Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 15 ~ Sikap Kairen


__ADS_3

Jangan lupa untuk selalu mendukung karyaku..yuk😆


'Kau tidak perlu melakukan apapun, jika kau mau kau bisa pergi'


...----------------...


"Kau tidak perlu mendengarkan ucapan mamah, jika kau mau kau bisa kembali ke kamarmu sekarang" ucap Kairen membuat Kinan sedikit terkejut, ternyata Kairen sudah selesai mandi.


Kinan pun menghadapkan tubuhnya kearah Kairen yang ada disampingnya dengan perasaan yang campur aduk.


"Apa maksudmu?"


Apakah sekarang ia diminta untuk pergi!


"Aku tidak akan mengekangmu.., sedari awal bukankah kita sama sama tahu jika pernikahan ini hanya sebatas perjanjian" sahut Kairen dengan tatapan mata yang menyiratkan semua yang telah ia lakukan hanya sebatas janji.


"Kau tidak perlu melakukan apapun sebagai istriku, kau boleh bebas dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusanmu, begitu juga sebaliknya" lanjut Kairen tanpa rasa bersalah.


"Cukup!" Kinan tidak tahan mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut Kairen.


"Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu, apakah semua ini bagimu hanya permainan, apakah didalam pikiranmu pernikahan ini hanya sebatas janji!?" seketika itu hati Kinan hancur berkeping keping.


Kairen hanya diam mendengar setiap rentetan kata yang keluar dari mulut Kinan.


"Baiklah aku akui jika pernikahan ini memang hanya janji, tapi apakah semua ini semudah yang kau katakan,...!?"


"Bukankah kau sudah mengerti sedari awal!?" tandas Kairen.


"Hahaha... tuan benar, harusnya aku tidak mengantungkan perasaan apapun,.."


Hancur sudah perasaannya, sekarang ia tahu dengan jelas pria itu pun tidak pernah menganggap dirinya dan sekarang ia semakin yakin selama ini Kairen tidak pernah memikirkannya seperti apa yang telah ia rasakan.


"Baiklah...kita tidak perlu mencampuri urusan masing masing tapi aku meminta satu hal padamu, biarkan aku melakukan tugasku sebagaimana mestinya dirumah ini tetapi aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu" ucap lirih Kinan menahan air matanya.


"Baiklah, terserah apa yang ingin kau lakukan aku juga tidak ingin menghancurkan perasaanmu"sahut Kairen.


"Dan satu lagi jika kita tidak ingin mengecewakan siapapun dirumah ini seperti keinginanmu maka berpura puralah" lanjut ucap Kairen.


Kinan tersenyum pahit!,


"Baiklah..kalau begitu selamat berakting"kata itu keluar dengan begitu sulit namun apa yang harus ia lakukan sekarang.


Kau telah menghancurkan perasaanku kai, kau telah menghancurkannya!. Kinan pun pergi dari kamar itu dan kembali ke kamarnya sendiri sambil berlari, ia benar benar kecewa.


Cklek!


Brakk!


Kinan masuk kedalam kamar dan langsung menumpahkan air matanya yang sedari tadi sudah ditahannya.


Hiks..Hiks...


Ada apa?, Apa ini tidak pernah ada di pikirannya sendiri sejak awal, tentu!, apakah ia tidak menyangka jika Kairen bisa saja menolaknya, tentu! ia sudah pernah memikirkan semua itu dan sekarang ia tidak menyangka semua benar benar terjadi.


Seharusnya ia tidak berharap lebih dari Kairen, harusnya ia tahu pria seperti Kairen tidak mungkin menjadi miliknya.


Lalu mengapa begitu mudah bagi Kairen untuk menyatakan semua dengan cara yang begitu sakit untuk Kinan.


"Hahaha...harusnya aku tidak perlu memikirkan apapun sejak awal"ucapnya tertawa sumbang.

