
Jangan Lupa Like And Vote🤗
'Aku tak tahu caranya menyusun kata kata untuk berdoa padamu, karena itu aku mohon wujudkan apa yang tersirat di hatiku'.
By: Kinan Abizar Ahlam
...----------------...
Pukul telah menunjukkan waktu jam 5 sore dan Kinan pun tiba dirumah dan masuk kedalam,
"Assalamualaikum" Salam Kinan memasuki rumah besar itu, lalu terdengar sahutan dari dalam, lebih ditepatnya dari arah dapur.
"Wa'alaikumsalam, kok baru pulang nak?"tanya mamah Alesha menghampiri Kinan sambil memegang sebuah spatula.
"Iya mah, Loh mama lagi masak!?, Kinan bantu ya" sahut Kinan ramah,
"Boleh..tapi kamu tidak cape gitu kan habis pulang dari mengajar" jawab mamah Alesha.
"Nggak mah sebenarnya tadi aku sempat mampir dulu sama Jihan dan Alina di caferia, dan aku nggak cafe, Ayuk Kinan bantu.."
"Oke lah kalaunya kamu mau bantu mamah, ayukk.." mamah Alesha dan Kinan pun mulai sibuk menyiapkan dan memasak beberapa makanan untuk makan malam.
Setelah selesai membantu mamah Alesha, Kinan pun bergegas masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya dan turun kembali setelah selesai shalat magrib untuk makan malam bersama.
"Kakak Kinan ayukk sini!"seru Dira memanggil Kinan dan dengan rasa senang Dira menarik pelan lengan Kinan dan mendudukkan Kinan di kursi tepat disampingnya.
"Ada apa ini kok sepertinya sangat senang?"tanya kinan juga tersenyum, kenapa ekspresi dari Dira sangat senang.
"Hehehe..iiya senang saja, mari kita makan tapi tunggu mamah sama papah dulu" jawab Dira dianggukan oleh Kinan.
Tak beberapa lama mamah dan papah pun datang dan langsung bergabung dengan Kinan dan Dira untuk makan bersama,
Srett...
Papah Azkara telah selesai makan, Ia pun berdiri sembari menatap seluruh keluarganya,
"Papah ingin berbicara"ucap papah lalu mereka semua pun berkumpul di ruang tengah.
Mereka semua duduk dengan guratan wajah yang bahagia, terlihat dari reaksi mamah dan Dira yang tersenyum seperti sudah tahu apa yang ingin di katakan oleh Azkara.
"Ada apa ini pah?"tanya Kinan sopan.
"Begini nak Kinan, sebenarnya ada yang ingin kami beritahukan kepadamu jika Kairen akan pulang beberapa hari lagi" ucap papah Azkara dengan raut wajah yang berbinar.
Degg!
Kinan terdiam ia tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa, bahagia, bersyukur pada akhirnya Kinan akan bertemu dengan Kairen. Ada perasaan yang tak bisa Kinan lukiskan.
Tapi dengan suara yang terdengar ramah Kinan mencoba berbahagia, bagaimana pun bukankah ia perlu bersyukur karena Allah akan mempertemukan mereka.
"Benarkah!, Kinan bahagia mendengarnya!"seru Kinan mencoba berbahagia dengan tulus.
"Syukurlah kau senang Kinan, karena kami menyangka jika kau merasa terlalu lama menunggu Kairen..."Ucap papah Azkara merasa tak tega dan juga merasa bersalah karena Kairen tidak pernah datang dalam satu tahun ini.
Kinan tersenyum tulus,
"Tidak pah aku bahagia, lagi pula bukankah selama ini kita menunggu dia kembali, dan bagi Kinan disaat Kinan memutuskan untuk menikah dengan Kairen apapun yang terjadi kedepannya akan aku terima...."
__ADS_1
"Ini sudah tanggung jawab Kinan sebagai istri menunggu kedatangan suaminya sendiri" Lanjut Kinan berusaha untuk tegar.
