Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 7 ~ Menutupi


__ADS_3

Jangan Lupa Komen Dan Vote😍


'Sedetik kemudian aku sadar jika bukan tubuhku yang tersandung namun hatiku' By: Gus Rahman Ashari


...----------------...


Kairen keluar dari perusahaannya dan langsung masuk kedalam mobil yang telah disiapkan, sedangkan Evan benar benar cepat menyusul Kairen dan Evan telah sampai dibawah,


Evan berjalan cepat malah terkesan berlari menghampiri Kairen dan langsung mengemudikan mobilnya sebelum keburu Lusiana menghampiri.


Vroomm!!


"Wanita itu tidak habis habisnya mengejar kau!, jika nona Lusi tahu kau sudah menikah, apa yang akan dia lakukan!" ucap Evan sambil bergidik ngeri jika mengingat lah itu,


Masalahnya Lusi benar benar wanita nekat, bahkan selama ini saja cara Lusiana mendekati Kairen itu benar benar diluar batas.


Pernah satu kali Lusiana membuat Kairen meminum air yang sudah dicampur dengan obat perangsang di acara pertemuan para pemimpin perusahaan dan berhubungan Lusiana itu putri dari seorang pengusaha sukses tentu saja ia bisa mendekati Kairen waktu itu.


Waktu itu kairen benar benar marah, jika tidak mengingat Lusiana itu putri salah satu rekan bisnisnya mungkin saja Kairen akan melakukan apapun untuk membuat Lusiana tidak muncul lagi dihadapannya.


Dan masih banyak hal yang dilakukan oleh Lusiana untuk mendekati Kairen, seperti membawakan makanan untuk Kairen, berdandan cantik menggoda, bersikap manja dan centil bahkan berpura pura terpeleset waktu itu juga ada, Benar benar nekat Lusiana itu.


"Jangan biarkan wanita itu sampai tahu tentang Kinan" sahut Kairen datar, itu memang hal yang paling benar yang ia putuskan, tutupi dari Lusiana dan jangan biarkan Lusiana tahu tentang pernikahannya karena ia tidak ingin membawa Kinan kedalam masalah.


"Ouh.. tentu itu harus dilakukan!"timpal Evan.


"Tetapi yang menjadi masalahnya adalah jika kita kembali ke Indonesia bukankah nona Lusi bisa saja mengikuti!?" lanjut Evan.


"Itu Aku tidak terlalu memperdulikannya lagipula aku punya solusi untuk permasalahan ini" jawab Kairen lagi, dan tiba tiba satu ide muncul di dalam otaknya.


"Apa maksudmu!?" tanya Evan agak bingung, namun tidak bertanya lagi karena tiba tiba telepon Evan berdering.


Halim?


Ternyata yang menelepon adalah Halim, apa yang ingin Halim katakan!?, Evan pun langsung mengangkat teleponnya,


"Ya...Apakah ada masalah?"tanya Evan tanpa basa basi, lalu kemudian Evan hanya mendengarkan semua ucapan dari Halim dengan seksama.


Dan setelah telepon itu dimatikan baru Evan memberitakan apa yang sudah Halim informasikan padanya kepada Kairen.


...************...


Matahari sore semakin terlihat, kemudian akan tenggelam di cakrawala penghujung hari,


Kinan yang telah sibuk seharian mengajar di pesantren Ar Rahman akhirnya bersiap siap untuk pulang, namun sesaat ia keluar dari ruangannya Gus Rahman lewat didepannya.


"Assalamualaikum ustadzah Kinan sudah mau pulang?" tanya Gus Rahman yang tidak sengaja berpapasan dengan Kinan.


"Wa'alaikumsalam, benar Gus Rahman saya ingin pulang" sahut Kinan sambil menundukkan pandangannya, Gus Rahman terkesima dengan sebentuk senyum lembut diwajah Kinan.

__ADS_1


"Astaghfirullah"gumam Gus Rahman secepatnya mungkin mengalihkan pandangannya, hampir saja wajah itu membuat Gus Rahman terbawa oleh kecantikan Kinan yang luar biasa indah untuknya.


"Ada apa?" tanya Kinan heran melihat Gus Rahman yang tiba tiba bergumam itu, cepat cepat Gus Rahman menggelengkan kepalanya menandakan tidak ada apa apa.


Kinan tidak sadar jika karena senyuman manisnya membuat seorang pria hampir terjatuh!, terjatuh dalam hatinya.


"Baiklah jika seperti itu, kalau begitu saya permisi duluan karena sudah ada yang menunggu saya didepan" kata Kinan lagi beranjak pergi dari hadapan Gus Rahman yang masih tak bergeming dari tempatnya,


"Baik, hati hati ustadzah Kinan" sahutnya setelah Kinan berada dalam jarak yang lumayan jauh didepan,


"Kau tahu Kinan saya telah tersandung"ucap Gus Rahman didalam benaknya.


Perasaan Gus Rahman mulai bergolak, sudut bibir itu mulai terangkat dan membentuk sebuah senyuman, Bukan dirinya yang jatuh namun hatinya!.


Di depan gerbang pesantren,


"Maaf telah membuat anda menunggu lama" ucap Kinan setelah ada dihadapan Halim, Halim hanya tersenyum tipis tanpa berani menatap lama wajah nona mudanya.


