Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua Puluh Lima


__ADS_3

Tok tok tok!


Cahaya mengetuk ruangan Bu Amalia. Dosen muda itu langsung mempersilakannya untuk masuk.


"Duduklah!" suruh Bu Amalia.


Cahaya pun duduk di bangku kosong yang ada di depan meja dosen wanita itu.


"Kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini?" tanya Bu Amalia.


"Saya dengar dari anak-anak lain katanya Ibu kehilangan soal di ruang Ibu dan siapa pun mahasiswa yang pernah masuk ke ruangan ini hari ini dijadikan tersangka, termasuk saya," jawab Cahaya karena memang itulah yang ia dengar dari temannya.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu alasan pemanggilanmu. Sebenarnya saya percaya kalau pasti bukan kamu pelakunya. Tapi, jika saya tidak memeriksamu sama seperti saya memeriksa mahasiswa lain yang masuk ke ruangan saya, takutnya mereka akan iri dan menganggap saya memperlakukanmu spesial. Jadi, tidak masalah kan kalau kamu juga saya periksa?"


"Tidak apa-apa kok, Bu. Saya ngerti dan itu memang hal yang harus Ibu lakukan," jawab Cahaya. "Sekarang apa yang ingin Ibu periksa?"


"Sebelum saya memeriksa kamu, saya mau bertanya kenapa pagi tadi kamu masuk ke ruangan saya padahal saya tidak pernah memanggilmu untuk datang ke ruangan saya?" tanya Bu Amalia dengan tatapan menyelidik.


"Ouh itu, saya mendapat pesan kalau saya disuruh datang ke ruangan Ibu. Katanya ada hal yang mau Ibu bahas bersama saya," jawab Cahaya.


"Pesan?" Bu Amalia menatap Cahaya bingung. "Tapi, saya tidak pernah mengirim pesan apa pun kepadamu."


Mendengar jawaban Ibu Amalia tentu saja membuat Cahaya kaget. Pasalnya pagi tadi dia benar-benar mendapat pesan dari nomor Ibu Amalia yang menyuruhnya untuk datang ke ruang dosen tersebut.


"Bisa kamu tunjukkan pesan itu!" pinta Bu Amalia.


Cahaya mengambil benda pipih dari dalam saku. Ia mulai menscroll beberapa pesan yang masuk di ponselnya pagi ini dan entah kenapa dari beberapa pesan itu tidak ada nama Bu Amalia. Padahal Cahaya yakin ia belum menghapus pesan dari Bu Amalia tersebut.


"Kenapa Cahaya?" tanya Bu Amalia lagi.

__ADS_1


"Pesan dari Ibu sudah tidak ada, mungkin saya tidak sengaja menghapusnya. Tapi, saya yakin kok, Bu, kalau Ibu mengirim pesan kepada saya untuk menemui Ibu."


"Tapi, Cahaya saya tidak pernah mengirim pesan apa pun kepada kamu." Bu Amalia kembali memastikan bahwa dirinya tidak pernah mengirim pesan apa pun kepada Cahaya.


"Kali saja itu hanya alibi yang dia buat untuk terhindar dari masalah ini, Bu." Seseorang tiba-tiba saja menyahut dari arah pintu dan Cahaya sudah sangat hapal siapa pemiliknya.


"Bintang! Apa maksud perkataanmu?" Pertanyaan ini Bu Amalia ajukan kepada Bintang.


"Bu, di dunia ini mana ada sih maling ngaku. Kalau maling pada ngaku penjara penuh, Bu. Dan para polisi tidak perlu repot-repot untuk membuktikan," jawab Bintang.


"Maksudmu?" tanya Bu Amalia lagi.


"Dia bilang kalau Ibu mengirimkan pesan agar dia datang ke ruangan Ibu. Tapi, Ibu tidak merasa kalau Ibu mengirim pesan itu. Dan tidak ada buktinya juga kan? Jadi, mungkin saja itu hanya alibi yang dibuat oleh Cahaya agar bisa lepas dari kasus ini. Dan menurut saya cara satu-satunya untuk mencari si pelaku adalah dengan memeriksa barang bawaannya. Siapa tahu kan kita bisa menemukan bukti itu," jelas Bintang panjang lebar.


