
"Pergi kamu dari sini! Mulai sekarang jangan pernah injakkan kakimu lagi di rumah ini!" Paman Cahyono mengusir Bintang setelah tahu bahwa pemuda itulah yang selama ini membully Cahaya di kampus dan membuatnya harus kehilangan bea siswa.
Bintang tak membalas sepatah katapun. Dia sadar wajar bagi paman Cahaya itu untuk membencinya. Sebagai seorang paman apalagi pengganti kedua orang tua Cahaya, Cahyono pasti tidak rela siapa pun berbuat jahat kepada Cahaya.
"Paman, aku minta maaf karena pernah membully Cahaya. Aku juga minta maaf karena gara-gara aku, Cahaya kehilangan beasiswanya. Sekali lagi maafkan aku!" ucap Bintang.
"Cepat pergi dari sini! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu!" seru Paman Cahyono.
"Aku akan pergi dari sini sekarang. Paman, Tante, dan Aya, terima kasih karena sudah menolongku. Terima kasih karena sudah mengizinkan aku tinggal di sini. Dan terima kasih karena berkat kalian aku bisa tahu bagaimana rasanya diperhatikan oleh keluarga. Sekali lagi terima kasih," ucap Bintang. "Dan... soal beasiswa yang dicabut, aku... aku akan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi kepada pihak kampus. Aku berharap Cahaya bisa kembali kuliah setelah pihak kampus menerima penjelasanku."
Paman Cahyono melengos. Paman dari Cahaya itu masih terlihat marah dan belum bisa menerima permintaan maaf dari Bintang.
"Tante terima kasih karena sudah menolongku dan memberiku tumpangan. Terima kasih karena sudah membuatku belajar untuk menghargai uang. Berkat kebaikan Tante, aku jadi tahu bagaimana sulitnya untuk mendapatkan uang. Sekali lagi terima kasih, Tante." Bintang berterima kasih kepada Tante Laksmi.
__ADS_1
"Sama-sama, Nak Bintang. Tante senang kalau bisa membuatmu menyadari kesalahanmu dan membuatmu bertaubat," balas Tante Laksmi.
"Aya, terima kasih karena kamu tetap bersikap baik kepadaku. Padahal aku adalah orang yang selalu membullymu dan membuatmu kehilangan beasiswa. Terima kasih ya," ucap Bintang. Cahaya mengangguk sambil tersenyum.
Meski selama menumpang di rumah Tante Laksmi, dia selalu bertengkar dengan Bintang. Tapi, Cahaya tahu kalau Bintang sudah berubah. Dia sudah menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Sudah cepat pergi! Kenapa masih disini?!" sentak Paman Cahyono lagi.
"Mas, sudah tahan emosimu. Jangan marah-marah seperti ini nanti darah tinggimu kumat." Tante Laksmi berusaha menenangkan sang suami.
Cahaya dan Tante Laksmi kemudian membawa Paman Cahyono masuk ke dalam rumah.
"Apa selama ini kamu sudah tahu kalau dia adalah orang yang membully Aya? Hah?!" Paman Cahyono bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Mas... itu.... "
"Jawab saja iya atau tidak?!" sentak Paman Cahyono.
"Paman, Cahaya yang meminta Tante untuk merahasiakan itu. Maafin Aya ya, Paman!" justru Cahaya yang menjawab karena memang dialah yang sedari awal merahasiakan siapa Bintang kepada tantenya.
"Sudahlah, Mas. Dia memang pernah salah karena sudah membully Aya dan membuat Aya kehilangan beasiswanya. Tapi, bukankah selama seminggu dia tinggal disini, dia juga sudah membuat dagangan kita laris. Lagian, dia sudah janjikan akan menjelaskan kepada pihak kampus soal fitnah itu." Tante Laksmi berusaha membujuk suaminya untuk tidak menyimpan dendam kepada Bintang.
"Paman, jangan marah lagi ya. Lain kali Aya dan Tante Laksmi gak akan berbohong sama Paman lagi. Hm?" Cahaya ikut membujuk sang paman.
Paman Cahyono menatap Cahaya dan Laksmi bergantian. Dia kemudian menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.
"Sudahlah. Lupakan kejadian barusan. Lagi pula itu bocah juga sudah pergi dari rumah ini. Tapi, ingat! Lain kali kalian tidak boleh merahasiakan apa pun dari paman. Oke."
__ADS_1
Tante Laksmi dan Cahaya mengacungkan jempol mereka sebagai respon.