Cahaya Cinta Dan Kenangan

Cahaya Cinta Dan Kenangan
Episode. 9 ~ Boutique


__ADS_3

Hai jangan lupa untuk meninggalkan jejak..yaa...dengan cara vote and coment ☺️🙏


...'Semua orang berjuang!...


...Entah itu untuk dirinya sendiri,untuk keluarganya, ataupun untuk orang orang yang dia jaga bahagianya'....


... ----------------...


3 hari kemudian...


"Mau kemana mah?"


Siang itu Kinan yang diminta oleh mamah Alesha untuk bersiap siap hanya mengangguk saja, lalu ia pun segera keluar menghampiri mamah Alesha yang sudah menunggu Kinan sedari tadi.


"Ada lah sayang, nanti kamu juga tahu, ikut saja ya.."Sahut mamah Alesha berteka teki.


Kinan mau tak mau hanya bisa menuruti mamah Alesha dan mereka segera pergi meninggalkan kediaman untuk kesuatu tempat yang menjadi tujuan mamah Alesha membawa Kinan.


~Sekitar 17 menit kemudian,


Mobil yang ditumpanginya itu berbelok kesebuah kawasan yang terlihat ramai dengan banyaknya mobil maupun motor, serta terlihat bangunan yang cukup besar berlantai 3.


'Boutique Collection'


Icon nama yang terlihat cukup besar terpampang jelas di penglihatan Kinan,


"Ayuk masuk!"


"Baik mah"


Kinan masuk bersamaan dengan mamah Alesha disampingnya, ia mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan tersebut.


Sangat besar, juga banyak tersusun pakaian pakaian yang terlihat mewah dan cantik. dari sekian banyaknya pakaian disana lebih mendominan adalah baju muslim, muslimah.


"Selamat datang bu" sapa pramuniaga yang datang menghampiri Kinan dan Alesha.


"Bagaimana kabar ibu apakah baik baik saja selama ini? lama juga ibu tidak kesini" lanjutnya sembari tersenyum melihat Kinan yang ada disamping mamah Alesha, siapa wanita cantik ini?, pikirnya terkesima dengan sebentuk wajah yang begitu cantik.


"Baik kok saya, apakah pekerjaan disini baik baik saja selama saya tidak kemari, apa ada kendala?"tanya mamah Alesha.


Wanita itu pun menjawab pertanyaan mamah Alesha dengan menggelengkan kepala, lalu mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Alesha.


"Maaf Bu boleh saya bertanya siapa nona ini?" tanyanya sopan.


"Ah..ya saya jadi lupa, perkenalkan ini menantu saya dan selanjutnya dia ini yang akan menjadi pemilik butik ini" Sontak Kinan menoleh, pemilik butik?, apa maksud dari ucapan mamah Alesha.


Sebenarnya sedari tadi pun Kinan tidak tahu jika butik ini milik Alesha, begitu pula dengan wanita itu ia terkejut plus tidak menyangka jika Alesha telah memiliki seorang menantu.


Sejak kapan?, bahkan ia tidak tahu jika mamah Alesha memiliki seorang putra walaupun sesekali ia pernah mendengar berita tersebut jika mamah Alesha itu memiliki seorang putra yang sangat tampan.


Namun langsung ditepisnya perasaan terkejut itu dengan senyum yang mengembang diwajahnya sambil mengulurkan tangannya menyalimi Kinan.


"Salam kenal nona nama saya Nadia"

__ADS_1


"Salam kenal juga nama saya Kinan" sambut Kinan ramah.


"Nona sangat cantik bahkan saya jadi ikut pangling"


"Masya Allah...bisa saja kamu Nadia, jangan terlalu memuji saya"


"Tapi itu kenyataan kok nona, eh tapi saya juga ingin mengucapkan selamat karena sebentar lagi nona akan menjadi pemilik di butik ini"


"Ah masalah itu,..apakah mamah tidak salah?" tanya Kinan lagi mencoba menyakinkan bahwa ia memang diminta Alesha sebagai pengelola disana.


"Benar kok Kinan, begini ya sebenarnya..." ucap Alesha menggantung kalimatnya, mencoba mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di ruangan itu.


"Sebenarnya toko ini baru saja dibuka tiga bulan ini dan jujur setelah mamah pikir pikir, alangkah baiknya jika di pegang olehmu dengan begitu mamah berharap kamu bisa memajukan bisnis ini" lanjut Alesha menjelaskan maksudnya memberikan butik tersebut untuk Kinan.


"Tapi Kinan tidak tahu apakah aku bisa mengelola butik sebesar ini" desah Kinan terbata bata ia tidak tahu apakah benar benar mampu jika harus mengemban amanah sebesar ini.


"In syaa Allah mamah yakin padamu sayang"sahut mamah Alesha mencoba untuk menyakinkan Kinan.


Lagipula bukan keputusan yang kecil bagi Alesha menetapkan hal tersebut, sejujurnya Kinan itu sangat pandai dalam hal fashion dan juga bisnis, Alesha tahu hal tersebut sebab pada dasarnya ia juga tahu Kinan itu pernah belajar tentang bisnis di masa kuliahnya.


"Jika memang mamah begitu percaya padaku, Kinan juga akan bertanggung jawab dan amanah, kalau begitu Kinan akan mengelola butik ini dengan baik dan in syaa Allah Kinan tidak akan mengecewakan mamah" jawab Kinan pada akhirnya mengambil keputusan tersebut,


Lagi pula ditengah tengah kesibukannya dulu ia juga pernah berbisnis seperti ini namun karena suatu alasan ia tidak melanjutkannya.