__ADS_1


Sementara itu di kamarnya Kairen tengah duduk sembari menatap kearah luar yang kala itu cuaca masih rintik rintik hujan.


"Apa aku terlalu menyakitinya"pikir Kairen berusaha untuk memikirkan kembali apa yang telah ia lakukan.


Dan sekali lagi ia yakin dengan keputusan itu, ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Kinan dan sekarang ia benar benar tidak ingin menyakiti Kinan di sisinya, meskipun caranya terlalu kejam.


"Ini lebih baik untukmu Kinan"gumam Kairen.


Malam harinya...


"Apakah istirahatmu cukup nak?" tanya papah Azkara membuka pembicaraan setelah selesai makan malam.


Keluarga itu masih berkumpul di meja makan dan karena suasana cukup hening membuat Azkara membuka pembicaraan.


"Aku baik baik saja pah"sahut Kairen masih sibuk memakan buah apel yang ada di piringnya.


"Baik jika begitu, tapi kenapa denganmu apakah kau tidak berbicara sedikitpun dengan Kinan didalam kamar?" tuding Azkara.


"Papah..ini apakah tidak pernah menjadi anak muda, kenapa mempertanyakan hal seperti itu, tentu saja mereka masih malu malu" sungut mamah Alesha.


"Benarkan sayang!" Kinan pun hanya tersenyum seadanya, sedangkan Kairen tidak mengatakan apapun dan ia pun beranjak pergi dari sana,


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku ingin beristirahat lebih dulu pah, mah" ucap Kairen sembari menegakkan tubuhnya.


"Ehh...apa-apaan Kai, kenapa kamu meninggalkan Kinan sendirian disini!?"


"Tidak mah, Kinan bisa menyusul nanti jika telah membereskan semua ini terlebih dahulu"Imbuh Kinan langsung.


"Begitukah?"


"Benar mah" jawab Kinan menyakinkan mamah dan papah karena ia tidak ingin ada yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi diantara dia dan Kairen.


Pada akhirnya mereka pun masuk kedalam kamar masing masing dan meninggalkan Kinan yang masih sibuk berkutat dengan piring piring yang kotor.


Ini lah yang diinginkan oleh Kairen, sangat nyata!, jika memang harus seperti ini hanya berada ditempat masing masing tanpa mengusik satu sama lain.


Tap..tapp!


"Kenapa masih disini nak?"tiba tiba mamah Alesha datang dan seketika pikiran Kinan buyar,


"Iya mah sebentar lagi Kinan selesai"jawab Kinan menampilkan senyumannya.


"Mamah kesini untuk apa, apakah mamah membutuhkan sesuatu?"


"Ouh..nggak, ini mamah hanya ingin mengambil air minum" sahut mamah Alesha,


"Baiklah kalau begitu cepatlah beristirahat nak,.." ucap Alesha lagi setelah selesai mengambil air.


"Iya mah" Kinan mengangguk.


Kinan pun berjalan masuk kedalam kamar yang baru, dengan perasaan yang tak karuan ia masuk kedalam kamar itu.


Cklek!


Kairen yang mendengar pintu dibuka pun menolehkan pandangannya, hanya dengan sebuah lirikan mata.


"Nngg..mamah memintaku untuk segera ke kamar, jangan salah paham saya melakukan ini hanya untuk tidak dicurigai siapapun" ucap Kinan menjelaskan,


Sebenarnya ia tahu Kairen tidak akan suka jika ia ada disana, dan itu terbukti dengan tindakan Kairen yang langsung merebahkan tubuhnya dikasur dan mengabaikan Kinan.

__ADS_1


Kinan juga tidak ingin ambil pusing dengan sikap Kairen, ia cukup sadar diri.


Kinan pun berjalan kearah lemari pakaian dan mencari selimut untuk tidur, Kinan pun mengedarkan pandangannya keseluruhan kamar dan kemudian ia melihat ada satu sofa yang terletak di sudut kamar.


