Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua Puluh Tiga


__ADS_3

"Kami tidak ngapa-ngapain kok, Tante. Iya kan Bintang?" jawab Cahaya lalu menoleh ke arah Bintang. Sayangnya cowok yang biasa ia panggil dengan sebutan cowok manja dan arrogan itu memilih untuk tidak menjawab. Bahkan pria itu malah memilih untuk pergi ke dapur.


"Aku akan bereskan peralatan di belakang, permisi," pamit Bintang.


"Haish! Apa-apaan dia?" gerutu Cahaya.


"Tante, aku bawa ini ke gerobak ya?" Cahaya menunjuk tenda yang sudah dilipat.


"Ya sudah sana!" jawab Tante Laksmi.


Akhirnya semua peralatan dagang dan sisa dagangan sudah berada di atas gerobak. Setelah memastikan lagi tidak ada barang yang tertinggal, ketiga orang itu pun mulai memdorong gerobak tersebut untuk meninggalkan lapak.


"Aya, misal ada laki-laki yang ingin mengajakmu untuk ta'aruf kamu mau nggak?" tanya Laksmi ketika mereka dalam perjalanan pulang.


"Saat ini Aya belum mikirin soal itu Tante. Prioritas Aya saat ini adalah mengumpulkan uang yang banyak untuk kuliah dan membiayai operasi Paman," jawab Cahaya karena memang saat ini dua hal tersebut yang menurutnya paling penting.


"Ta'aruf? Ta'aruf itu apaan sih?" tanya Bintang. Dia melempar pandangan ke arah Tante Laksmi dan Cahaya secara bergantian.


"Taaruf itu proses perkenalan antara laki-laki dengan perempuan," jelas Tante Laksmi.


"Maksudnya pacaran?" tanya Bintang lagi.


Tante Laksmi menoleh ke arah Cahaya sebentar.


"Ya, bisa dibilang begitu. Cuma biasanya proses ini melibatkan orang ketiga. Jadi, meski dibilang pacaran pun kamu nggak boleh berduaan dengan si wanita. Selain itu proses taaruf biasanya membutuhkan waktu yang lumayan cepet yaitu antara sebulan dan paling lama tiga bulan. Jika dirasa cocok, maka akan berlanjut ke proses berikutnya yaitu khitbah. Kalau istilah kerennya tunangan," terang Tante Laksmi. Wanita itu mencoba memberi penjelasan yang bisa dimengerti oleh Bintang.


"Tapi, Aya, misal ada laki-laki baik yang ngajak kamu taarufan apa kamu mau menerimanya?" Tante Laksmi kembali bertanya.


"Sebenarnya, Aya belum memikirkan soal itu sih, Tante. Karena saat ini hal yang paling Aya inginkan adalah bisa melanjutkan kuliah dan bisa membiayai operasi Paman. Tapi, kalau misalnya menurut Tante cowok itu baik. Aya akan coba pikirkan," jawab Cahaya.


"Rencananya Tante mau minta guru ngaji kamu buat nyariin kamu laki-laki yang baik. Tante pikir kamu sudah cukup dewasa untuk menikah. Soal kuliah kamu bisa melanjutkannya setelah menikah nanti."


"Memang ada cowok yang mau nikah sama dia?" ucap Bintang.


"Memangnya kenapa? Aya cantik kok, rajin, pinter masak, solekha lagi. Pasti nggak sulit buat nyariin dia suami yang baik," jawab Tante Laksmi.


"Tapi, Tante. Dia kan baru 20 tahun. Kayaknya masih terlalu muda buat nikah." Entahlah rasanya Bintang tidak suka mendengar Tante Laksmi mbahas soal pernikahan dengan Cahaya.

__ADS_1


"Usia bukan patokan. Memang kenapa kalau nikah di usia segitu? Kalau soal kedewasaan, kedewasaan itu nggak bisa diukur dengan usia. Kadang ada orang yang usianya udah diatas 30-an, tapi pikirannya belum dewasa. Malah sebaliknya ada yang baru berusia 17 tahun pikirannya udah dewasa. Makanya jangan mengukur kedewasaan seseorang dari usia," sahut Tante Laksmi.


Ketika sampai rumah, seperti biasa Bintang dan Cahaya menurunkan semua peralatan dagang dan membawanya ke dapur. Sementara Tante Laksmi langsung beristirahat di kamarnya.


"Kamu beneran mau apa tadi taarufan?" tanya Bintang tanpa menatap Cahaya.


"Kalau cowoknya baik, kenapa nggak," jawab Cahaya.


