
Hai semuanya selamat membaca 🤗
...----------------...
Halim pergi dari perusahaan dengan cepat, karena Kinan telah menunggunya untuk di antar kesuatu tempat setelah selesai mengajar di pesantren.
Cittt!
Halim menginjak rem mobil dan berhenti tepat di hadapan Kinan yang telah menunggu didepan gerbang pesantren,
Bersamaan ia melangkah keluar, saat itu juga terdengar dari samping sebelah kanan Halim, disaat ia menolehkan wajahnya kesamping.
Gadis itu lagi!,
Halim hanya tersenyum kikuk, selama satu tahun ini jika ia bertemu dengan Alina, ia selalu saja merasa tidak nyaman karena Alina yang selalu menatap atau tersenyum kearahnya dengan tatapan yang tidak tahu apa maksudnya.
"Tuan halimm...!" seru Alina dengan raut wajah ceria,
"No..nona Alina"ucap Halim sebisanya tidak pergi dari sana, ia merasa tidak nyaman saja setiap Alina menatapnya.
"Tuan Halim akhirnya saya melihat anda lagi," sapa Alina dengan senyuman manis diwajahnya.
"Hehe...iiya nona"
"Alina ngapain...sini!" seru Kinan mendekati Alina dan menarik sahabatnya itu mundur beberapa langkah menjauhi Halim.
"Kamu tidak lihat wajah tuan Halim yang sudah ingin melongos pergi disaat melihatmu, Alina kau itu perempuan bersikaplah baik" bisik Kinan,
Alina cengengesan!,
"Hihi...iya maaf habisnya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Halim" sahut Alina juga berbisik.
"Sudahlah tunggu disini, aku ingin memanggil Jihan dulu didalam, jangan bergerak dari tempatmu sedikitpun" ucap Kinan lagi.
"Tuan Halim tunggu sebentar saya ingin memanggil seseorang didalam" imbuh Kinan lagi kepada Halim,
"Baik nona muda"
Tertinggalah dua orang tersebut, yang satu menatap dengan tatapan buas yang satu mencoba mengabaikannya.
Benar benar mengganggu! pikir Halim,
"Kenapa lagi nona muda bisa memiliki sahabat modelan gadis ini"gumam Halim merasa merinding,
"Tuan Halim..apa yang anda gumamkan?,.. ngomong ngomong anda hari ini terlihat sangat tampan" ucap Alina menatap dengan berbinar binar.
Astaga nih gadis mulutnya nggak bisa di rem ya!
"Nona muda cepatlah kembali"batin Halim
Runtuknya dalam hati tak bisa berkutik disaat Alina mulai mendekatinya lagi dan tepat disaat itu Kinan datang.
"Nah..kan sudah aku bilang jangan bergerak!"seru Kinan menghentikan langkah Alina.
"Hehehe..."
"Apalagi yang Alina lakukan?" bisik Jihan kepada Kinan.
"Biasalah" Jihan hanya bisa ber-oh.
"Sudahlah Ayuk kita langsung berangkat, Umi Fatimah pasti telah menunggu" lanjut ucap Kinan.
Mereka pun langsung berangkat menuju kediaman Gus Rahman, dan setelah 15 menit perjalanan.
"Disini alamatnya nona muda?" mereka berhenti tepat didepan rumah yang terlihat luas namun tetap terlihat sederhana dengan nuansa putih dan asri.
"Benar terimakasih tuan Halim"
"Sama sama nona muda, jika anda ingin pulang nona bisa menghubungi saya lagi"
"Baik terimakasih dan maaf telah merepotkan anda" jawab Kinan, mereka bertiga keluar dari mobil secara bergantian, tak lupa sebelum meninggalkan halaman itu.
Sempat-sempatnya Alina memberikan sesuatu kepada Halim.
"Apa yang kamu berikan kepada tuan Halim?"tanya Kinan penasaran, mereka berjalan memasuki rumah.
"Nomor telepon" sahut Alina jujur.
"Buat apa kamu ngasih nomor telepon?" timpal Jihan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa barang kali tuan Halim membutuhkan bantuanku" jawab Alina sambil tersenyum lebar.
"Ana tebak tuh kertas bakalan dibuang tuan Halim" polosnya Jihan mengatakan itu, tapi ada benarnya juga.
"Tidak apa apa kan aku bisa memberikan lagi" jawab Alina spontan.
