Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 26 ~ Yang terlewat


__ADS_3

Hai jangan lupa untuk dukungannya ya...🤗


...----------------...


Sementara itu dimalam harinya didalam kamarnya!


Gus Rahman masih terdiam, membiarkan semua pikirannya melayang memikirkan satu kenyataan yang harus diterimanya saat ini dan,


Di atas sajadahnya!,


Gus Rahman mengadahkan kedua tangannya meminta, dan berdoa kepada sang pencipta, meskipun ia telah berlapang dada menerima Kinan telah menikah namun tetap saja hatinya patah.


"Ya Allah jika ini adalah suratan takdir yang harus hamba terima maka berikanlah kepada hamba kekuatan hati untuk menerima kenyataan ini"


Jika perihal jodoh terlalu rahasia maka jangan biarkan hatinya terlalu sakit dengan seseorang yang memang bukan miliknya.


Dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya ia bisa memberitahukan kepada Abi dan Uminya jika Kinan telah menikah.


Sang Umi sangat berharap besar dengan hubungan antara ia dan Kinan namun sekarang satu kenyataan membuat harapan itu hanya tinggal harapan sia sia.


Gus Rahman menghela napasnya, lalu ia bangkit dari duduknya dan membereskan sajadahnya,


Namun ditengah tengah aktivitasnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya!,


Tokk..tokk!


"Rahman..apa kamu sudah selesai shalat nak?" terdengar suara sang Umi dari balik pintu.


"Sudah Umi, tunggu sebentar Rahman lagi beres beres" sahut Gus Rahman,


"Baiklah..cepat turun soalnya sudah ditunggu oleh Abimu" sahut Umi Fatimah terdengar lagi.


Beberapa menit kemudian,


Gus Rahman pun ikut bergabung dengan Abi dan Uminya untuk makan malam.


"Cepat duduklah nak!" ucap Umi Fatimah sembari menyendokkan nasi kedalam piring Gus Rahman.


"Baik Umi" ia hanya menjawab singkat tak lupa tersenyum tipis.


Melihat gelagat putranya yang agak kaku membuat Umi Fatimah menyadari sesuatu, pasti ada yang sedang dipikirkan oleh putranya tersebut.


"Ada apa?, apa yang sedang kamu pikirkan Rahman?" tanya Umi Fatimah lagi sembari bertukar pandang dengan sang suami.

__ADS_1


"Jika ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, nanti setelah selesai makan malam kita bisa membahasnya" ucap Kyai Amir membuka suaranya.


Gus Rahman menghela napas panjang!


"Memang ada yang ingin Rahman sampaikan kepada Abi sama Umi" sahut Gus Rahman menatap wajah kedua orangtuanya.


"Baiklah jika memang benar ada yang ingin kamu sampaikan, Umi dan Abi akan mendengarkan dengan baik" ucap Umi Fatimah tersenyum.


Mereka pun tidak berbicara lagi hingga makanan tersebut selesai, lalu seperti yang sudah di ucapkan oleh Gus Rahman, ia beserta Abi dan Umi duduk di ruang tengah untuk berbincang bincang.


"Apa yang ingin kamu jelaskan nak!?, apakah ini tentang Kinan?" ucap Umi dengan sangat tepat menebak apa yang menjadi permasalahan putranya saat ini.


Gus Rahman memandang kedua orangtuanya dan mengangguk!


"Jika semua ini tentang Kinan, lalu kenapa wajahmu terlihat tidak baik baik saja nak?, apakah kamu telah mengatakan semuanya!" lanjut ucap Umi Fatimah.


Benar ia sudah mengatakan semuanya kepada Kinan, akan tetapi semua hal diluar dugaannya dan seakan menyakiti perasaannya saat ini.


"Kinan telah menikah Umi" Ucapnya kemudian dengan nada yang lirih,


Deg!


Tentu saja kalimat itu juga berhasil membuat Umi dan Abi terkejut!


"Benar kata Abi, apa maksudmu Rahman!, apakah Kinan telah menikah, lalu kenapa kita semua tidak mengetahuinya?" timpal Umi Fatimah,


"Umi, Abi...Kinan telah menikah dengan seorang pengusaha terkenal dikota ini namanya adalah Kairen Al Azhar, Abi pasti kenal pernah mendengar nama keluarga ini bukan!?"


"Dan tentu saja kita semua tidak mengetahui tentang ini karena Kinan berusaha untuk menutupi hal tersebut dari semua orang" lanjut Gus Rahman menceritakan segalanya.


Setelah mengatakan semua itu ia hanya bisa diam dan tidak ada kalimat apapun yang terlontar dari mulutnya.


