
'Bukan yang terbaik'
'Maaf karena aku, hatimu sakit karena cinta yang tak terbalas, akan tetapi jika aku boleh katakan sesuatu, yang kita inginkan barangkali bukan yang terbaik karena itulah Allah SWT menjauhkannya...Begitu pula kita'
By; Kinan Abizar Ahlam
...----------------...
Malam harinya dikediaman Gus Rahman!.
Saat ini Gus Rahman beserta dengan Umi Fatimah dan juga Kyai Amir tengah berada di ruang makan.
Melihat wajah Gus Rahman, Kyai Amir menjadi bertanya tanya ada apakah sebenarnya?, apa yang terjadi dengan Gus Rahman karena saat ini wajah Gus Rahman terlihat tidak baik baik saja.
Seperti ada yang dipikirkan oleh Gus Rahman yang menyebabkan Gus Rahman yang biasanya tidak pernah melamun diatas meja makan, malah melamun sembari mengaduk-aduk nasi yang ada didalam piringnya saat ini.
"Apa yang kamu lakukan nak?, kenapa sedari tadi kamu melamun!?" tanya kyai Amir membuyarkan lamunan Gus Rahman.
"Eh..iya Abi, Maafkan Rahman karena tidak fokus!" jawab Gus Rahman terlihat kaku walaupun ia sudah tersenyum.
"Tidak apa apa nak tetapi apakah kamu memiliki masalah sekarang?" sahut Kyai Amir lagi, beliau tahu Gus Rahman saat ini tidak benar benar baik karena ia sangat hapal dengan sifat putranya itu.
Begitu juga dengan Umi Fatimah!, di benak Umi sekarang pun ia juga merasa jika Gus Rahman bersikap tidak biasanya.
"Iya Rahman apa yang sedang kamu pikirkan?, Umi perhatikan setelah kamu pulang mengantarkan Kinan tadi Umi lihat sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" tambah Umi Fatimah.
Karena kedua orang tuanya sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang dipikirkan olehnya, maka ia pun tidak bisa menutupi lagi, lagi pula ia juga membutuhkan sebuah saran dari Abi dan Uminya saat ini.
"Sebenarnya begini Umi..." Dan Gus Rahman pun menjelaskan semuanya kepada Umi dan Abi tentang kejadian hari ini dari awal hingga akhir dan tak lupa ia bertemu dengan Kairen.
"Jadi begitu Abi, Umi, sebenarnya Rahman selalu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi saat ini, karena Rahman merasa Kinan sedang menyembunyikan sesuatu" lanjut ucap Gus Rahman setelah menyelesaikan ceritanya.
"Benarkah begitu, tetapi setahu Umi nak Kinan itu tidak memiliki kerabat lain" timpal Umi ikut memikirkan semua yang dijelaskan oleh Gus Rahman.
Lalu siapa pria itu, pikir Gus Rahman. Bahkan ia sendiri tidak tahu nama Kairen.
"Jadi maksudmu nak Kinan sedang menutupi sesuatu!?, tetapi Abi pikir itu adalah haknya mungkin saja ia memiliki alasan untuk itu,.."
"Coba Kamu ingat ingat lagi, apakah selama ini Kinan pernah menceritakan sesuatu padamu nak!?" lanjut Kyai Amir.
"Tidak ada hanya saja aku juga selalu memikirkan sikap Kinan akhir akhir ini Abi, terlebih lagi disaat seorang pria yang bernama Halim itu datang dan menjadi supirnya Kinan" jawab Gus Rahman.
__ADS_1
"Jika kamu benar menyukai Kinan, satu pesan Abi untukmu!, nak...kamu harus memastikan dulu bagaimana hatimu sendiri dan juga perasaan dari orang yang kamu sukai" pesan Kyai Amir.
"Iya Abi, Rahman tahu itu karena itulah Rahman akan mengatakan semuanya kepada Kinan dan mungkin akan bertanya padanya"
"Tetapi sebelum itu Rahman ingin meminta izin dan restu dari Abi dan umi.."
"Tentu saja umi dan Abi akan merestui apapun yang ingin kamu lakukan nak, asalkan itu adalah yang terbaik bagimu dan jangan lupa apapun hasilnya nanti kamu harus tetap bersabar dan bersyukur" sahut Umi dengan senyuman hangat seorang ibu.
Sekarang di pikiran Gus Rahman hanya ada bayangan tentang Kinan dan juga sosok Kairen yang tidak ia ketahui sama sekali, namun juga ia harus memastikan sendiri apakah Kinan dan Kairen memiliki hubungan.
...***********...
Keesokan harinya...
"Heh apa yang sedang kau pikirkan!"seru Evan menepuk pundak Kairen.
Kairen yang saat ini berada di dalam ruangannya sedang menatap lurus kedepan dengan raut wajah yang begitu serius.
Evan yang baru datang pun tidak disadari oleh Kairen dan alhasil Kairen terkejut dengan kedatangan Evan itu.
