Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 6 ~ Wanita centil


__ADS_3

Jangan Lupa Like, Vote, And Coment 😍


...'Memang benar, setelah pahit yang rasanya tidak ada ujungnya. Selalu ada bahagia yang paling besar dari rasa sakit itu. Ada hikmah dan pelajaran yang Tuhan berikan. Asalkan kita yang menjadi hamba tidak putus asa pada kuasa-Nya'....


...----------------...


Keesokan harinya...


Kinan yang telah bangun dari subuh hari, melaksanakan shalat Subuh, mengaji, lalu mengerjakan semua yang bisa Kinan bantu dirumah besar itu,


Contohnya memasak sarapan untuk keluarga dan juga membantu pelayan dalam menyiram tanaman ditaman depan,


Burung-burung terdengar berkicau dipagi itu,..setelah Kinan menyelesaikan semua pekerjaan.


Saat ini Kinan tengah bersiap-siap untuk pergi ke- pesantren Ar Rahman.


Dengan tubuh yang dibalut baju syar'i berwarna ungu muda ditambah dengan jilbab pashmina berwarna putih senada, membuat wajah cantik Kinan semakin bersinar. Kinan memang miliki wajah yang putih bersih dan cantik!


Kinan pun keluar dari kamarnya,..


Berjalan menghampiri mamah Alesha dan papah Azkara yang sedang asik berbincang-bincang.


Tap..tap!!


Mendengar suara langkah kaki, mamah Alesha pun berbalik dan ternyata dibelakang mereka sudah ada Kinan yang sedang melangkah menuju mereka.


"Kinan!?,..kemarilah!" panggil mamah Alesha.


"Mau kemana?,Tumben rapi sekali?" tanya Alesha.


"Iya mah, sebenarnya Kinan mau minta izin sama mamah dan papah untuk pergi ke pesantren hari ini" sahut Kinan sambil tersenyum ramah.


"Ahh..benar mamah jadi lupa jika Kinan itu pengajar di pesantren, baiklah tapi jangan lupa jaga dirimu baik baik" ucap mamah Alesha lagi sambil menatap papah Azkara yang juga membalas menganggukkan kepalanya, menandakan jika papah setuju.


"Terimakasih, pah, mah, kalau begitu aku pergi dulu" Kinan pun melangkahkan kakinya pergi,


"Tunggu Kinan!" namun tiba tiba papah Azkara memanggilnya dan Kinan pun menjadi menghentikan langkahnya kemudian berpaling menghadap Azkara.


"Iya pah?"


"Kau pergi diantar oleh Halim bukan!?"tanya papah Azkara.


"Benar pah"sahut Kinan lagi.


"Baiklah jika begitu jaga dirimu sendiri baik-baik" lanjut papah Azkara lagi sambil mengingatkan menantunya tersebut.


Kinan tersenyum kemudian menyalimi papah Azkara dan mamah Alesha dengan sopan.


"Pagi nona muda" sapa Halim setelah Kinan menaiki mobil, Kinan hanya menundukkan pandangannya dan tersenyum ramah.


"Pagi tuan Halim,tapi lebih baik anda tidak perlu seformal itu kepada saya" sahut Kinan


"Tidak apa apa nona muda, lagi pula anda itu adalah istri tuan Kairen saya tidak berani berlaku tidak sopan" lanjut kata Halim.


Kinan hanya bisa diam mendengar perkataan Halim, 'Istri kairen' kalimat tersebut berhasil membuat hati Kinan menghangat juga perih diwaktu yang bersamaan.


Vroomm!!

__ADS_1


Mobil mereka pun melesat pergi dari kediaman itu, dan selama diperjalanan Kinan hanya diam sembari melihat keindahan kota dipagi hari.


Setelah setengah jam kemudian, akhirnya Kinan sampai di tempat tujuannya, yaitu pondok pesantren Ar Rahman, tempat dimana ia mengajar dan belajar.


Halim pun membukakan pintu mobil untuk Kinan terlebih dahulu sebelum Kinan.


Cklek!!


"Mari nona muda"bow Halim membungkuk badannya, Kinan tersenyum kikuk, baru pertama kali ia diperlakukan seperti itu oleh orang lain.


"Te.. terimakasih..tuan" Kinan pun keluar dari dalam mobil, dan ketika ia melangkah masuk kedalam gerbang pondok itu.