Sekarang semua telah berbeda, dan ia tidak bisa lagi mengatakan apapun atupun melontarkan penyesalannya, karena jujur saja, apakah jika dari dulu ia mengungkapkan semua perasaannya untuk Kinan apakah ini akan terjadi!?


Apakah semua akan berbeda dari keadaan saat ini, apakah ia bisa menggenggam tangan Kinan dan memeluknya sebagai istri yang sangat dicintainya.


Melihat raut wajah putranya membuat Umi Fatimah bersedih, sebagai seorang ibu tentu saja perasaan apapun yang tengah dirasakan oleh anaknya ia juga bisa merasakannya.


Lalu dengan lembut Umi Fatimah meraih tangan Gus Rahman!,


"Nak.. apapun yang terjadi sekarang, mungkin inilah yang harus kamu lewati dan perihal kamu mencintai Kinan dan ingin memilikinya, bukankah semua itu telah diatur sang kuasa!?"


Dengan nada yang begitu lembut Umi Fatimah merangkul hati putranya yang begitu patah.

__ADS_1


"Jika memang pada akhirnya dia bukan wanita yang di takdirkan untukmu, kamu tidak perlu menyesalinya" Lanjut Umi Fatimah.


"Iya Umi, Umi benar tetapi ada satu hal yang membuat Rahman sangat menyesal"


"Umi tahu laki laki yang menjadi suami Kinan sekarang adalah seorang pria yang tidak bisa menghargai Kinan dan mencintainya"


"Saya mengkhawatirkan Kinan Umi, Rahman mengkhawatirkan kebahagiaannya"


"Jika hal itu yang membuatmu khawatir, Abi bisa merasakannya, akan tetapi apakah dengan menilai seseorang hanya dengan sekali bertemu kita bisa menganggap pria itu tidak baik untuk Kinan" Kalimat tersebut keluar dari mulut Abinya,


"Tetapi Abi, Rahman melihat sendiri bagaimana Kairen memperlakukanku Kinan"


"Iya Abi tahu, tetapi coba kamu pikirkan nak mengapa selama ini Kinan bertahan, mungkin dia memiliki keputusannya sendiri untuk bertahan selam ini!"


Gus Rahman terdiam!


Kyai Amir yang pada dasarnya sangat bijaksana dalam berpikir tentu saja dengan yakin dan beranggapan semua manusia pasti akan berubah, dari yang tidak baik menjadi lebih baik, yang semula tidak layak untuk di pertahankan menjadi layak untuk di hargai.


Begitu juga dengan Kairen, jika saat ini Kairen tidak bisa menghargai Kinan sekarang, lalu bagaimana kedepannya?, bisa saja Kairen akan menjadi suami yang membuat Kinan bahagia.


"Rahman yang terpenting sekarang adalah melanjutkan hidup, jangan pernah menyerah hanya karena kamu tidak bisa memiliki Kinan,..Abi dan Umi akan selalu berada di sampingmu nak!"


Sebagai seorang ayah, Kyai Amir tentu saja menginginkan sebuah kebaikan bagi Gus Rahman, dan sekarang dia ingin putranya tersebut tidak menyerah begitu saja.


Gus Rahman menghela napas!


Benar!, sekarang yang terpenting adalah kebaikan dan kebahagiaan bagi Kinan dan juga kebahagiaan orang tuanya.


Hatinya sekarang lebih tenang disaat mendengar semua nasehat dan juga dukungan dari keluarganya, apa yang dikatakan oleh Abi dan Umi membawa kesadaran bagi hatinya yang patah.


Mulai sekarang ia akan berusaha lebih berpikiran luas, jika Kinan memang memilih untuk bertahan lalu kenapa ia tidak?


Jika dari awal pernikahan itu memang tidak bisa dihindari oleh Kinan, maka sekarang pun Kinan pasti memiliki alasan untuk bertahan.


"Terimakasih Abi, Umi karena kalian sekarang Rahman bisa melepaskan Kinan, dan untuk Umi maafkan Rahman karena tidak bisa menjadikan Kinan sebagai menantu Umi" Ucapnya dengan suara yang lebih bahagia.


"Tidak masalah jika Kinan tidak bisa menjadi menantu Umi sekarang karena bagi Umi kebahagiaan kalian semualah yang terpenting" Jawab Umi Fatimah dengan tatapan kasih sayang seorang ibu.


Sekarang yang menjadi rintangan dalam hatinya telah terlewati, sekarang perasaannya lebih baik dan tidak ada lagi yang menjadi penyebab kekhawatiran dalam dirinya.


Bersambung...


...*Selamat membaca*...

__ADS_1


__ADS_2