"Tapi kan kamu nggak kenal dia?"


"Kan kami bisa saling mengenal pas proses itu," balas Cahaya.


Bintang hanya mendesah. Dia tahu harus mengatakan apa lagi agar Cahaya menolak untuk melakukan taaruf.


"Tapi, sebenarnya ada satu hal yang aku inginkan sejak dulu dari calon suamiku nantinya. Aku ingin suamiku melamarku dengan hapalan surat Ar rahman. Soalnya dulu almarhum Bapak juga melamar ibu dengan itu." Wajah Cahaya tersenyum kala mengingat kisah cinta percintaan kedua orang tuanya.


"Ya udah, yuk. Buruan selesaikan ini! Aku udah ngantuk, mau cepat tidur!"


Cahaya dan Bintang kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Semalaman Bintang tidak bisa tidur memikirkan perkataan Cahaya. Berkali-kali ia pindah posisi, dari mulai menghadao kiri, kanan, bahkan menungging. Namun, belum ada satu posisi pun yang membuatnya nyaman. Padahal biasanya, dia bisa dengan mudah tertidur saat tubuhnya kecapekan.


Bintang sedikit menyesal karena dulu sering bolos saat Cakra menyuruhya untuk belajar ngaji.


"Pokoknya gue harus bisa ngaji. Harus!" Bintang bertekad. "Tapi, sama siapa gue harus belajar?" Kembali Bintang mendeh.


"Sudahlah. Mending gue tidur aja."


**


Keesokan paginya....


"Aya, Si Bintang mana? Kenapa belum ke sini? Apa dia belum bangun?" tanya Tante Laksmi ketika ia belum melihat keberadaan Bintang di sana.


"Perasaan tadi dia udah bangun deh. Apa jangan-jangan dia ketiduran lagi?" jawab Cahaya karena setahu dia Bintang sudah bangun sejak subuh tadi.


"Coba sana kamu cek!" suruh Tante Laksmi.

__ADS_1


"Iya, Tante."


Gegas Cahaya bangun dari tempat duduknya. Namun, sebelum ia belum benar-benar pergi untuk melihat Bintang. Pria itu sudah muncul dari depan.


"Tuh orangnya dah nongol, Tan," ujar Cahaya.


"Ayo, Bintang buruan sini duduk. Kita sarapan bareng. Jarang-jarang kan kita bisa sarapan bareng kayak gini!" suruh Tante Laksmi.


"Ada apa? Kok kamu masih berdiri di situ?" tanya Cahyono. Dia melempar pandangannya ke arah Laksmi dan Cahaya.


"Hei, cowok manja! Ngapin masih berdiri di sana? Ayo duduk!" kini giliran Cahaya yang memberikan seruan.


Bintang masih diam di tempatnya.


"Apa ada yang mau kamu sampein?" tanya Cahyono dengan tatapan menyelidik.


"Gue... maksudku... aku... aku mau belajar ngaji sama kalian."


Mendengar jawaban Bintang barusan tentu membuat Cahaya, Tante Laksmi, dan Cahyono sedikit heran. Ketiganya melempar pandangan satu dengan yang lainnya.


"Ngaji?" tanya Cahaya. Dia ingin memastikan kalau indera pendengarannya tidak salah.


Bintang mengangguk.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin ngaji?" tanya Cahaya lagi.


"Memangnya orang mau belajar ngaji butuh alasan," jawab Bintang ketus.


"Ya enggak sih, cuma aneh aja. Cowok kayak kamu tiba-tiba mau belajar ngaji. Orang di kampus aja kerjaannya suka bikin onar. Kalau nggak bully junior pasti bully mahasiswa yang dapat bea siswa," ujar Cahaya sambil menggeleng.


"Di kampus? Memangnya Bintang masih kuliah? Bukannya waktu itu kamu bilang dia merantau ke kota ini untuk bekerja?"


Mendengar pertanyaan Cahyono barusan membuat Cahaya sadar bahwa dia baru saja keceplosan.


"Aya, tolong jelaskan sebenarnya siapa dia? Bukankah waktu itu kamu bilang dia pacar kamu?" Cahyono memberikan tatapan tajamnya kepada Cahaya dan Bintang.


Gleg.

__ADS_1


"Aduh, kenapa aku harua keceplosan sih. Sekarang apa yang harus aku katakan ke paman?" Cahaya merutuki kecerobohannya.


"Aya!" sentak Cahyono. Suami dari Tante Laksmi itu menunggu penjelasan dari keponakannya.


__ADS_2