
Jangan lupa untuk selalu mendukung karyaku ☺️
'Kenapa sangat sulit bagi kita untuk saling memahami ' By: Kinan Abizar Ahlam
...----------------...
Kairen!
Kairen tidak merasakan perasaan apapun, apakah itu perasaan cemburu atau yang lainnya, tetapi yang pasti ia merasa jika Kinan tidak pantas berdekatan dengan pria lain disaat dirinya masih memiliki ikatan pernikahan dengannya.
Dan disaat ia menyaksikan adegan dramatis tersebut, Kairen memilih untuk pulang terlebih dahulu dan akan mencegat Kinan jika sudah berada disekitar kediaman.
Dan siapa sangka saat itu Kairen melihat Kinan yang telah sampai didepan komplek kediaman dan berhenti tepat di sana.
~ "Kairen!"
Betapa terkejutnya Kinan saat itu, dengan sorot mata yang datar Kairen berdiri tak jauh dari Kinan.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Kairen sekali lagi, lalu dengan perlahan lahan ia melangkah mendekati Kinan.
Sorot mata itu sangat sulit untuk diartikan oleh Kinan, datar tanpa ekspresi apapun, marah, cemburu ataupun perasaan yang lainnya.
Dan saat itu juga Kairen merangkul tubuh Kinan tepat didepan mata Gus Rahman,
Tepat dan cepat sehingga Kinan sendiri tidak sempat menghindar!
Degg!
"A..apa yang tuan lakukan!" runtuk Kinan terbata-bata.
Bukannya menjawab Kairen lebih memfokuskan pandangannya kearah Gus Rahman yang saat ini menatap Kairen dengan tatapan tajam dan menyelidik.
"Siapa anda!" sontak Gus Rahman bertanya tanya siapa pria yang telah berani menyentuh Kinan.
Kairen yang bisa membaca ekspresi Gus Rahman hanya terkekeh kecil, dan didalam sorotan matanya yang hanya bisa dirasakan oleh Gus Rahman sendiri,
Tatapan Kairen mengatakan seolah-olah Gus Rahman harus segera pergi dari hadapannya.
Heh!, pergilah dari hadapannya sekarang juga!, kira kira seperti itulah yang terlihat dari sudut pandang Gus Rahman.
Kinan ikut tersentak dengan perlakuan Kairen yang tiba tiba itu, lalu dengan bersikap tenang, dan bersikap biasa-biasa saja seolah olah Kairen itu hanya keluarga.
"Perkenalkan Gus dia ini adalah kerabat jauh saya ,.." imbuh Kinan sembari terkejut tipis dan berusaha menjauhkan Kairen darinya.
Kerabat jauh?
Tentu saja Gus Rahman tidak percaya perkataan itu, kerabat jauh?, bukankah selama ini Kinan hanya tinggal bersama almarhum Abi saja dan Kinan sama sekali tidak pernah mengungkap tentang kerabat maupun keluarga lainnya.
Namun karena ia tidak ingin mempertanyakan lebih lanjut siapa pria itu karena ia yakin Kinan akan menjelaskannya nanti dan ia lebih memilih untuk mengalah saat ini.
"Karena kamu sudah sampai dirumah saya bisa bernapas lega, baiklah jika begitu saya pulang dulu, jaga dirimu baik baik" ucap Gus Rahman tulus,
Lalu dengan tatapan ramah ia meninggalkan Kinan yang masih melihat kepergiannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Gus Rahman" gumam Kinan merasa sangat bersalah.
"Kau merasa bersalah!?" desis Kairen tepat disamping Kinan, Kinan sontak membelalakkan matanya, lalu dengan nada yang kesal Kinan mulai memarahi Kairen yang seenaknya bertindak.
"Apa yang tuan lakukan!, jika Gus Rahman tadi curiga bagaimana!,.." runtuk Kinan menjauhkan tubuhnya.
"Bukan urusanku..lagipula aku tidak peduli apa hubunganmu dengannya" sahut Kairen sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Kinan.
"Heh..Tunggu apa maksud ucapanmu tuan!" runtuk Kinan ia pun mengikuti langkah Kairen dari belakang dan tak hanya sampai disitu,
"Kenapa tuan selalu menggangguku, apa kesalahanku.. kemarin-kemarin mengatakan jika tuan tidak akan ikut campur dalam urusan saya tapi ini?"
"Aku tidak ikut campur dalam urusanmu, dan aku tidak peduli" sahut Kairen tandas.
Dan setelah keduanya masuk kedalam rumah, Ternyata mamah Alesha dan papah Azkara sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kenapa kalian berdua baru sampai, bukankah mamah meminta kamu agar pulang lebih cepat!?" tanya mamah Alesha.
Kinan tidak menjawab tetapi ia malah menatap Kairen dengan perasaan yang bertanya-tanya, apa maksud dari pertanyaan mamah?,
Apakah maksudnya!.
"Iya mah sebenarnya tadi ada urusan sebentar maka dari itu Kairen baru menjemput Kinan" sahut Kairen dengan senyuman manis kearah Kinan namun senyuman itu tersirat makna yang berbeda bagi kinan.
Kinan yang melihat senyuman itu hanya bisa nelangsa!, ternyata lagi lagi ia terjebak.
Kairen seorang putra yang jika bersama dengan keluarganya bisa bersikap baik dan sopan, namun kenapa jika bersama dengannya bisa sangat menyebalkan.
