Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 31 ~ Cakrawala Diujung Senja


__ADS_3

'Kisah kita akan diingat, kisah kita akan menjadi kisah yang terkenang disepanjang cerita, seperti sebuah harapan indah didalamnya sebuah hati'


jangan lupa komen dan like ya😍


...----------------...


"Apa yang kamu bicarakan dengan nenek?, apakah menyenangkan!" dengan nada yang sinis kairen berbicara, matanya mendelik menatap kinan yang baru saja membuka pintu.


Saat ini Kairen duduk ditepi kasur dengan handuk yang masih tergantung dilehernya, Kairen baru saja selesai mandi sore itu.


Baru saja Kinan masuk, Kairen sudah menyambutnya dengan tatapan tak bersahabat, tetapi bukannya kesal juga Kinan malah ingin tertawa dibuatnya.


"Menyenangkan" Sahut Kinan spontan, ia ingin melihat wajah menggemaskan Kairen ketika sedang kesal tak berdaya seperti sekarang.


"Ooh..gitu bagus, setelah ini jangan berbicara denganku!" Sungut Kairen tandas,


Lalu dengan raut wajah yang sangat kesal ia keluar dari dalam kamar, tak lupa melemparkan handuk kesembarang tempat, dan meninggalkan Kinan yang masih terkekeh geli.


Kairen,..Kairen...,ternyata menyenangkan juga bermain main dengannya, sungguh tidak pernah disangka laki laki yang biasanya terlihat tenang dan terkesan cuek seperti Kairen bisa tak berdaya menghadapi tingkah nenek.


Kinan pun beranjak dari tempatnya, lalu ia menatap keluar jendela kaca itu, dengan senyum manis mengembang diwajahnya,


Kinan bisa melihat halaman rumah yang tidak begitu besar tapi sangat cantik dan asri, rumah ini sendiri tidak mewah bahkan terkesan jauh dari kata megah tetapi hanya rumah dua lantai yang didominasi oleh kaca.


Dan dari kamarnya saat ini Kinan bisa langsung melihat pesisir pantai karena kamar ini langsung berhadapan dengan halaman luar.


Kairen terlihat dari sana,..ternyata Kairen menuju halaman depan, lalu terlihat jelas raut wajahnya yang sangat kesal, bahkan Kairen terlihat mengusap wajahnya gusar.


Ternyata Kairen benar benar kesal sekarang!, apakah ia harus membujuk Kairen agar laki laki itu tidak marah lagi?.


Kinan pun berjalan keluar dari kamar itu, dan setelah sampai didepan halaman, dengan perlahan lahan ia menghampiri Kairen dan berdiri tepat disampingnya,


Meskipun Kinan berada disana tetapi ternyata ia tidak berniat sama sekali untuk berbicara, mereka sama sama diam dan entah apa yang mereka pikirkan didalam hati masing masing.


Atmosfer terasa berbeda kala itu, dengan langit biru kekuning-kuningan yang mengartikan jika cakrawala di ujung sana akan tenggelam dan membawakan langit malam yang indah dengan sinar bulan.


Senja terasa sangat indah untuk dilewatkan, desiran ombak terdengar lembut ditelinga tak lupa burung burung kecil yang terbang kesana-kemari menuju sarang masing masing.


Perlahan tercetak senyum disudut bibir Kinan!,


Sungguh perlunya kita bersyukur dalam hidup, bahkan untuk burung burung itu saja rejekinya telah ditetapkan oleh sang kuasa, burung burung itu akan terbang seharian untuk mendapatkan makanan dan terbang di langit tanpa sekat, sungguh bebas.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kairen memecahkan keheningan diantara mereka.


"Bukan apa apa,..hanya saja saya sedang mengamati burung burung itu" Sahut Kinan sembari menunjuk kearah langit.


Kairen mengikuti pandangan Kinan, lalu ditatapnya burung burung yang terbang bebas saat ini, burung burung itu memang menambah kesan indah disuasana pantai kala senja.


Akan tetapi ia tidak mengerti mengapa Kinan memperhatikan burung burung tersebut?,


"Memangnya ada apa dengan mereka?" tanya Kairen dengan kening yang bertaut, Kinan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Kairen.


"Pernahkan tuan memperhatikan mereka semua?,.."


"Tidak, untuk apa!?" jawab Kairen singkat.

__ADS_1


"Pernahkan tuan memperhatikan bagaimana kesabaran dan perjuangan yang dilakukan burung burung itu?,...


Kairen lagi lagi bingung!


"Bagi Kinan burung burung itu sungguh sabar dan hebat, mereka tak pernah menyerah untuk mendapatkan makanan dari pagi hingga sore, dan kenapa saya mengatakan mereka sangat hebat?,.." Ucap Kinan kembali disaat ia melihat ekspresi Kairen yang menyiratkan keinginan tahuan.


"Karena disaat mereka tidak bisa kembali dengan perut yang kenyang, mereka tak pernah mengeluh dan menyerah,..besoknya mereka akan kembali mengitari langit yang luas ini dengan yakin, yakin dengan rejeki yang telah ditetapkan oleh Allah" sambung Kinan.


