
Jangan lupa untuk selalu mendukung karyaku ya...😍
...----------------...
Ditengah lamunannya!,
Tok..tokk..tokk!
Kinan yang mendengar suara ketukan pintu yang tiba tiba itu, dengan cepat ia menghela napas panjang mencoba menutupi perasaannya saat ini.
"Tunggu sebentar!..siapa?" sahut Kinan lalu ia pun mendekati pintu dan membukanya,
Cklek!
"Bibi!" tepat didepan pintunya saat ini ada seorang pelayan berumur yang tengah menatapnya sembari tersenyum.
"Nona muda dipanggil tuan besar" ucap bibi itu,
"Baik bi, terimakasih sudah repot repot memanggil saya" sahut Kinan ramah.
Lalu setelah itu Kinan pun segera turun dan menghampiri papah Azkara yang berada di ruang tamu.
"Ada apa pah?" tanya kinan mendekati Azkara lalu ia hanya berdiri disebelah papah Azkara sebelum diminta sendiri oleh Azkara.
"Ada yang ingin papah sampaikan padamu, duduklah dulu disini!" sahut papah Azkara seperti biasa, lembut dan ramah kepada Kinan.
"Baik pah"
"Begini Kinan papah hanya ingin meminta tolong padamu"ucap papah Azkara lagi setelah Kinan duduk.
"Minta tolong soal apa pah, Kinan bisa saja membantu papah" sahut Kinan tersenyum.
"Baguslah,..jika begitu papah minta tolong kepada kamu antarkan berkas ini kepada Kairen dikantornya!" pinta papah Azkara sembari menyodorkan sebuah berkas yang dibungkus oleh map berwarna putih.
Kinan menyambutnya dengan sopan,
"Baiklah pah" jawabnya tanpa ragu, meskipun sebenarnya saat ini ia bingung.
Bagaimana ia bisa keperusahaan Kairen!, jujur ini pertama kalinya bagi Kinan pergi keperusahaan besar itu, terlebih lagi orang luar memang tidak tahu tentang pernikahan mereka.
Melihat kekhawatiran diwajah Kinan, Azkara langsung mengerti,
"Kau tenang saja nak karena ini pertama kalinya untukmu papah akan meminta supir mengantarmu berhubung Halim tidak bisa datang"
"Baiklah kalau begitu Kinan siap siap dulu"
Kinan segera bersiap siap setelah selesai, ia pun pergi di antarkan oleh supir di rumah itu.
Dan disaat diperjalanan Kinan berpikir untuk membelikan makanan kepada Kairen karena pagi tadi ia tidak sempat memberikan sarapan untuk Kairen.
"Pak kita mampir dulu di restoran depan sana!"pinta Kinan, lalu supir itupun mengangguk.
20 menit kemudian...
Kinan sampai di perusahaan kairen,
"Maa syaa Allah ternyata perusahaan ini sungguh besar" puji Kinan.
Ia benar benar tidak tahu selama ini jika perusahaan yang berdiri kokoh ini adalah perusahaan milik keluarga Azhar.
"Pak tunggu disini sebentar" ucap Kinan kepada supir tersebut, lalu Kinan keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah pintu masuk perusahaan.
Disaat Kinan menginjakkan kakinya didalam perusahaan itu, perusahaan yang memiliki banyak lantai itu terbangun dengan bentuk dan dekorasi yang indah dan modern.
Kinan pun mengedarkan pandangannya untuk mencari meja resepsionis,
__ADS_1
Saat itu mata Kinan langsung menemukan keberadaan meja resepsionis, Kinan pun menghampiri resepsionis tersebut.
"Permisi mbak!"sapa Kinan tepat dihadapan wanita resepsionis itu, terlihat wajah cantik dibalut pakaian formal layaknya seorang pekerja kantoran.
"Ya..selamat datang nona, ada yang bisa saya bantu" sahut wanita tersebut ramah pada awalnya,
"Saya disini ingin menemui tuan Kairen, bisa mbak memberitahukan kepada saya dilantai berapa tuan Kairen berada" ucap Kinan masih dengan senyumannya,
Tetapi disaat Kinan mengatakan ia mencari Kairen raut wajah dan nada wanita itu berubah datar.
Dengan cara menatap yang sinis wanita itu kembali menjawab perkataan Kinan,
"Maaf mbak tapi tuan Kairen saat ini sedang sibuk, dan juga tidak ada yang bisa menemui beliau jika tidak ada janji sebelumnya" sahutnya lagi tanpa senyuman sedikit pun.
"Begitu tetapi saya ingin mengantarkan sesuatu kepada tuan Kairen," lalu Kinan pun menyodorkan sebuah dokumen yang ia bawa dan juga makanan yang telah ia pesan tadi.
Namun lagi lagi resepsionis tersebut menatap sinis Kinan,
"Huh... sebenarnya ini sering terjadi!, wanita seperti anda memang sering saya temui, nona anda bisa pergi sekarang juga!" sungutnya menghina Kinan.
Kinan tidak marah dengan ejekan itu tetapi ia bingung bagaimana ia bisa mengatakan jika ia adalah Istrinya Kairen.
"Baiklah mbak saya akan pergi tetapi boleh saya titip ini kepada tuan Kairen!" ucap Kinan mencoba memberikan makanan dan dokumen yang ia bawa sekali lagi, namun tiba tiba dengan kasar wanita itu mendorong makanan itu,
"Kau tidak bisa dengar!" lalu ia mendorong makanan yang dibawa Kinan hingga terjatuh berserakan dilantai.
"Astaghfirullah..!" Kinan terkejut lalu ia pun dengan cepat mengambil dokumen yang juga terlempar dan sekarang dokumen itu kotor.
