
Sesuai janjinya, Bayu akan ke perusahaan Cahaya untuk menjemputnya makan siang. Dia kini masuk lift bersamaan dengan Nissa.
Nissa tersenyum pada Bayu dan berdiri di sampingnya. Kebetulan sekali, di dalam lift itu hanya ada mereka berdua.
"Mau kemana, Pak?" tanya Nissa.
"Ke kantor istri saya untuk makan siang."
"Oo, sweet banget."
"Nissa, maaf semalam. Kamu lupakan saja tentang semalam."
"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Saya mengerti." Nissa mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Bayu. "Tapi kalau Pak Bayu mau lagi aku selalu wellcome."
Baru bisikan saja membuat tubuh Bayu meremang, buru-buru dia mengusir pikiran kotornya. Kemudian dia berjalan keluar dari lift setelah pintu lift itu terbuka. Dia menuju tempat parkir lalu masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian mobil itu melaju menuju perusahaan Cahaya. Setelah sampai, dia langsung masuk ke dalam perusahaan itu karena dulunya dia juga sering keluar masuk perusahaan, jadi sekarang dia juga bebas ke ruangan Cahaya.
Saat dia membuka pintu yang setengah tertutup itu, dia terkejut melihat Arion yang sedang tertawa bersama Cahaya.
"Rion!"
Seketika Arion dan Cahaya menatap Bayu.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bayu. Emosinya sudah tersulut. Dia kini menarik tangan Cahaya agar berdiri.
"Aku direktur utama di sini."
"Jadi kamu putranya Pak Alex?"
"Iya," jawab Arion singkat.
"Aya, kenapa kamu gak cerita kalau Rion dirut di sini?"
"Aku..." Cahaya tidak tahu harus bicara apa.
"Kamu sengaja sembunyikan ini dari aku agar kamu bisa dekat dengan dia!"
"Bayu, jangan kasar sama Aya. Aku sama Aya hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih."
Bayu mengeraskan rahang bawahnya. Dia tidak rela jika Cahaya dekat lagi dengan Arion. "Aku gak percaya di antara kalian tidak terjadi apa-apa. Aya, mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi ke kantor!"
"Tapi, Mas, aku beneran gak ada apa-apa sama Rion."
__ADS_1
"Aku gak percaya sama kamu! Sekarang ikut aku pulang!" Bayu masih menahan pergelangan tangan Cahaya. Dia memasukkan ponsel Cahaya ke dalam tas lalu membawa tasnya.
"Bayu, biarkan Aya bekerja di kantor. Kamu mau mengekang Aya di rumah kamu," kata Arion.
"Rion, Aya istri aku. Aku berhak melakukan apa saja sama dia."
Arion menatap tajam Bayu. Dia mengepalkan tangannya. "Dia memang istri kamu, tapi bukan berarti kamu bisa mengekang hidup Aya."
"Jangan pernah mencampuri rumah tangga aku! Aku tahu sampai sekarang kamu masih mengharapkan Aya."
"Bayu, asal kamu tahu! Aku sudah merelakan Aya sejak kamu merebutnya dari aku."
Bayu membuang napas kasar lalu menarik tangan Cahaya keluar dari ruangannya. Bayu membawa Cahaya menuju tempat parkir dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Bisa gak kamu gak kasar sama aku!" Cahaya mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit dan memerah.
"Mulai sekarang kamu jangan lagi ke kantor."
"Kenapa kamu terus melarang aku seperti ini?"
"Karena sekarang perusahaan itu milik Rion. Kalau memang Rion sudah move on dari kamu, pasti sekarang dia sudah berkeluarga." Kemudian Bayu mulai melajukan mobilnya. "Sampai sekarang Rion masih sendiri, itu berarti dia masih mengharapkan kamu."
"Oke, kalau memang kamu melarang aku ke kantor, gak papa. Terus bunuh aku saja secara perlahan, atau masukkan aku ke rumah sakit jiwa sekalian. Rumah kamu itu kayak penjara buat aku." Kemudian Cahaya memalingkan pandangannya dari Bayu. Dia tidak lagi menangis, karena hatinya sudah terbiasa terluka.
