
Komen dan like sebanyak-banyaknya yaaa..teman teman...😍
Laa ba'sa...
"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatiku"
By: Kinan Abizar Ahlam
...----------------...
Waktu demi waktu, hari demi hari telah berganti, semua telah berubah dengan seiringnya berjalannya waktu.
Satu persatu datang dan pergi, Akan tetapi ada seseorang!...
Terseok masih ditempatnya, entah menunggu, berharap atau apapun itu yang mampu membuatnya tetap bertahan.
Terikat sebuah perjanjian pernikahan dan membuatnya memiliki tanggung jawab sebagai istri!,
Mungkinkah hal tersebut yang selalu ada dibenaknya? Jika memungkinkan apakah ia boleh berharap!
...*********...
"Saya ustadzah!" seru salah satu santriwati yang duduk dibagian tengah barisan nomor 3 dari pintu.
Disinilah ia sekarang, masih sama tidak berubah sedikitpun dari satu tahun yang lalu, tetapi mungkin saja ada yang datang dan pergi dalam hidupnya selama ini,
Namun ada satu yang pernah datang...!
Seseorang yang apakah mungkin bisa ia dapatkan?, seseorang yang telah terikat sebuah pernikahan dengannya dan sama seperti sebelumnya ia masih takut untuk bermimpi.
"Tafadhdholy!" dengan balutan pakaian syar'i yang berwarna putih tulang ditambah dengan kerudung yang berwarna sama, membuat wajah yang cantik merona itu semakin menawan.
Kinan sedang mengajar didalam kelas, dan saat ini mata pelajaran Al Qur'an hadis yang tengah disampaikan oleh Kinan kepada santriwati-santriwati yang ada didalam kelasnya.
"Na'am ustadzah" santriwati tersebut maju kehadapan Kinan dan langsung menghafalkan ayat ayat yang telah di minta Kinan untuk dihafal dalam satu minggu.
Dan disaat Kinan fokus mendengarkan dan menghayati setiap bait-bait ayat Al Qur'an,
Tiba tiba...
Brakk!
Mereka yang didalam kelas sontak melihat kearah pintu yang ternyata ada Gus Rahman yang tengah meringis kesakitan sambil memegang kepalanya sendiri.
Kepala Gus Rahman kejedot!
"Astaghfirullah Gus Rahman baik baik saja?" tanya Kinan dengan nada khawatir, namun Gus Rahman menggelengkan kepala dengan cepat.
"Astaghfirullah Rahman..Rahman kenapa juga kalau jalan itu nggak pakai mata"keluhan didalam hati.
Bagaimana tidak, sejujurnya semenjak tadi ia sengaja menghentikan langkahnya sejenak didepan kelas Kinan yang kebetulan sedang mengajar dan disaat itulah ia tidak sengaja terpeleset dan pada akhirnya tubuhnya limbung kesamping,dan terantuk dinding dibagian kepala.
"Kenapa Gus ada disitu?"tanya Kinan,
kan harusnya Gus Rahman itu memang berada di gedung sebelah sana tempat pondok putra yang memang berbatasan tembok saja dengan pondok milik putri semacam komplek kecil yang dibatasi dengan portal jalan dan dinding.
"Ii..ini sebenarnya saya mau..."
"Mau apa tuh Gus Rahman?,Mau ngeliat ustadzah Kinan..!?" goda salah satu santriwati yang terlihat terkekeh geli.
"Astaghfirullah tolong jaga ucapannya, jangan sembarang berbicara dan berpikir nanti jadi fitnah" sahut Kinan kepada putri didiknya.
__ADS_1
Gus Rahman tidak menanggapi godaan itu, dan lekas pergi dari sana, Entah apa yang ada didalam pikirannya.
Di pesantren itu memangnya siapa yang tidak tahu Gus rahman naksir sama ustadzah Kinan!,
Karena dalam satu tahun ini Gus Rahman selalu bersikap baik kepada Kinan padahal di pesantren tersebut terkenal bahwa Gus Rahman itu terkesan dingin dan cuek dengan para santriwati yang mengidolakannya.
Wajar dong yaaa..Gus Rahman dengan predikat tampan dan juga sholeh itu siapa yang tidak mau?
"Lain kali kamu tidak boleh berbicara seperti itu, dan untuk semuanya juga sama, mestinya kita itu harus menjaga tutur kata dan pikiran kita sendiri agar tidak menyakiti hati orang lain..."