"Kalau begitu aku ke kamar lebih dulu mah, mau mandi dulu" lanjut Kairen, ia pun lebih dulu naik ke kamar dan meninggalkan Kinan yang masih mencerna perkataan Kairen tadi.
Jadi maksudnya Kairen sengaja menjemputnya, lalu apakah Kairen mengikutinya?, pikir Kinan.
"Ada apa nak Kinan?" ucap papah membuyarkan pikiran Kinan,
"Tidak ada apa apa pah, kalau begitu Kinan pamit ke kamar dulu mah, pah" ucap Kinan.
"Baiklah, jika sudah beristirahat turunlah nanti untuk makan malam" sahut mamah Alesha lembut tak lupa dengan senyuman bahagia.
Azkara dan Alesha saling bertatapan,
"Syukurlah hubungan mereka lebih baik sekarang dan papah harap mereka selalu bahagia kedepannya"
"Benar pah semoga saja"
Mereka sangat bahagia dengan hubungan Kinan dan Kairen yang terlihat saling memperdulikan meskipun Kinan masih terlihat agak canggung namun beberapa hari ini mereka melihat Kairen yang mau menerima Kinan.
Di dalam kamar...
"Tunggu tuan!"seru Kinan setelah masuk kedalam kamar, Kairen yang ingin masuk kedalam kamar mandi mengurungkan niatnya lalu ia pun menatap Kinan.
"Ada apa aku ingin mandi?"sahut Kairen dengan wajah santai.
"Apa maksud ucapan tuan dibawah tadi, apakah tuan menjemput Kinan?" tanya Kinan.
__ADS_1
"Menurutmu?"Bukannya menjawab pertanyaan Kinan ia malah bertanya kembali,
"Jadi benar!,...lalu apakah tuan mengikuti saya?" Tuding Kinan semakin yakin jika Kairen memang mengikutinya walaupun tidak tahu dari mana.
"Heh!, Bukan hanya itu saja..tetapi aku juga melihat, pria itu sepertinya sangat menyukaimu" sahut Kairen dengan tersenyum miring.
Kinan semakin terkejut, ternyata Kairen menyaksikan semua, dan apakah kejadian di tengah jalan itu Kairen juga melihat.
Melihat wajah Kinan yang terlihat kaku, Kairen pun mengubah ekspresi yang awalnya santai menjadi lebih serius.
Tap..tap..tap..!!
"Aku peringatkan padamu, Kau harus ingat jika kau telah menikah kekeluarga ini dan aku harap hubunganmu dengan pria itu tidak membuat masalah kepada keluargaku dan juga padaku"
Suara Kairen tiba tiba berubah dingin dan sepertinya peringatan itu sangat serius ia lontarkan kepada Kinan.
"Jadi itu yang tuan pikirkan!" runtuk Kinan merasa kecewa, apakah Kairen menganggap dirinya sebagai wanita murahan yang bisa berdekatan dengan pria lain terlebih lagi dirinya yang sudah menikah.
"Anda tenang saja tuan saya tidak akan membawa masalah untuk keluarga ini, saya sadar saya telah menikah dan saya sangat tahu batasan saya" lanjut Kinan dengan suara yang lebih tegas.
"Baguslah jika kau tahu" ucap Kairen lagi sembari berbalik badan,
"Apakah tuan tidak peduli padaku sama sekali?"ucap Kinan kemudian dengan suara yang lebih lirih.
Kairen kembali menatap Kinan,
"Tidak!, begini...dari awal aku tidak pernah mengikat kebebasanmu dan aku tidak peduli jika ada seseorang yang menyukaimu, kita hanya perlu mengurus urusan masing masing"
Deg!
Kalimat yang terlontar dari mulut Kairen sangat melukai hati Kinan, Kairen sama sekali tidak peduli padanya bahkan tidak memiliki rasa cemburu sedikitpun jika Kinan berdekatan dengan pria lain.
Kinan yang awalnya hanya ingin meminta penjelasan dan juga ingin menjelaskan kepada Kairen merasa sangat kecewa disaat Kairen mengatakan semua kalimat tersebut.
"Saya tidak pernah berharap apapun dari hubungan kita tetapi apakah saya salah jika meminta hak saya sebagai seorang istri padamu?" ucap Kinan semakin lemah, pada akhirnya, lagi lagi mereka tidak saling mengenal.
"Aku hanya minta kau bersikap baik sampai akhir dan tidak membuat kecewa keluargaku, hanya itu!, jadi kau tidak perlu mengharapkan hal hal yang tidak perlu" sahut Kairen,
"Hal yang tidak perlu!?, Apakah anda pernah memikirkan hubungan kita, atau apakah anda lupa jika kita ini suami istri?, kenapa sangat mudah tuan mengatakan kalimat itu" ucap Kinan semakin merasa sesak.
Baik..baik..ini memang salahnya, akan tetapi apakah ia tidak berhak berharap kepada kairen.
Dengan tatapan yang nanar Kinan berkata lagi,
"Tuan tenang saja saya pastikan hubungan saya dengan Gus Rahman tidak akan berdampak apapun terhadap anda" lanjut Kinan lalu ia meninggalkan Kairen masuk kedalam kamar mandi lebih dulu.
Brakk!
"Ckk...aku harus bagaimana dengannya!" Kairen merasa frustasi saat ini, kenapa sangat sulit mengatakan semuanya!, kenapa sekarang semua menjadi lebih rumit baginya.
Bersambung...
...*Selamat membaca*...
__ADS_1