Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 17 ~ Perasaan yang semakin dalam.


__ADS_3

'Saya mencintaimu Kinan' Sebuah ungkapan yang belum bisa ia utarakan karena cinta yang tulus itu berasal dari hati yang memendam perasaan dalam doa kepada Allah SWT.


By: Gus Rahman Ashari


Hai semuanya jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya...😆


...----------------...


Sesampainya dirumah Gus Rahman,


"Assalamualaikum Umi"


Dengan raut wajah yang begitu ceria Gus Rahman bersama dengan Kinan masuk kedalam kediamannya yang cukup luas.


"Wa'alaikumsalam.." sahut terdengar dari dalam ruangan dapur, dengan langkah yang pasti seorang ibu yang bahagia disaat melihat putranya kembali.


"Nak Kinan!" Umi Fatimah pun langsung memeluk Kinan,


"Akhirnya Umi bisa bertemu denganmu lagi, kenapa tidak pernah mampir lagi kesini Kinan, Umi jadi rindu" lanjut Umi Fatimah membawa Kinan masuk untuk duduk di ruang tamu.


Gus Rahman merasa sama bahagia, terlebih lagi ia berhasil membawa Kinan kerumah itu untuk pertama kalinya karena selama ini ia tidak pernah membawa Kinan secara langsung dari dulu,


Benar!,


Bukan pertama kalinya Kinan memasuki rumahnya namun sejak dulu, sejak mereka masih menjadi seorang santri, ia yang kala itu belum menyadari benar benar perasaannya kepada Kinan hanya merasa malu jika harus bertatap muka dengan Kinan.


"Kenapa melamun disitu Rahman, duduk disini!"ucap Umi Fatimah membuyarkan lamunan Gus Rahman yang masih terpaku di ambang pintu.


"I..iiya..Umi"


Gus Rahman pun ikut nimbrung di hadapan dua orang wanita yang sama sama di kasihnya meskipun sedikit berbeda dengan status Kinan yang belum berani ia ungkapkan.


"Sebenarnya maksud Umi memanggilmu kesini itu untuk menolong Umi"


"Menolong apa Umi?, Apa yang bisa Kinan bantu?" tanya Kinan.


"Begini Umi itu ingin membuat acara pengajian yang kecil-kecilan saja dan membagikan makanan kepada orang orang dijalan sekedar bersedekah, karena itu Umi perlu bantuan nak Kinan"


"Bantu Umi menyiapkan makanan dan yang lainnya, sebenarnya sudah ada yang membantu beberapa orang namun masih belum cukup" lanjut Umi Fatimah menjelaskan.


"Saya mau mau saja Umi lagipula sangat bagus bersedekah dengan orang orang yang ada dijalanan" sahut Kinan tersenyum ramah.


"Wahh.. syukurlah jika kamu tidak keberatan, tapi ini lumayan banyak sih, Umi takut membuatmu kecapean"


"Nggak kok Umi, jika Umi mau kita bisa meminta bantuan kepada Alina dan juga Jihan,.."


"Boleh itu lebih baik jika mereka juga membantu tapi apakah mereka tidak keberatan?"


"Tidak Umi tenang saja nanti Kinan tanyakan kepada mereka, jika mereka setuju nanti Kinan beritahukan kepada Umi lewat telepon" jawab Kinan.


"Hem..Hem...ini anaknya nggak di ajak ngobrol gitu Umi..?" imbuh Gus Rahman yang sedari tadi diam.


"Eh..iya Umi sampai lupa, untuk kamu nanti minta tolong teman teman yang lain, kita sekalian pengajian disini setelah itu membagikan semua makanan, jangan lupa nanti bagikan juga untuk para santri di ponpes"


"Jadi totalkan saja semuanya" lanjut Umi kepada Gus Rahman.


"Baik Umi ku sayang"sahut Gus Rahman.

__ADS_1


"Jika begitu Umi mengucapkan terimakasih banyak padamu Kinan karena telah bersedia membantu Umi"


"Sama sama Umi Fatimah, kalau begitu nanti Kinan beritahukan lebih lanjut" sahut Kinan sopan.


"Apakah nak Kinan ingin segera pulang?"


"Apakah ada sesuatu yang lain umi?"sahut Kinan bertanya balik,


Sebelum menjawab pertanyaan Kinan, Umi Fatimah malah melirik kearah Gus Rahman dan melihat raut wajah Gus Rahman.


"Tidak ada apa apa, baiklah jika kamu ada urusan yang lain maaf sudah merepotkanmu nak"


"Tidak merepotkan sama sekali, kalau begitu Kinan pamit pulang"


"Ehh tunggu nak Kinan pulangnya sama siapa?, mau dianter sama Rahman?" cegat umi Fatimah disaat Kinan ingin berdiri.


"Saya bisa naik taksi Umi" sahut Kinan, bagaimana ia bisa pulang bersama dengan Gus Rahman, jika Gus Rahman bertanya yang tidak bisa di jawab olehnya sekarang bagaimana.


"Lagipula tadi Gus Rahman sudah mengantar Kinan sampai disini, jadi tidak perlu repot lagi untuk mengantarkan Kinan pulang" lanjut Kinan merasa bersalah.


