Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Bintang tidak jadi mengatakan apapun kepada mama dan papanya karena dokter tiba-tiba datang untuk memeriksa kondisi Cakra. Dia hanya memberitahu kedua orang tuanya bahwa dia pernah ditolong dan tinggal beberapa hari bersama Cahaya dan keluarganya. Dan pembicaraan itu berhenti sampai disini. Tidak ada pembahasan selanjutnya karena mereka fokus dengan pemeriksaan Cakra.


Menurut hasil pemeriksaan, kondisi Cakra sudah cukup stabil. Tim Dokter juga sudah memberikan izin untuk Cakra menjalani operasi di luar negeri.


Amara dan Arya tentu senang mendengar itu. Keduanya memutuskan untuk segera melamar Cahaya sebelum mereka berangkat ke luar negeri.


Malam itu juga tanpa berkonsultasi dengan anak-anaknya, Amara dan Arya mendatangi rumah Cahaya setelah sebelumnya mereka mencari tahu alamat Cahaya melalui Cakra. Amara ingin memberikan hadiah spesial kepada Sang putra tercinta sebelum ia berangkat ke luar negeri untuk berobat. Keduanya berharap dengan begitu Cakra memiliki semangat lebih untuk berjuang melawan sakitnya.


"Benar, Mas ini rumahnya?" tanya Amara saat mobil yang dikendarai oleh suaminya berhenti di depan sebuah rumah.


"Dari alamat yang diberikan oleh Cakra sih benar," jawab Arya. "Kita langsung turun saja buat mastiin!"


Arya dan Amara turun dari dalam mobil yang mereka tumpangi. Keduanya lalu berjalan menuju ke rumah yang tampak sangat sederhana itu.


Tok-tok-tok!


"Assalammualaikum," ucap Amara sambil mengetuk pintu.


Tidak lama seorang wanita dewasa membukakan pintu. "Maaf, siapa ya?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Apa benar ini rumah Tante dan Omnya Cahaya?" tanya Amara untuk memastikan jika memang mereka tak salah alamat.


"Iya, betul. Saya Tantenya Cahaya. Kalian siapa ya?" wanita tersebut menjawab sembari bertanya.


"Kenalkan, saya Amara dan ini suami saya Arya. Kami adalah orang tua Dokter Cakra." Amara mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.


"Owalah, orangtuanya Pak Dokter toh? Saya Laksmi." Tante dari Cahaya itu ikut memperkenalkan diri. "Monggo-monggo! Silakan masuk!"


Laksmi sedikit menggeser tubuhnya dan mempersilakan tamunya untuk masuk.


"Silakan duduk!" Kembali Laksmi mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Maaf sebelumnya karena kami datang tanpa memberitahu terlebih dulu, soalnya ini memang dadakan." Amara membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa, Bu Amara. Ohya, maaf Bu Amara karena kami belum datang ke rumah sakit untuk menjenguk Pak Dokter. Rencananya sih besok, kami akan ke sana. Gimana keadaan Pak Dokter, Bu?"

__ADS_1


"Cakra keadaannya sudah stabil dan dia akan segera menjalani operasi ke luar negeri minggu depan," jawab Amara.


"Alhamdulillah. Saya ikut senang mendengar kondisi Pak Dokter sudah stabil. Pak Dokter itu orang baik, saya dan suami saya banyak hutang budi sama dia. Saya yakin, banyak orang yang mendoakan kesembuhan untuk Pak Dokter, termasuk kami."


"Terima kasih ya, Bu atas doanya," ucap Amara. "Maaf, sebelum saya dan suami saya menyampaikan maksud dan tujuan kami ke sini, kami mau bertanya apa suami dan keponakan Anda ada di rumah?" Sebelum menyampaikan maksud kedatangannya Amara menanyakan keberadaan Cahaya dan Omnya.


"Oh, ada-ada. Sebentar saya panggilkan," jawab Laksmi. "Mas, Aya, ada tamu," panggilnya.


Tidak lama Cahaya muncul dari dapur bersama dengan Cahyono yang duduk diatas kursi roda.


"Ada apa sih, Mi?" tanya Cahyono yang baru saja datang. "Eh, ada tamu. Maaf-maaf."


