
Mohon like, vote anda coment yup馃槏,...
...----------------...
"Lepaskan!" Ucap Kinan lagi, tapi sekarang suara itu mulai melemah, Kinan berharap Kairen mau melepaskan cengkeramannya karena tangannya mulai terasa sakit.
Kairen pun melepaskan Kinan, dan saat itu Kairen bisa melihat lengan kinan yang berbekas merah,
Set!,
"Apa yang tuan lakukan!?" Kinan menatap Kairen dengan tatapan tidak mengerti.
Saat itu Kairen hendak menyentuhnya lagi, tapi saat itu Kairen menjadi sadar apa yang ingin ia lakukan tadi.
"Bukan apa apa!" sahutnya kaku, lalu Kairen berdeham kecil untuk menghilangkan rasa canggung yang sekarang tengah dirasanya.
Kini mereka sama-sama hening, sama sama terdiam dalam pikiran masing masing.
Akan tetapi keheningan itu terpecah disaat nenek Kairen memanggil nama mereka,
"Kairen, Kinan!,.."Seru nenek terdengar dari lantai bawah, Nenek yang sedari tadi menunggu Kairen dan Kinan bersiap siap, cukup merasa heran!?,
Kenapa hanya untuk berganti baju saja memakan begitu banyak waktu!?, Disaat itu Kinan pun tersadar lalu ia hendak pergi.
"Mau kemana?" tanya Kairen disaat Kinan melangkah pergi,
"Tuan tidak mendengar jika nenek sudah memanggil kita!?" Timpal Kinan memberi pertanyaan, sedangkan Kairen hanya bisa mengatakan 'Ooh'.
Menyebalkan!
"Tunggu sebentar nek!" Sahut Kinan terdengar hingga bawah,
Kinan mengembangkan sebuah senyuman sempurna dari wajahnya dan tujuannya hanya satu agar nenek tidak tahu masalahnya dengan Kairen.
Kinan melangkah menuruni anak tangga dengan langkah pasti diiringi oleh Kairen dengan tampang yang tenang mereka benar benar pandai dalam menutupi perasaan masing masing.
"Akhirnya kalian siap juga!, nenek kira kalian tidak jadi pergi, cepat gih sana mumpung belum terlalu sore" Ucap nenek,
Sepertinya nenek benar tidak menyadari jika telah terjadi sesuatu, tanpa sadar Kinan dan Kairen sama sama bersyukur dalam hati!,
Huff...!
Bisa lebih gawat urusannya jika nenek tahu!, pikir Kairen.
Dan mereka pun mulai pergi meninggalkan rumah nenek, menyusuri setiap jengkal pasir dalam keheningan yang berat.
Sebenarnya Kinan merasa suasananya cukup hening, dan kadang Kinan merasa canggung sendiri disaat mereka tanpa sengaja harus melihat pasangan yang juga sedang bersama dipantai itu.
Sungguh canggung!, mengapa disaat seperti ini ada saja yang membuat perasaannya panas dingin.
Kinan menutup matanya, ingin sekali ia melarikan diri dari keheningan ini. dan benar saja!,
Kinan melajukan langkahnya, bahkan ia mulai berlari kecil dan meninggalkan Kairen yang merasa bingung, mengapa Kinan lari?.
"Hei kenapa kau lari hah!?" teriak Kairen,
"Karena Tuan terlalu menyebalkan!,.." sahut Kinan,
"Apa yang kau katakan hah!, menyebalkan!?" kening Kairen berkerut, lalu ia pun menyusul Kinan yang mulai menjauh.
"Memangnya kau tahu jalan huh?" timpal Kairen tepat disebelah Kinan, ia berhasil menyusul Kinan.
"Tuan bisa menunjukkannya" jawab Kinan spontan,
"Ya benar tapi bagaimana aku bisa memberitahukan padamu, sedangkan kau saja sudah pergi lebih dulu"
Sungguh tidak masuk akal!,
"Ah ya..benar, kenapa aku jadi bodoh begini?" Kinan meruntuk dirinya sendiri dalam hati.
"Jangan jangan kau merasa risih dengan mereka semua?!" tebak Kairen, Kinan tersentak!.
Degg!
