
'Dengarkanlah sebuah pengakuan dari lubuk hatiku'
By: Gus Rahman Ashari
...----------------...
"Kinan, Umi saya pamit pulang dulu tadi sudah dihubungi oleh Abi katanya ada suatu urusan"Jihan segera pamit pulang setelah menyelesaikan tugas yang menjadi bagiannya.
"Begitunya nak Jihan, baiklah Umi ucapkan terimakasih padamu karena telah mau repot-repot membantu Umi" sahut Umi Fatimah yang juga ada di sana.
"Sama sama Umi tidak masalah" sahutnya sopan.
"Hati hati dijalan" timpal Kinan sembari memegang tangan Jihan.
"Iya, kalau begitu ana pamit pulang, Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam..."
Setelah kepulangan Jihan dan Alina yang lebih dulu karena suatu urusan yang mendesak membuat Kinan sendirian di kediaman itu bersama dengan beberapa orang yang masih sibuk dengan makanan tersebut.
"Kapan kamu mau pulang nak?"tanya Umi Fatimah
"Emm...setengah jam lagi Umi" sahut Kinan tersenyum, karena waktu telah menunjukkan pukul setengah lima membuat Kinan harus segera pergi.
"Baiklah jika begitu nanti Umi minta tolong sama Rahman untuk mengantarmu pulang ya" ucap Umi lagi.
"Tidak usah Umi saya bisa pulang naik taksi" jawab Kinan dengan sopan, sebenarnya ia tidak perlu diantar lagipula ia tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya saat ini.
"Tidak apa apa, nanti Umi bilang sama Rahman" imbuh Umi sembari tersenyum lalu ia pergi dari hadapan Kinan untuk memberitahukan kepada Gus Rahman.
Sampai kapan ia harus menutupi kebenaran ini dari orang orang, dan untuk Gus Rahman bagaimana jika perasaan itu memang benar, bagaimana ia bisa mengatakan semuanya tanpa menyakiti.
Rasanya semakin rumit untuk dijelaskan!
Pada akhirnya waktu telah menunjukkan pukul lima tepat, dan seperti yang telah Kinan ucapkan saat ini ia bersiap-siap untuk pulang bersama dengan Gus Rahman.
"Sudah siap!"seru Gus Rahman sembari tersenyum melihat Kinan yang tengah memasang helm di kepalanya.
"Sudah Gus, maaf merepotkan" sahut Kinan merasa tidak enak hati, dan dengan terpaksa Kinan harus memberitahukan alamat rumahnya sekarang.
"Gus alamatnya disini" lalu Kinan pun menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat rumah.
"Tidak merepotkan sama sekali, baiklah,..ini alamat mu!?" ucap Gus Rahman sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil secarik kertas bertuliskan alamat rumah itu.
Apakah alamat baru?,pikir Gus Rahman, jadi apakah selama ini Kinan sudah pindah rumah atau baru saja?.
Dan siapa sangka di kejauhan terlihat Kairen yang berada didalam mobil sembari menatap lurus kearah Kinan yang tengah duduk berboncengan dengan seorang laki laki.
"Tuan muda apa perlu kita cegah?"
"Tidak perlu, biarkan dia pulang bersama laki laki itu" sahut Kairen terdengar tenang,
Namun apa yang ada dibalik dadanya!.
"Ikuti saja mereka dari belakang" lanjut Kairen memerintahkan untuk mengikuti Kinan, bukannya ia cemburu hanya saja ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Kinan bersama dengan pria itu.
__ADS_1
Tapi ngomong ngomong apakah pria itu yang bernama Gus Rahman!?, pikir Kairen.
Lalu mengikuti Kinan dari belakang dan berada dijarak yang aman supaya mereka tidak dicurigai.
"Dasar Kairen kalaunya cemburu itu nggak usah jaim" batin Halim terkekeh geli
Bagi Halim memang benar Kairen tidak mencintai Kinan saat ini namun Halim yakin suatu saat hati Kairen akan tergerak, seperti disaat ini Halim yakin jika sebenarnya hati Kairen itu membara tetapi diri Kairen sendiri menyangkalnya.
Benar kata Evan 'Tunggu tanggal mainnya' dan kita bisa lihat bagaimana bucinnya Kairen kepada Kinan.
Disisi Kinan,
"Boleh aku bertanya padamu Kinan?"ucap Gus Rahman lembut, ia masih fokus berkendara.
"Apa yang ingin Gus tanyakan?" sahut Kinan.
"Sebenarnya selama ini saya selalu menyimpan pertanyaan ini dari dulu,.. apakah kamu tahu rumor yang ada di pesantren?" tanya Gus Rahman.
Perasaan Kinan yang awalnya biasa saja menjadi tersentak disaat mendengar pertanyaan itu, Bagaimana bisa Gus Rahman bertanya soal itu padanya.
"Sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu padamu....jika sebenarnya aku...."
Belum sempat Gus Rahman mengatakan sesuatu, tiba tiba dari arah belakang mereka ada pengendara yang ugal-ugalan dan menyebabkan Gus Rahman harus membanting rem hingga pangkalnya.
Set!,
Citttt!!