Ia pun merebahkan tubuhnya di sofa itu dan mulai memejamkan matanya sendiri, dan karena hari ini cukup melelahkan bagi Kinan ia pun segera tertidur dengan cepat.


...************...


Keesokan harinya...


Hari pertama untuk menjalankan tugasnya sebagai menantu dan Istri, meskipun ia telah tahu Kairen tidak akan bisa menghargai apa yang dilakukan olehnya namun ia tidak bisa mengabaikan kewajiban yang memang seharusnya ia tanggung.


Seperti pagi ini dengan sigap Kinan memasak dan menyiapkan sarapan untuk semua orang, terlebih lagi Kairen dan papah Azkara yang akan pergi keperusahaan.


"Jangan lupa makan bekal makan siang mu kai, karena Kinan sudah menyiapkannya untukmu"ucap mamah Alesha sembari menatap Kairen yang masih sibuk mengunyah makanan.


"Tidak perlu mah aku bisa makan siang di restoran" sahut Kairen.


"Jangan menolak lagipula Kinan sudah menyiapkannya sedari tadi dan kau dengan tega menolak buatan istrimu"timpal mamah agak tandas.


"Dan juga kau harus mengantar Kinan ke pesantren mulai sekarang"lanjut mamah.


"Ii...itu tidak perlu mah Kinan bisa pergi sendiri lagipula jika Kairen mengantarkan Kinan, Kairen bisa terlambat ke kantor" sahut Kinan.


"Kau tenang saja nak Kinan, Kairen tidak akan terlambat ke kantor, jadi jangan menolak" ucap papah Azkara.


"Kairen akan mengantarkanmu mulai sekarang, karena sebagai suami ia harus lebih memperhatikanmu" lanjut papah menatap Kairen dengan tatapan tidak bisa di tolak, harga mati!.


"Baik pah, Kairen akan mengantar Kinan"sahut Kairen pada akhirnya tapi ia juga tersenyum ramah kepada Kinan.


"Kalau begitu kita pergi sekarang"ucap Kairen lagi kepada Kinan.


Kinan tahu dengan pasti apa arti senyuman itu, lalu dengan cepat Kinan pun bergegas mengambil tas yang biasanya ia bawa pergi.


Dan disaat mereka sudah di dalam perjalanan,...


"Tuan bisa menurunkan saya di perempatan jalan, anda tidak perlu repot-repot mengantar saya ke pesantren" Kinan membuka keheningan yang tercipta.


"Aku tidak akan melakukan itu, jika aku telah memutuskan untuk mengantarmu maka akan sampai di tempat tujuanmu" sahut Kairen datar.


Kinan yang mendengar jawaban tersebut pun menghela napasnya, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Kairen?.


"Jangan melakukan hal yang bisa membuatku salah paham tuan Kairen, anda tidak perlu repot-repot mengantar saya, turunkan saja didepan sana"


"Baik jika kau berkata seperti itu" Kairen tidak punya pilihan ia pun menurunkan Kinan di depan sebuah pangkalan taksi.


Benar!


Jika ia telah memutuskan sebuah tekad maka lakukanlah dengan benar dan totalitas, Jika ia sendirilah yang meminta Kinan untuk tidak maju selangkah pun mendekatinya lalu untuk apa ia bersikap tulus.


Jika ia tidak ingin ada perasaan yang tumbuh, maka jangan melakukan sesuatu yang membuat perasaan itu tertanam.


"Tetap seperti itu!"sergah Kairen tandas, namun bukannya bersedih dengan ucapan itu Kinan malah menjawab dengan nada yang lebih tegas.


"Kau lah yang harus tetap begini Kairen!"


Lalu ia pun menutup pintu mobil, dan tak lupa ia mengucapkan terimakasih.


Bersambung...

__ADS_1


...*Selamat membaca*...


__ADS_2