Dugaan Kairen terlalu tepat!,
"S..s.siapa juga!" Sahut Kinan terbata bata, Kairen pun terkekeh geli dalam hati, sungguh benar tebakannya.
"Ahh..jadi benar!" Ucap Kairen tepat di samping telinga Kinan, kinan lagi lagi terkejut!
"Jangan terlalu dekat, bukankah tuan tadi marah kepada saya, jadi jangan tiba tiba merubah sikap seperti itu" Ucap Kinan mengalihkan topik pembicaraan, ia mulai menyalakan Kairen atas tindakannya tadi.
"Jangan mengelak!, Apakah kau ingin kita seperti itu juga" Sahut kairen, lalu tanpa aba aba Kairen menarik tangan Kinan agar tidak ada jarak diantara mereka.
Kinan memberontak!,
"Apa yang tuan lakukan!, lepaskan, siapa juga yang menginginkan ini" Kinan terlalu malu sekarang, pipinya mulai merona merah.
__ADS_1
"Jangan malu istirku.." Godanya membuat Kinan semakin malu,
Istriku... istriku!,.. Sekarang apa lagi yang akan di mainkan oleh Kairen?,
"Saya mohon tuan lepaskan tangan Kinan" Pinta Kinan mulai melembut, bahkan ia mulai tersenyum manis,
Namun sejujurnya dalam hatinya benar benar merasa geli dan malu karena ucapannya sendiri.
"Lebih baik kamu menurut saja sekarang, Lagipula bukankah ini yang kau inginkan!, jadi anggap saja kita sedang berakting, oke!" sahut Kairen lalu tanpa mementingkan perasaan Kinan yang mulai tak karuan itu,
Kairen dengan pastinya menggenggam tangan Kinan dengan erat dan memperlakukukan Kinan bak seorang istri yang sangat ia cintai.
Kenapa Kairen melakukan ini padanya?, Apakah nenek mengikuti mereka?, apakah nenek memperhatikan mereka dari jauh?, pikir Kinan menerawang,
Lalu tanpa gentar Kinan memperhatikan sekelilingnya, Kinan mulai memincingkan matanya, berusaha mencari sosok nenek.
Tetapi nihil!,
Lalu untuk apa Kairen bersikap seperti sekarang?,
"Nenek tidak mengawasi kita kan?, apa alasan tuan memperlakukan Kinan seperti ini?" Ucap Kinan.
"Siapa yang bilang jika nenek tidak memperhatikan, coba kau lihat orang orang itu!" sahut Kairen sembari mengisyaratkan dengan matanya kearah segerombolan ibu ibu yang tak jauh dari mereka,
Saat itu Kinan melihat empat sampai enam ibu ibu yang tengah memperhatikan mereka dengan senyum yang cukup mencurigakan,
Kinan benar benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat, apakah benar ibu ibu itu memperhatikan mereka?
"Tahu dari mana tuan jika ibu ibu itu sedang memperhatikan kita,..." Imbuh Kinan,
"Kau..!," Ternyata kinan tidak terlalu peka,
"Lebih baik kau menurut saja, sekarang tersenyumlah" bisik Kairen mesra, bahkan Kairen meniup pelan kearah telinganya.
Dengan sangat terpaksa Kinan mengikuti keinginan Kairen, Kinan menampilkan senyumannya kearah Kairen bahkan senyuman yang ditampilkannya saat ini terlalu manis, sehingga membuat Kairen menahan rasa geli.
Dan yang lebih tak terduganya lagi, ibu ibu yang masih bisa melihat mereka dari kejauhan, ibu ibu tersebut malah menyoroti kemesraan mereka.
Mereka bersorak dan gembira disaat mereka semua melihat Kairen dan Kinan yang menampilkan adegan mesra itu,
Kinan sungguh sangat malu!,
Set!!,
"Tuan cepatlah lagi,.." Kinan berjalan cepat sekarang, bahkan Kairen mulai menertawakan Kinan dari belakang, karena posisinya saat ini Kinan tengah menarik paksa dirinya agar segera menjauh dari tempat itu.
Dengan wajah yang masih merona Kinan melepaskan genggaman mereka, lalu ia pun mulai mengatur napasnya yang berantakan karena harus berjalan cepat selama beberapa menit.