Kinan hanya tersenyum mendengar jawaban itu sembari menggelengkan kepala,
"Aku tahu kamu pasti tidak akan mundur mendapatkan Halim, tapi ingat Alina semua ada batasnya, aku harap kamu ingat itu" ucap Kinan menasehati sahabatnya itu.
Kinan tahu Alina mencoba mendekati Halim namun karena sifat Alina yang cerewet dan juga sangat terbuka membuat Halim tidak nyaman pada akhirnya.
"Iya aku tahu kok Kinan karena itulah biarkan aku mengejarnya hingga akhir jika bukan dia aku akan pergi" jawab Alina dengan suara yang lebih lembut.
Kinan dan Jihan saling bertatapan mendengar jawaban Alina!
Disaat mereka asyik ngobrol Umi Fatimah datang menghampiri mereka yang masih di ambang pintu.
"Loh kenapa masih berada sini nak Kinan, nak Jihan, nak Alina..!?"
"Ehh Umi iya nih!, kami baru saja sampe dan belum sempat mengucapkan salam sama Umi..." sahut Kinan.
"Assalamualaikum Umi" salam mereka bersamaan lalu menyalimi tangan Umi Fatimah.
"Wa'alaikumsalam...Ayuk masuk semua juga sudah pada ngumpul dibelakang"
"Baik Umi"
Dengan sopan mereka masuk kedalam rumah dan menuju ke halaman belakang yang ternyata sudah banyak orang yang juga akan membantu menyiapkan semua yang di perlukan untuk membagikan makanan.
"Umi tinggal sebentar, Umi mau masuk dulu" Umi Fatimah pun meninggalkan mereka disana dan membiarkan mereka ikut berbaur dengan yang lain.
Mereka bertiga disambut hangat oleh beberapa wanita yang seumuran mereka, ataupun juga ibu ibu, sepertinya sih orang orang tersebut tetangga Umi Fatimah.
Dan tepat disaat Kinan melihat kesebelah kirinya, ia melihat ada Gus Rahman yang tengah tersenyum kearahnya yang ternyata dari awal pun Kinan sadar akan keberadaan Gus Rahman yang sedang menatapnya.
Kinan hanya bisa menundukkan pandangannya disaat Gus Rahman mendekat kearah mereka,
"Kalian sudah sampai" sapa Gus Rahman tepat di depan Kinan.
"Na'am Gus" sahut Jihan tak lupa Kinan dan Alina menyahut.
"Kinan..." kata Gus Rahman sangat lembut tak urung membuat Kinan gugup dan cemas, sedangkan Alina dan Jihan saling pandang.
"Boleh Gus tetapi jika saya boleh tahu mau ngomong apa?" sahut Kinan mencoba tenang.
Namun Alina dengan cepat menyela,
"Maaf ya Gus Rahman nanti saja bicaranya, karena kami telah diminta ibu ibu itu untuk membantu" dengan cepat Alina dan Jihan meninggalkan Gus Rahman dan ikut duduk bersama dengan beberapa ibu ibu yang sibuk memotong-motong bahan makanan.
Kinan yang sempat menatap Alina namun tidak sempat berucap lagi karena Alina keburu menariknya untuk menjauh,
"Eh... tunggu." namun terlambat Kinan sudah pergi dari hadapannya, Gus Rahman tidak merasa kecewa sama sekali tetapi ia semakin ingin menyampaikan perasaannya itu.
Tapp!
"Jangan jangan Gus Rahman mau menyampaikan perasaannya lagi" bisik Alina setelah mereka duduk bergabung dengan para ibu ibu yang lain,
"Jangan asal ngomong" ucap Kinan pelan, ia dengan cepat menepiskan pikirannya itu, mencoba berpikir hal yang lain, barang kali memang ada hal yang lebih penting.
"Tidak!, menurutku ini benar, apa kau tidak bisa melihat sorot matanya yang sangat tulus padamu" jawab Alina memberikan pendapatnya.
"Jika yang dikatakan Alina benar apa yang akan kamu lakukan Kinan?" tambah Jihan ikut menambahkan pendapatnya.
Jihan dan Alina sudah berpendapat jika Gus Rahman benar benar menyukai Kinan dan akan menyampaikan perasaan Gus Rahman pada Kinan.
Kinan yang ditatap oleh kedua sahabatnya itu, hanya bisa terdiam, ia jadi bingung juga?.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya,.." ucap Kinan pelan dan terkesan ragu,
Mungkin!
...**********...
Sementara itu di perusahaan..