Alesha mendengar perkataan tersebut langsung terenyuh, Bagaimana tidak! lihatlah ketegaran dan keikhlasan Kinan kepada Kairen.
"Semoga kau bahagia selamanya, mamah akan selalu menyayangimu sebagai seorang putri bukan hanya sekedar sebagai menantu mamah.."Alesha pun memeluk tubuh Kinan yang duduk disampingnya itu dengan rasa haru dan bangga.
"Terimakasih karena telah menerimaku mah, pah" ucap Kinan tak lupa dengan perasaan bersyukurnya karena telah di berikan keluarga yang begitu baik padanya.
Kinan masuk kedalam kamarnya dengan langkah yang perlahan sembari memikirkan semua yang sudah disampaikan oleh papah.
Duduk dipinggiran kasur sembari mendekap dadanya yang terasa berdetak kencang, perasaan tak karuan yang dirasakannya benar benar membuat Kinan sesak.
Bahagia, sedih, takut dan juga penantian panjangnya apakah akan terbayar disaat Kairen tiba.
Akankah kau juga merasakan perasaan yang sama denganku, pikir Kinan berusaha keras menguatkan hatinya sendiri, cinta yang tulus itu bukan hanya dimiliki tapi juga dikorbankan.
Dan jika pada akhirnya perasaan mereka tak terbalaskan, mungkin saja ia akan mundur secara perlahan lahan dan akan merelakan Kairen.
Tetapi sekarang pun ia masih tidak mengerti perasaannya sendiri, sangat sulit mengartikan semua rasa didalam hatinya sendiri.
Awal rasa cinta itu bagaimana?, bagaimana ia bisa mencintai Kairen yang tidak pernah ditemuinya bahkan ia tidak tahu apakah dihati Kairen juga menginginkannya.
"Aku tidak tahu apa artinya aku dalam hatimu Kairen" desahnya pelan, ditelannya semua rasa itu dalam sebuah rasa tulus dan ikhlas.
...************...
Kinan tengah sibuk didalam ruangan kantor para pengajar pesantren Ar Rahman. bersama dengan Jihan yang membantunya menyiapkan segala keperluan untuk para santri dan santriwati yang mewakili lomba Tahfid Qur'an yang memang sudah di siapkan dari beberapa hari yang lalu.
"Sudah siap ustadzah Kinan?" tanya Jihan sopan, Kinan menganggukkan kepala.
"Baik ustadzah Jihan, Ayuk..."
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang utama pesantren yang dimana disana ada Gus Rahman dan dua santri dan santriwati yang akan mengikuti lomba Hafizd Qur'an.
"Sudah siap semuanya kan ustadzah Kinan, ustadzah Jihan?" tanya Gus Rahman dengan ramah.
"Na'am Gus, sekarang kita bisa langsung pergi saja" namun belum lagi mereka masuk kedalam mobil masing masing Alina datang terbirit-birit menghampiri mereka,
Apa lagi yang akan dilakukan Alina!?, semoga saja bukan hal hal yang aneh.
"Astaghfirullah Alina jangan lari-larian gitu kamu kan perempuan bisa lebih kalem"sungut Kinan mencoba mengingatkan sahabatnya itu terlebih lagi disaat ada Gus Rahman disana,
Gus Rahman hanya tersenyum tipis, cukup biasa baginya menyaksikan kekonyolan Alina karena seringnya wanita itu mampir jika ada waktu dan juga hanya sebatas bersilaturahmi dan pastinya harus ada ijin masuk kedalam pesantren itu.
"Ukhti Alina maaf sebelumnya tapi saat ini kami sedang sibuk, jika ingin bertemu besok besok saja" kata Gus Rahman membuka suaranya, mengingatkan Alina dengan ramah.
