
"Jadi, dia adalah orang yang sudah membullymu selamaini? Dan dia juga orang yang sudah memfitnahmu dan membuatmu kehilangan bea siswa itu? Benar begitu, Aya?" tanya Tante Laksmi.
"Tan... Tante, kok sudah pulang? Sejak kapan Tante ada di situ?" Cahaya sedikit gelapan. Dia tidak bermaksud memberitahu tantenya tentang siapa sebenarnya orang yang mereka selamatkan tersebut.
"Aya! Jawab pertanyaan Tante tadi, apa benar dia orangnya?" tanya Laksmi sekali lagi.
Cahaya menarik napas panjang kemudian menatap sang tante.
"Aya! Jawab Tante!" desak Tante Laksmi.
Cahaya mengangguk. "Iya, Tante. Dia orangnya, dia dan teman-temanya yang melakukan itu," jawab Cahaya. Dia terpaksa mengatakan semuanya dengan jujur.
Mengetahui fakta bahwa orang yang sudah ditolongnya adalah orang yang membuat keponakannya terpaksa harus cuti dari kuliahnya membuat Tante Laksmi meradang. Dia menghentakkan tas berisi barang belanjaan ke lantai kemudian melangkah ke arah ke duanya.
"Gara-gara kamu ya, keponakanku terpaksa harus berhenti kuliah! Dasar bedebah!" Tante Laksmi mencengkeram di bagian leher kaos yang dipakai oleh Bintang. "Kamu harus tanggungjawab!"
"Katakan saja, berapa yang harus gue bayar? Gue akan bayar sekarang!" Bukannya merasa bersalah Bintang malah bersikap angkuh.
__ADS_1
"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Bukannya minta maaf malah bersikap songong!" desis Tante Laksmi. "Kamu kira semua bisa digantikan dengan uang? Hah?!" Tante Laksmi terlihat makin emosi.
"Memang apa yang dibutuhkan orang miskin seperti kalian selain uang?" cibir Bintang.
Tante Laksmi menggeram kesal. "Baik. Bagaimana kalau kita taruhan?" Tante Laksmi memberikan penawaran.
"Taruhan? Kedengarannya menarik. Mau taruhan apa memangnya?" tanya Bintang dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Kalau kamu bisa tinggal di sini selama sebulan dan bisa melakukan aktivitas sama seperti yang Aya lakukan, Tante akan akui kalau kamu hebat dan uang memang bisa mendidikmu. Tapi, jika kamu kalah. Kamu harus mengakui kesalahan kamu dan menjelaskan kepada pihak kampus bahwa Aya tidak bersalah agar bea siswanya bisa dikembalikan. Bagaimana?"
Bintang kembali menimbang tawaran yang disampaikan oleh Tante Laksmi.
Mendengar itu, Bintang mengepalkan tangannya. Dia tidak terima dibilang anak manja karena memang begitulah kenyataannya. Selama ini, dia hidup seperti sebatang kara di rumah yang hanya ditemani oleh asisten rumau tangga.
"Lo, nggak tahu apa-apa tentang hidup gue. Bagaimana bisa lo bilang gue manja?"
"Terus apa? Anak kesayangan mami? Hm?" sinis Cahaya.
__ADS_1
"Baiklah, gua terima tawaran kalian. Gue akan tinggal selama sebulan di sini. Gue akan buktikan sama kalian bahwa gue bukan anak manja apalagi anak mami dan gue bisa ngelakuin apa aja yang bisa lo lakuin. Tapi, gue ada syarat tambahan," balas Bintang.
"Syarat tambahan? Apa itu?" Cahaya dan Tante Laksmi kompak bertanya.
"Jika gue berhasil ngelakuin semuanya, maka lo Aya, harus menjadi pelayan gue selama sebulan. Bagaimana?"
Cahaya dan Tante Laksmi saling tatap. Keduanya sama-sama memikirkan syarat tambahan yang Bintang ajukan.
"Baik, tidak masalah," jawab Cahaya beberapa saat kemudian.
"Oke, kita deal."
Bintang dan Cahaya saling berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan. Keduanya saling memberikan tatapan tajam.
Bintang mengambil baju ganti dan handuk dari tangan Cahaya. Dia segera berlalu dari Cahaya dan Tantenya.
"Ada apa, Tante? Kok raut wajah Tante berubah gitu?" tanya Cahaya ketika melihat raut wajah tantenya berubah sedih.
__ADS_1
"Aya.... "
"Iya, Tante. Ada apa? Katakan saja!" Cahaya penasaran dengan apa yang membuat tantenya tiba-tiba sedih. Padahal beberapa saat yang lalu, wajah wanita berusia 40 tahunan itu terlihat berapi-api.