
"Sayang, kenapa kamu ke sini?" tanya Arion saat melihat Cahaya masuk ke dalam ruangannya.
Meskipun Cahaya sudah dilarang Arion ke rumah sakit tapi dia masih tetap kekeh ke rumah sakit, bahkan Sky saja masih berada di tempat itu.
"Aku khawatir banget sama Mas Rion."
"Kamu naik apa ke sini?" Perlahan Arion duduk dan mengusap perut Cahaya.
"Naik grab car, Mas. Aku gak papa." Meski Cahaya bilang tidak apa-apa, tapi perutnya kini terasa tidak enak lagi.
"Kenapa?" Melihat ekspresi Cahaya, Arion tahu pasti ada yang terasa tidak enak di tubuh Cahaya.
"Perut aku gak enak lagi."
"Tuh kan, apa aku bilang! Jangan ke sini. Kamu juga harus bisa jaga kondisi tubuh kamu, jangan keras kepala. Di sini ada dokter dan juga suster, kamu gak perlu khawatir. Kalau terjadi apa-apa sama kandungan kamu gimana?"
Baru kali ini Cahaya mendengar suara keras Arion. Dia sangat khawatir dengan Arion, karena saat melihat Arion sakit, dia takut penyakit Arion kambuh lagi. Dia tidak ingin Arion menderita lagi seperti dulu. "Maaf, aku khawatir banget sama kamu. Aku takut kalau penyakit Mas Rion kambuh lagi." Cahaya menundukkan pandangannya dengan air mata yang sudah membendung.
Arion menarik napas panjang, tanpa sadar dia sudah membentak Cahaya. Dia bicara seperti itu karena dia sangat khawatir dengan kondisi kandungan Cahaya. "Sayang, maaf. Aku gak bermaksud bentak kamu." Arion meraih kepala Cahaya dan mendekapnya. "Maaf ya, aku sudah buat kamu khawatir seperti ini. Aku gak papa, hanya kecapekan dan asam lambung naik."
Sky tersenyum melihat pasangan manis itu, kemudian dia keluar dan membiarkan mereka berdua.
"Kamu tidur saja di sini biar enakan. Nanti aku akan minta sama Dokter agar aku bisa pulang."
Cahaya menyentuh kening Arion yang memang sudah tidak demam lagi. "Mas Rion mending turuti apa kata Dokter. Kalau memang suruh rawat inap ya tidak apa-apa."
"Kalau aku dirawat, berarti kamu harus pulang."
"Mas, kalau di rumah aku semakin khawatir."
"Itu berarti aku harus pulang." Arion meraih tubuh Cahaya agar tidur di sebelahnya. Kemudian dia memeluknya erat. "Memang paling nyaman tidur sama kamu. Aku janji, mulai sekarang aku akan jaga kesehatan aku. Aku gak mau membuat kamu khawatir lagi. Kamu dan calon buah hati kita butuh aku." Kemudian satu tangan Arion mengusap perut Cahaya. "Gak sabar nunggu dia lahir ke dunia ini."
Cahaya mengangguk pelan. Rasa tidak nyaman di perutnya berangsur menghilang. Berada di dekapan Arion membuatnya merasa nyaman. Dia akhirnya tertidur, begitu juga dengan Arion.
Beberapa saat kemudian, Ida masuk ke dalam ruangan Arion bersama suaminya.
"Pa, lihat mereka berdua. Tidur sambil pelukan. Manis sekali."
__ADS_1
"Biarkan saja, Ma. Papa dengar kemarin Cahaya juga habis jatuh karena didorong Tirta. Mereka membuat keributan lagi di perusahaan Cahaya."
"Mereka kok gak cerita sama Mama."
"Mungkin belum sempat, karena Rion kemarin sangat sibuk. Papa juga baru diberi tahu Sky. Kalau gitu Papa ke kantor Rion dulu, Papa mau selesaikan semua masalah Rion. Mama di sini saja jaga mereka."
