
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Tidak tahu diri! Sampai kapan kamu akan terus membuat masalah dan mempermalukan papa, hah? Sampai kapan?" Arya terus menendang tubuh putra keduanya yang sudah jatuh tersungkur di lantai.
"Pa, sudah. Kalau kamu terus pukulin Bintang seperti ini dia bisa mati, Pa." Amara yang bisanya diam saja setiap melihat Bintang dipukuli oleh ayahnya, kali ini tidak bisa diam saja.
"Biarin saja anak itu mati, toh selama ini dia cuma bisa cari gara-gara," jawab Arya yang masih dikuasi oleh emosi.
"Kalau begitu bunuh saja aku, Pa. Lagian... selama ini aku masih hidup atau sudah mati saja kalian tidak pedulikan?" desis Bintang. Di menatap tajam papanya sambil menahan rasa sakit di tubuh akibat dipukuli oleh ayahnya sejak tadi.
Bintang bisa saja melawan, tetapi dia memilih diam. Bintang ingin tahu sampai sejauh mana papanya itu akan bertindak.
"Ouh... mau sok jagoan kamu ya. Baiklah kalau itu mau kamu." Arya yang masih dikuasi emosi makin tersulut mendengar perkataan putra keduanya. Dia pergi ke gudang dan mengambil sesuatu dari sana.
Mata Amara membulat ketika melihat Arya keluar dari gudang dengan membawa tongkat baseball. Dia pun segera memeluk tubuh Bintang saat Arya hendak mengayunkan tongkat yang terbuat dari besi itu.
"Jangan sakiti putraku lagi. Aku mohon jangan sakiti dia lagi. Sudah cukup kita memaksakan kehendak kita kepadanya. Sebagai orang tua, harusnya kita yang bisa memahami meraka. Bukan mereka yang harus memahami kita," ujar Amara. "Kita salah, Mas. Kita salah karena terus memaksakan kehendak kita selama ini. Seharusnya, kita bicara dengan mereka. Dengarkan pendapat mereka. Bukan memaksakan kehendak kita terus menerus."
"Apa yang kamu katakan Amara? Minggir kamu! Aku harus memberinya hukuman karena terus memberiku masalah!" seru Arya.
"Mas, bukan Bintang yang memberikan masalah. Tapi, kita. Kita tidak pernah mengatakan alasan kenapa kita terus memaksakan kehendak kita kepadanya. Jadi, mana bisa dia mengerti dengan keadaan kita, dengan ketakutan kita. Mas, bicarakan semuanya. Katakan yang sejujurnya kepada Bintang kenapa kita terus memaksakan kehendak kita. Aku yakin, Bintang akan lebih mengerti jika kita mengatakan semuanya," jelas Amara panjang lebar.
Arya membuang tongkat baseball yang tadi sempat akan diayunkan kepada Bintang ke lantai. Dia menarik napas dalam-dalam kemudian memejamkan matanya sebentar. Haruskah ia jujur tentang kondisi Cakra yang sebenarnya? Padahal, Cakra tidak ingin terlihat lemah oleh adik kandungnya itu karena penyakitnya.
"Apa yang terjadi dengan anak kesayangan kalian itu? Apa kalian ingin bilang kalau dia terkena penyakit serius makanya kalian terus memanjakan dia? Atau ada alasan lain yang harus aku mengerti tentang anak kesayangan kalian itu?" tanya Bintang. "Aku muak dengan semua ini. Aku muak terus dipaksa melakukan ini itu. Aku juga muak karena harus menjadi pihak yang harus terus mengalah."
"Bintang... kakakmu... dia... dia benar-benar sedang sakit. Sejak kecil, dia memiliki penyakit jan.... "
__ADS_1
"Persetan dengan penyakitnya! Kalau dia sakit kenapa tidak mati saja agar tidak menyusahkanku?" Bintang yang masih diliputi emosi mengatakan hal-hal diluar kendalinya.
"Kamu benar. Seharusnya aku mati saja agar tidak menyusahkanmu," ucap Cakra. "Maafkan aku karena gara-gara aku, kamu harus mengalami penderitaan ini. Maafkan aku." Cakra memegang dada kirinya.