"Yahh...begitu ya, tapi pengennya ngobrol sama Kinan dan Jihan"sungut Alina pelan, tapi mau bagaimana pun saat ini yang lebih penting adalah urusan mereka bukannya hanya ingin santai dan mengobrol.
"Baiklah jika begitu, tapi kalian harus janji sama aku jika sudah selesai kita bertemu nanti"sahut Alina lagi bisa diajak kompromi.
"Iya Alina kami janji, benarkan ustadzah Jihan?"ucap Kinan, Jihan hanya mengangguk.
"Baik kalau begitu sampai jumpa" Alina pun tersenyum dan langsung melongos pergi dari hadapan mereka.
Mereka hanya menggelengkan kepala,
"Kapan dia itu dewasa" ucap Jihan.
__ADS_1
"Alina itu sudah dewasa hanya saja begitulah orangnya" timpal Kinan.
"Baiklah sepertinya kita harus segera pergi ustadzah Kinan, ustadzah Kinan,.."imbuh Gus Rahman.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat lomba yang telah diselenggarakan oleh ikatan pesantren di kota itu.
Sementara itu,
Kairen yang masih sibuk, dengan gaya khasnya memasuki ruang meeting untuk pertemuan para karyawan di perusahaan itu sebelum kepulangannya ke Indonesia.
Tap...tapp!
Pesona yang tak pernah sirna, wajah tampan itu selalu membuat para wanita tergila gila, setelah satu tahun pria dengan wajah tampan itu tetap menjadi pusat perhatian.
Kairen masuk kedalam ruang meeting disusul oleh Evan, serentak para karyawan yang telah menunggu kedatangan Kairen pun berdiri dan menyambutnya hormat.
Tak lama kemudian Kairen pun memulai pembicaraan disana untuk terakhir kalinya, dan mulai sekarang Kairen akan mengawasi perusahaan itu dari Indonesia.
"Bagaimana dengan nona Lusiana?"bisik Evan disamping Kairen sembari menunjuk dengan pandangannya kearah Lusiana yang berdiri tak jauh dari Kairen yang sudah melangkah pergi setelah beberapa saat pertemuan itu ditutup.
Tak jauh dari mereka Lusiana menatap Kairen dengan tatapan tajam, dengan angkuhnya Lusiana mendekati Kairen dengan bara yang meletup.
"Katanya kau ingin pulang ke Indonesia, kenapa tidak memberitahukan padaku kai...!"runtuknya berlagak manja dan bersikap sedih.
"Ihh!" Evan bergidik geli, Evan yang sangat terbiasa dengan banyaknya wanita tetapi ia selalu merasa merinding jika bertemu dengan wanita modelan Lusiana Rosalie.
Lusiana tidak menggubris Evan!,
"Kenapa kai?, aku akan jadi sedih lagipula kau tidak bisa kembali begitu saja..."lanjutnya masih manja.
"Ini bukan urusanmu Lusi aku mau pulang atau tidak" sahut Kairen tenang, lalu ia pun ingin pergi namun langsung dicekal oleh Lusiana.
"Aku belum selesai!, baiklah jika kau ingin pergi tapi aku akan ikut"
"Nona Lusiana lebih baik anda jangan berulah"imbuh Evan.
"Ihh..bukan urusanmu!"
"Heum... pokoknya aku ingin ikut, ikut ya sayangg..."
"Tidak bisa!" tiba tiba terdengar suara bariton yang tak jauh dari mereka,
"Papi!" ternyata itu adalah ayahnya Lusiana, Lusiana pun cemberut.
"Lusiana papi tidak mengizinkanmu untuk pergi saat ini, lagipula apa yang sudah papi ucapkan padamu semalam" ucap ayah Lusiana tegas.
"Tapi papi!..."
"Tidak ada tapi-tapian" sergahnya.
Sedangkan Kairen dan Evan yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum tipis dihati masing masing, terlebih lagi Kairen.
"Berhasil!"
Bersambung...
...*Selamat membaca*...
__ADS_1