
...'Dan kesedihan yang paling sedih adalah kesedihan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata sedikitpun'...
By: Kinan Abizar Ahlam
...----------------...
"Assalamualaikum"
Kinan berdiri didepan pintu masjid dan mengucapkan salam kepada dua temanya yang saat itu sedang berpelukan.
"Wa'alaikumsalam" sahut Alina dan Jihan bersama sama, mereka menatap Kinan dengan raut wajah yang bingung,
"Kenapa kau ada disini?, bukannya kau ada urusan" tanya Alina.
"Itu benar, tapi sudah selesai maka dari itu aku mau mampir sebentar kesini dan ketika aku lawat didepan masjid, secara tidak sengaja melihat kalian berdua disini" jawab Kinan jujur,
Ia pun menghampiri Alina dan Jihan, ikut nimbrung dan duduk dilantai masjid yang terbuat dari marmer, cukup dingin duduk dilantai itu.
"Kenapa dengan wajahmu Alina?, terlihat sedih?"ucap Kinan, Alina yang mendengar ucapan itu sontak menghapus air matanya yang masih ada disudut matanya.
"Apakah ada masalah Alina, jika ada masalah kau juga bisa bercerita padaku sedikit, lagipula kita ini teman dan barang kali aku bisa membantumu"
Memang tidak biasanya untuk seorang Alina yang begitu cerewet dan banyak tingkah itu bersedih, dan jika wajah itu mulai murung berarti ada hal yang benar benar serius, pikir Kinan ikut prihatin.
"Tidak apa apa aku hanya sedang ada masalah sedikit, bukan masalah besar..."
"Bagaimana mungkin bisa dikatakan bukan masalah, Alina kau juga harus memberitahukan kepada Kinan" timpal Jihan merasa jika Alina tidak perlu menyembunyikan apapun dari siapapun.
Alina pun menarik napasnya sebelum mulai menceritakan kepada Kinan yang telah dialaminya saat ini, ibunya yang memang sedang sakit bertambah parah bahkan mengharuskan ibu Alina keluar masuk rumah sakit dan itu menyebabkan Alina harus selalu berusaha keras dalam bekerja.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun..maafkan aku Alina harusnya aku tidak memaksamu mengatakan semua ini, aku turut bersedih tetapi walaupun begitu kau harus tetap percaya bagaimanapun ujian yang datang pasti ada hikmah dibaliknya"
Kinan merasa bersalah dan sekarang ia juga ikut bersedih, Semoga saja ibu Alina bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya.
"Ya kami akan selalu ada disampingmu Alina...jadi jangan menyerah..!" peluk Jihan dan Kinan disisi kiri dan kanan Alina, Alina terharu dengan kebaikan hati kedua sahabatnya ini.
Betapa indahnya bagi Alina bisa bertemu dengan sahabat yang selalu menemani dan menerima segala kekurangan dan kelakuan dirinya.
"Aku berharap bisa berteman dengan kalian sampai surga-Nya"
"Aamiin..."
__ADS_1
Sungguh persahabatan yang sejati, bagi Kinan, Alina adalah orang yang selalu menjadi penyemangatnya ketika bersedih karena sikapnya yang kadang konyol, namun memiliki hati yang penuh perhatian begitu pula bagi Jihan dan bagi Alina sendiri Alina dan Jihan seperti sahabat yang selalu mengingatkannya.
"Hei udahan dong sedihnya, kita sekarang harus bahagia apapun yang terjadi kedepannya..." cepat cepat Kinan mengganti ekspresinya dan menyenangkan kembali suasana yang sedih itu.
"Eumm..begini bagaimana sebelum pulang kita mampir dulu ke cafe..." lanjut Kinan membujuk kedua sahabatnya, Kinan harus mengeluarkan sedikit cara yang bakal membuat Alina kembali bersemangat.
Jalan jalan!
Benar saja seketika itu raut wajah yang tadinya cemberut menjadi antusias dan Alina dengan bersemangat mengiyakan ajakan Kinan.
"Ayukkk...!" seru Alina bersemangat, Jihan dan Kinan saling pandang, tersenyum simpul bersamaan.
Mereka bertiga berjalan keluar dari dalam masjid, Kinan tak lupa meminta Alina dan Jihan menunggu sebentar karena Kinan akan menghubungi Halim untuk menjemputnya.
"Tunggu disini sebentar!, aku tadi udah minta seseorang untuk menjemput kita" ucap Kinan kepada keduanya,
"Siapa?" tanya Alina
"Ssstt...Hem..jangan jangan suaminya lagi," lanjut Alina berbisik, Kinan sontak mendaratkan sebuah pukulan kecil dilengan Alina.
