
Hai semuanya🤗, kembali lagi dengan author tercinta..mohon dukungannya 🙏
...----------------...
Sementara itu, seperti yang telah Umi Fatimah pesankan, Kinan pun menghubungi Alina dan tepat disaat ini!,
Diruang tengah rumahnya yang sederhana!
"Ada apa telepon malam malam kaya gini?"ucap Alina, Alina tengah asik menonton TV sembari menguyah cemilan yang ia bawa disaat nonton.
Namun di sela-selanya asik menonton, handphonenya berdering yang ternyata Kinan lah yang sedang menghubunginya,
"Umm..begitu bisa bisa saja sih, lagipula besok dan besoknya lagi aku libur bekerja, jadi ada waktulah dua hari" sahutnya lagi,
(".....")
"Ya... beritahukan saja kepada Umi Fatimah"
"Ehh.. tunggu dulu.."cegat Alina.
"Itu nanti kamu dianter sama tuan Halim nggak?" tanya Alina lagi...
(".......")
"Yah.. padahal aku mau banget bertemu dengannya" runtuk Alina agak kecewa.
"Ckk..padahal aku ingin melihat si tampan itu.."gerutu Alina namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum girang, Lalu ia pun kembali sibuk dengan acara kesukaannya yaitu drama Korea.
Sementara itu, Kinan menggelengkan kepalanya mendengar tingkah Alina dari telepon,
Ck..ck..Alina...Alina, Kinan bisa menebak apa yang ada didalam pikiran Alina saat ini.
Tak memikirkannya terlalu lama Kinan pun mulai merebahkan tubuhnya di sofa tempatnya tidur, sedangkan Kairen tidak ada didalam kamar.
Entahlah dimana Kairen sekarang! namun disaat Kinan ingin memejamkan matanya,
Tokkk..tokkk..!
Kinan mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya,
"Siapa?"
"Ini mamah Kinan" sahutan dari luar kamar.
"Mamah!?" Kinan pun segera bangun dari sofanya dengan cepat.
"Mamah!, ada apa mah?" tanya Kinan setelah membuka pintu kamar.
"Maaf mamah ganggu kamu malam malam gini..."
"Nggak apa-apa mah, tapi untuk apa mamah kesini?" jawab Kinan sopan.
Alesha tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan,
"Dimana Kairen nak?"tanya Alesha mengeryitkan keningnya, Alesha tidak menemukan keberadaan Kairen didalam kamar namun sebaliknya ia malah melihat sebuah bantal dan selimut di atas sofa.
"Bantal dan selimut itu kenapa ada di atas sofa?, apa kamu tidur disitu.." tanya Alesha menatap Kinan,
Kinan merasa gugup menjawab perkataan mamah Alesha, ia sama sekali tidak ingin berbohong namun bagaimana ia bisa memberitahukan yang sebenarnya.
"I..iitu mah sebenarnya...!"
"Kinan menungguku mah" sebelum Kinan menyelesaikan ucapannya Kairen datang dan memotong kalimatnya.
"Apa maksudnya?"tanya mamah Alesha lagi.
__ADS_1
"Begini Kinan itu sedang menunggu Kairen selesai mengerjakan urusan kantor oleh karenanya Kinan tidak tidur di kasur, benarkan Kinan?" ucap Kairen menjelaskan.
Namun bukannya terlalu yakin dengan penjelasan Kairen, Alesha malah mengucapkan hal lainnya.
"Kairen, Kinan ingat ya kalian itu sudah menjadi suami istri dan mamah berharap tidak ada jarak diantara kalian, terlebih lagi untukmu Kairen" ucapnya tegas kepada Kairen.
"Jadi singkirkan bantal dan selimut itu dari sofa dan tidurlah di atas kasur bersama!" lanjutnya sembari wajah Kinan yang terlihat kaku.
"Kinan sayang jika Kairen memperlakukanmu tidak baik katakan saja kepada mamah" timpal mamah Alesha sembari tersenyum.
"I..iya mah, tetapi Kairen memperlakukanku dengan baik jadi mamah tidak perlu khawatir" sahut Kinan lembut, sekilas ia bisa melihat raut cemas dari wajah Alesha.
"Baiklah kalau begitu mamah bisa tenang, jika begitu tidurlah lebih awal"
"Iya mah" sahut mereka bersamaan, setelah mamah Alesha pergi Kinan pun menutup pintu kamar.
"Kau ingin mamah mengetahui yang sebenarnya!" tiba tiba Kairen mengucapkan kalimat tersebut dengan raut wajah yang dingin.
Melihat ekspresi Kairen, Kinan sendiri hanya bisa menghela napasnya panjang,
"Tidak, hanya saja saya tidak ingin selalu berbohong kepada keluarga ini terlebih lagi dengan mamah yang sangat percaya dengan hubungan kita yang baik baik saja..."
"Tuan yang saya lakukan ini hanya untuk kebaikan kita, dan saya tidak ingin mengkhianati kepercayaan keluarga ini" ucap Kinan dengan tegas.
"Kau kira aku suka membohongi keluargaku sendiri!?, apa yang kau kira, heh...!"
Tapp.. tap!!
Kairen maju kedepan Kinan sembari menatap dengan tatapan tajam,
"A...paa yang kau lakukan!" Kinan merasa takut.
"Coba..kau ingat ingat apa yang telah aku korbankan untuk keluarga ini!?" desis Kairen tepat disampingnya.
