Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 24 ~ Tanpa Sadar Telah Cemburu


__ADS_3

'Kuungkapkan padamu cinta ini, tetapi ternyata...kau telah milik orang lain'


By: Gus Rahman Ashari


...----------------...


Dan setelah Kinan di luar perusahaan...


"Maaf pak karena menunggu lama" Ucap Kinan meminta maaf kepada pak supir yang telah menunggunya lumayan lebih lama dibandingkan dengan ucapannya sebelumnya.


"Tidak apa apa nona muda!, setelah ini nona ingin kemana?" sahut pak supir itu ramah, ia sangat senang bisa mengantar nona mudanya yang begitu baik dan ramah.


"Kalau begitu maaf merepotkan pak, saya ingin pergi ke kediaman Gus Rahman alamatnya di jalan Cendrawasih nomor 4!" ucap Kinan sembari menyebutkan alamat rumah Gus Rahman.


Setelah itu Kinan pun segera pergi menuju rumah Gus Rahman tepat pukul 10 pagi seperti janji Kinan kemarin.


Sesampainya di kediaman,..


"Assalamualaikum" salam Kinan masuk,


"Wa'alaikumsalam" sahut mereka yang ada di dalam rumah itu.


"Kenapa kau baru sampai hah!" seru Alina tiba tiba seperti kebiasaannya selama ini.


"Tadi ada urusan sebentar, tetapi ini juga belum terlambat" jawab Kinan.


"Benar juga sih..."sungut Alina, lalu mereka pun berjalan kearah ruang tamu yang disana sudah ada Jihan dan lainnya yang tengah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.


"Ehh..nak Kinan sudah datang!" tiba tiba Umi Fatimah datang dari arah dapur.


"Iya Umi saya baru saja sampai"sahut Kinan


"Ooo..baik kalau gitu, Kemari sebentar nak, Umi perlu bantuanmu sebentar!" imbuh Umi Fatimah lagi,


"Baik Umi" Kinan pun mengikuti langkah Umi Fatimah menuju halaman belakang.


Dan tak lama kemudian Kinan kembali lalu ia ikut bergabung dengan yang lain.


Kinan dengan cekatan membantu menyiapkan segalanya, dari menyiapkan beberapa cemilan dan persiapan untuk berdoa sebentar sebelum membagikan makanan, dan juga yang lain lainnya.


"Kinan mau aku bantuin" tanya Jihan menawarkan diri karena saat itu Kinan terlihat sedikit kesulitan membawa nampan air.


"Terimakasih, tetapi tidak perlu aku bisa membawanya kedepan, lagipula kau sedang sibuk juga sekarang" sahut Kinan tersenyum.


"Baiklah hati hati" jawab Jihan lagi, sungguh sangat perhatian kepada Kinan.


Disaat Kinan membawa air minum dinampan dari dapur, karena tangannya sedikit terkilir membuat Kinan tidak sengaja menumpahkan air tersebut.


Prangg!..


"Astaghfirullah.."Kinan terperengah, lalu refleks ia membungkukkan badan untuk membersihkan gelas yang terhempas tersebut.


"Kinan!" Tiba tiba Gus Rahman datang menghampiri Kinan.


Ia yang baru saja datang dari pesantren melihat Kinan yang tidak sengaja menjatuhkan gelas tersebut, lalu dengan cepat ia menghampiri Kinan.


"Kau tidak apa apa Kinan!?" tanya Gus Rahman dengan sangat khawatir, lalu ia pun mencoba menatap mata Kinan.


"Saya baik baik saja Gus" Kinan pun menjawab dengan apa adanya, lalu ia pun mendongakkan wajahnya menghadap Gus Rahman yang saat itu juga menatapnya.


Mata mereka saling bertemu!,


Degg!


Sungguh indah dan teduh mata yang cantik itu, Gus Rahman terkesima dengan sepasang mata yang begitu menyejukkan.


"Gus..Gus Rahman!" seru Kinan memanggil Gus Rahman yang sepertinya sedang melamun, pikir Kinan dan ia pun mencoba membuyarkan pikiran Gus Rahman.