"!?" Tiba tiba begitu banyak anak anak pesantren yang menunggu kedatangan Kinan dan juga beberapa ustadz dan ustadzah.


Dan ketika itu juga dari salah satu ustadzah ada yang mendekati Kinan dan memeluknya erat sambil mengucapkan kalimat yang membuat Kinan kembali bersedih.


"Kami telah mendengar berita tersebut Kinan, maafkan kami semua jika tidak sempat untuk melayat.."ucapnya lirih.


Kinan menggelengkan kepala sambil tersenyum!


"Untuk apa meminta maaf ustadzah Jihan lagi pula Abi sudah meninggal satu minggu yang lalu dan ana lah yang tidak sempat menghubungi kalian semua" sahut Kinan melepaskan pelukannya dan menatap semua orang yang berbaik hati menunggu kedatangannya.


"Maafkan saya karena saya kalian semua menjadi repot begini"ucap Kinan tulus.


"Tidak ustadzah Kinan, ana lah yang harus meminta maaf karena baru saja mendengar berita tersebut dan kami semua mengucapkan bela sungkawa yang sedalam dalamnya untuk Kyai Adnan" sergah Kyai yang bernama Kyai Amir.


Kyai Amir adalah pemimpin pondok pesantren Ar Rahman ini, teman juga bagi Abi Kinan.


Kinan merasa sangat terharu karena mereka semua yang ada di pesantren ini selalu memberikan semangat dan perhatian kepada Kinan dan Kinan sama sekali tidak bisa membalas kebaikan dari mereka semua.


Yang bisa dilakukan oleh Kinan hanya mengucapkan banyak banyak terimakasih atas semua perhatian yang Kinan dapat.


"Saya tidak tahu bagaimana caranya membalas semua perhatian yang kalian berikan kepada saya"lanjut Kinan.


"Ustadzah Kinan tidak perlu melakukan apapun karena kami semua tulus karena bagaimanapun ustadzah Kinan itu adalah salah satu keluarga kami di pondok ini" sahut Gus Rahman Ashari putra dari Kyai Amir.


Kinan pun tersenyum!


"Ayuk masuk ustadzah Kinan, kami sudah menunggu sedari tadi dan sekarang para santri juga merindukan ustadzah" lanjut Gus Rahman.


Namun disaat itu pandangan Gus Rahman bertemu dengan sosok laki laki yang ada tak jauh dari Kinan.


"Siapa pria itu ustadzah Kinan?"tanya Gus Rahman sambil menatap wajah Halim, sedangkan Halim hanya tersenyum tipis dan tenang.


Ouh..yah..benar!,


Bagaimana bisa Kinan lupa dengan keberadaan Halim di situ, tetapi bagaimana Kinan bisa memperkenalkan Halim kepada mereka, apakah Kinan harus berkata jujur jika sudah menikah, tetapi Kinan belum bisa mengatakan semua itu sekarang, ia takut terluka!.


Disaat itu, Halim yang merasa jika dirinya perlu memperkenalkan diri pun mendekat dan berjalan dengan senyuman hangat dan sopan.


"Assalamualaikum semuanya, perkenalkan nama saya adalah Halim, saya asisten yang akan membantu nona Kinan berpergian" ucap Halim sopan lalu mengulurkan tangannya untuk menyalimi Gus Rahman.


Gus Rahman yang mendengar perkataan itu sedikit bingung dan agak terkejut namun ia tetap bersikap tenang dan baik dengan mengulurkan tangannya juga untuk menyambut salam hangat dari Halim.


"Begini Gus Rahman dia adalah supir yang mengantar saya kesini tadi" ucap Kinan juga ikut menjelaskan namun tetap saja bagi Gus Rahman ada yang perlu di pernyataan lebih lanjut, akan tetapi ia juga tidak bisa seenaknya bertanya begitu saja kepada Kinan.


Gus Rahman pun mengurungkan niatnya dan kembali mempersilahkan Kinan dan Halim untuk masuk kedalam pesantren bersama sama para santri dan lainnya.

__ADS_1


Namun Halim menolak dan hanya menunggu Kinan di depan pesantren saja, sedangkan Kinan pun melepas rindu bersama para santri dan ustadz serta ustadzah yang menjadi sahabat bagi Kinan.