Dan juga semua orang yang berlalu lalang di dalam perusahaan itu semakin menatap kearah Kinan dan berbisik bisik dan ada juga yang menatap Kinan sinis.
"Lebih baik kau segera pergi, jangan mencoba menggoda tuan Kairen!, heh wanita seperti anda memang sangat sering saya temui" usir wanita itu mendorong tubuh Kinan.
Bukk!
Karena tubuh Kinan kebelakang, kakinya pun tersandung dan akhirnya Kinan terjatuh dengan tangan yang menumpu badannya sendiri.
Dan tepat disaat itu tak jauh dari kerumunan yang semakin banyak, tiba tiba Kairen datang dan menerobos kerumunan itu.
Drapp!
"Apa yang kau lakukan disini!" desak kairen menghampiri Kinan yang masih terjatuh di lantai sembari memegang lengannya yang sakit.
Tu..tuan!?,
"Tidak apa apa tuan saya baik baik saja" imbuh Kinan sembari memegang tangan Kairen yang mencoba membantunya berdiri.
"Diam!" sergah Kairen, lalu ia mengedarkan pandangannya keseluruhan orang orang yang berkerumunan disana.
"Siapa yang mendorongnya!?" tanya Kairen datar namun tatapan elangnya berhasil membuat semua orang yang kebanyakan adalah karyawan perusahaan.
"Jawab!!" desak kairen tajam,
Resepsionis yang menjadi pelaku pendorong Kinan terdiam kaku, ia benar benar tidak tahu apa akibat dari perlakuannya tadi.
Kairen pun menjadi tahu resepsionis itulah pelakunya karena raut wajah cemas dan takut wanita itu,
"Jadi kau yang mendorong istriku!"
Degg!
Dan seketika itu resepsionis itu menundukkan kepalanya, ia sangat tidak menyangka jika Kinan adalah istrinya Kairen.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu wanita ini adalah istri anda" ucapnya takut Kairen marah, dan benar saja.
"Kau...!!" namun belum sempat Kairen ingin marah, Kinan langsung memotongnya,
__ADS_1
"Tuan jangan marah padanya karena ia tidak tahu, saya mohon..!" pinta Kinan lembut tetapi wajahnya masih meringis kesakitan.
"Ckk..kau ini..!" Kairen pun beralih menatap Halim dan Evan yang memang ada saat itu,
"Halim urus wanita ini!" perintah Kairen, lalu ia pun membawa Kinan kedalam ruangannya.
"Kau ini tidak bisa ya tidak membawa masalah hah!" timpal Kairen didalam ruangannya.
"Siapa yang membawa masalah!" sahut Kinan, lalu ia pun menyodorkan dokumen yang dibawanya.
"Ini...saya kesini hanya ingin mengantarkan ini kepadamu,.." Kairen pun mengambil dokumen tersebut lalu ia tidak menghiraukannya dengan meletakkan dokumen itu di atas meja.
"Sebenarnya saya juga membawakan makanan tetapi...!"
"Sudahlah itu tidak penting,..Lihatlah sekarang tanganmu terkilir"
"Tidak apa apa, ini akan sembuh, tapi tuan boleh saya meminta sesuatu kepada anda!?"
"Apa hah?"
"Wanita itu..jangan anda pecat, sebenarnya dia hanya melakukan tugasnya saja" pinta Kinan.
"Kau masih mau berbaik hati kepada orang yang telah menghinamu!"
"Wanita itu tidak tahu apa apa, saya mohon!" lanjut sahut Kinan, ia berpikir wanita resepsionis itu hanya melakukan kesalahan karena tidak mengetahui siapa Kinan, dan disaat wanita itu menghina dirinya, Kinan tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Saya mohonnn!" pinta Kinan dengan mata yang memohon, Kairen tetap tidak mendengarkan Kinan.
Melihat Kairen yang masih kekeh dengan keputusannya, membuat Kinan memutar otaknya!
"Sebenarnya apa alasan tuan melakukan ini semua, tuan tidak harus mengkhawatirkan saya, lagipula bukankah tuan tidak akan peduli dengan keadaan saya" ucap Kinan dengan nada yang sedikit menohok.
"A..aku tidak mengkhawatirkanmu!" sungut Kairen cepat.
"Sudahlah!,..." seru Kairen lagi agak tandas, Kairen merasa tertohok dengan ucapan Kinan itu, dan karena Kinan sangat memohon padanya, pada akhirnya ia pun setuju.
Berhasil!,
Diam diam Kinan tersenyum simpul
"Terimakasih" ucap Kinan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini bukan untukmu" sahut Kairen datar, lalu ia pun menyandarkan tubuhnya di sofa tersebut.
Meskipun Kairen terlihat begitu datar dan juga judes, tetapi saat ini Kinan merasa jika Kairen bukan pria yang sejahat itu.
"Tetap saja terimakasih!" seru kinan lagi sembari berdiri lalu ia pun berencana untuk segara pergi karena ia harus segera membantu Umi Fatimah.
"Tuan saya pergi dulu, assalamualaikum" lanjut ucap Kinan lalu tanpa aba aba ia meraih tangan Kairen dan menciumnya,
Deg!
"Apa yang kau lakukan" refleks Kairen menarik tangannya, namun tetap saja ia sudah bersentuhan dengan Kinan.
"Salim tuan memangnya apa lagi?" sahut Kinan tersenyum,
"Oooh...!" Kairen pun hanya bisa ber-oh dan berusaha menyembunyikan gejolak hatinya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,"
"Tunggu...itu..Bagaimana dengan tanganmu!?" cegat Kairen.
"Ini bisa saya atasi"
Bersambung...
__ADS_1
...*Selamat membaca*...