__ADS_1


"Maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti tentang urusan perusahaan kamu. Aku kan cuma bagian accounting." Nissa bersandar di di bahu Bayu dan menuntun tangan Bayu agar mengusap perutnya. "Mas, udah siapin nama buat anak kita." Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum, kamu cari saja nama yang bagus," kata Bayu. Tiba-tiba saja dia merasa ragu dengan Nissa. Dia berkutat dengan pikirannya sendiri tak mendengarkan perkataan Nissa yang beberapa kali mengusulkan nama.


__ADS_2