
'Jika takdir tak berpihak padaku, tetapi tetaplah menjadi temanku... walaupun hatiku terlalu mencintaimu dan biarkan perasaan cinta ini berubah menjadi sebuah ketulusan dalam hatiku untukmu'
By: Gus Rahman Ashari
...----------------...
~ "Apa yang kalian lakukan!!"
DEG!
Suara yang nyaring itu membuat tubuh Kinan yang tadinya membeku seketika langsung bangkit dari duduknya sebelum sempat Gus Rahman benar benar menyentuhnya.
"Kairen!" dan Kinan semakin terkejut melihat Kairen ada didepannya saat ini dengan wajah yang terlihat datar.
Gus Rahman ikut menegakkan tubuhnya, ia bingung kenapa bisa ada Kairen disana.
"Kinan..dia kerabatmu yang kemarin bukan!?,.." ucap Gus Rahman mencoba tetap sopan dan tenang, walaupun ia semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya.
"Salam kenal tuan!" lanjut ucap Gus Rahman, akan tetapi bukannya menjawab sapaan Gus Rahman, Kairen malah menarik Kinan kesampingnya.
"Menjauhlah dari istriku!" timpal Kairen lagi, menatap Gus Rahman dengan ekspresi datar.
Deg!
"Istri!" Hati Gus Rahman membeku seketika disaat mendengar perkataan tersebut begitu juga dengan Kinan.
Keberadaan Kairen yang tiba tiba datang membuatnya terkejut, apakah Kairen mendengar semuanya?! semua pengakuan itu?, padahal baru kemarin malam Kairen memperingatkan dirinya untuk tidak berdekatan dengan pria lain.
"Kairen apa yang..!" Kinan mencoba melepaskan genggaman tangan Kairen.
"Apa yang aku lakukan!?, tentu saja untuk mengatakan kebenaran jika kau itu telah menikah denganku..." imbuh Kairen memotong ucapan Kinan.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini Kinan?"tanya Gus Rahman mencoba berpikir tenang meskipun saat ini ia benar benar terkejut.
"Coba jelaskan apa yang dimaksud pria ini, apakah itu benar Kinan?" lanjut tanya Gus Rahman dengan suara yang masih lembut.
"Tentu saja...mari aku memperkenalkan diri terlebih dahulu,... perkenalkan namaku adalah Kairen Al Azhar suami dari Kinan" sahut Kairen menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan untuknya.
Dengan ekspresi tersenyum Kairen memperkenalkan dirinya sebagai suami Kinan,
Kinan menatap Kairen!,
Apa yang dilakukan oleh Kairen saat ini!?, Kairen benar benar mengungkapkan segala sesuatu tentang pernikahan mereka yang selama ini tidak diketahui oleh orang luar.
"Apa yang tuan lakukan!" seakan belum percaya Kinan lagi lagi menatap Kairen, akan tetapi Kairen masih mengacuhkan Kinan.
"Jadi kau adalah Gus Rahman!?, aku memang mendengar jika kau telah berani menyukai istriku" tambah Kairen lagi.
Degg!
"Kinan..kau telah menikah!?" tatap nanar Gus Rahman, ia tidak menghiraukan sama sekali ucapan Kairen barusan.
"Gus Rahman saya bisa menjelaskannya..." sahut Kinan terbata-bata, Kinan merasa telah menyakiti Gus Rahman saat ini.
"Baiklah...aku akan mendengarkan setiap penjelasan darimu.., tolong ceritakan segalanya kepadaku agar tidak ada lagi rahasia diantara kita" jawab Gus Rahman masih bisa tersenyum tulus, walaupun ia merasa sesak.
Perasaan sakit seketika menggerogoti hatinya, tetapi ia sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati Kinan.
"Kairen..karena kau telah mengungkapkan pernikahan kita, maka dari itu tolong beri ruang untukku menjelaskan segalanya kepada Gus Rahman" pinta Kinan kemudian,
Hanya berdua!
"Baiklah.. katakan semuanya dengan jelas!" sahut Kairen sembari tersenyum santai, lalu ia mundur beberapa langkah dari Kinan, memberikan waktu kinan menjelaskan semuanya dengan Gus Rahman.