"Terimakasih, mamah akan sangat senang jika kamu yang menjaga bisnis ini, lagipula disini mereka para pegawai pasti sangat senang ada dirimu"


"Baik mah"


"Sekali lagi selamat untuk anda nona Kinan"


Kinan cukup senang!


...*************...


Brakk!


Jihan yang sedang berjalan kearah luar kantor pengurus pesantren tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran Gus Rahman dan mereka hampir bertabrakan jika Jihan tidak berhenti tepat pada waktunya.


"Astaghfirullah maaf Gus saya tidak sengaja" Jihan pun berlutut sambil mengumpulkan buku yang tengah ia bawa.


"Saya yang mestinya meminta maaf kepadamu ustadzah Jihan, mari saya bantu"


"Tidak perlu!"cepat cepat Jihan sudah mengumpulkan buku buku itu dan sekali lagi ia meminta maaf sebelum pergi.


"Maaf sekali lagi Gus, saya permisi Assalamualaikum....." sambungnya berlari kecil meninggalkan Gus Rahman.


"Wa'alaikumsalam" Gus Rahman memperhatikan kepergian Jihan yang tergesa-gesa, memangnya ada apa?.


"Eh..eh..ehhh.., ustadzah Jihan kenapa toh jalannya cepat cepat gitu?, memangnya ada apa?" tiba tiba ada yang mencekal lengan Jihan dan itu membuatnya terkejut setengah mati.


"Astaghfirullah kaget!,.. Alinaaa kebiasaan ya kalo nya datang itu ngagetin" sambil mengelus dadanya sendiri Jihan dikejutkan lagi oleh Alina yang tiba tiba mencekal lengan disaat ia berjalan cepat.


"Hehehe.. habisnya jalanmu itu Lo cepat aku kan jadinya refleks saja gitu narik kamu" sungut cengengesan Alina.

__ADS_1


"Ya sudah tapi untuk apa kamu kesini Alina?" mereka pun sambil berjalan menuju masjid.


"Nggak apa-apa aku hanya mau kesini saja menemui ustadzah Jihan sama ustadzah Kinan"


"Kinan nggak datang hari ini katanya ada urusan lain diluar,..."sahut Jihan lembut.


"Begitu!,...yah aku kira bisa bertemu dengan kalian disini tapi ternyata Kinan nggak ada"


"Iya..tapi kamu itu bagaimana bisa masuk, ana heran mengapa bisa melalui izin penjagaan pesantren ini"


Sambil berbicara itu Jihan membelokkan langkahnya kearah masjid dan langsung masuk kedalam masjid,


"Ada lah ituuu" sahutnya cengengesan.


"Kamu kesini mau main saja, Alina....Alina daripada melakukan hal yang tidak bermanfaat lebih baik bantuin saya mengeberesin semua buku ini dan letakkan didalam lemari yang ada diujung situ" ucap Jihan sambil menunjuk sebuah lemari buku yang ada didalam masjid.


"Iya, sini buku bukunya"


"Nah gitu kan bagusss.." imbuh Jihan sambil tersenyum.


"Iya akan aku rajin"celetuk Alina tak mau kalah.


"Iya kamu rajin, rajin ngangu orang lagi pula apa kamu hari ini tidak bekerja"


"Tidak"


"Kenapa? kan bisanya kamu kerja?,"


"Hehehe...kau jalan jalan aja terus cari cowok, siapa tahu bisa ketemu jodoh disini"


"Dasar ya kamu..." Jihan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum tipis, memang kelakuannya Alina jika tidak ada kerjaan, suka nyeleneh!.


Kinan, Alina dan Jihan adalah teman satu masa SMA dan ketika mulai masuk kuliah mereka terpisah beberapa lama dan pada akhirnya bertemu kembali dengan Kinan yang ternyata juga mengajar di pesantren Ar Rahman sekarang dan berhubungan Alina masih sering mengontak Kinan jadi tidak sulit bagi mereka untuk bertemu kembali.


"Ngomong ngomong bagaimana keadaan Kyai Seman apakah baik baik saja?" tanya Alina lagi.


"Alhamdulillah Abi baik baik saja, bagaimana juga dengan ibumu Alina apakah beliau telah sembuh dari penyakitnya?"


"Syukurlah kalau begitu, Eum..kalau ibu baik baik saja sekarang tapi begitulah kadang-kadang harus bolak balik kerumah sakit, kau tahu sendiri kan bagaimana keadaan ibu setelah menderita penyakit gagal ginjal" sahut Alina pelan,


Ia akan sedih ketika membicarakan tentang ibunya yang menderita penyakit kronis tersebut pasalnya selama ini ibu tidak juga kunjung pulih.


"Yang sabar ya Alina, mudah-mudahan Allah segera mengangkat penyakit ibu dan pulih dengan baik"


Jihan mengusap punggung Alina pelan, Alina teman yang sangat cerewet dan juga manja tetapi meskipun begitu Alina adalah anak yang begitu baik dan perhatian kepada siapapun dan Alina itu sosok yang tanggung yang selalu berjuang untuk kesembuhan ibunya yang sering keluar masuk rumah sakit.


"Sekarang kita harus banyak banyak berdoa untuk kesembuhan ibu dan kamu harus selalu kuat apapun keadaannya, dan kami akan selalu ada untukmu"


"Terimakasih"


mereka pun saling berpelukan dengan lembut Jihan mengusap punggung Alina.


Bersambung...

__ADS_1


...*Selamat membaca*...


__ADS_2