"Kau lelah?" tanya Kairen tersenyum,
"Tidak!" sahut Kinan singkat,
"Syukurlah kau tidak lelah,.. mungkin bisa saja ibu ibu tadi mengikuti kita sampai kesini" Ucapan kairen langsung dibalas sorotan tajam dari Kinan.
Kurang kerjaan sekali para ibu itu mengikuti mereka sampai kesini!, Kinan mengendus kesal,
Akan tetapi disaat Kinan mulai memperhatikan pasar didepannya, ia mulai tersenyum kembali!.
"Ternyata ucapan nenek benar, disini sangat ramai dan juga banyak sekali aksesoris yang cantik" Seru Kinan, mata itu mulai terlihat berbinar binar.
"Jika kau menyukainya belilah!,"
"Benarkah!, jadi tuan mau membelikan ini semua untuk saya!"
"Hem!" sahut Kairen berdeham,
"Jadi lebih baik kau pergilah dan bersenang senang sana" Sambung Kairen.
Kinan pun tidak menolak, lalu ia meninggalkan Kairen yang akan menunggunya, sangat jarang bukan Kairen mau berbaik hati padanya!.
"Tunggu..!" Imbuh Kairen, Kinan yang belum terlalu jauh didepan kembali membalikkan badannya,
Ada apa?, isyarat terlihat dari wajah Kinan yang bertanya tanya,
"Aku akan menunggumu disini" ucap Kairen, Kinan pun mengangguk, ia senang.
Kinan berjalan dari satu toko ke toko lainnya, dengan senang ia melihat semua cendramata yang terbuat dari kerang atupun mutiara, bahkan bukan hanya itu di pasar itu terdapat berbagai macam makanan yang menggugah selera.
Kehidupan di desa itu begitu menyenangkan, terlihat sekali dari kesan pertama Kinan sampai disana, dan juga bagaimana keseharian yang dijumpai olehnya.
Kinan bisa melihat ada satu pondok rumah yang bertuliskan 'Pondok Tahfiz Qur'an' ditengah ingar-bingarnya pasar.
Kinan begitu merasa tersentuh, pasalnya walaupun ditengah tengah pasar yang begitu memanjakan mata dan membuat siapapun terbuai akan segala macam nafsu dunia, tidak membuat mereka lupa bahwa mereka mempunyai kewajiban menuntut ilmu agama.
Kinan berhenti tepat di depan pondok sederhana tersebut!,
Meskipun terlihat sederhana, Kinan bisa melihat para anak anak yang sedang belajar Al Qur'an disana, terlihat begitu senang dan menikmati setiap detik mereka menuntut ilmu.
__ADS_1
Seharusnya beginilah kehidupan, kita boleh menikmati kebahagiaan dan kehangatan dunia, akan tetapi kita jangan sampai lupa pada tujuan utamanya yaitu kehidupan kekal di akhirat.
Jangan sampai lupa jika kita memiliki kewajiban untuk beribadah dan mengingat Allah dalam kehidupan dunia, karena tidak selamanya kita hidup di dunia yang fana ini.
Ditengah tengah rasa kagumnya, tiba tiba seorang laki laki menghampiri Kinan dari dalam pondok tersebut,
"Assalamualaikum.." salamnya membuyarkan pikiran Kinan,
"Wa'alaikumsalam, eh..maafkan saya, apakah saya menggangu aktivitas tuan?!" sahut Kinan merasa bersalah.
Laki laki itu hanya tersenyum hangat menanggapi ucapan Kinan yang menurutnya tidak perlu,
"Tidak masalah nona, jika nona mau, nona boleh masuk" sahutnya lagi begitu ramah.
"Terimakasih tuan, tetapi saya disini saja,.." jawab Kinan, lalu Kinan kembali memperhatikan anak anak yang sedang belajar mengaji.
"Sepertinya nona sungguh tertarik untuk memperhatikan lebih dekat,.." Kinan merasa tak enak hati, tapi apa yang diucapkan laki laki itu memang benar.
"Tidak perlu sungkan nona, jika nona tidak nyaman karena anda seorang wanita tidak apa apa, saya bisa memanggilkan seorang ustadzah yang bisa menemani nona, lagipula sepertinya nona warga baru disini" Sambungnya.