"Lho, Om, Tante, kok kalian bisa ada di sini sih?" tanya Cahaya begitu tahu bahwa yang datang adalah kedua orang tua Cakra. "Gimana keadaan Dokter Cakra, Tan, Om?"


"Alhamdulillah, dia sudah sadar dan kondisinya cukup stabil," jawab Amara.


"Alhamdulillah. Saya ikut senang mendengarnya," Cahaya berucap syukur.


"Saya dengar kalau selain mengenal Cakra kalian juga sudah mengenal putra kedua kami."


Amara kemudian menunjukan foto yang ada di galeri ponselnya.


Cahaya, tante, dan omnya terkejut ketika tahu bahwa ternyata adik Cakra adalah Bintang.


"Jadi, Bintang adalah adiknya Pak Dokter?" tanya Cahaya. Dia masih tidak percaya kalau ternyata Bintang dan Cakra bersaudara.


"Iya," jawab Amara. "Dan maksud kedatangan kami ada hubungannya dengan salah satu dari putra kami dan juga Nak Cahaya," lanjut Amara.


"Maksudnya, Tante?" tanya Cahaya lagi.


"Kami ingin melamarmu, Cahaya," jawab Amara.


"Bintang menyuruhku untuk menunggunya sampai dia balik dari pesantren. Tapi, kenapa sekarang dia malah nyuruh orang tuanya buat melamar aku. Apa dia berubah pikiran?" batin Cahaya, gadis itu sampai senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana Nak Cahaya? Apa kamu mau menerima pinangan anak kami?" tanya Amara.

__ADS_1


"Saya terserah paman dan tante saya, Tan. Apapun keputusan mereka saya setuju," jawab Cahaya malu-malu.


"Sepertinya keponakan kami sudah setuju, jadi kami juga menerima pinangan anak kalian," jawab Cahyono mewakili keponakannya.


"Aya, kamu ambilkan minuman dulu buat calo mertuamu!" suruh Laksmi.


"Iya, Tante," jawab Cahaya. Wanita berhijab itu pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum bagi tamunya.


Beberapa menit kemudian Cahaya kembali ke ruang tamu dengan membawa air minum di tangan. Ia pun meletakkan air minum di atas meja.


"Silakan Om, Tante, diminum tehnya!" Cahaya mempersilakan.


Amara dan Arya langsung meminum teh manis tersebut hingga tandas setelah itu keduanya berpamitan untuk pulang karena harus kembali ke rumah sakit.


"Nak Cahaya. Tadi kami sudah berbicara dengan Om dan tantemu. Kami sudah sepakat kalau pernikahan kalian nanti akan diselenggarakan sebelum Cakra berangkat ke luat negeri. Jadi, kami bisa sekalian membawamu. Ya sudah, kami pamit pulang ya." Amara dan Arya berpamitan.


Cahaya masih bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh kedua orang tua Bintang tersebut.


"Ada apa?" tanya Tante Laksmi saat melihat keponkannya tersebut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Nggak ada apa-apa, Tan," jawab Cahaya.


"Jangan bohong! Wajahmu kelihatan bingung gitu kok masih bilang nggak ada apa-apa," omel Laksmi. "Udah bilang aja, ada apa?"


"Aku hanya merasa aneh aja, Tan. Kenapa kami harus menikah sebelum Kak Cakra berangkat ke luar negeri? Dan kenapa juga aku harus ikut dia ke luar negeri?"


Laksmi dan Cahyono saling melempar pandangan. Keduanya terlihat bingung dengan pertanyaan yang baru saja Cahaya pertanyakan.


"Kamu iki piye toh, Aya? Memangnya kamu mau ikut mendampingi Pak Dokter berobat ke luar negeri tanpa ikatan?" Laksmi menggeleng.


"Eh, maksudnya apa Tante?" tanya Bintang yang semakin bingung. "Bukankah mereka kesini untuk meminang Aya untuk dijadikan istrinya Bintang?"


"Kami ini ngomong opo toh? Mereka kesini ya buat ngelamar kamu untuk Pak Dokter," jawab Laksmi.


"A-apa?!" pekik Cahaya.

__ADS_1


"Ada apa, Aya?" kini giliran Laksmi dan Cahyono yang bingung melihat reaksi keponakannya.


__ADS_2