
Terimakasih untuk para pembaca yang begitu setia menunggu up novelku😍, jangan lupa untuk selalu mendukung karyaku ya...🙏
...----------------...
"Terimakasih ustadz Revan dan ustadzah Riri karena mau direpotkan, saya juga berterimakasih karena telah di izinkan melihat anak anak disini" Ucap Kinan begitu ramah.
Setelah beberapa saat kemudian, Kinan dan Kairen pun izin pergi dari pondok tersebut, tak lupa Kinan mengucapkan terimakasih,
"Sama sama nona, lagipula kami juga sangat senang nona Kinan mau mampir di pondok kami yang sangat sederhana ini" sahut Revan, mereka terlihat seperti orang yang saling mengenal dari lama.
Sebenarnya begitulah kepribadian Kinan, Kinan akan sangat mudah beradaptasi terhadap orang yang baru ditemuinya, tidak mengherankan jika Kinan tidak kesulitan dalam berkomunikasi.
"Saya tidak berpikir demikian, bagi saya ustadz dan ustadzah memiliki hati yang begitu mulia, karena dengan adanya pondok ini saya yakin begitu banyak manfaatnya untuk anak anak didesa ini"
"Terimakasih atas pujiannya, akan tetapi kami melakukan ini semua memang berharap anak anak di desa ini pandai dalam ilmu agama dan saling menebar kebaikan satu sama lain" sahut ustadz Revan.
"Maa syaa Allah sungguh benar yang ustadz Revan ucapkan,.." Sementara itu, ditengah asik asiknya Kinan berbicara dengan ustadz Revan dan ustadzah Riri.
Kairen mulai merasa jika Kinan telah melupakan keberadaannya karena terlalu senang berbincang bincang, Kinan terlalu asik sehingga membuat Kairen seperti lalat disana, wanita itu bahkan tidak sedikit pun memandangnya.
Bahkan disaat Kairen mulai berdeham kecil, Kinan tidak juga mengerti,
Hem..!, Hem!
"Apakah aku hanya patung disini!" Runtuk Kairen dalam hati, akan tetapi ia mulai berpikir lagi, Untuk apa ia marah?.
Jika Kinan tahu pikirannya sekarang, bukankah Kinan bisa saja mengatainya lagi dengan sebutan 'Cemburu!'
Sekali lagi Kairen berdeham!,
"Hem,..Kinan lihat ini sudah jam berapa!" Ucap Kairen mencoba untuk ramah, padahal dalam hatinya sungguh merasa gondok.
Kinan menoleh singkat, mengisyaratkan dengan tatapan mata yang sedikit tajam dan terlihat jika Kinan meminta kairen untuk lebih sopan,
Apa maksud dari tatapan Kinan itu hah?!, bukankah ia sudah sangat sopan.
Bahkan ia sudah menunggu lama hanya untuk mendengarkan Kinan mengucapkan kalimat perpisahan dengan embel-embel berlebihan seperti sekarang.
"Baiklah jika begitu, saya izin pamit pulang dulu Ustadz Revan, ustadzah Riri..."
"Silahkan nona,..dan jangan sungkan jika nona ingin kembali berkunjung.." sahut Revan lagi, dan disaat itu lagi lagi Kinan menghentikan langkahnya untuk pergi,
"Terimakasih,..jika begitu saya,..!"
"Jika kamu masih ingin berbicara disini, Aku akan pergi lebih dulu sekarang" Ucap Kairen memotong perkataan Kinan dan ustadz Revan.
Jika Kinan lebih lama lagi, demi apa ia akan pergi sekarang juga!.
Entah seperti apa kelihatannya saat ini, tetapi yang jelas Kairen mulai bosan mendengar pujian yang terlontar dari mulut Kinan untuk Revan saat ini.
Kinan mengerutkan keningnya!,
Kenapa Kairen terlihat tidak senang!?, Bahkan Kairen sudah pergi dari hadapannya.