__ADS_1


"Ehh..Iyya..!,"


"Ada apa Gus!?, apakah ada sesuatu diwajah saya?" tanya Kinan dengan polosnya, bagaimana ia tidak bisa menyadari tatapan yang berbeda dari Gus Rahman.


"Tidak ada, mari saya bantu!" sahut ia dengan cepat, lalu ia pun ikut membereskan pecahan gelas itu.


"Kinan, Rahman!"


Umi Fatimah, Alina dan Jihan menghampiri Kinan karena mereka semua mendengar suara benda terjatuh dari arah Kinan keluar, yaitu ruang tamu.


"Ada apa ini?"lanjut Umi Fatimah.


"Bukan apa apa umi hanya saja Kinan tidak sengaja menjatuhkan minuman ini" sahut Gus Rahman sembari berdiri karena ia telah selesai membantu Kinan membereskan pecahan pecahan gelas tersebut.


"Kinan kau baik baik saja!" seru Jihan menambahkan, lalu ia pun mencoba melihat Kinan apakah ia terluka atau tidak, dan syukurnya Kinan baik baik saja.


"Iya saya baik baik saja.." sahut Kinan sembari tersenyum,


"Tadi sudah saya bilang kamu harus hati hati!" timpal Jihan, sedangkan Alina malah salah fokus dengan keberadaan Gus Rahman disana.


Alina terlalu lihai melihat tatapan mata Gus Rahman yang begitu mengkhawatirkan Kinan.


Alina pun terkekeh kecil didalam hati, Kinan..Kinan bagaimana bisa ia tidak menyadari tatapan itu!?, pikir Alina heran dengan Kinan yang begitu polos.


"Maaf semuanya...saya tadi kurang berhati-hati" ucap Kinan kemudian merasa tidak enak hati karena telah membuat orang orang cemas kepadanya.


"Tidak apa apa, tetapi kami disini lebih mengkhawatirkan keadaanmu, lagipula mengapa kau bisa menjatuhkan air ini?" sahut Alina untuk pertama kalinya sejak tadi.


"Tidak apa apa...Aww!!"


Namun tiba tiba Alina menyentuh tangan Kinan yang terkilir, dan saat itu juga Kinan mengaduh!.


"Lihatlah apakah kamu baik baik saja!, dasar gadis ini!" imbuh Alina , begitu pula dengan Gus Rahman, ia semakin khawatir.


"Ada apa dengan lenganmu Kinan?, apakah baik baik saja?" tanya Gus Rahman cemas,


"Benar tidak apa apa?, jika masih sakit mari ikut Umi dulu, Umi diberi obat untuk lenganmu, sini ikuti Umi" ucap Umi Fatimah.


"Benar Kinan lebih baik kamu obati dulu gih sana!" lanjut Jihan menambahkan.


Kinan pun hanya mengangguk singkat dan setelah itu karena semua persiapan telah selesai.


Mereka pun langsung mengadakan doa bersama dan langsung membagikan makanan makanan tersebut.


"Alina ambil plastik yang disana ya!"seru Jihan, mereka bersiap siap untuk pergi ke jalanan.


"Iya ustadzah Jihan sayangg,..yang ini ya!?"sahut Alina lalu ia mengambil sebuah plastik besar yang berisi minuman botol.


"Iya benar, Ayuk cepat kesini" jawab Jihan lagi.


Sementara itu,


Di kantor Kairen..


"Kemana kau ingin mencari Kinan?" cegat Evan,


Kairen yang ingin keluar dari ruangannya langsung dicegat oleh Evan.


"Terserah" jawab Kairen agak datar.


"Kau ini bagaimana bisa mencari keberadaan istrimu sekarang jika tidak dilacak" sungut Evan kesal.


Pasalnya, Kairen yang tiba tiba ingin menyusul Kinan akan tetapi ia tidak tahu Kinan berada di jalan mana saat ini yang rencananya ingin membagikan makanan.


"Tidak perlu dilacak kita jalan saja, katanya Kinan akan membagikan makanan di jalan raya" sahut Kairen lagi.


Iya!, kalau itu aku juga tahu jika Kinan saat ini membagikan makanan di jalan raya tapi di jalan mana?, memangnya disini hanya ada satu jalan saja!, gerutu Evan di dalam benaknya.