...************...


"Kairen!!" teriak seorang wanita cantik, sambil berjalan dan langkah yang anggun, wanita itu tampak kesal.


Kairen yang ada didalam ruangannya pun tidak terkejut lagi dengan teriak itu, karena pasalnya wanita yang selalu mengganggunya itu tak lain adalah salah satu wanita pengagumnya yang bernama Lusiana Rosalie seorang wanita yang memiliki sifat centil, manja namun juga sangat ambisius.


"Kenapa wanita itu bisa masuk!, Apakah penjaga didepan itu hanya pajangan saja!" runtuk Kairen kesal dan jenuh, karena Lusiana selalu saja datang dan mengganggunya.


"Entahlah!, tapi aku juga sangat kesal melihat wanita itu datang setiap hari, jika aku menjadi kau mungkin sudah aku apakan wanita centil itu" sahut Evan dengan wajah yang santai namun tetap merespon ucapan Kairen dengan mencoba mengiyakan ucapan Kairen, terlebih lagi ia juga sangat muak melihat Lusiana disana.


Brakk!


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Lusiana masuk kedalam kantor Kairen, Lusiana menerobos pintu dan dengan gaya centilnya, Lusiana mendekati Kairen dan bergelayut manja di samping Kairen.


"Kairen sayangg...kok telepon aku nggak diangkat-angkat sih...!"ucapnya dengan nada centil dan manja,


Tetapi Kairen langsung menghindar, ia bergidik ngeri melihat sikap centil Lusiana, dan tambah cemberut lah Lusiana melihat penolakan dari Kairen yang tidak ingin disentuh olehnya.


"Kenapa sih!.."timpal Lusiana tidak suka di tolak.


Kenapa, kenapa,...tanya lagi!, pikir Evan dengan menahan rasa geli dan muaknya.


"Menjauhlah jika kau tidak ingin ku panggilkan pengawal kesini!"desis Kairen datar,


Kairen benar benar muak dan ingin segera pergi dari kantornya sekarang juga bagaimana pun caranya.


Bukankah takut dengan ancaman yang Kairen layangkan, Lusiana malah semakin mendekati Kairen dan semakin ingin memiliki Kairen dengan cara apapun.


"Tidak!"sungutnya Harga mati, namun bukan Kairen jika tidak bisa melepaskan diri dari wanita gila didepannya ini.


Dengan isyarat mata yang mengkode Evan, Kairen pun meminta agar Evan membantunya menyingkirkan Lusiana dari hadapannya, namun jika tidak bisa juga maka Kairen lah yang akan segera pergi dari ruangan itu.


Evan yang telah di isyaratkan oleh Kairen pun mencoba mengalihkan pandangan matanya dan mencoba acuh tak acuh,


Jika berhadapan dengan wanita nggak waras dan centil itu,...ouh itu!, Evan tidak ingin sama sekali, dengan terkekeh geli Evan mengalihkan pandangan, dan disaat itu Kairen pun memaksa Evan dengan sorot mata yang bertambah tajam.


"Hehehe...nona Lusi yang cantik jika ingin bertemu dengan tuan muda itu harus membuat janji dulu.." dengan suara yang dibuat buat centil, Evan pun berjalan mendekati Lusiana dan dengan gaya ogah-ogahan memegang bahu Lusiana dan.


Set!!


Tap..tappp!!


Kairen pun melangkah pergi dengan cepat setelah Evan memegang Lusiana agar tidak mengejarnya.


"Hei!!, kenapa malah pergi kai!"teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan Evan yang lumayan kuat.


Evan tidak bisa melepaskan tangannya jika kairen belum benar benar pergi dari sana, dan setelah beberapa menit baru Evan melepaskan cengkeramannya.


"Lepas!"sungut kesal Lusiana.


"Nona Lusi saya pergi terlebih dahulu!" dan setelah itu Evan pun langsung melongos pergi dari hadapan Lusi dan menyusul Kairen sebelum Lusi kembali melancarkan aksinya kepada Evan.


"Dasar cowok cowok kurang ajar!!"sungut kesal Lusiana sambil menghentakkan kakinya kelantai.


Untung ganteng!, pikirnya.

__ADS_1


Bersambung...


...*Selamat membaca*...


__ADS_2