"Saya meminta maaf atas kelancangan suami saya, kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum.."
Kinan lekas pergi dari sana dan mengejar Kairen yang telah pergi meninggalkannya, bahkan ia tidak sempat mendengarkan sahutan salam dari ustadz Revan.
__ADS_1
"Tuan!"
"Tuan.. tunggu Kinan!" panggil Kinan tetapi Kairen tidak juga mendengarnya, Kairen mengacuhkan panggilan itu, dan melajukan langkahnya lebih cepat.
"Tuan kenapa marah?, Kinan salah apa lagi!?" tanya Kinan tidak mempedulikan jika Kairen mengacuhkannya, yang penting sekarang Kinan harus bisa menyeimbangkan langkahnya dengan Kairen.
Tap..!!tap..!
"Kairen!" Panggil Kinan sekarang lebih keras,
Ia benar benar merasa lelah karena harus mengejar Kairen, bahkan saat ini merasa sudah sampai di tepian pantai dan itu mengartikan jika waktu telah berjalan beberapa menit dari pasar hingga sampai di pantai.
"Apa!" Sahut Kairen menghentikan langkahnya dan berbalik, dan tepat disaat itu ternyata Kinan sudah berjongkok sembari menepuk dadanya pelan,
Kinan ngos-ngosan!.
"Kenapa jalan tuan sangat cepat, tuan kan tahu jika Kinan tidak bisa menyamakan langkah tuan yang begitu besar!" Sungut Kinan, ia masih berusaha mengontrol napasnya.
Kairen merasa sedikit bersalah, akan tetapi lagi lagi ia mencoba untuk menyembunyikan perasaannya dan malah berkata lebih kasar.
"Siapa suruh kau begitu lamban!,.."
"Lagipula aku lihat kau begitu senang bisa berbicara dengan pria itu!" sambungnya dengan suara agak sinis.
"Siapa?, Kinan!?, tentu saja Kinan sangat senang, karena Kinan tidak menyangka jika didesa ini ada seorang ustadz yang begitu mulia mau membagi ilmunya" Sahut Kinan jujur,
Akan tetapi kejujuran Kinan terlihat berbeda dari pandangan Kairen saat ini.
Heh!,
Kairen mengendus kesal,
"Apa?"
Apa lagi sekarang?, kenapa tiba tiba Kairen berkata seperti itu, menarik perhatian!?, Apa maksud Kairen menarik perhatian.
Apakah Kairen sudah salah sangka dan kini ia memandang Kinan dengan tatapan merendahkan!.
"Siapa yang menarik perhatian!?" tukas Kinan bangkit dari posisinya, lalu dengan tatapan mata yang lebih membulat, Kinan merasa ada satu hal yang harus ia selesaikan dengan Kairen.
"Kau!" Kairen menekankan ucapannya.
"Kepada siapa?,.." Kinan sempat berpikir.
"Ooh...atau jangan jangan ustadz Revan!, yang benar saja tuan Kairen," bukan marah tetapi Kinan malah terkekeh, ternyata inilah sebabnya Kairen marah.
"Apakah tuan cemburu?" Tanya Kinan mulai terkekeh kecil, dan coba untuk ditahannya.
"Siapa yang cemburu!, jangan asal mengartikan sesuatu!" runtuknya,
Namun tingkah Kairen membuat Kinan tidak percaya, pasalnya disaat itu Kairen langsung pergi meninggalkannya dengan langkah yang terlihat cepat dan sekarang ia mengerti mengapa Kairen terlihat marah tadi.
Dan Kinan hanya ber-Oh serta tak tahan untuk mengontrol senyumannya.
"Kenapa kau malah tertawa hah!?,..dan siapa yang cemburu" Sungut Kairen menatap Kinan yang ingin tertawa itu.
Sahutan Kairen membuat Kinan semakin terkekeh geli, bahkan sekarang bibirnya mulai mengembangkan sebuah senyuman lebar.