"Iya Pa. Rion selalu saja berusaha kuat, tapi badannya tidak sanggup."
"Iya, biarkan Arion beristirahat beberapa hari, Papa akan urus pekerjaan Rion. Papa berangkat dulu." Setelah mencium kening istrinya, Alex keluar dari ruangan Arion.
Ida masih saja tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Terlihat sangat nyaman dan damai.
...***...
Saat hari mulai siang, Cahaya membuka kedua matanya. Dia melihat Arion yang masih tertidur sambil mendekapnya.
Merasakan pergerakan Cahaya, Arion juga terbangun. "Sayang, udah bangun? Tadi pagi kamu sudah makan apa belum?"
"Aku sudah makan roti sama minum susu. Mas Rion sudah enakan kan? Sekarang makan ya, aku suapi."
Saat Cahaya akan turun, Arion masih saja menahan tubuh Cahaya. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Cahaya.
Mendengar suara Mamanya seketika Arion menjauhkan dirinya sedangkan Cahaya menutup wajahnya dengan selimut karena merasa malu.
"Mama, sejak kapan ada di sini?" Arion memutar tubuhnya dan melihat Mamanya yang sedang duduk di sofa.
"Sejak tadi pagi, gantiin Sky. Sky buru-buru ke kantor soalnya ada meeting."
"Mas, aku malu," bisik Cahaya.
"Udah gak papa. Kamu turun aja, pelan-pelan." Arion bangun lalu membantu Cahaya turun dari brankar.
"Aya, katanya kamu habis jatuh? Gak papa kan?" tanya Ida saat Cahaya mendekat.
"Sudah tidak apa-apa, Ma."
"Udah aku suruh istirahat di rumah, tapi Aya masih kekeh saja ke sini," sahut Arion.
__ADS_1
"Ya gak papa, kalau di rumah pasti semakin kepikiran. Kamu duduk sini." Ida menarik tangan Cahaya agar duduk di sebelahnya. "Nih, Mama ada salad buah. Dikirim pakai gojek barusan sama Shena. Soalnya tadi Mama gak tahu kalau kamu ada di sini." Ida membuka kotak salad itu.
"Seger banget. Makasih, Ma."
"Iya. Biar Mama yang suapi Rion. Kamu makan saja. Kebetulan barusan suster sudah antar makanan."
Cahaya menganggukkan kepalanya lalu dia melahap salad buah yang masih segar itu.
"Rion, kamu makan. Mama suapi."
"Mama, aku bisa..."
"Rion..."
"Iya, Ma." Arion akhirnya menerima suapan dari Mamanya. Meskipun Arion diadopsi ketika dia sudah berumur 18 tahun, tapi kasih sayang Mamanya sangat besar, sudah seperti anak kandung sendiri.
"Rion, kamu juga harus jaga kesehatan kamu karena sekarang ada Aya dan calon anak kamu yang harus kamu jaga."
"Iya, Ma. Akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan."
"Untuk beberapa hari ini biar Papa yang menggantikan kamu. Kamu istirahat saja di rumah."
"Tapi, Ma..."
"Rion, Mama tahu kamu berjuang keras hingga sampai di titik ini, tapi ingat, kamu juga harus menikmatinya. Jangan memikirkan masalah kantor dulu, kalau kamu sudah sehat baru kamu lanjut bekerja."
"Iya, Ma. Aya, kamu bawa HP aku?" tanya Arion.
"Ini, Mas." Cahaya mengambil ponsel Arion yang berada di dalam tasnya lalu memberikannya.
Arion kini melihat ponselnya sambil menerima suapan dari Mamanya.
"Baru juga dibilangi jangan memikirkan pekerjaan tapi sekarang sudah buka e-mail."
Arion hanya tertawa. Dia tidak bisa melepaskan pekerjaannya begitu saja.
💞💞💞
__ADS_1
Like dan komen ya...