"Kau lupa aku telah menyetujui pernikahan ini untuk siapa!...untuk kebahagiaan mereka" lanjut Kairen, lalu dengan pelan ia menyentuh dagu Kinan,
"Saya juga tahu dan sadar dengan pasti apa yang telah saya putuskan, jadi anda tenang saja karena saya tidak akan keluar dari batasan saya..." balas Kinan sama tandasnya.
"Pegang ucapanmu!" Kairen pun pergi dari hadapan Kinan dengan hati yang membara,
Ia kesal karena Kinan selalu saja bisa membuatnya salah tingkah dan berakhir dengan perasaan marah dan kesal yang tidak jelas.
Sedangkan Kinan ia hanya bisa menahan rasa keki dan mencoba bersabar,
Huh...sabar..sabar!, Kinan menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali.
"Jadi aku perlu tidur dimana?"gumamnya lagi sembari menatap Kairen yang sudah menutup matanya tidur diatas kasur.
"Dasar pria nyebelin,..masa yang kaya gini dibilang idaman" sungutnya pelan.
"Jangan menghabiskan tenagamu dengan berbicara yang tidak tidak, jika kau ingin tidur, tidur saja di atas sofa seperti kemarin" timpal Kairen menusuk telak.
"Ehh..dengar ya!" dengan reflek Kinan mengucapkan kalimat tersebut.
"Ups!" Kinan pun menutup mulutnya sendiri, apa yang ia katakan!.
"Kau bodoh ya.." Kairen terkekeh membuat Kinan semakin kesal.
"Siapa yang anda katakan bodoh, saya ini sangat cerdas.." gerutu Kinan lagi, lalu ia pun memiliki untuk kembali tidur disofa.
Pada akhirnya mereka pun tenggelam dalam lelapnya tidur karena telah merasa mengantuk.
...***********...
Paginya di perusahaan Kairen.
__ADS_1
Evan dan Halim berada di dalam ruangan Kairen saat itu, dan mereka menyaksikan wajah kusut Kairen.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Evan yang saat ini tengah berada di dalam ruangan Kairen.
"Memangnya wajahku terlihat seperti apa?!" timpal Kairen datar.
"Seperti orang yang tidak tidur semalaman, kau habis melakukan malam pertama dengan istrimu..!" godanya,
Pletak!,..palamu,
"Apa yang kau pikirkan hah!" sungut Kairen semakin kesal, malam pertama katanya!.
"Kau gila!, jangan memikirkan yang macam macam, terlebih lagi membayangkan yang aneh terhadap Kinan" sungut Kairen tidak habis pikir dengan pikiran Evan yang sudah ngeres itu.
"Hohoho...ternyata kau tidak suka ada yang berbicara macam macam tentang istrimu, katanya tidak cinta..." lanjutnya semakin menggoda Kairen.
Sedangkan Halim hanya ikut terkekeh mendengar setiap godaan Evan yang ditujukan kepada Kairen yang membuat wajah Kairen tak urung semakin merah padam.
Entah Kairen sedang merona atau marah!
Halim berpikir ada baiknya juga melihat Kairen yang biasanya tahan harga diri dan bersikap sangat tegas sekarang salah tingkah karena Kinan, memikirkan semua itu Halim jadi tertawa sendiri,
"Hehehe.." Halim ikut tertawa kecil, namun ia juga tidak luput dari kekesalan Kairen.
"Apa yang kau tertawakan!, kalian ini semakin berani padaku, kalian tidak takut aku pecat hah!" Kairen benar benar kesal dibuatnya,
"Jika aku dan Halim kau pecat juga tidak apa apa, wong! nanti kau yang tidak punya asisten serta sekretaris handal seperti kami, jadi lakukanlah sendiri" sahut Evan dengan tenangnya.
"Kau!!"
"Kalian bisa diam!, keluar sekarang!" sergah Kairen kesal, lalu dengan perasaan kesal ia mengusir Evan dan Halim keluar dari ruangannya.
"Baiklah tuan muda" goda mereka sebelum keluar dari ruangan itu, lalu dengan cepat melarikan diri sebelum Kairen sempat melempar sesuatu kepada mereka karena kesal.
"Kairen..Kairen...!" Evan masih saja terkekeh geli,
"Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran tuan muda?" Halim ikut berkomentar.
"Siapa yang tahu, kau tahu sendiri bagaimana sifat Kairen.., kita hanya perlu menonton" sahut Evan sembari menepuk pundak Halim.
"Kau benar"
Mereka pun kembali ke tugas masing masing sampai jam makan siang tiba.
Dan disaat jam makan siang telah tiba, namun Kairen masih sibuk dengan berkas berkas di hadapannya.
"Tuan muda apa perlu saya pesankan makanan untuk anda, sepertinya pekerjaan anda belum selesai" ucap Halim,
"Tidak perlu, aku sudah membawa makan siang, kau bisa pergi" sahut Kairen masih berkutat dengan dokumen itu.
"Baik jika begitu, saya pamit permisi.."Halim pun melangkah pergi,
"Tunggu!" cegat Kairen menghentikan langkah Halim.
"Ya...tuan muda ada apa?"tanya Halim lagi,
"Kau ingin pergi menjemput Kinan?"
"Benar tuan muda" Kairen tidak melanjutkan perkataannya, ia berpikir sebentar!
"Begitu... baiklah kau boleh pergi," ucap Kairen kemudian.
Halim mengerutkan dahinya!, apa maksud Kairen bertanya?, Entahlah,
"Baik kalau begitu saya permisi tuan muda"
__ADS_1
Bersambung...
...*Selamat membaca*...