
"Kamu apa-apa sih? Kenapa gak benerin dulu tuh celana?" omel Cahaya sambil menghadap berlawanan arah dengan Bintang.
"Salah sendiri, kenapa lo minjami celana yang kolornya udah melar?" jawab Bintang sambil mengganti celana pendeknya dengan celana pendek yang baru saja diberikan oleh Cahaya.
"Terus kenapa barusan lo nimba air gak benerin dulu tuh celana, ditali kek pakai apa gitu biar gak melorot," omel Cahaya. "Gara-gara kamu kan mata suciku melihat yang nggak seharusnya." Cahaya menyalahkan Bintang. Meski yang dia lihat hanya benda menonjol yang masih terbungkus kain, tetap saja itu adalah hal tabu baginya.
"Norak banget sih lo! Baru lihat begituan aja udah heboh. Emang lo nggak pernah pergi ke wahana air? Minimal laut deh, pasti banyak kok cowok-cowok yang renang hanya pakai ****** ***** saja," jawab Bintang cuek. "Ah, gue lupa. Cewek miskin kayak lo mana pernah pergi main ke wahana air," ralat Bintang yang justru balik mengejek.
"Hish, dasar!" Cahaya hanya mencebik. Kalau diladeni, dia sendiri yang bakalan sakit hati. Makanya Cahaya memilih menyudahi obrolan seputar kolor atau apa pun itu.
"Tante udah nungguin kita di lapak, jadi cepet! Kecuali kalau kamu emang sengaja menghindar. Kalau emang nggak mampu ngaku kalah aja deh," desis Cahaya.
"Kalah? Sorry ya, dalam kamus Bintang nggak ada kata kalah. Gue pasti bakalan menangin taruhan ini. Jadi, bersiap-siaplah buat jadi babu gue," balas Bintang penuh percaya diri. Dia kemudian berjalan keluar rumah mendahului Cahaya.
Cahaya berdecih, dia kemudian ikut berjalan keluar dari rumah. Sebelum pergi, Cahaya kembali mengunci pintu rumah dan menitipkan kunci tersebut kepada Bu Romlah. Meski harus malas karena harus melihat muka masam Bu Romlah lagi, tetapi demi sang paman agar tidak tidur di luar saat pulang ia tetap menitipkan kunci rumah tersebut kepada istri Pak Mantri.
"Terima kasih ya, Bu. Maaf kalau kami sering ngerepotin," ucap Cahaya setelah memberikan kuncinya kepada Bu Romlah.
"Sudah tahu ngerepotin, masih aja dititipin disini," oceh Bu Romlah setengah menggerutu. Meski suaranya tidak keras, tapi cukup terdengar dengan jelas di indera pendengaran Cahaya.
Kalau saja ada tetangga lain selain rumah Bu Romlah, Cahaya pasti tidak akan menitipkan kunci tersebut kepada wanita yang tidak pernah tersenyum itu. Sayangnya, rumah yang jauh dari tetangga membuat Cahaya mau tak mau harus tetap menitipkannya di sana.
"Ya sudah, Bu. Saya mau ke lapak dulu, permisi. Assalammualaikum." Cahaya berpura-pura tidak mendengar perkataan Bu Romlah barusan.
"Jadi, dia pacarmu ya?" bukannya menjawab salam, Bu Romlah lebih tertarik dengan keberadaan laki-laki yang sedang bersama Cahaya.
__ADS_1
"Gue bukan.... "
"Iya, dia pacarku," sela Cahaya dengan cepat. "Permisi!" Dia segera menarik tangan Bintang dan membawanya pergi dari hadapan Bu Romlah sebelum wanita itu mengintrogasinya.
"Jadi, lo bilang sama tetangga lo itu kalau gue pacar lo gitu?" tanya Bintang saat mereka sudah sedikit menjauh dari rumah Bu Romlah.
"Terpaksa," jawab Cahaya.
"Halah, bilangnya terpaksa. Ngaku saja kalau sebenarnya lo diam-diam suka sama gue kan?"
"Cih. Najis suka sama cowok manja kayak kamu! Denger ya, seandainya hanya kamu satu-satunya cowok yang tersisa di dunia ini nggak bakalan juga aku mau sama kamu," jawab Cahaya tak mau kalah.
Bintang tiba-tiba bediri tepat di depan Cahaya. "Benarkah?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Cahaya.
"Tentu saja," jawab Cahaya yang langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Bintang.
Cahaya menatap sinis, dia benar-benar kesal dengan Bintang yang terus berhasil mengerjainya. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke lapak.
Bintang cukup kelelahan juga karena harus berjalan kaki yang menurutnya lumayan jauh. Padahal selama ini, pergi ke minimarket yang berjarak 100 meter saja dia ogah melakoninya. Tapi sekarang? Entah sudah berapa ratus meter ia berjalan kaki.
"Setiap hari lo dan Tante lo kayak gini?" Pertanyaan Bintang membuat Cahaya menatap ke arahnya.
"Kenapa? Gak kuat?" cibir Cahaya.
"Bukan gitu. Gue cuma ngerasa kalau ternyata hidup lo jauh lebih miskin dari bayangan gue. Tapi, lo hebat sih bisa bertahan."
__ADS_1
Cahaya tidak bisa menyimpulkan maksud perkataan Bintang barusan. Entahlah, pria itu sebenarnya sedang memuji atau mengejek keadaannya.
"Kita tidak istirahat dulu?" tanya Bintang yang tidak bisa menyembunyikan rasa capeknya.
"Kamu kira kita lagi hiking pakai istirahat segala?" jawab Cahaya. "Tenang saja, kita sudah hampir sampai kok. Lagian kalau kita istirahat dulu, kasihan tante nunggu kita kelamaan."
Dan memang benar tidak sampai lima menit, akhirnya mereka tiba di tempat jualan. Cahaya tersenyum ketika melihat lapak mereka sudah dipenuhi banyak pembeli. Namun, dia dan Bintang menghentikan langkahnya ketika sang tante tiba-tiba menunjuk ke arah Bintang dengan senyum anehnya.
"Nah, itu dia bintangnya. Saya tidak bohong kan?" ucap Tante Laksmi kepada para calon pembelinya.
"Wah, ganteng pisan."
"Ih, cakep bener."
"Tampan sekali."
"Beneran mirip artis korea."
Pujian-pujian itu terlontar dari mulut calon pembeli saat mereka semua mengikuti arah tatapan Tante Laksmi.
Bintang menatap Cahaya, demikian juga sebaliknya. Keduanya tidak tahu dengan hal yang sedang direncanakan oleh Tantenya itu.
"Apa yang sedang Tante lo lakukan?" tanya Bintang sedikit berbisik.
"Entah." Cahaya mengedikan bahu.
__ADS_1
"Aya, ayo bawa dia kesini!" suruh Tante Laksmi.
Meski bingung Cahaya tetap membawa Bintang mendekat ke arah tantenya.