"Tidak apa apa kinan, aku bisa mengantarmu sampai rumah" imbuh Gus Rahman menawarkan diri.


"Gus tidak perlu repot-repot saya bisa pulang sendiri" jawab Kinan dengan sopan.


"Kalau begitu saya pamit permisi dulu Umi, Assalamualaikum" dengan sopan santun Kinan menyalami tangan Umi Fatimah lalu pergi meninggalkan kediaman Gus Rahman.


"Wa'alaikumsalam"


Setelah itu Kinan berjalan hingga kejalan besar dan memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat tepat didepannya.


"Pak antar saya ke alamat ini..."


Disaat Kinan ingin masuk kedalam halaman, Tit!, bunyi klakson mobil tepat di belakangnya.


Kinan pun menoleh,


"Masuk!" ucap Kairen setelah menurunkan jendela mobil tersebut, Kinan hanya diam,


"Kenapa diam disitu, cepat masuk!"ucap Kairen untuk kedua kalinya, Evan yang duduk di kursi pengemudi ikut menyaksikan,


"Tidak perlu tuan saya bisa berjalan ke pintu dengan berjalan kaki lagipula jaraknya dekat" sahut Kinan berjalan masuk,


Kairen pun tidak bersuara lagi, tetapi malah sebaliknya ia yang turun dari mobil, kemudian mengikuti langkah Kinan.


Grap!


Kairen meraih tangan Kinan, Kinan sontak menepis tangan Kairen namun lagi lagi Kairen menangkapnya,


"Jangan salah paham! aku melakukan ini karena diminta oleh mamah, kau tahu aku sudah mencari keberadaanmu dari tadi.."ucap Kairen dengan suara datar dan tanpa menoleh.


"Mencari saya!?"


"Benar"


Dan ketika mereka masuk kedalam rumah ternyata mamah telah menunggu kedatangan mereka.


"Assalamualaikum mah"salam Kinan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, kenapa baru sampai Kairen, Kinan?" jawab mamah Alesha.


"Mamah tadi Kinan mampir dulu di tempat pemilik pesantren karena ada urusan,.." sahut Kinan jujur sebelum Kairen menjawab pertanyaan itu.


Kinan pun mendekati Alesha, dan kemudian menjelaskan semua yang di minta oleh Umi Fatimah kepadanya.


Dan setelah beberapa menit berbincang bincang dengan Alesha ia pun segera pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan disaat ia membuka pintu kamar,


Cklek!, masuk beberapa langkah!


"Astaghfirullah!"


Betapa terkejutnya Kinan di saat itu juga karena Kairen yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan jubah mandi yang menampakkan dada bidangnya.


"A..apa yang tuan lakukan!"ucap Kinan gugup, Kairen juga ikut terkejut namun ia langsung mengubah ekspresinya dan membenarkan jubah mandinya.


"Apa yang aku lakukan!?, tentu saja baru selesai mandi, lagipula kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" sahut Kairen berjalan kearah lemari pakaian.


"Siapa yang tahu anda keluar disaat bersamaan dengan saya masuk"gumam pelan Kinan.


"Apa yang kau ucapkan!?" sungut Kairen.


"Bukan apa apa"Kinan merasa canggung, lalu tanpa bicara lagi ia masuk kekamar mandi.


Kairen mengeryitkan keningnya!


...***********...


Malam haripun tiba,


Di kediaman Gus Rahman, Umi Fatimah yang sedang membereskan meja makan, melihat Gus Rahman yang masih terdiam di meja makan sembari sesekali tersenyum membuat Umi Fatimah menegurnya,


"Apa yang kamu pikirkan Rahman?" celetuk Umi.


"Eh...iya Umi, itu..bukan apa apa" sahut Gus Rahman.


"Bukan apa apa tapi tersenyum tidak jelas seperti itu, apa kamu sedang memikirkan Kinan?" sahut Umi lagi membuat Gus Rahman malu.


"Kamu suka sama Kinan?, jika kamu suka kita bisa membicarakannya dengan Abimu"


Sebelum menjawab perkataan tersebut Rahman malah menghela napasnya,


"Rahman memang menyukai Kinan Umi, tapi Rahman belum bisa mengungkapkannya sekarang..."


"Kenapa begitu!?, jika kamu suka jangan terlalu lama disimpan didalam hati, lebih baik segera ungkapkan dan jika kamu serius kita bisa meminang Kinan untukmu" ucap Umi menasehati Gus Rahman.


"Rahman serius Umi namun Rahman ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu dari Kinan.." jawabnya.


Gus Rahman sangat mencintai Kinan dan ia ingin mengungkapkan perasaannya kepada Kinan, namun ada sesuatu yang menjanggal di hatinya selama ini,


Apakah Kinan memiliki perasaan yang sama dengannya?. dan ia ingin tahu jawabannya sebelum ia menikahi Kinan.


"Baiklah jika itu adalah keputusanmu, Umi percaya anak Umi mampu berpikir bijaksana dan mengambil keputusan yang tepat"


"Terimakasih Umi karena selalu mendukung Rahman"


Bersambung...

__ADS_1


...*Selamat membaca*...


__ADS_2