
"Maaf Pak, saya tadi tidak sopan," kata Nindi sambil duduk di depan meja Arion.
"Tidak apa-apa, santai saja." Kemudian Arion meraih surat lamaran kerja dan membaca daftar riwayat hidup Nindi. "Kamu lulusan universitas di Surabaya, pengalaman kerja kamu juga bagus. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sini."
"Tidak interview dulu?"
"Tidak perlu, aku yakin kamu bisa langsung bekerja sebagai sekretaris karena kualifikasi kamu bagus dan aku juga sudah butuh sekali sekretaris setelah satu bagian ini kosong."
"Baik Pak, terima kasih." Nindi tersenyum. Dia sangat bahagia akhirnya bisa menjadi sekretaris, ditambah bosnya adalah Arion. Rasanya semakin semangat untuk bekerja.
"Iya sama-sama. Kamu panggi Pak saat bekerja saja. Kalau di luar kantor panggil nama saja, kita teman."
Nindi mengangguk sambil tersenyum. "Hmm, anak-anak Pak Arion sudah umur berapa? Mereka aktif sekali, lucu lagi."
Arion justru tertawa, ternyata Nindi percaya dengan keusilan si kembar. "Iya, usilnya mereka meniru kedua orang tuanya."
"Pak Arion dulu usil? Kayaknya, hmm..."
"Bukan aku. Mereka anak Kakak aku. Kadang bermain di sini, soalnya sekolah mereka dekat dengan kantor ini. Mereka memang suka usil, tapi mereka gak nakal kok. Ya, usil tapi menggemaskan." Kemudian Arion menutup laptopnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kirain Pak Arion sudah menikah dan punya anak."
Arion hanya menggelengkan kepalanya.
"Dulu, saya dengar dari teman-teman kalau Pak Arion diadopsi sama keluarga kaya raya dan ternyata benar. Kadang masih tidak percaya Pak Arion menjadi direktur utama di perusahaan sebesar ini."
"Iya, takdir membawa aku bertemu dengan orang-orang baik. Gimana kabar Aya?" tanya Arion.
Nindi seketika tertawa, sampai bertahun-tahun ternyata Arion masih belum bisa move on dari Cahaya. "Pak Arion masih belum bisa move on? Teman-teman Pak Arion yang masih lajang itu masih banyak, termasuk saya." Nindi semakin tertawa kecil. Awalnya malu-malu tapi setelah berbicara beberapa saat dengan Arion dia kembali ke setelan awal.
"Udah move on tapi aku masih ingat sama dia."
"Itu tandanya belum move on, Pak. Saya juga tidak pernah bertemu dengan Aya, kan saya kuliah di luar kota terus lanjut bekerja juga di sana. Baru beberapa bulan ini saya kembali ke kota ini. Tapi kadang kita masih sering chat an sih. Sampai sekarang juga Aya masih belum punya anak. Gini aja, gimana kalau Pak Arion ikut reunian?"
__ADS_1
"Reuni?"
"Iya, reuni tahun angkatan kita akan diadakan minggu ini. Nanti saya ajak Aya biar datang."
"Tapi aku bukan lulusan sana."
"Astaga, Pak Arion. Meskipun bukan lulusan SMA kita tapi Pak Arion hampir tiga tahun satu kelas dengan kita. Tidak apa-apa. Teman-teman kita pasti terkejut melihat perubahan Pak Arion yang signifikan seperti ini."
Arion terdiam dan berpikir. "Tapi aku belum punya pasangan, apa jadinya kalau aku bertemu Aya dan Bayu."
"Kan ada saya, Pak. Selain bisa jadi sekretaris, saya juga bisa jadi pasangan," goda Nindi.
Arion tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Kamu dari dulu tidak pernah berubah ya. Ya udah aku mau pulang, takut si kembar buat ulah lagi. Soal reuni aku pikir-pikir dulu."
Nindi menganggukkan kepalanya.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Arion.
Pokoknya aku harus berhasil ajak Aya ikut ke reunian itu.
...***...
