
Halo...halo... semuanya, kembali lagi nih, jangan lupa selalu mendukung karyaku ya 🤗
...----------------...
Desa nelayan yang indah!,
Itulah yang tergambar dalam hati Kinan ketika untuk pertama kalinya ia sampai dan begitu pula dengan keramahan tamahan masyarakatnya.
Desa nelayan juga menjadi tempat kunjungan para pelancong yang datang ke pantai tersebut dan ada pasar yang menjadi tempat para pariwisata membeli berbagai macam jenis cendramata.
Kinan yang memang diminta untuk bersenang senang dan menghabiskan waktu bersama dengan Kairen, membuatnya cukup menikmati apa yang tengah dilakukannya saat ini dan berusaha agar Kairen mau pergi dengannya.
Akan tetapi, lagi lagi Kairen mencoba menciptakan jarak diantara mereka disaat orang lain tidak sadar.
Seperti sekarang ini, disaat Kinan mencoba membujuk Kairen pergi bersamanya,
"Tuan temani Kinan jalan jalan yuk, kata nenek disini ada pasar yang menjual berbagai macam aksesoris" Ucap Kinan,
Saat itu mereka sedang ada di kamar setelah sarapan tadi pagi, dan sekarang Kairen mulai sibuk dengan laptop dipangkunya.
"Nanti saja!" Sahut Kairen singkat, sangat terlihat laki laki itu tidak terlalu merespon ucapan Kinan.
Selalu saja seperti ini, Kairen tidak terlalu tertarik dengan semua yang Kinan inginkan, selalu ditolak mentah mentah.
"Baiklah kalau begitu saya akan jalan sendiri, lagipula nenek bisa menemani saya," Sungut Kinan, ia selalu merasa Kairen mencoba menjauhinya.
Lalu Kinan pun pergi meninggalkan Kairen yang masih sibuk dengan aktivitasnya dengan perasaan keki.
Kinan turun menghampiri nenek yang saat itu kebetulan ada di luar halaman, terlihat nenek tengah menyirami tanaman yang menjadi kebiasaan nenek ketika waktu senggang.
"Nenek!" panggil Kinan menghampiri, lalu disambut senyuman hangat nenek.
"Kinan!, kemarilah sayang"
"Apa yang nenek lakukan, apakah nenek perlu bantuan" tanya Kinan lagi.
"Tidak perlu, ini juga akan selesai sebentar lagi, ouh..ya dimana Kairen?" sahut nenek.
"Didalam kamar nek, sepertinya tuan sedang sibuk. karena itu kinan berencana untuk pergi berjalan jalan, sepertinya cukup menyenangkan" sahut Kinan bernada ceria, Kinan mencoba menutupi perlakuan Kairen yang menolaknya tadi.
Kinan tidak ingin membuat nenek merasa jika Kairen mengabaikannya dan tidak ingin membuat nenek curiga dengan hubungan antara dirinya dan Kairen.
Akan tetapi jawaban Kinan itu tidak membuat nenek percaya, meskipun Kinan menjawab dengan senyuman, tetapi tetap saja nenek tahu jika Kinan tangan menyembunyikan sesuatu.
"Dasar Kairen!, baiklah kamu tunggu disini sebentar!" sahut nenek, nenek pun berjalan masuk kedalam rumah.
"Mau kemana nek!?" tanya Kinan heran,
"Tunggulah, nenek akan memanggilkan Kairen untukmu, dasar anak itu!, Bagaimana bisa ia malah bersikap cuek padamu" sahut nenek menghentikan langkahnya, lalu nenek kembali berjalan kearah lantai atas.
Dan tak lama kemudian nenek datang bersama dengan Kairen, akan tetapi disaat itu juga Kinan melihat nenek yang sedang menarik telinga Kairen sampai didepannya.
Dengan wajah yang menahan rasa sakit, Kairen mencoba melepaskan diri dari genggaman nenek.
"Aww...nek lepaskan!, Apa yang nenek lakukan!?" Sungut Kairen meringis kesakitan,
Beberapa menit yang lalu disaat nenek menghampirinya kedalam kamar, dengan raut wajah yang agak kesal nenek tanpa aba aba malah menarik telinganya dan membuatnya tak bisa berbuat apa apa selain mengikuti nenek hingga didepan halaman saat ini.
"Lepaskan Kairen nek!, Kairen bukan anak kecil lagi"
"Tidak akan nenek lepaskan sebelum kamu menyetujui permintaan Kinan, kamu tahu...kamu itu suaminya dan kamu dilarang untuk menolak setiap permintaan istrimu"
__ADS_1
"Aku sibuk nek!"