"Hati hati Gus!"seru Kinan refleks dan disaat Gus Rahman menghentikan kendaraannya tubuh Kinan bersentuhan dengan Gus Rahman.
Sedetik kemudian Kinan tersadar lalu ia pun dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari sentuhan yang tak sengaja itu, sedangkan Gus Rahman dengan cepat menepikan motornya dipinggir jalan.
"Kamu tidak apa apa?"tanya gus Rahman setelah mereka berhenti di pinggir jalan dengan aman.
Lalu dengan perasaan cemas Gus Rahman melihat keadaan Kinan yang terlihat terkejut.
"Apakah kamu baik baik saja Kinan" dengan cemas dan sungguh sangat perhatian Gus Rahman menatap wajah Kinan.
Kinan mengangguk kepalanya, Kinan sedikit syok namun untungnya tidak terjadi apa apa kepada mereka berdua.
Sementara didalam mobilnya Kairen,
"Apa yang mereka lakukan!" sungut Kairen,
Mereka yang mengikuti Kinan dari belakang tentu saja juga ikut terkejut disaat melihat kejadian yang 'hampir' itu.
Nah kan!, mulai ada yang tidak terima nih!,
"Sepertinya nona muda terkejut" ucap Halim berpendapat.
"Apakah kita perlu turun untuk melihat kondisi nona muda?" lanjut tanya Halim.
Namun Kairen tidak menjawab perkataan tersebut, sorot matanya terlihat datar, dan kemudian dengan nada yang santai Kairen berbicara,
"Tidak perlu!, jalanlah sekarang" jawab Kairen kemudian ia memerintahkan Halim untuk segera pergi dari ruas jalan itu.
__ADS_1
"Anda yakin?" tanya Halim sekali lagi,
"Kenapa kau sangat cerewet, cepatlah" jawab Kairen melototkan matanya.
Halim terkekeh kecil melihat ekspresi Kairen, lalu tanpa memiliki pilihan lain Halim pun melajukan mobilnya meninggalkan jalan raya tersebut dan juga Kinan yang masih bersama dengan Gus Rahman.
"Apakah benar kau baik baik saja?," tanya Gus Rahman lagi kepada Kinan.
"Iya Gus saya baik baik saja" jawab Kinan yakin
"Jika begitu kita lanjutkan perjalanan, nanti keburu kesorean" lanjut kata Gus Rahman.
Gus Rahman pun kembali melanjutkan perjalanan, mengantarkan Kinan sampai tujuan meskipun ada sedikit masalah dan ia cukup merasa khawatir dengan keadaan Kinan.
Sesampainya disekitaran kawasan rumah besar itu, sekitar 7 meter sebelum sampai di gerbang rumah Kinan meminta Gus Rahman menghentikan kendaraannya.
"Gus berhenti disini saja" Ucap Kinan,
Gus Rahman pun menghentikan kendaraannya, lalu dengan tatapan bertanya?!,
Ia tidak mengerti mengapa Kinan memintanya untuk berhenti disitu padahal rumah yang dimaksud oleh Kinan tidak jauh didepan mereka.
"Kenapa kita berhenti disini?"
"Tidak apa apa Gus hanya saja saya merasa merepotkan Gus Rahman karena itu cukup sampai disini saja" jawab Kinan dengan tulus walaupun ada sesuatu yang ditutupi olehnya.
Lalu dengan perlahan Kinan turun dari kendaraan Gus Rahman lalu sekali lagi ia mengucapkan terimakasih secara tulus.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Gus Rahman yang telah berbaik hati mengantarkan saya pulang" ucap Kinan tersenyum ramah,
Kinan pun melangkah pergi dari hadapan Gus Rahman yang masih berada disana, namun karena ada sesuatu yang perlu dibicarakan Gus Rahman mencegat Kinan untuk pergi.
"Tunggu Kinan!" seru Gus Rahman kemudian.
Tap!?
"Ada apa Gus?" Kinan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap Gus Rahman.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu Kinan" jawab Gus Rahman menatap wajah Kinan, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kinan saat ini juga.
Kinan merasa ada yang berbeda dari pandangan Gus Rahman padanya, perasaan Kinan mulai tak karuan karena tidak bisa dipungkiri ia bisa menebak kemungkinan apa yang akan dikatakan oleh Gus Rahman.
Apakah semuanya benar!?, apakah rumor di pesantren itu adalah benar, meskipun selama ini Gus Rahman sendiri tidak meladeni berita tersebut.
"Ada satu hal penting yang harus aku katakan padamu Kinan, jika selama ini....," kata Gus Rahman sedikit terbata bata, ia sedikit gugup sebab ia ingin mengungkap semua perasaan cintanya kepada Kinan.
"Sebenarnya selama ini aku...!" namun belum sempat ia mengatakan semuanya, tiba tiba ada suara yang menyela pembicaraannya.
"Apa yang kau lakukan disini!" seru seseorang yang tak jauh dari keduanya, yang dimana membuat ucapan Gus Rahman terpotong.
Kinan dan Gus Rahman sontak melihat kearah sumber suara,
Dan ketika itu juga Kinan terperangah!
Bersambung....
__ADS_1
...*Selamat membaca*...