Kairen terpaku mendengar semua penjelasan Kinan!. bukan hanya cantik parasnya, lembut hatinya, tetapi juga sungguh indah takwanya.


Kinan!.. seorang wanita yang begitu baik dan cantik!, apakah kamu menyadari betapa gilanya aku memikirkan semua tentangmu.


Kadang sangat sulit membuatmu mengerti apa yang sedang aku lakukan, tetapi kadang aku yang sulit memahami pikiranku sendiri.


Kairen mulai terlarut dalam sebentuk senyum diwajah Kinan, Kinan yang belum sadar diperhatikan oleh Kairen,


Kinan mulai berjalan meninggalkan halaman rumah menuju pantai lepas, tak lupa di bawah pandangan Kairen, Kinan berlari lari kecil, menikmati setiap sentuhan angin yang menyibakkan gamis dan jilbab yang dikenakannya saat ini.


Dengan senyuman lembut diwajahnya, tatapan mata yang sendu sesekali Kinan akan menatap kearah Kairen yang masih setia dibelakangnya.


"Tuan lihatlah!,..indahkan?" Tanya Kinan disaat ia menemukan sebuah kerang kecil di pasir putih itu, dengan raut senang Kinan menunjukkannya kepada kairen.


Kairen hanya berdeham kecil,


Akan tetapi sahutan itupun tetap membuat Kinan senang, lalu dengan tangannya yang bebas Kinan menarik Kairen ke sisinya,


"Bersenang-senanglah tuan" Kinan mencoba membentuk sebuah senyuman diwajah Kairen dengan tangannya.


"Dan tersenyumlah,...Jika tuan masih kesal karena nenek tak apa, tapi coba tuan pikirkan, apakah selama ini nenek tidak pernah menyayangi tuan?, tidak akan!, menurut Kinan bagaimanapun dia adalah nenek yang sangat mencintai cucunya"


Dan tanpa menunggu perkataan Kairen, Kinan melambaikan tangannya meninggalkan Kairen,..


"Mari pulang tuan dan temui nenek" tangan Kinan melambai, lalu ia pergi meninggalkan Kairen setelah tak sadar jika ia berhasil membuat dada Kairen berdegup kencang tanpa Kairen sadari, apa yang terjadi dengan hatinya sendiri.


Dag!


Dig!


Dug!


Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri!, apa yang terjadi dengan dirinya saat ini!?.


Sial!, runtuknya.


Kinan,..Kinan, apakah kamu sadar, kamu telah membuat hatinya berantakan!


Apa yang akan harus ia lakukan setelah ini, apakah ia masih bisa bersikap cuek dan tidak peduli, sementara hatinya berdebar tak karuan karena senyuman itu.


...***********...




"Kairen..!" panggil Kinan membangunkan Kairen yang tertidur lelap diatas sajadah.

__ADS_1



Tirai tirai itu dibuka oleh Kinan dan pantulan cahaya matahari yang masuk membuat si-empunnya terbangun,



"Hemm..!" Kairen mengerjapkan matanya silau, lalu dengan gerakan pelan Kairen bangun dari posisi tidurnya.



"Bangunlah tuan ini sudah pagi, cepat gih cuci mukanya terus sarapan" Ucap Kinan sembari tersenyum kecil, tapi Kairen masih uring-uringan dan sesekali mulutnya menguap lebar.



"Ckk,..kau ini sungguh cerewet" sungut Kairen dengan suara serak khas bangun tidur.



"Bangunn..tuannn..ini sudah pagi loh!, lagi pula jika tuan masih mengantuk Kinan punya solusinya.." kinan terpaksa menarik tangan Kairen dari posisi duduk lalu membawa Kairen duduk ditepi kasur.



"Lihatlah saya sudah membawakan secangkir teh kesukaan tuan" kata Kinan lagi setelah ia mengambil secangkir teh diatas meja yang tadi ia bawa, lalu disodorkannya kepada Kairen.



Kairen menatap Kinan dulu sebelum ia menerima teh tersebut, sejak kapan Kinan tahu bahwa teh ini adalah kesukaannya?, bukankah selama ini ia tidak pernah memberitahukan kepada Kinan.



"Sejak kapan kamu tahu teh ini adalah kesukaanku?" tanya Kairen menyelidik, akan tetapi ia tak menolak lalu menyeruput teh tersebut.



"Yah..saya tahu saja, lagipula bagaimana saya tidak menyadari tuan yang menyukai teh ini jika setiap hari tuan meminumnya" sahut Kinan. Benar juga!, kenapa ia tidak kepikiran alasan itu?,



"Sudahlah kau pergilah dulu, nanti akan aku susul" Kairen beranjak dari tempatnya, lalu ia pun meletakan dulu tehnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.



"Baiklah"



Kinan pun turun lebih dulu, dan duduk di meja makan bersama dengan nenek sembari menunggu Kairen.



**Bersambung**...



...\*Selamat membaca\*...

__ADS_1


__ADS_2