__ADS_1
Kinan mengela napasnya merasa sedikit lega!.
Kinan mulai menatap tepian pantai, di tepi pantai yang mulai terlihat langit senja, ujung cakrawala yang lagi lagi begitu indah untuk dilewatkan.
Entah datang dari mana perasaan hangat yang mulai menjalari seluruh tubuhnya bahkan hatinya, entah itu dari hangatnya sinar sore?, ataupun dari ucapan Kairen yang memiliki makna yang tersirat tanpa disadari.
Kinan dan Kairen lagi lagi bisa menyaksikan indahnya langit sore dan lebih menyenangkannya adalah Kairen sedang kesal padanya karena ia berbicara dengan seorang pria lain.
Apakah Kairen benar benar merasakan kecemburuan!?, memikirkan hal tersebut bukan membuat Kinan marah atau kesal tetapi ia malah merasa sangat senang,
"Ternyata tuan benar benar cemburu!" Ucap Kinan lebih tenang, bahkan saat ini ia berani menatap bola mata Kairen yang berwarna coklat terang.
"Cemburu!, s..siapa yang cemburu, aku sudah bilang bukan jika aku tidak cemburu!" Jawab Kairen mengelak.
"Ohh..begitu ya sudah..!" Kinan hanya mengiyakan saja, walaupun begitu, Kinan tetap merasa bahagia dan tahu jika Kairen memang sedang cemburu.
"Apa salahnya memuji!?," Tanya Kinan lagi, ia ingin memastikan sesuatu.
"Aku tidak bilang hal itu salah!"Sergah Kairen.
"Benar, karena itu Kinan ingin menjelaskan kepada tuan,..."
"Jika saat ini tuan marah atau kesal karena sikap Kinan tadi, Kinan minta maaf, dan Kinan berjanji untuk tidak mengacuhkan tuan"
Yah,..anggap saja memang kesalahannya karena sempat tidak mengerti maksud dari Kairen tadi.
Kairen memincingkan matanya!,
"Kau sedang meminta maaf?" Tanya Kairen dengan nada tak percaya.
"Iya, dan Kinan juga ingin menjelaskan jika semua pujian yang keluar dari mulut Kinan tadi benar benar semata untuk memuji kerendahan hati ustadz Revan, bukan untuk seorang laki laki" Sahut Kinan sembari tersenyum.
Ucapan Kinan berhasil mengusik perasaan Kairen, dan tanpa sadar Kairen lebih lega, bahkan sepertinya ia tidak sekesal tadi, tetapi lagi lagi ditepisnya perasaan itu.
"Siapa yang ingin kau menjelaskannya, aku juga tidak peduli jika kau memujinya sebagai seorang pria" sahut Kairen mulai berjalan kembali.
Kinan mengikuti langkah Kairen!,
"Tapi Kinan tidak akan melakukan itu,.." Jawab kinan tanpa ragu.
"Dan apa tuan tahu alasannya, kenapa?" sambung Kinan disamping Kairen, mereka berjalan berdampingan.
"Karena ada satu hati yang harus Kinan jaga"Ucap Kinan lagi, dan kini tatapan mereka bertemu.
Degg!
"*Sial*!"
Jantungnya mulai berdetak tak karuan tanpa sadar, dan entah kenapa senyuman Kinan membuat Kairen kikuk dan menyebabkannya salah tingkah.
"Jangan tersenyum!,...kau jelek jika tersenyum" Sungut Kairen tergagap, akan tetapi ia pandai menutupi ekspresinya.
"Eumm..? Memangnya sejelek itu!?" bukannya marah Kinan malah bertanya dengan wajah polosnya.
"Iya,..jadi jangan tersenyum kepada siapapun" Sahut Kairen berjalan mendahului Kinan.
"*Selain aku*"
**Bersambung**...
__ADS_1
...\*Selamat membaca\*...