Setelah mengantarkan Kinan halim pun kembali keperusahaan dan langsung mengerjakan tugasnya kembali, tanpa mencoba mengingat apa yang telah di berikan Alina kepadanya.
Halim mengabaikan kertas itu,
__ADS_1
Halim tengah sibuk dengan beberapa file baru dan harus diperiksanya sebelum sampai ditangan Kairen untuk di tandatangani.
Drrtt!..Drrtt!...
Tiba tiba telepon Halim berbunyi, dan disaat Halim melihat layar handphone tersebut,
"Tuan muda!" Halim pun segera mengangkat teleponnya,
"Apa ada hal yang penting tuan muda?"tanya Halim disaat telepon itu terhubung.
(".....")
"Baik tuan muda" setelah itu ia langsung bergegas pergi, ternyata Kairen memintanya untuk datang ke ruangannya.
Halim berjalan ke ruangan Kairen, lalu mengetuk pintu sebelah ia masuk,
Tok..tokkk!
"Permisi tuan muda ini saya" ucap Halim,
Sementara di dalam kantornya, Kairen membenarkan posisi duduknya dan berdeham kecil beberapa kali.
"Hem..masuk!"Ucapnya kemudian.
Halim pun masuk!,
"Kenapa anda memanggil saya tuan muda?"tanya Halim lagi.
"Jangan formal, bicara santai saja halim" sahut Kairen bernada tenang.
Halim mencoba menebak apa yang ingin dikatakan oleh Kairen saat ini, karena dari raut wajah Kairen, pria itu terlihat kaku dan canggung.
"Baik, jadi apa yang ingin kamu tanyakan kai?" jawab Halim lagi dengan bahasa yang lebih santai.
"Tadi kau kemana?,... apakah mengantarkan Kinan pergi!?" tanya Kairen mencoba santai.
Akan tetapi Kairen tidak sadar jika sikapnya saat ini bisa membuat Halim berpikir pasti ada sesuatu.
Halim terkekeh dalam hati!, Ternyata Kairen mencoba berputar-putar, kenapa tidak langsung saja bertanya ke intinya.
"Dimana nona Kinan saat ini?"ucap Halim telak.
Heh!,....
Kairen tidak berpura-pura lagi, ia pun kembali membenarkan posisi duduknya dan meregangkan otot tubuhnya.
"Aku tahu percuma saja berbasa-basi denganmu,..ckk tapi apa kau tidak bisa lebih peka sedikit" ucap Kairen membuat Halim tertawa kecil.
"Bagaimana pun aku juga temanmu, bukan karena kita terpisah beberapa tahun aku jadi lupa sifat aslimu" sahut Halim berubah sangat akrab.
"Kau benar, baiklah jadi jawab saja pertanyaanku tadi!, dimana Kinan"
"Nona pergi ke kediaman pria itu, siapa namanya!?"sahut Halim sembari mengingat nama Gus Rahman.
Gus Rahman..!, seketika itu ia pun bisa mengingat.
"Ah..benar Gus Rahman nama pria itu"
"Siapa dia?"
"Gus Rahman itu salah satu pengajar di pesantren tempat nona Kinan mengajar, bukan hanya itu Gus Rahman ini juga putra pemilik pesantren ini" jawab Halim menjelaskan latar belakang Gus Rahman yang ia ketahui.
"Untuk apa dia kesana?" tanya Kairen lagi semakin penasaran.
Namun bukannya menjawab Halim malah menggoda Kairen seperti yang dilakukan oleh Evan biasanya.
"Huh..huh.. sepertinya ada aroma terbakar!" ucap Halim sambil mengendus-endus didepan Kairen.
"Apa yang kau lakukan, aroma apa?"
"Kau tidak mencium aroma terbakar disini!, disiniii!" tunjuk Halim kearah Kairen, membuatnya mendapatkan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan, kau pikir aku cemburu" runtuk Kairen kesal, Apa lagi yang dilakukan Halim, seperti Evan yang sangat menyebalkan itu.
"Kau dengarkan aku!, apa alasanku bertanya itu karena mamah tadi menelponku dan memintaku menjemputnya jika sudah pulang nanti" ucap Kairen menekankan kalimatnya.
"Baiklah.. baiklah..."
Halim pun tidak menggoda Kairen lagi jika nyawanya ingin selamat, lalu Halim pun keluar dari ruangan Kairen setelah mengatakan dimana alamat rumah Gus Rahman tak lupa Halim akan menemaninya.
__ADS_1
Bersambung...
...*Selamat membaca*...