__ADS_1
Kinan dan Gus Rahman kembali berhadapan!
Kini Kinan merasa semakin tidak enak hati, ia beranggapan jika saat ini ia telah berbohong, padahal selama ini ia menutupi kebenaran ini juga karena alasan yang tidak bisa diungkapkan.
Namun ternyata satu hal yang menjadi kesalahannya saat ini, Gus Rahman ternyata benar benar menyukainya dan ia berusaha untuk tidak memikirkannya.
"Maaf..." hanya kata itu yang mampu Kinan ucapkan.
"Untuk apa kata maaf itu!?,..untuk menyatakan jika kamu merasa bersalah karena telah menutupi kebenaran ini?" ucap Gus Rahman menatap wajah Kinan.
"Gus..!"
"Kamu tidak salah"
"Yang salah adalah saya Kinan,...jika dari dulu saya ungkapkan perasaan ini apakah saya akan mendengar pernyataan ini sekarang"
Kinan menggelengkan kepalanya!,
"Tidak..Gus Rahman tidak bersalah sama sekali, saya lah yang salah karena telah menutupi hal ini darimu,.."
"Gus Rahman ingat satu tahun yang lalu disaat Abi telah meninggal dunia, saat itu saya baru mengetahui jika Abi dan sahabat Abi telah mengikat sebuah perjanjian pernikahan dan karena itu saya tidak bisa mengingkarinya"
"Perjodohan!?" imbuh Gus Rahman.
"Benar, dan setelah itu selama ini saya menutupi dan tidak memberitahukan kepada orang lain tentang pernikahan ini,.. sebenarnya yang mengetahui pernikahan ini juga hanya keluarga saja" lanjut Kinan menjelaskan.
"Dan tentang perasaan Gus Rahman saya sama sekali tidak menyangka jika itu benar.." tambah Kinan melemah.
Gus Rahman tersenyum kecut mendengar perkataan itu, ia tahu tidak ada yang salah di antara mereka hanya saja takdir tidak memihaknya.
Perasaan yang tidak diketahui oleh orang lain selain dirinya sendiri hingga saat ini, dan ketika ia telah mengungkapkan semua telah berubah.
Kinan bukan lagi Kinan yang dulu, yang masih bisa ia dapatkan. tetapi karena sebuah perjodohan yang telah dilakukan sejak dulu membuat Kinan juga menikah dengan orang lain.
Takdir tidak mempersatukan mereka!,
Tidak!
Kita tidak bisa menyalahkan sebuah takdir yang telah Allah tetapkan, jika memang takdir tak berpihak padanya,maka itulah yang terbaik.
"Apakah kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Gus Rahman menatap mata Kinan dalam.
Sekali lagi jika ini adalah yang terbaik, biarkan ia memastikan sesuatu, apakah Kinan bahagia bersama dengan Kairen.
"Gus....!" Terlihat mata itu penuh dengan keraguan.
"Kau tidak bahagia!,"
Degg!
"Satu tahun,.. apakah kesulitan seperti ini yang harus kamu rasakan, apakah kesulitan ini juga yang membuatmu takut mengungkapkan?" Melihat mata Kinan, cukup membuatnya paham sekarang.
"Kenapa sangat lama?, apa yang kalian bicarakan!?" Kairen kembali menghampiri Kinan dan Gus Rahman.
Bukannya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Gus Rahman, tetapi Kairen mulai merasa jika Gus Rahman tidak memiliki hak untuk mencampuri urusannya bersama Kinan lebih dalam.
"Sekarang kita pergi!" Kairen menarik tangan Kinan.
"Dia tidak bahagia bersamamu!"seru Gus Rahman tiba tiba,
Kairen pun berpaling menatap Gus Rahman, ia mulai menatap Gus Rahman dengan tatapan dingin.
"Kau tidak memiliki berhak untuk mencampuri kehidupanku dan Kinan, dia bahagia atau tidak bukan urusanmu" Sergah Kairen dingin.
__ADS_1
Kairen sama sekali tidak suka jika ada orang lain yang berkomentar tentang kehidupannya.