"Cakra... kamu kenapa, Nak? Cakra... kamu tidak apa-apa kan?" Amara menghampiri putra pertamanya itu.
Amara begitu syok saat melihat Cakra tiba-tiba ambruk. Saat itu juga emosi yang sempat menguasai Bintang menguar begitu saja berganti dengan kepanikan. Dia ikut menghampiri kakaknya itu.
"Cakra! Bangun, Nak! Bangun! Cakra bangun!" teriak Amara sambil memeluk tubuh putra pertamanya.
"Ma, apa yang terjadi dengan Kak Cakra?" tanya Bintang yang juga terlihat syok melihat keadaan kakak yang dibencinya itu.
"Minggir kamu!" Arya mendorong Bintang agar menjauh dari Cakra. "Pak Dul, cepat siapkan mobil! Kita bawa Cakra ke rumah sakit sekarang!" titah Arya.
***
"Den." Sebuah tepukan di bahu Bintang menarik Bintang dari lamunannya. Bintang menoleh.
"Bik. Apa Bibik tahu kalau Kak Cakra selama ini sakit?" tanya Bintang sambil menatap wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga tersebut.
Wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Bik itu mengangguk.
"Jadi, semua orang di rumah ini tahu tentang keadaan kakakku dan hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa?" Bintang memejamkan matanya.
"Bibik sebenarnya ingin memberitahu Aden, tapi Tuan Cakra melarangnya. Dia tidak mau hidup dengan belas kasihan dari orang, meski itu Aden. Dia lebih senang Aden membencinya ketimbang melihat Aden bersedih untuknya," jawab wanita yang dipanggil Bik itu.
__ADS_1
"Sejak kapan Kak Cakra sakit?"
"Sejak beliau dilahirkan."
Lagi. Bintang merasa menjadi orang yang tidak berguna. Kakaknya sudah sakit sejak lahir, tapi kenapa dia sama sekali tidak tahu apa pun tentang penyakit yang diderita oleh kakaknya itu? Apa ini karena semua orang di rumah ini pandai menyimpan rahasia? Atau justru dirinya yang terlalu acuh dengan keadaan sekitar sehingga dia menjadi orang yang tidak peka? Bukan hanya tidak peka, ia bahkan hidup dengan membenci kakaknya itu.
"Bik, bisa ceritakan semuanya padaku! Aku ingin tahu tentang kakakku!" pinta Bintang dengan sungguh-sungguh.
Si Bibik mulai menceritakan semuanya. Setelah mendengar cerita dari asisten rumah tangga itu membuat Bintang sadar bahwa selama ini dialah yang abai. Dia hanya fokus dengan kebencian dan ketidakadilan yang dirasakanya tanpa mencari tahu alasan kenapa semua orang melakukan itu? Dan itu sungguh membuat Bintang sangat menyesal. Andai dia lebih peka, dia pasti bisa merasakan kalau kakaknya tidak dalam keadaan baik.
"Bik. Kak Cakra akan baik-baik saja kan? Dia tidak akan pergi karena perkataanku tadi kan?" Bintang kembali mengingat perkataanya sesaat sebelum kakaknya itu jatuh tak sadarkan diri.
Sungguh. Seandainya ia tahu kakaknya benar-benar sakit, dia tidak akan pernah mengatakan hal yang melukai hati kakaknya itu.
"In Syaa Allah Den Cakra akan baik-baik saja, Den," jawab Si Bibik.
"Aku akan menyusul ke rumah sakit."
"Den, apa tidak sebaiknya Aden mandi dulu?"
"Tidak, Bik. Aku ingin tahu keadaan Kak Cakra. Aku ingin minta maaf padanya," jawab Bintang.
"Ya sudah, terserah Aden saja. Tapi, Aden jangan ngebut ya? Bawa motornya pelan-pelan saja!" Si Bibik mengingatkan.
"Iya, Bik."
__ADS_1
Bintang segera meluncur ke rumah sakit dengan salah satu motor koleksinya yang ada di bagasi.