
Arion menghentikan motornya di puncak sebuah bukit. Kemudian Cahaya turun dan tersenyum menatap pemandangan yang indah dari atas sana. Udara pagi itu juga sangat sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa rambutnya.
"Aya, maaf aku cuma bisa ajak kamu ke sini." Arion menggenggam tangan Cahaya lalu mengajaknya duduk di rerumputan sambil menatap pemandangan kota dari atas bukit itu.
"Gak papa. Aku malah gak pernah ke sini."
"Sebenarnya tempat ini lebih indah kalau malam hari. Tapi aku gak mungkin ajak kamu malam-malam ke sini."
"Ini juga indah."
Kemudian Arion mengambil kalung yang berada di sakunya dan dipakaikan ke leher Cahaya. "Selamat ulang tahun, Aya."
Cahaya tersenyum menatap kalung dengan liontin bintang yang berwarna biru muda itu. "Cantik banget."
"Maaf, aku cuma bisa kasih kamu ini."
"Rion, ini cantik banget." Cahaya memegang liontin itu dan tersenyum menatapnya. "Ini warna rasi bintang Orion."
"Iya." Satu tangan Arion merengkuh pinggang Cahaya. "Nanti kalau aku udah sukses, aku ganti dengan kalung yang asli."
Cahaya menyandarkan kepalanya di bahu Arion. "Aku gak perlu barang yang mahal, yang penting kamu memberinya dengan cinta."
Arion justru tertawa mendengar kalimat Cahaya. "Yakin kamu bisa bertahan dengan aku, jika yang aku punya hanya cinta?"
"Hem?" Cahaya mendongak menatap Arion. "Gimana ya?"
Arion membalas tatapan Cahaya. Kedua tangannya semakin memeluk Cahaya. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Cahaya. Ciuman pertamanya yang mungkin sangat kaku. Dia lakukan seperti yang pernah dia lihat di film romantis.
Begitu juga dengan Cahaya. Dia hanya terdiam dan tak tahu bagaimana cara membalasnya.
Arion tertawa saat Cahaya justru menggigit kecil bibir bawahnya.
"Rion, aku gak bisa." Cahaya menjauhkan dirinya dan mencubit pinggang Arion. Pipinya semakin bersemu merah karena malu.
"Iya, i know. Sorry ya. Belum saatnya kita ciuman. Suatu saat nanti saja, kalau kita memang bersatu dalam ikatan yang sah." Arion kembali merengkuh bahu Cahaya dan mengusap lengannya.
"Apa kita bisa bersatu?" Cahaya memegang tangan Arion dan memainkan jemarinya karena dia saja dijodohkan dengan Bayu. Entah bagaimana kisah hidupnya selanjutnya.
"Kalau jodoh gak akan kemana. Seberat apapun rintangan kita, kita pasti akan bersatu."
"Kamu juga harus rajin check up. Jangan sampai stadiumnya bertambah."
__ADS_1
"Iya, aku pasti akan berjuang untuk sembuh."
Mereka menikmati momen berdua hingga siang hari. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang meskipun rasanya Cahaya enggan untuk pulang ke rumah.
"Aya, aku harus kerja. Maaf ya. Kapan-kapan kita jalan lagi." Arion memakai helmnya lalu naik ke atas motornya.
"Iya, gak papa. Kamu beneran nanti malam gak bisa datang?"
"Iya, maaf. Kebetulan aku juga ada kerjaan."
Cahaya masih saja menatap Arion. Dia belum juga naik ke boncengan Arion.
Arion melepas lagi helmnya lalu di memeluk Cahaya. "Ada apa? Seperti ada beban berat yang kamu pikirkan?"
Mendengar pertanyaan itu, hati Cahaya menjadi berkabut. Tapi dia masih belum menceritakan masalah perjodohannya dengan Bayu. Cahaya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Arion melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Cahaya. "Aya, jangan sedih. Ini hari ulang tahun kamu."
"Apa kita bisa jalan lagi?" tanya Cahaya.
"Bisa. Ya udah, aku antar pulang."