"Tetapi kebahagiaan Kinan sangat penting bagi saya" sahut Gus Rahman membalas tatapan mata Kairen.
Heh!,
Kairen terkekeh, ia tidak menyangka sebesar itu perasaan Gus Rahman kepada Kinan.
"Sekarang dia adalah istriku jadi tidak perlu repot-repot memikirkan kebahagiaannya karena aku juga bisa memberikan kebahagiaan kepada Kinan"
"Saya tidak berpikir begitu, tuan Kairen Al Azhar seorang pria yang begitu terkenal,..saya baru ingat anda lah pengusaha muda itu, yang sangat diidamkan banyak wanita..."
"Kebahagiaan seperti apa yang sanggup anda berikan kepada Kinan, apakah dengan harta dan kekayaan itu?"
"Jangan melewati batasanmu!"desis Kairen, Ucapan itu benar benar menohok untuk Kairen.
"Cukup...Kairen....!" Kinan ingin menghentikan perdebatan itu,
"Jangan ikut campur Kinan!" seru Kairen, lalu ia maju menghadapkan dirinya kearah Gus Rahman.
"Jika begitu katakan kebahagiaan seperti apa yang akan anda berikan kepada Kinan?" sekali lagi Gus Rahman menantang Kairen.
"Aku akan memberikan kebahagiaan yang tak terbatas untuk Kinan sampai ia merasakan cinta yang begitu besar melebihi siapapun didunia ini, aku adalah suaminya dan aku akan mencintainya seumur hidupku" sahut Kairen dengan lantang.
Deg!
"Begitu.. baiklah lebih baik anda pegang ucapan itu dengan benar, karena jika tidak, saya yang akan membalas jika anda berani menyakitinya" sahut Gus Rahman lalu ia pun menghampiri Kinan.
Lalu dengan tatapan yang tulus dan terkesan sendu, Gus Rahman melanjutkan perkataannya,
"Hanya satu permintaan terakhir dariku, maukah tetap menjadi teman dan sahabat bagiku" lanjut Gus Rahman tersenyum penuh ketulusan.
Kinan tersenyum,
"Gus Rahman adalah teman serta sahabat bagi saya selamanya..." ucap Kinan dengan tulus sebagai tanda terimakasih dan juga maaf karena telah menyakiti perasaan Gus Rahman.
"Kinan...jaga dirimu baik baik dan jangan lupa untuk selalu bahagia.., kalau begitu aku pergi dulu, assalamualaikum" sahut Gus Rahman lagi sembari berjalan menjauhi Kinan.
"Wa'alaikumussalam..." tak lupa Kinan menjawab salam itu dengan pelan sembari melihat tubuh Gus Rahman yang telah menjauh dari hadapannya.
Dan Kairen segera membawa Kinan pulang,
"Ayo pulang!"
Setelah itu, Sesampainya di kediaman.
Kairen dan Kinan hanya saling diam dan memasuki kamar mereka.
Set!
Kairen yang masih menggenggam tangan Kinan, dengan pelan Kinan melepaskan genggaman tersebut.
"Untuk apa tuan mengatakan semua itu kepada Gus Rahman!" ucap Kinan menatap nanar Kairen.
("Aku akan memberikan kebahagiaan yang tak terbatas untuk Kinan sampai ia merasakan cinta yang begitu besar melebihi siapapun didunia ini, aku adalah suaminya dan aku akan mencintainya seumur hidupku" sahut Kairen dengan lantang")
Kalimat yang tak seharusnya Kairen ucapkan setelah semua yang telah yang pernah dilontarkan oleh Kairen sebelumnya.
"Masalah ini kau jangan membahasnya lagi" Bukannya menjawab pertanyaan Kinan, Kairen malah meninggalkan Kinan masuk kedalam kamar mandi.
Kenapa sangat sulit menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Kairen!.
Kinan tak lagi berbicara, kejadian hari ini membuatnya merasa bersalah karena dari awal ia lebih memilih untuk menutupi pernikahan itu dari orang lain meskipun itu Gus Rahman sendiri.
__ADS_1
Bersambung...
...*Selamat membaca*...