Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 8 ~ Gus Rahman Ashari


__ADS_3

'Cinta yang tumbuh untukmu dari sebentuk senyum dan kebaikan hati, namun... tanpa bisa aku ungkapkan padamu'


By: Gus Rahman Ashari


Jangan Lupa Untuk Komen Dan Likenya 😍


...----------------...


"Aku pulang dulu Alina"


Kinan telah ada didepan halaman dan akan segera pulang, Alina pun melambaikan tangannya kearah Kinan yang pergi.


Kinan pun berjalan betis sebentar sembari mencari sebuah taksi untuknya pulang, tunggu punya tunggu didepan jalan raya itu, Kinan tidak bisa menemukan sebuah taksi, padahal ini masih jam 2 siang.


Kinan mencoba lagi untuk menunggu beberapa saat lagi, ia celingak-celinguk melihat Kanan dan kiri jalan raya yang kala itu lumayan banyak pengguna jalan.


Namun 10 menit terlewat Kinan tidak juga menemukan sebuah taksi pun, kebanyakan dari mereka telah ada penumpangnya ataupun sudah terlalu penuh.


Mau tak mau Kinan berjalan kaki menyusuri jalan itu, barangkali ia menemukan taksi ataupun pangakalan ojek.


Tiba-tiba


Tit..titttt!


"Assalamualaikum, Kinan!?" panggil seseorang yang tiba tiba berhenti tepat di samping Kinan, Kinan pun menoleh,


"Wa'alaikumsalam, Gus Rahman!?"


"Mau kemana?, kenapa berjalan sendirian disini, bahaya Lo buat seorang wanita sepertimu" ucap Gus Rahman lagi sambil menurunkan standar motornya.


"Eh..itu saya dari rumah Alina tapi saya tidak bisa menemukan taksi dari tadi" sahut Kinan sambil menundukkan pandangannya.


"Begitu, jika tidak keberatan aku bisa mengantarmu pulang, lagipula kita satu arah?"


Kinan terdiam, bagaimana bisa Gus Rahman mengantarnya kembali kerumah!, sedangkan ia sendiri sudah pindah dari kediamannya yang dulu.


Kinan tergagap!


"Sepertinya saya mencari taksi saja, lagi pula tidak nyaman bagi saya untuk berboncengan yang bukan mahram"


Gus Rahman terlihat serba salah, tapi ia tahu jika ia meninggalkan Kinan sendirian dijalan ini bukankah lebih berbahaya, bisa saja kan ada orang yang usil nanti.


Dengan suara yang lebih ramah, satu ide muncul dipikirannya,


"Disini berbahaya bagimu, jika mau kamu yang bonceng, aku yang dibelakang"serunya sambil menahan senyuman terlebih lagi disaat melihat respon Kinan,


Kinan membelalakkan matanya tak percaya!, Gus Rahman kok jadi gitu ya!.

__ADS_1


"Jangan bercanda memangnya Gus mau saya bonceng?" sungut Kinan pelan, tapi tak urung ia jadi geli juga.


"Saya serius, masa iya saya tinggalin kamu disini, Ayuk boncengin motornya saya yang dibelakang, tenang saja, saya pasti jaga jarak".ucap Gus Rahman sambil nyengir kuda.


Gus Rahman itu kadang memang sangat humoris namun juga perhatian, mau tak mau Kinan mengikuti ucapan Gus Rahman, lagi pula ia jadi tidak enak hati menolaknya.


Jadilah mereka berboncengan, Kinan yang nyupir Gus Rahman yang dibelakang, belakanggg...kali..., Gus Rahman benar benar duduk terlalu kebelakang sehingga Kinan dapat merasakannya.


"Saya akan pelan pelan bawanya"


"Mau kenceng juga nggak apa-apa, yah paling paling saya jatuh nanti"sahutnya lagi sambil terkekeh geli.


Motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang bahkan bisa dikatakan pelan, Kinan tidak berani melaju lebih kencang dari ini, sedangkan Gus Rahman dari tadi hanya bisa tersenyum geli.


Andai istrinya!


"Ehh.. astaghfirullah apa yang aku pikirkan!"serunya dalam hati, lagi lagi pikiran nakal merasukinya.


Jadilah sepanjang jalan Gus Rahman beristighfar, untuk tidak terbawa nafsu.


"Aku berat ya!?" seru Gus Rahman sambil menarik sebuah kursi.


Kini Gus Rahman dan Kinan singgah di sebuah warung pinggir jalan, perut yang sudah berteriak dari tadi menandakan jika ia minta makan.


"Gus Rahman pesan apa?"tanya Kinan sopan,


"Nggak apa apa kok Gus, harusnya saya yang berterimakasih karena mau mengantar saya pulang" sahut Kinan, padahal dalam hatinya benar benar bingung harus mengatakan apa jika Gus Rahman bertanya pasal rumahnya.