"Huss..dasar siapa juga, ini tuh bukan suami aku Alina tapi asisten yang diminta oleh mertuaku" sungut Kinan, sedangkan Jihan yang tidak mendengar secara jelas ikut bertanya tanya.
"Ada apa Kinan, Alina?"
"Ssstt..nanti saja dijawabnya, itu tuh orangnya sudah datang" potong Kinan agak salah tingkah sambil menunjuk kearah mobil yang tengah berhenti didepan gerbang pesantren tersebut, sedangkan Jihan semakin heran dengan tingkah Kinan?.
Kinan yang langsung memotong ucapan Alina, merasa bersalah karena harus menutupi masalah ini dari Jihan, sebenarnya bukan sengaja tetapi juga belum ada waktu untuk berbicara berdua dengan Jihan yang memang sangat sibuk di pesantren, meskipun mereka selalu bertemu.
"Maafkan aku Jihan tapi aku janji akan menceritakan semua ini padamu..."
Kinan akan memberitahukan kepada Jihan nanti, bagaimana pun Alina dan Jihan adalah sahabat yang sudah sangat dekat dengannya dan saat ini hanya Alina yang tahu, lalu kenapa Jihan tidak.
"Woww!!"
Terdengar suara Alina yang tercengang disaat itu juga, Kinan langsung menatap, ada apa lagi dengan Alina, pikirnya.
Mata Alina menatap terkesima dengan sosok yang berjalan dengan kharisma milik laki laki itu, jas abu yang dibalut dengan dasi berwarna abu bermotif menambah kesan elegan dan tampan.
"Heh...nggak boleh menatap yang bukan mahram sampai seperti itu Alina,.." sungut jihan langsung.
"Astaghfirullah..maaf maaf lupa" Alina berusaha bertingkah sopan,
__ADS_1
"Salam nona" sapa Halim, Halim berada tepat didepan tiga orang itu, tak urung Alina salah tingkah.
"Maaf merepotkan anda tuan Halim" sahut Kinan
"Sudah menjadi tugas saya" Jawab Halim lagi, sedangkan Alina,
Ia benar benar tidak bisa mengontrol wajahnya, ia terkesima bahkan hampir kehilangan akal disaat memandang wajah Halim yang manis dan jika tersenyum ada lesung pipi diwajahnya.
"Jangan kelewatan batas Alina, Ayuk kita pergi...jangan sampai kamu terbawa nafsu" ucap Kinan membuyarkan lamunan Alina yang masih terpukau,
"Hehehe..ii..iya" langkah Alina sekarang seperti melayang, melambung tinggi karena sedang berbunga bunga.
Dan ketika mereka sudah sampai di cafe itu dan Halim juga sudah melongos pergi dari hadapan mereka pun Alina masih saja berbunga-bunga tanpa sebab dan terus saja tersenyum merona.
"Siapa laki laki itu Kinan?," celetuk Alina
"Dia asisten yang sering mengantar-jemput aku, kan tadi udah dijawab.."sahut Kinan untuk kedua kalinya.
"Kok kamu baru kasih tahu aku sih kalau ada pria seganteng diaaa" sungut Alina lagi,
"Ngapain juga harus bilang bilang sama kamu Alina, kan tidak ada hubungannya, lagi pula aku juga tidak sering bertemu dengan tuan Halim jika tidak ada hal yang mendesak" jawab Kinan sambil meneguk es coklat yang telah dipesannya tadi,
"Hih..kamu ngomongnya kok gitu, huh!" sungut Alina cemberut, Kinan dan Jihan jadi menghela napas.
Alina..Alina, pikir mereka!?,
Sebenarnya cukup biasa bagi Kinan dan Jihan jika harus menyaksikan Alina yang terpincut dengan ketampanan seorang laki laki, tapi itu juga sebatas rasa dan jujur selama ini Alina itu tidak pernah jatuh cinta dengan siapapun, bahkan ketika Alina melihat pria tampan hanya reaksinya saja yang berlebihan.
Maka dari itulah Kinan dan Jihan cukup kewajarkan sikap Alina namun jika sudah sampai ditahap membayangkan yang tidak-tidak maka Kinan dan Jihan juga akan mengingatkan Alina.
"Cukup Alina jangan berlebihan nanti bisa terbawa nafsu, dan kamu nya jangan membayangkan yang aneh-aneh.." ucap Jihan,
"Iya..iya sampai segitunya, memangnya aku mau bayangin apa!?, kan tadi cuma tanya" sahut Alina cemberut namun juga menganggap ucapan Alina dan Jihan ada benarnya.
Dan bagi Alina sendiri, ia tidak akan keluar dari batasan apapun,
Namuunn..siapa yang bisa menolak pandangan pertama dengan pria seperti Halim?
Alina mengembangkan senyumannya.
Benar nggak?!!
__ADS_1
Bersambung...
...*Selamat membaca*...