Akhirnya Cahaya mengangguk dan dia naik ke boncengan Arion. Beberapa saat kemudian motor Arion mulai melaju. Cahaya semakin memeluk Arion dengan erat, seolah dia benar-benar takut kehilangan Arion.
Sore hari itu, Arion sangat sibuk. Dia mengangkat makanan yang telah jadi dan dimasukkannya ke dalam mobil box catering. Setelah selesai, dia bersiap menjadi waitress dengan memakai kemeja putih dan berompi hitam.
Setelah itu Arion dan waitress lainnya segera berangkat. Awalnya Arion semangat untuk bekerja, tapi setelah mobil itu ternyata masuk ke dalam halaman rumah Cahaya, hatinya menjadi gundah.
"Jadi di sini acaranya? Ini rumah Aya," kata Arion.
"Aya, cewek lo?"
Arion menganggukkan kepalanya lalu dia memakai masker agar tidak ada yang mengenalnya karena pasti semua teman satu kelasnya hadir di acara itu. Dia juga tidak mau Cahaya tahu jika dia menjadi waitress di acaranya.
"Cewek lo tajir juga." Faris menepuk bahu Arion lalu turun dari mobil.
Semua waitress segera menata hidangan di serving dish yang sudah berjajar di atas meja prasmanan. Dia masih belum melihat Cahaya, tamu undangan juga belum ada yang datang.
Setelah semua siap. Arion berdiri di dekat meja minuman. Satu per satu teman-temannya mulai datang. Arion kini memakai topinya agar tidak ada yang mengenalinya.
Aya, kamu pasti malu punya pacar pelayan kayak gini.
__ADS_1
Arion menuangkan minuman lalu menatanya rapi di atas meja saat beberapa temannya datang dan langsung mengambil minuman.
Dia kini melihat Cahaya yang sudah keluar dan bersalaman dengan teman-temannya. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna gold.
Aya, selamat ulang tahun ya. Semoga kamu selalu bahagia.
"Mas, tolong ambilkan es krim itu," pinta Putri salah satu teman sekelas Arion.
Arion hanya menganggukkan kepalanya lalu mengambil es krim dan diberikan pada Putri.
"Makasih, Mas."
"Ih, Masnya kayaknya ganteng. Kok gak ada suaranya, yang lain gak pakai topi loh," kata Nindi yang ikut berdiri di samping Putri. Dia juga tidak mengira jika waitress itu adalah Arion.
Tiba-tiba Putri membuka topi Arion. Mereka sangat terkejut saat melihat Arion yang menjadi waitress.
"Rion!" ucap Nindi dan Putri secara bersamaan.
"Loh, kok lo jadi waitress di sini?" Bayu juga mendekat dan seolah ingin mengejek Arion.
Arion hanya terdiam. Bukan dirinya yang dia pikirkan, tapi Cahaya. Bagaimana perasaan Cahaya jika tahu kalau dia menjadi waitress di acara ulang tahunnya. Pasti Cahaya akan malu. Lalu dia kembali memakai topinya.
"Rion, harusnya lo nemenin Aya malam ini."
Arion merasa ucapan Bayu adalah sebuah sindiran untuknya. Bayu yang malam itu berpenampilan sangat sempurna bahkan warna blazernya sama dengan gaun Cahaya.
"Pinjamin blazer lo biar Rion jadi pasangan Aya," kata Putri.
Arion hanya terdiam. Dia tidak mau semakin memancing kegaduhan. Tapi ternyata suara mereka didengar Cahaya.
Cahaya kini mendekati Arion dan membuka masker Arion. "Rion..." Dia menatap Arion dengan kedua mata nanarnya.
"Maaf Aya, aku gak bermaksud buat kamu malu. Aku gak tahu kalau ternyata aku jadi waitress di sini. Aku..." Arion tidak tahu harus berkata apa lagi.
Cahaya tak berkata apapun. Dia semakin menatap Arion. "Gak papa. Terima kasih sudah datang di acara ulang tahun aku."
Kalimat Cahaya membuat teman-temannya bersorak.
Arion hanya tersenyum kecil.
"Baguslah, kalau kamu jadi waitress di acara ini. Biar kamu tahu perbedaan kamu dan Aya."
__ADS_1
💞💞💞
Like dan komen ya....