Pesanan pun tiba, Gus Rahman memesan seporsi nasi goreng dengan tambahan lauk ayam goreng, sedangkan Kinan hanya memesan sebuah minuman coklat dan roti tawar.


Sementara itu...


Didalam mobilnya sedari tadi Halim merasa kebingungan dan juga gelisah karena ia tidak bisa menemukan keberadaan Kinan.


"Nona anda dimana?, jika saya tidak bisa menemukan anda matilah sayaaa.." keluhnya sambil melajukan mobilnya,


Menyusuri setiap jalan barang kali bisa menemukan Kinan, Selain itu Halim juga mencoba menghubungi Kinan sedari tadi, tetapi handphone Kinan tidak juga tersambung.


Kiri, kanan Halim menolehkan pandangannya, barangkali ada Kinan disuatu tempat disitu walaupun kemungkinannya terlalu kecil,


Bagaimana bisa Kinan ada dijalan raya itu!, namun betapa terkejutnya ketika sorot matanya tidak sengaja menangkap sesosok wanita yang tengah dicarinya,


"Apakah benar itu nona muda!?"pikir Halim lalu ia pun membelokkan mobilnya kearah jalan sebelah kiri dan menghentikan mobil tersebut tepat di depan sebuah warung sederhana.


Sedangkan Kinan dan Gus Rahman yang sibuk mengunyah makanan masing masing terheran heran ketika sebuah mobil berhenti tepat dihadapan mereka. Akan tetapi pandangan mereka kembali normal, siapa tahu hanya orang yang singgah ke warung tersebut.


Namun tidak dengan Kinan, setelah ia tahu siapa yang melangkah turun dari mobil itu, ia sontak berdiri,

__ADS_1


"Tuan Halim!?"


"Nona muda akhirnya saya menemukan anda!" seru Halim menghampiri Kinan lalu menolehkan pandangannya kearah Gus Rahman yang juga menatapnya.


"Nona saya sudah mencari anda sejak tadi, uhh.. untungnya saya bisa menjumpai anda disini"


"Kenapa apakah ada sesuatu!?"Kinan heran saja melihat raut wajah Halim yang terlihat resah, dan jika keresahan Halim itu karena dirinya bukankah terlalu berlebihan.


"Tidak apa apa nona hanya saja lain kali jika anda ingin bepergian maka beritahukan saja kepada saya, jadi saya bisa mengantarkan nona"


"Ada apa ini?"imbuh Gus Rahman, belum sempat kinan menjawab perkataan Halim, ia dikejutkan dengan kesadarannya yang tiba tiba muncul.


Bagaimana ia bisa melupakan jika ada Gus Rahman disana, bagaimana ia menjawab pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Gus Rahman padanya nanti.


Nona muda?


Dari kemunculan Kinan, Gus Rahman tidak mengerti mengapa Kinan dipanggil dengan sebutan seperti itu dan memang sejak hari itu ia selalu merasa Kinan menyembunyikan sesuatu dari semua orang.


Halim yang selalu mengantar-jemput Kinan juga agak curiga namun sekali lagi diurungkannya niat untuk bertanya karena rasa hormatnya untuk lebih menghargai privasi Kinan.


"Nona muda mari kita pergi"ucap Halim sepertinya tidak ingin berlama-lama disana.


"Maaf Gus sepertinya saya harus segera pergi, terimakasih untuk tumpangannya"ucap Kinan kepada Gus Rahman,


"Maaf aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu Gus"


Gus Rahman pun menyaksikan kepergian Kinan yang tergesa-gesa itu, selama ini ia selalu bertemu dengan Kinan ketika di pesantren, bahkan Kinan itu adik juniornya,


Tetapi ia tidak sekalipun pernah melihat Kinan dijemput oleh pria asing, meskipun selama beberapa hari ini memang Halim lah yang selalu menjemput Kinan.


Jadi hanya ada satu pertanyaan dibenaknya saat ini, siapa sebenarnya Halim itu!?, atau apa hubungannya dengan Kinan?!.


...***********...


"Maaf telah merepotkan anda" Sesampainya di kediaman Kinan langsung pamit masuk kepada Halim setelah mengucapkan kalimat tadi.


"Kakak!" seru Dira dari dalam rumah, ia menghampiri Kinan yang berada diambang pintu.


"Kakak kemana saja Dira kan mencari-cari kakak tetapi kakak tidak ada dimanapun, jadinya Dira menghubungi kakak Halim untuk mencari kakak" sungut Dira khawatir.


Ternyata Dira lah yang meminta Halim mencarinya, memang kesalahannya dari awal, kenapa coba ia tidak meminta antar saja jika ujung ujungnya seperti ini, hampir saja ia tidak bisa menjawab apapun yang menjadi pertanyaan dari Gus Rahman.


"Iyaa..maafkan kakak ya tadi kakak pergi kerumah sahabat kakak" sahut Kinan sembari berjalan masuk.


Bersambung...


...*Selamat membaca*...

__ADS_1


__ADS_2