__ADS_1


"Dasar si ribet!" sungut Evan lagi dan ucapannya berhasil didengar oleh Kairen.


"Apa maksudmu hah?, lebih baik kau cepat siapkan mobil dari pada menghabiskan tenaga dengan banyak bicara disini!" lagi lagi mereka ribut karena hal yang tidak penting.


"Siap tuan Kairen" sahut Evan sembari mencibir,


Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran mobilnya dan segera pergi mencari posisi Kinan saat ini dan dengan terpaksa mengelilingi jalan yang satu arah dengan alamat rumah Gus Rahman.


20 menit telah berlalu tetapi Kairen dan Evan tidak juga menemukan keberadaan Kinan, saat ini mereka juga berada di sekitar jalan yang menuju pesantren.


"Kau itu hanya membuang waktu, lihatlah kita sudah mencari selama dua puluh menit tetapi kita tidak juga menemukan dimana Kinan" sungut Evan.


"Jika kau bicara lagi, lebih baik kau turun disini!" benar benar kesal dibuatnya,


Namun Kairen pun kembali fokus menatap jalan di depan mereka barangkali ia bisa melihat ada Kinan atupun yang lain yang sedang membagikan makanan.


"He..hei..Kairen bukankah itu istrimu!" tiba tiba mata Evan lah yang menemukan keberadaan Kinan yang berada sekitar 10 meter di depan mereka, Kairen pun melihat kearah yang dimaksud oleh Evan.


Terlihat Kinan dan Gus Rahman yang tengah duduk di sebuah taman kecil di sisi jalan raya, sepertinya mereka beristirahat sejenak setelah membagikan makanan.


"Benar itu dia!" timpal Kairen,


"Tunggu apa lagi, cepat jalan!" seru Evan, sebenarnya saat ini Kairen lah yang mengemudi.


"Ckk..aku juga tahu!" sungut Kairen kesal, lalu ia pun menjalankan mobil tersebut dan segera memarkirkan mobil di ruas jalan yang lebih lenggang.


"Tunggu disini!" ucap Kairen turun dari mobil, ia ingin menghampiri Kinan.


"Eemm.."


Evan hanya berdeham lalu dengan santainya ia menunggu Kairen didalam mobil.


Dan untuk Kairen sendiri, ia langsung melangkah kakinya kearah Kinan yang tengah duduk bersama Gus Rahman.


Entah apa alasannya saat ini, tetapi yang pasti ia ingin saja menghampiri Kinan yang terlihat begitu bahagia disaat bersama dengan Gus Rahman.


Kairen pun berusaha mendengarkan apa yang tengah mereka berdua bincangkan!


Jujur saat ini ia sendiri merasa tidak nyaman melihat Kinan yang tersenyum manis kepada pria lain.


"Dasar gadis itu!, bagaimana pun ia harus menjaga sikap jika bersama dengan pria lain" gerutu Kairen tidak terima, namun sesaat kemudian ia kembali tersadar,


Untuk apa ia marah?!.


Dan dari posisinya sekarang setidaknya Kairen masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan benar ketika Kairen mencoba menguping pembicaraan Kinan dan Gus Rahman.


Dan dengan jelas Kairen dapat mendengar!


"Kinan saya mencintaimu!" sebuah pengakuan terucap dari mulut Gus Rahman, itulah kalimat yang didengar oleh Kairen saat ini.


Sementara itu Kinan begitu terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Gus Rahman padanya.


Degg!


"A..apa maksudmu Gus!" Kinan sangat tidak menyangka jika Gus Rahman akan mengungkap perasaannya saat ini.


"Kinan,... sebenarnya dari dulu saya telah mencintai kamu tetapi saya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya saat itu dan saya pikir inilah waktunya" ucap Gus Rahman lagi,


Perlahan lahan tatapannya berubah begitu lembut dan tanpa sadar tangannya mulai menggapai puncak kepala Kinan!,..Dan dengan suara yang sangat lembut Gus Rahman mengungkapkan perasaannya,


"Saya mencintaimu Kinan" terucap susah kalimat yang selama ini ia pendam.


"Apa yang kalian lakukan!!" Serunya tiba tiba.


DEG!


Bersambung...

__ADS_1


...*Selamat membaca*...


__ADS_2