"Benar tetapi saya bukan warga, saya hanya sedang berlibur disini" sahut Kinan.
"Benarkah!, kalau begitu salam kenal nona, nama saya Revan Alamsyah saya seorang pengajar ngaji didesa ini" Ucapnya memperkenalkan diri.
Kinan menautkan kedua telapak tangannya didepan dada, lalu dengan ramah ia membalas sapaan laki laki yang bernama Revan itu.
"Saya Kinan, senang bertemu dengan tuan"Sahut Kinan.
"Jangan terlalu formal nona, nona tidak perlu memanggil saya dengan sebutan tuan, nona bisa memanggil saya Revan saja, terdengar lebih nyaman bagi saya"
"Jika begitu saya akan memanggil tuan dengan sebutan Ustadz Revan saja"
"Jika itu membuat nona nyaman, kalau begitu saya permisi masuk terlebih dulu,.." ucapnya, lalu ia pun masuk kedalam dan memanggilkan seorang ustadzah yang akan menemani Kinan melihat para anak anak tersebut.
Namun belum sempat Kinan masuk, tiba tiba Kairen datang menghampirinya,
"Kinan!" panggilnya, Kinan berbalik badan,
Kairen?
"Kenapa kau sangat lama hah?" sambung Kairen,
"Dan apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lagi,
"Maaf tuan Kinan lupa!, tapi Kinan ingin melihat anak anak ini sebentar saja boleh?" Sahut Kinan meminta izin.
Kairen pun melihat kearah papan nama yang tertulis disana, dan disaat itu Kairen menjadi tahu kenapa Kinan ingin singgah.
"Baiklah" Kairen pun mengizinkan Kinan tanpa berpikir lebih panjang, lalu ia ikut masuk kedalam.
Kinan dan Kairen masuk dan saat itu Kinan pun mulai bergabung dengan ustadzah yang akan menemaninya berbincang bincang,
Sedangkan Kairen hanya duduk di pojok ruangan sembari melihat-lihat apa yang tengah dilakukan para anak anak itu.
Dan tak lama kemudian anak anak tersebut mengakhiri bacaan yang mereka lantunkan,
'Shadaqallahul Adzim...'
"Baiklah anak anak karena kita telah selesai mengaji, sekarang waktunya kita..!?" dan disaat itu ustadz Revan mengintruksi anak anak untuk,
"Shalawat!" seru mereka bersama sama, terlihat sekali para anak anak menunggu saat saat bershalawat bersama.
"Bagus, kalau begitu ustadz akan mengajarkan satu shalawat untuk kalian, jadi tolong disimak baik-baik"
"Baiklah ustadz..." seru mereka lagi, ustadz Revan pun mulai menyenandungkan shalawat yang begitu indah untuk didengar,
~Y芒 w芒ridal Unsi wal afr么hi fissahari, azahta m芒 bifu-芒d卯 min ladh么l kadari,...
~Fardal jal芒lati bahrol j没di in tarohu f卯 h芒latil j没di talq么l j没da k芒l mathori,...
~Ashlas-siy芒dati bal 鈥榓inal 鈥榠n芒yati bal r没hal hid芒yati lubbal-lubbi min mudlori,...
~Zainal wuj没di wa khoirol kholqi man syarufat bihil bariyyatu min b芒din wa min hadlori,..
~Muhammad芒n khoiro kholqill芒hi q么thibatan wa sayyidal jinni wal aml芒ki wal basyari,...
Begitu indah didengar, hingga membuat Kinan terkesima karena suara ustadz Revan yang terlalu merdu, bahkan shalawat yang dilantunkan oleh ustadz Revan memiliki arti yang begitu indah.
Semua orang yang mendengarkan shalawat dari ustadz Revan sama sama merasakan kesejukan dan kedamaian.
Dan dengan aba aba dari ustadz Revan, para anak anak mulai mengikuti setiap syair shalawat,
Tak dipungkiri hati Kinan merasa sangat damai bahkan ia sampai menitikkan air mata di saat ia menyaksikan sendiri bagaimana anak anak tersebut sangat mencintai Rasul-nya.
Bersambung...
...*Selamat membaca*...
__ADS_1