Sore hari itu, Cahaya duduk di kamarnya sambil membaca chat dari Nindi. "Reuni? Apa Bayu izinin aku pergi?" Lalu dia menatap pantulan dirinya di cermin, sudah empat tahun menikah dengan Bayu, bukan kebahagiaan yang dia dapat tapi semakin hari batinnya semakin tersiksa. Apalagi sejak tinggal di rumah Bayu, bersama kedua orang tua Bayu, dia seolah sendiri dan tidak ada kebebasan.
"Kenapa melamun?" tanya Bayu sambil mencium singkat pipi Cahaya. Dia baru saja pulang dari kantor.
"Mas, udah pulang?" Cahaya berdiri, lalu membantu Bayu melepas jasnya. Meskipun dia memang setengah hati menjalani rumah tangganya bersama Bayu, tapi dia melakukan semua tugasnya sebagai seorang istri. "Minggu ini ada reuni SMA kita. Aku boleh ikut gak? Soalnya Nindi juga sudah pulang. Aku kangen sama Nindi."
"Minggu ini? Kebetulan aku juga tidak ada acara. Kamu datang sama aku saja." Kemudian Bayu masuk ke dalam kamar mandi.
Cahaya hanya terdiam. Begitulah Bayu terlalu posesif dengannya. Dia tidak dibiarkan kemanapun sendiri.
Kalau aku seperti ini terus lama-lama aku bisa stress. Aku harus cari cara agar aku bisa bekerja.
__ADS_1
Cahaya mencoba berpikir dan mencari celah sambil menyiapkan baju ganti untuk Bayu.
Beberapa saat kemudian Bayu keluar dari kamar mandi lalu memakai bajunya.
"Mas, aku ingin menempati posisi direktur di perusahaan Papa," kata Cahaya yang membuat Bayu seketika menatapnya.
"Buat apa? Perusahaan Papa kamu sudah aku tawarkan di pasar modal dan sudah ada yang menawarnya."
"Mas, waktu perusahaan Papa diakuisisi sama perusahaan kamu, struktural tetap dan untuk sementara posisi direktur dipegang sama assistant Papa sejak Papa meninggal."
"Iya, tapi ini diakuisisi perusahaan lain. Kamu gak mungkin bisa menjabat jadi direktur. Aku saja masih belum tahu siapa direktur utama yang akan membeli perusahaan Papa kamu."
Cahaya duduk di tepi ranjang sambil mengalihkan pandangannya. "Tidak apa-apa aku bisa bekerja di sana, setidaknya aku masih bekerja di perusahaan Papa." Dada Cahaya kembali sesak mengingat semuanya. "Kamu sudah mengambil semuanya. Perusahaan Papa yang katanya kamu bantu, tapi semakin bangkrut dan harus kehilangan saham 60 persen yang membuat Papa kena serangan jantung. Sekarang, perusahaan kamu butuh modal besar, kamu justru menjual perusahaan itu. Kamu egois, sama sekali gak pernah mikirin aku."
"Aya." Bayu duduk di sebelah Cahaya dan memeluk pinggangnya. "Justru aku gak mau kamu sibuk dengan dunia bisnis. Nanti kamu kecapekan."
"Kamu terlalu posesif sama aku. Kalau aku kayak gini terus aku bisa stress." Kemudian Cahaya berdiri dan keluar dari kamar karena sudah waktunya menyiapkan makan malam.
Saat makan malam, seperti biasa Cahaya mengambilkan nasi untuk Bayu lalu untuk dirinya sendiri. Dia juga tidak banyak bicara.
"Aya, kamu ikut Mama ke pengobatan alternatif ya. Siapa tahu, kamu bisa hamil."
Rasanya Cahaya sudah muak mendengar hal itu. Mereka menuntutnya untuk hamil, sedangkan itu tidak mungkin.
"Mama, biar Aya sama aku saja. Kita juga sudah melakukan program pada dokter kandungan yang hebat," kata Bayu memotong pembicaraan.
"Kenapa? Aya tidak mau mencoba alternatif lain? Aya, pernikahan kamu sudah empat tahun, Mama sudah ingin cucu dari kamu."
Cahaya hanya terdiam, ini semua bukan salahnya. Mengapa selalu dia yang pojokkan tentang masalah kehamilan oleh keluarga Bayu.
💞💞💞
Like dan komen ya...
__ADS_1