"Sibuk,..sibuk, saat ini kamu dilarang untuk mengurusi urusan perusahaan, saat ini kamu hanya perlu mengurus kebutuhan dan keinginan Kinan" nenek semakin memperkuat cubitannya,
"Aww..nek sakit,..sakit" Kairen benar benar merasa sangat malu diperlakukan oleh neneknya seperti itu didepan Kinan, Apa yang akan dipikirkan Kinan tentangnya nanti!?,
Baru satu hari semalam Kairen tiba akan tetapi sekarang semua harga dirinya serasa tak tersisa karena perlakuan nenek yang selalu membuatnya terlihat konyol didepan Kinan.
Habis sudah harga diri dan juga kewibawaannya, neneknya itu pasti sudah merencanakan semua ini!, nenek pasti sengaja membuatnya terlihat mengenaskan didepan Kinan saat ini.
Sedangkan Kinan saat ini merasa cukup kasihan tapi mau bagaimana lagi, kejadian didepannya ini tak urung membuatnya ikut terkekeh kecil, mau kasihan tapi juga lucu.
Kairen, Kairen..cukup malang nasibmu!, Kinan benar benar terkekeh geli dalam hatinya,
Mau bagaimanapun pertengkaran nenek dan cucu didepannya saat ini, tidak membuat Kinan merasa semua benar benar serius yang ada hanyalah godaan dari nenek untuk Kairen.
Lalu pada akhirnya ia pun mencoba membantu Kairen untuk melepaskan diri dari Nenek, sambil menahan cengirannya, Kinan mencoba memberikan pengertian kepada nenek agar mau melepaskan Kairen.
"Tolong lepaskan tuan nek, lagipula jika nenek melepaskan tuan, tuan pasti mau menemani Kinan jalan jalan" Kata Kinan mencoba membantu Kairen,
Meskipun Kinan membantu Kairen akan tetapi ia tidak boleh melewatkan kesempatan yang berharga, lalu dengan ide yang muncul dalam otaknya.
"Kamu sangat baik Kinan, akan tetapi jika kita tidak cukup tegas dengan anak ini, dia tidak akan pernah mau peduli tentangmu,...
"Jadi kamu tenang saja, sebelum Kairen mau merubah sikapnya padamu nenek tidak akan melepaskannya" sambung nenek harga mati.
"Kau ingin menemani Kinan atau tidak, jika tidak nenekmu ini bisa melakukan yang lebih konyol dari sekedar menarik telingamu" ancam nenek sembari memperkuat cubitannya lagi, dan hal itu semakin membuat Kairen kesakitan.
"Baiklah aku akan menemani kinan!, jadi nenek lepaskan aku" ringis Kairen lalu dengan wajah kemenangan nenek melepaskan telinga Kairen.
"Sekarang pergilah dengan Kinan, temani istrimu kemanapun ia ingin pergi!" Titah nenek.
"Tunggu apa lagi!, bukankah kau ingin pergi!" Ucap Kairen seperti angin lewat, Kinan pun paham lalu dengan cepat ia mengikuti langkah Kairen persis seperti ekor dibelakang Kairen.
"Terimakasih tuan" Ucap Kinan ketika mereka sampai didalam kamar, Bagaimana pun Kinan harus berterimakasih karena Kairen mau menemaninya meskipun harus dengan paksaan nenek dulu.
Tapi Kairen lagi lagi tidak menggubris ucapannya!, sadar jika Kairen masih kesal membuat Kinan menghela napas,
Lalu dengan hati hati Kinan mendekati Kairen yang masih sibuk merapikan pakaiannya sendiri,
Tap..tap..tap!
"Maafkan saya" kata Kinan bernada tulus,
"Saya tidak bermaksud sama sekali untuk menghina ataupun mengolok tuan, tetapi tuan harus mengerti situasi kita sekarang,.."
Seperti biasa Kinan akan mengingat kesepakatan yang mereka buat, dan bukankah mereka tidak boleh membiarkan seluruh keluarga tahu jika hubungannya dengan Kairen tidak sebaik yang terlihat.
Kinan masih sadar betul bagaimana hubungannya dengan Kairen saat ini, walaupun kelihatannya baik baik saja dan ia juga mencoba untuk menyakinkan hatinya jika suatu hari Kairen bisa bersikap baik padanya tanpa bersandiwara, akan tetapi kadang ia tidak bisa memahami sikap Kairen dan begitu pula sekarang.
Kairen kembali bersikap cuek dan dingin seperti diawal pertemuan, dan seakan semua yang dikatakan oleh Kairen beberapa waktu lalu hanyalah angan angannya belaka.
Jika memang terlalu sulit bagi Kairen memperlakukan Kinan tulus, maka ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya walaupun ia melakukan itu semua agar hubungannya dengan kairen bisa lebih terbuka satu sama lain, dan lagi pula bukankah Kairen suaminya.