Cahaya sudah tak menimpali perdebatan itu. Dia hanya menatap kosong ramainya kendaraan di jalan.
...***...
"Loh, Aya kemana? Eh, maksudnya Bu Aya."
"Sudah pergi sama Bayu." Arion mengusap wajahnya. Dia tidak tahu bagaimana nasib Cahaya saat ini.
"Mengapa Pak Rion kusut gitu? Cemburu?" Nindi membuka bungkusan makanannya. Dia makan terlebih dahulu.
Arion hanya menatap Nindi yang makan dengan lahap. "Aku tidak cemburu. Tapi Bayu marah sama Aya. Dia mengira aku main belakang sama Aya."
"Bayu itu emosi terus. Bisa ya, Aya bertahan sama Bayu. Kalau aku, udah aku tinggal tuh Bayu."
"Aya itu tipikal penurut. Dia tidak bisa mengekspresikan keinginannya seperti kamu. Aku juga gak bisa terlalu jauh mencampuri masalah rumah tangga mereka. Tapi sangat disayangkan kalau Aya tidak boleh ke kantor lagi."
Nindi tak menyahutinya. Dia sedang fokus menghabiskan makanannya.
"Kamu kerjaannya makan aja."
__ADS_1
"Laper, Pak. Nurutin perintah Pak Rion itu menguras tenaga banget. Pak Rion mending makan dulu, biar pikiran tenang."
Arion mendekatkan makanannya dan mulai makan.
"Bayu itu takut Pak Rion merebut Aya darinya karena Pak Rion sampai sekarang masih jomblo."
Arion memikirkan perkataan Nindi. Iya, sampai sekarang dia masih saja sendiri. Apa memang sudah saatnya menentukan pasangan agar Cahaya juga tidak mendapat dampak darinya. "Nindi, bagaimana kalau kita tunangan?"
Seketika Nindi tersedak. Dia batuk dengan keras agar makanan yang dia telan kembali ke jalan yang benar.
"Minum dulu." Arion menyodorkan minuman mineral pada Nindi yang langsung diminum Nindi hingga habis setengah botol.
"Pak Rion ini bercanda ya? Aku sampai tersedak."
"Aku serius. Gimana?"
"Tapi kan Pak Rion gak ada perasaan apa-apa sama aku. Aku cuma jadi pelarian aja dong. Lagian aku juga gak cinta sama Pak Rion, aku cuma suka aja kayak ngefans sama idola gitu."
"Ya udah, gak papa kalau gak mau."
"Bukan gak mau. Aduh, gak ada rayuan maut. Pasrah gitu aja." Kemudian Nindi terdiam sambil memikirkan tawaran Arion.
Arion tak lagi bersuara. Dia menghabiskan makanannya agar segera melanjutkan pekerjaannya.
"Pak Rion belum berubah pikiran kan?" tanya Nindi.
"Sudah berubah. Tawaran cuma satu kali." Arion mengambil air mineral lalu meminumnya.
"Yah, gagal punya tunangan CEO."
Arion tertawa lalu dia berdiri dan duduk di kursi yang biasa ditempati Cahaya. "Besok kamu ikut aku menemui Bayu."
"Loh, kok malah menemui Bayu?" Nindi membersihkan meja dari bungkus makanan dan minuman lalu membuang ke tempat sampah.
"Iya, untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Biar Aya bisa kembali juga ke kantor."
"Kita jadi tunangan?"
"Iya, nanti aku bicara sama Mama dulu. Sekarang sudah jam kerja, jangan membicarakan masalah pribadi lagi. Tolong kamu panggil Yeni, suruh ke sini."
"Iya, Pak." Nindi memanggil Yeni lewat panggilan telepon.
Aku jadi dilema gini. Tunangan ini cuma main-main biar Bayu gak marah lagi sama Aya atau memang serius sih? Gimana kalau Yoga tiba-tiba datang menemui aku seperti janjinya dulu?
__ADS_1