Bu Amalia memikirkan perkataan Bintang barusan. "Kamu benar. Cahaya, Ibu minta maaf karena Ibu tetap harus memeriksa barang bawaan kamu."


Bu Amalia bersama dengan seorang petugas keamanan mulai mengeluarkan satu per satu barang bawaan Cahaya itu dari dalam tas hingga pada akhirnya dia menemukan soal yang sedang dicarinya di antara tumpukan buku di dalam tas Cahaya.


"Ini apa Cahaya?" Bu Amalia menunjukkan soal ujian yang dicarinya.


Mata Cahaya membulat. Ia tidak menyangka kalau soal itu akan ditemukan di dalam tasnya.


"Bu, sumpah, Bu Saya tidak pernah mengambil soal itu."


"Terus kamu pikir soal-soal ini jalan sendiri ke dalam tas kamu gitu?" Bu Amalia terlihat kecewa. "Ibu kecewa sama kamu!"


"Bu, tapi sumpah, Bu, saya tidak pernah mengambil itu. Saya yakin kalau saya dijebak." Cahaya berusaha menjelaskan.


"Ibu akan sampaikan ini ke rektor, biar rektor yang memutuskan hukuman apa yang pantas kamu dapatkan. Sekarang keluar dari ruangan saya!" usir Bu Amalia.

__ADS_1


"Tapi, Bu..... "


"Keluar!" sentak Bu Amalia.


Cahaya akhirnya keluar dari ruangan Bu Amalia diikuti oleh Bintang.


"Ini pasti ulah kamu kan?" Cahaya menatap Bintang.


Pemuda itu hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Kenapa sih kamu selalu membuat gara-gara denganku? Padahal selama ini aku berusaha untuk selalu diam, meski kamu dan teman-temanmu membully ku. Apa belum cukup bullyan yang kamu lakukan padaku selama ini?" Cahaya tak mampu membendung amarahnya.


"Justru karena kamu diam dan nerimo membuat semuanya jadi tidak seru. Tapi, sekarang aku senang telah membuatmu bereaksi," ujar Bintang. Dia tersenyum puas melihat wajah cemas Cahaya.


"Dasar cowok brengsek, cowok arogan. Aku pasti akan membalasmu. Lihat saja nanti!" teriak Cahaya ketika Bintang berlalu meninggalkan dirinya.


"Ya Allah, kira-kira hukuman apa yang akan dijatuhkan kepadaku?" Berkali-kali Cahaya menghela napas. Saat ini ia hanya bisa pasrah sambil menantikan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.


***


Cahaya berjalan tanpa tenaga meninggalkan kampus. Dia memang tidak beri hukuman apa pun oleh pihak kampus karena ini kesalahan pertamnya. Namun, gara-gara masalah ini, ia harus rela beasiswanya dicabut dan sekarang Cahaya kebingungan untuk membayar uang semester tahun ini.


"Akhirnya gue bisa ngelihat wajah putus asa ini. Ternyata memang semenyenangkan ini melihat lo putus asa," ucap Bintang yang tiba-tiba sudah muncul di depan Cahaya.


Cahaya berusaha untuk tidak mempedulikan kehadiran Bintang. Dia berjalan begitu saja melewati pria itu. Namun, Cahaya dibuat terkejut ketika Bintang tiba-tiba menarik dan mencium bibirnya dengan kasar. Dengan sekuat tenaga Cahaya berusaha melepaskan diri dari pemuda arrogan yang selalu membuat masalah itu. Cahaya mendorong tubuh Bintang lalu menampar pipi pemuda itu dengan sangat kuat.


"Dasar laki-laki brengsek! Aku tidak akan pernah melupakan perbuatanmu ini!" Setelah mengatakan hal itu Cahaya pergi dari sana. Dan sejak kejadian itu Cahaya tidak pernah muncul lagi di kampus. Gadis itu memilih untuk cuti kuliah sampai dia bisa mengumpulkan biaya untuk membayar uang semester sekaligus menunggu Bintang dan gengnya lulus dari kampus.


Dan malam itu saat Cahaya dan tantenya menemukan Bintang di tepi sungai, itu adalah kali pertama ia melihat Bintang lagi.

__ADS_1


__ADS_2