"Tidak apa apa nona,...silahkan naik"sahut Halim membuka pintu mobil untuk Kinan, Kinan pun masuk dan setelah semua siap mobil itu pun melesat pergi meninggalkan halaman pesantren menuju jalan pulang.


Cittt!!


Brak!


Sesampainya didepan halaman, Kinan segera turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Halim yang telah repot repot mengantarnya pulang, meskipun itu dilakukannya atas perintah papah Azkara.


Kinan masuk kedalam rumah, menyapa para pelayan yang kebetulan lagi membersihkan kediaman lalu ia masuk kedalam kamarnya di lantai atas.


Satu hari kembali dilalui oleh Kinan seperti yang seharusnya. Waktu kembali berputar, hari kembali berganti dengan esok, esok, dan esok harinya.


Tidak ada yang berubah!


Semenjak ia tinggal dikediaman itu semua tampak sama, tenang, menyenangkan dan kadang kala ia masih merindukan sang Abi, tapi dibalik perasaan itu juga ia merasa kesepian, Ia kadang kadang bosan dan jika sudah seperti itu maka ia akan mencari kesibukan lain.


Seperti sekarang papah Azkara dan mamah Alesha tidak ada dirumah karena mereka pergi ketempat kerabat di kota Lampung dan bisa dipastikan mereka tidak akan pulang dalam beberapa hari.


Kinan yang tidak pergi ke pesantren hari ini hanya duduk didepan halaman, duduk di kursi ayun yang ada ditaman itu.


Katanya kursi ini selalu ada disini dan itu sudah 20 tahun lebih, memang menyimpan banyak sekali kenangan dirumah ini, pikir Kinan.


Srekk!


Jilbab panjang Kinan tidak sengaja tersingkap kedepan wajahnya, membuat Kinan mengibaskan pelan jilbab itu sembari tersenyum.


Rupanya ia suka dan merasa segar disaat angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dengan lembut, ketenangan kembali dirasakannya, Kinan mencoba menutup matanya sejenak.


Apa ia perlu memanggil Alina untuk datang,pikir Kinan, akan tetapi pikiran itu langsung ditepisnya.


Bagaimana mungkin ia bisa mengundang Alina kesini jika Alina sendiri tidak tahu jika Kinan telah menikah dengan Kairen, dan jika Kinan memberitahukan alamat ini kepadanya bukankah sama saja memberitahukan kepada gadis itu siapa Kairen.

__ADS_1


"Lebih baik aku saja yang mengunjunginya"pikir Kinan lalu ia pun beranjak pergi untuk mengambil tas yang biasanya ia bawa untuk pergi keluar.


Apa hari ini ia pergi sendirian saja, ia tidak ingin menghubungi Halim dan meminta Halim untuk menjemputnya.


Benar!


Kinan pun pada akhirnya pergi menggunakan taksi yang sempat di carinya tadi,


Setelah kurang lebih 20 menit diperjalanan, Kinan pun sampai didepan sebuah rumah yang nampak sederhana namun sangat cantik dan didepan halamannya terdapat beberapa pohon yang tumbuh.


"Assalamualaikum" salam Kinan, tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu,


"Wa'alaikumsalam" sahutnya membuka pintu,


"Kinan!" seru Alina terlihat sangat senang disaat ia tahu siapa yang ada dihadapannya saat ini.


"Aduh..aduh..Alina jangan kenceng kenceng pelukannya, aku jadi nggak bisa napas" keluh Kinan, Alina terkekeh, lalu ia melepaskan pelukannya yang memang agak berlebihan itu.


"Aku senang banget ketemu kamu Kinan, ehh..tapi dimana Ayanggg..nya!" ucap Alina celingak-celinguk.


"Ayang?"


"Siapa ayang?' Tanya heran Kinan dengan polosnya, Heh!..ini orang ngerti nggak sih, Alina kembali tertawa geli.


"Suaminya Bu, mana suaminya..."timpal Alina sambil tertawa garing, Kinan segera mencari alasan untuk itu,


"Dia sedang sibuk kerja, lagipula aku kesini kan mau berbincang-bincang senang denganmu jadi untuk apa aku mengajaknya,"


"Huhu...maafkan aku Alina karena telah berbohong padamu"ucapnya dalam hati dengan segala rasa minta maaf.


"Benarkah!" tatap penuh selidik Alina,


"I..iya.." jawab singkat Kinan.


"Kau ini tidak memperbolehkanku untuk masuk, atau kita bicara disini saja!" seru Kinan kemudian mengalihkan topik pembicaraan.


Kinan benar benar tidak ingin menutupi apapun dari Alina, namun untuk sekarang ia tidak memiliki pilihan lain.


"Ouh..iya benar sampai lupa aku, Ayuk masuk Kinanku sayanggg..."sungut cengengesan Alina,


"Kau memang ingin kesini atau ada yang ingin kau kerjakan?" tanya Alina sambil menyuguhkan air dan beberapa cemilan diatas meja ruang tamu.


"Mau kesini, aku bosan dirumah sendirian"Jawab Kinan jujur, kontan Alina membelalakkan matanya merasa heran, sejak kapan Kinan pernah merasa bosan.


"Huh!?..., ada yang aneh Lo, inikan bukan sifatmu"


"Tapi aku memang lagi bosan saja Alinaaaa, memangnya tidak boleh"


Alina sempat berpikir sejenak, betul juga apa yang diucapkan Kinan, kan dia juga manusia!

__ADS_1


Bersambung...


...*Selamat membaca*...


__ADS_2