"Ckk..kau bisa mengetuk pintu dulu jika ingin masuk hah!" sungut Kairen, lalu ia pun meletakan bolpen yang sedari tadi di pegangnya.
"Heh aku itu sudah mengetuk pintu!, tetapi kau lah yang kelewatan melamunnya sampai sampai tidak menyadari kedatanganku" sahut Evan terkekeh kecil,
"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan!?, ceritakan saja...tapi jika boleh aku tebak pasti kau sedang bermasalah lagi dengan istrimu kan!" ucap Evan lagi sambil mengunyah,
Kairen mengela napas panjang!
"Coba kau katakan dimana letak kesalahanku padanya!?,... Aku tidak mengerti bagaimana wanita itu berpikir" desah berat Kairen.
Evan yang mendengar pertanyaan itu sontak tertawa!, Bagaimana bisa Kairen bertanya tentang itu?, Bukankah sudah pasti jawabannya, Evan sendiri pun tidak tahu cara berpikir Kairen saat ini!.
"Sejujurnya aku tidak tahu, tapi aku pikir kau lebih tahu jawabannya dibandingkan denganku,..."
"Begini Kairen, ini menurutku...coba kau pikir pikir untuk apa kau menjauhinya!?, jika aku ada diposisimu aku tidak akan melewatkan wanita cantik seperti Kinan" lanjut Evan membuat Kairen kembali melotot.
"Kau bercanda!, kau pikir aku menjauhinya tanpa alasan, dan satu hal lagi kita itu berbeda, aku tidak seperti kau yang begitu banyak memiliki wanita" Sergah Kairen,
"Eitss..kejem bener ngomongnya!,..tapi yah aku katakan lagi, aku rasa kau perlu memperbaiki hubunganmu dengan Kinan sebelum terlambat" imbuh Evan merasa tersentil.
Kairen tidak menjawab lagi, ia hanya diam sembari menekan pelipis keningnya,
__ADS_1
"Sudahlah dari pada galau galau lebih baik ikut denganku!" seru Evan kembali dengan suara khasnya.
"Kemana!, jangan bilang kau ingin pergi ke Bar !" sungut Kairen tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Evan terlebih lagi disaat melihat respon wajah Evan.
"Hehe...benar tapi kali ini berbeda karena ada wanita wanita pemuja mu datang!...kau tahu Kairen mereka sangat seksi dan cantik" ucap Evan mengedipkan matanya, menggoda!
Wossh! sebuah bolpen melayang kearah Evan,
"Apa yang kau pikirkan hah!" satu lemparan tepat mengenai sasaran,
"Baik..baik jika tidak mau ikut tapi jangan dilempari juga kan!" timpal Evan lalu ia pun segera pergi dari ruangan itu sebelum kena amarah Kairen.
"Dasar!, apakah hanya ada wanita didalam otaknya!" gerutu Kairen kesal, Bukannya mengurangi beban pikirannya, Evan malah semakin membuat otaknya mendidih.
Sementara itu di kediaman...
Kinan yang menyadari jika Kairen telah pergi kekantor pagi pagi sekali hanya bisa diam.
Lagi lagi mereka berseteru, sebenarnya Kinan tidak ingin bermasalah dengan Kairen, karena ia mencoba untuk mengikuti apa yang pernah Kairen ucapkan.
Mengatakan jika mereka tidak boleh menganggu satu sama lain dan menjalani kehidupan sebagaimana mestinya, meskipun yang dimaksud disini adalah tidak saling mengenal lebih jauh walaupun mereka berstatus suami istri.
Oleh karena itu sebisa mungkin ia juga ingin menjalani hari hari dengan baik dan berharap hubungan mereka yang seperti sekarang menjadi lebih jelas nantinya.
"Kenapa sangat sulit membuatmu mengerti!, Bahkan kau tidak ingin mendengarkan penjelasanku" renung Kinan di dalam kamarnya saat ini.
Hari ini Kinan tidak masuk mengejar karena ia telah membuat janji dengan Umi Fatimah untuk segera mengadakan doa bersama dan juga membagikan makanan seperti yang telah mereka siapkan.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan Kairen!" pikir Kinan lagi, ia tidak bisa memahami apa yang saat ini Kairen pikirkan.
Kairen itu seperti misteri untuknya!,
Terlalu misterius sehingga membuat Kinan takut apa yang akan dilakukan oleh Kairen setiap harinya,
Setelah beberapa hari Kinan bisa melihat jika Kairen itu memiliki sifat perhatian terhadap keluarga dan juga sangat menghormati orang tuanya tetapi disisi lain Kairen seperti memiliki sifat yang tersembunyi, yang tidak bisa Kinan pahami apa yang akan dilakukan oleh Kairen.
Kinan tidak bisa menolak senyuman hangat yang kadang kala di tampilkan oleh Kairen dengan sangat baik bahkan seperti tidak sedang berakting.
Mengingat semua itu membuat Kinan tertawa kecut, Kairen..Kairen...kau ingin membuatnya terombang ambing didalam perasaan tanpa ujung.
Bersambung...
__ADS_1
...*Selamat membaca*...