Lalu Kinan menghembuskan napasnya lagi, Kinan mulai berbicara lagi dengan nada yang terdengar pelan dan pasrah,
"Tuan tidak perlu menemani saya lagi, mulai saat ini saya berjanji untuk tidak menggangu tuan dan saya juga berjanji nenek tidak akan memaksa tuan lagi untuk menuruti semua keinginan saya" Ucapnya terdengar tegar.
Kalimat Kinan berhasil membuat aktivitas Kairen terhenti, Kairen pun menatap Kinan yang masih setia disampingnya.
Ucapan itu benar benar berhasil membuat hatinya lagi lagi gelisah tanpa tahu apa alasannya, tatapan Kinan yang sendu membuat hatinya kelu.
__ADS_1
Melihat Kairen yang masih diam membuat Kinan lagi lagi mengela napas dan pada akhirnya Kinan pun memilih untuk pergi,
"Mau kemana?" belum beberapa langkah Kinan pergi, Kairen mencegahnya dengan suara yang terdengar lebih tenang dan datar.
Kinan kembali berbalik badan, dan dengan segala rasa yang saat ini Kinan rasakan, ia pun mengeluarkan segala unek-uneknya,
"Bukankah tuan tidak memperdulikan saya!, bukankah tuan tidak ingin menemani saya, dan bukankah tuan tidak ingin direpotkan, karena itu saya pergi saja!..." dengan ekspresi bibir yang mulai terlipat dan tatapan berkaca kaca.
"Tuan jahat!" Tukasnya lalu ia pun pergi meninggalkan Kairen yang masih terpaku.
Dan setelah Kairen menyadari Kinan yang pergi dari hadapannya, secepat mungkin ia mengejar Kinan dan menangkap tubuh mungil itu.
Didepan pintu kamar Kairen sempat menangkap Kinan, dan...
Grap!
Kairen menangkap tubuh itu dengan tangannya yang bebas, dan Kairen pun mencoba untuk menenangkan Kinan.
"Dengarkan aku dulu!" Timpalnya, akan tetapi Kinan memberontak dan tidak ingin menatap Kairen.
Ia tidak peduli jika pertengkaran itu terdengar oleh nenek, Ia cukup lelah selalu berpura pura.
"Lepaskan saya tuan!, Bukankah tuan tidak menginginkan Kinan lagi,..huhu..tuan jahat!" rengeknya sungguh kecewa.
"Kenapa kau sangat kekanak-kanakan hah!, dengarlah dulu!" Bentak Kairen semakin membuat Kinan ingin menangis.
"Benar!, saya sangat kekanak-kanakan tetapi tuan adalah suami Kinan dan tuan tidak pernah peduli..." Kinan semakin memberontak, bahkan tak jarang Kinan akan melayangkan pukulan kecil ke dada bidang Kairen.
Kairen mencoba menangkis pukulan-pukulan yang tak seberapa itu, dan dengan tangannya yang bebas Kairen menarik tubuh Kinan,
Degg!
Tubuh mereka saling bersentuhan dan disaat itu Kairen semakin memperketat genggaman tangannya dan meletakan tangan Kinan kebelakang, dari jarak tersebut mata mereka saling bertemu.
Napas Kinan masih memburu dan gejolak hatinya mulai berpacu tak karuan didalam dadanya.
"Sudah!?," seakan akan Kairen bertanya padanya, lalu dengan tatapan yang masih bertemu lalu dengan suara yang lebih lirih terdengar, Kairen berbicara lagi.
"Kau boleh marah padaku, kau juga bebas mengeluarkan segala rasa kecewamu, tetapi ada satu hal yang harus kau camkan!.."
"Ingat kamu hanya boleh bersikap seperti ini didepan ku" sambungnya,
Ekspresi yang terlihat dari wajah Kairen membuat Kinan tidak mengerti, laki laki itu marah atau tidak, kenapa Kairen berekspresi seolah-olah kemarahan, rasa kecewa dan juga sifat kekanak-kanakannya hanya boleh diketahui oleh Kairen seorang.
Apa maksudnya?, kenapa Kairen mengklaim segala sesuatu yang menjadi haknya!?, Apakah Kairen benar benar ingin menjeratnya.
"Lepaskan!" Tukas Kinan lagi dengan perasaan yang masih tak karuan.
"Kenapa kau sangat keras kepala!" gerutu Kairen,
"Semua salah tuan!,.."
Ia hanya ingin meminta untuk ditemani dan diperhatikan, kenapa berharap kepada miliknya saja sangat sulit!, meskipun ia sadar betul bagaimana akhirnya, dan ia kembali kecewa.
Tetapi itu adalah satu satunya cara untuk dirinya bertahan disaat Kairen tidak menginginkannya.
Hanya ingin merasakan kebahagiaan itu walaupun hanya sejenak!
Bersambung...
...*Selamat membaca*...
__ADS_1