"Dan untuk kita bisa lebih menghargai orang lain terlebih lagi yang lebih tua dibandingkan kalian" lanjut Kinan menasehati mereka semua.
"Maafkan ana ustadzah karena sudah keterlaluan dalam berbicara.." ucap santriwati yang masih berumur sekitar 16 tahun itu.
"Tidak apa apa lain kali jangan diulangi.., baiklah karena jam telah menunjukkan pukul dua belas, kalian beristirahat hal dan bersiap siap untuk shalat..."
"Syukron ustadzah..!" seru mereka semua berdiri dan mempersilahkan Kinan untuk keluar sebelum mereka,
Sebenarnya sellisih usia Kinan dengan anak anak santri disana tidak terlalu jauh, terlebih saat ini Kinan mengajar di kelas Ulya ( setara dengan SMA ), sedangkan Kinan berumur 21 tahun.
Di pesantren yang namanya tutur kata dan tingkah laku memang perlu diajarkan dan dijunjung tinggi, terlebih lagi disaat kita belajar tentang ilmu agama maka yang namanya adab dan akhlak diperlukan, bukan hanya ilmu tapi juga akhlak kepada orang lain terlebih lagi adab kepada orang tua.
...**********...
"Hah!"
Dengan wajah yang menahan keheranannya Alina mendengar cerita Kinan, sontak tertawa.
"Hahahaha...begitu, aku rasa Gus Rahman itu suka padamu tuh Kinan, lagipula aku dengar di pesantren itu sudah tersebar dan jadi rahasia umum jika Gus Rahman mendekatimu..."
Pletak!
"Aww!"
Bagaimana Kinan selama ini menanggapi semua rumor itu di pesantren, Yah..Kinan hanya diam tanpa mau mengatakan apapun, lagi pula Kinan sendiri tidak tahu benar tidaknya berita tersebut,
Ya..lain kata adalah perasaan Gus Rahman padanya, karena selama ini Gus Rahman sendiri terkesan cuek dengan rumor yang beredar bahkan seperti tidak mendengar apa-apa di pesantren itu.
Sejujurnya bagi Kinan hal tersebut kurang nyaman baginya karena bagaimanapun ia telah menikah namun siapa yang tahu?, dan Kinan hanya bisa berharap semua yang didengarnya hanya dugaan saja.
"Aku juga berpikir seperti itu, begini ya...Kinan, di pesantren itu memang sering aku dengar rumor tersebut dan yang kita lihat Gus Rahman itu juga sangat perhatian padamu,.."
"Bukannya ingin membuatmu tidak nyaman hanya saja Gus Rahman sendiri tidak pernah memberikan reaksi apa-apa..." Tambah Jihan mengutarakan pendapatnya.
Mereka saat ini memang tengah bersama, bersantai di cafe yang menjadi tempat favorit mereka, bukan hanya minuman dan makanan yang enak tapi juga tempatnya masih asri dan banyak tanaman di cafe bergaya alam terbuka itu.
Begitulah untuk ketiganya, biasanya jika telah selesai mengajar Kinan dan Jihan dengan sedikit terpaksa akan mengiyakan permintaan Alina yang ingin bertemu dengan mereka jika sedang sibuk-sibuknya di pesantren dengan embel-embel kangen padahal yang mereka lakukan juga selalu ngumpul bareng jika ada waktu senggang contohnya Minggu.
"Tetapi aku cukup heran kenapa sekelas Gus Rahman saja kamu tolak" celetuk Alina.
Pletakk!
Nih anak! , Apakah ia sudah lupa jika Kinan sudah menikah atau bagaimana?.
"Memangnya kenapa kalau pria sekelas Gus Rahman ditolak Kinan!?, Memang ada gitu peraturannya yang mengharuskan Kinan tidak boleh menolak,..."
"Ihh..begini ya ustadzah Jihan yang kusayangg..."
"Bukannya ada aturan apalah itu, tapi aneh kan jika Gus Rahman yang memiliki wajah tampan, akhlak dan ilmu agama yang baik, Sholeh lah gitu ditolak..!" seru Alina gemas.
Sedangkan Kinan hanya diam mendengar perkataan Jihan, ada satu hal lagi yang belum Kinan katakan kepada Jihan bahkan selama satu tahun ini.
__ADS_1
Alina memperhatikan raut wajah Kinan yang agak berubah diam, Alina menghela napas!
"Heumm..begini ya..kinan sayang..memang sudah waktunya untukmu memberitahukan kepada Jihan yang sebenarnya, mau sampai kapan kau gelisah karena mencoba menutupi kebenaran ini,
"Lagipula lihatlah Jihan bukan kah selama ini dia mau menunggu apa yang sebenarnya yang ingin kau ungkapkan..."ucap Alina, Kinan menolahkan pandangannya.
Yang dikatakan oleh Alina benar!
"Tidak apa apa Kinan jika belum siap mengatakannya, aku menghargai setiap keputusanmu bahkan menurutku apa yang sedang kau sembunyikan dari kami ini memang cukup sulit untukmu mengatakannya..."
Kinan menggelengkan kepalanya,
"Huhmm...tidak harusnya aku tidak menutupi ini darimu Jihan, kau adalah teman yang begitu baik dan sekarang aku akan menceritakan semua padamu..."sergah Kinan tersenyum, sekarang ia akan mengungkap semua kepada Jihan.
"Begitukah!, syukurlah jika hatimu sekarang merasa lebih lega, aku tidak ingin menjadi beban pikiran untukmu, jika dengan mengatakan kepadaku kau merasa lebih baik maka aku ikut senang..."sahut Jihan lembut.
"Sebenarnya semenjak Abi meninggal ada sahabat Abi yang mau menolongku bahkan mereka sangat baik dan ada satu hal yang tidak aku ketahui selama itu, jika mereka pernah berjanji untuk menikahkan ku dengan putra keluarga mereka,.." Ucap Kinan pada akhirnya setelah menarik napas terlebih dahulu,
Kinan menggantung kalimatnya,
"Jadi kau dijodohkan"tebak Jihan,
Kinan mengangguk!
"Benar, bahkan aku sudah menikah dari satu tahun yang lalu dan orang yang pertama tahu rahasia ini adalah Alina,..."
"Jadi kau telah menikah, pantas saja...dan jangan jangan supirmu ituu.."
"Eitsss..dia bukan suami Kinan!" seru Alina memotong pikiran Jihan yang berpikir jika Halim adalah suami Kinan.
"Ooo...lalu siapa suamimu Kinan?, begini sebenarnya aku cukup terkejut dengan kenyataan ini tapi juga berbahagia untukmu, lalu apa alasanmu untuk tidak mempublikasikan hal berbahagia seperti ini?" lanjut tanya Jihan.
"Aku belum pernah bertemu langsung dengan suamiku.." ucap lirih Kinan,
"Apa!" semakin tercengang Jihan mendengar perkataan Kinan, ia belum paham benar kenapa bisa seperti itu.
"Kami dijodohkan saat itu dan dia tidak berada di Indonesia, dan mengapa aku tidak mempublikasikan hal ini karena aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh suamiku," jawab Kinan apa adanya, Kinan terkekeh kecil kata ' suamiku ' itu cukup Kinan merasa bahagia dan sedih.
"Jangan herann...begini bahkan Kinan tidak pernah memberitahukan kepadaku siapa nama suaminya...aku cukup penasaran sebenarnya siapa dan kenapa kau menutupi hal ini, apa suamimu itu artis!?" seru Alina, Alina mulai berpikir sampai kesana,
Kinan benar benar tertawa dibuatnya,
"Hahaha..." benar juga pikir nya, dan juga tidak sepenuhnya salah.
"Kenapa malah tertawa?, aku itu serius kau tahu, Kinannn...aku benar benar penasaran siapa..."
"Hehehe... bagaimana jika kau beritahukan saja" mata Alina mulai membesar, berbinar binar, Jiwa ke-kepoan Alina mulai terbuka.
"Huh..ituuu gimana ya.." Kinan jadi bingung sendiri, sedangkan Jihan hanya diam sembari menunggu jawaban selanjutnya dari Kinan.
"Eumm...Nanti saja ya.."Lanjut Kinan, mata yang membulat dan berbinar-binar itu seketika lenyap.
"Yah..."runtuk Alina.
Kinan dan Jihan hanya terkekeh kecil melihat raut Alina yang kecewa, jawaban yang ditunggu-tunggunya malah tidak didapatnya, matanya mulai menyempit!
Sebenarnya siapa, setampan apa..dan memiliki latar belakang seperti apa sehingga Kinan tidak bisa mengatakan semua?,
"Memangnya siapa...,Lee min ho" keki Alina,
Bersambung...
__ADS_1
...*Selamat membaca*...