Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Tiga puluh


__ADS_3

"Bintang. Lo udah kembali? Kenapa setelah kejadian balapan waktu itu lo ngilang? Terus kenapa motor lo bisa ditemukan di sungai oleh warga? Lo kecelakaan?" Deny memberondong Bintang dengan berbagai macam pertanyaan.


Bintang belum menjawab, pemuda itu hanya menarik kursi kosong yang ada di dekat Aditya lalu mendudukinya.


"Gue rasa... Adit tahu jawabanya apa," jawab Bintang menyeringai.


"Adit? Kenapa dengan dia?" tanya Eros.


"Orangnya kan ada di sini, kenapa nggak kalian tanya saja dia," jawab Bintang.


Aditya terlihat tegang.


"Dit, lo tahu kenapa Bintang ilang setelah malam balapan itu?" tanya Faza kepada Aditya.


"Gue... gue.... " Aditya terlihat bingung.


"Kenapa, Dit? Nggak bisa jawab? Atau mau gue bantuin buat jawab?" tawar Bintang.


Tiba-tiba saja Bintang bangun dari tempat duduknya dan langsung mencengkeram baju Aditya.


"Lepasin!" Aditya memberontak.


"Kenapa lo lakuin itu hah?! Kenapa?!" tanya Bintang dengan meninggikan suara. Dia bahkan menghadiahi Aditya dengan bogem mentah. Tentu saja Aditya tak tinggal diam. Dia juga membalas melayangkan tinjunya di wajah Bintang.


"Bintang, Adit, hentikan!" Eros memang tadi sempat marah dengan Aditya karena memutuskan sesuatu hal tanpa diskusi terlebih dulu dengan semua anggota geng. Namun, dia juga tidak suka jika antar sesama anggota malah saling serang.


Deny memegang Bintang, sementara Faza memegang Aditya. Ketiga anggota geng Mortal Enemy itu berusaha melerai agar perkelahian itu tidak semakin menjadi-jadi.


"Kita ini sesama anggota, kenapa saling serang?" Eros menatap dua orang itu bergantian.


"Tanyakan sama dia, apa yang sudah dia lakukan malam itu!" suruh Bintang dengan emosi.


"Tunggu! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dengan kalian berdua? Bukankah selama ini kalian terlihat paling akur diantara kami?" Deny ikut bertanya.


"Gue benci sama orang bermuka dua kayak dia!"


"Hei! Ayolah. Kalian jelasin ke kita sebenarnya ada apa?"


"Kalian ingin tahu kenapa gue ngilang setelah balapan malam itu? Itu semua gara-gara dia! Dia nyerang gue dan jatuhin gue ke sungai."

__ADS_1


Mata Eros, Faza, dan Deny membulat mendengar pengakuan Bintang. Ketiganya masih tidak yakin jika Aditya bisa senekat itu.


"Bi, lo becanda kan? Itu tidak benarkan?" tanya Eros. Bintang masih menatap tajam Aditya.


"Dit, katakan kalau semua yang dikatakan Bintang itu nggak bener! Gue tahu kita kadang berantem, tapi gue yakin lo nggak akan mungkin setega itu ke Bintang. Katakan Dit kalau Bintang hanya salah paham!"


Aditya membuang muka.


"Dit, kenapa? Kenapa lo setega itu?" tanya Deny. "Kita ini sudah berteman sejak SMP. Kenapa kamu setega itu sama Bintang, Dit? Kenapa?!"


"Teman? Dibandingkan dengan kata teman kayaknya lebih cocok kalau dia nganggap kita sebagai pesuruhnya," jawab Aditya. "Tidak ada teman yang akan menjadikan temannya sebagai pesuruh. It's ok, itu nggak terlalu masalah buat gue. Tapi yang paling membuat gue tidak suka, dia jadikan geng Mortal Enemy sebagai geng tukang bully. Padahal tujuan awal geng ini dibentuk adalah untuk bakti sosial dan membantu teman-teman yang kesusahan. Dan di tangan dia semua berubah, gue nggak bisa terima itu karena almarhum kakak gue ikut mendirikan geng ini," jawab Aditya dengan suara bergetar.


Aditya ingat ekspresi bahagia kakaknya dulu saat dia memberitahu bahwa ia memiliki geng motor yang bergerak di bidang sosial yang membantu mahasiswa miskin yang kesulitan biaya.


"Kenapa Kak? Keliahatanya seneng banget?" tanya Aditya yang waktu itu masih duduk di bangku SMP.


"Kamu tahu, Dek. Kakak punya perkumpulan geng motor yang keren."


"Geng motor? Bukanya geng motor itu adalah geng yang selalu meresahkan ya Kak?"


"Itu geng motor yang lain. Geng motor yang didirikan kakak dan teman-teman kakak bergerak di bidang sosial."


"Ya... intinya kalau ada mahasiswa kesulitan geng ini akan membantu. Contohnya tadi, ada mahasiswa yang nggak bisa bayar uang semesteran geng ini berusaha bantu dengan cara ngumpulin dana antar sesama anggota dan siapa pun yang mau nyumbang. Kamu tahu, Dek. Nama geng motornya adalah Mortal Enemy. Keren kan?"


Aditya ingat betul ekspresi bangga dari almarhum kakaknya. Namun, ketika ia masuk ke perguruan tinggi dan geng itu dipimpin oleh Bintang, tujuan geng itu jadi ikut berubah. Geng itu jadi geng pembully dan pembuat onar. Dan Aditya tidak bisa menerima hal itu.


Mendengar penuturan Aditya membuat Bintang terdiam.


"Tapi, Dit. Tetap saja cara lo salah! Lo bisa dipenjara kalau Bintang melaporkan perbuatan lo ke polisi," Faza ikut berbicara.


"Laporkan saja! Lebih baik gue di penjara daripada harus lihat geng yang didirikan almarhum kakak gue dikenal sebagai geng pembully selamanya," jawab Aditya. Dia menatap Bintang lalu melenggang meninggalkan markas.


Faza, Eros, dan Deny saling tatap ketiganya bingung harus berpihak kepada siapa.


Helaan napas berat keluar dari mulut Bintang. "Semua yang dikatakan Aditya memang benar. Geng ini berubah jadi geng tukang bully gara-gara gue," tutur Bintang. Bayangan beberapa mahasiswa yang ia bully tiba-tiba melintas di kepala termasuk Cahaya. Gara-gara ulahnya, gadis itu terpaksa cuti kuliah untuk bekerja.


"Kita bisa mulai merubah itu dari sekarang. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," sahut Deny.


"Iya, Bi. Kita bakalan bantu ngerubah image kita dari geng tukang bully, jadi geng yang membanggakan." Faza ikut menimpali.

__ADS_1


"Iya, kita berlima pasti bisa balikin nama baik geng ini seperti dulu," sambung Eros. "Nanti gue bantu bicara sama Adit."


"Tidak perlu. Biar gue sendiri yang bicara sama dia nanti. Sekarang gue mau ke tempat rektor dulu."


"Mau ngapain?" tanya Faza.


"Mau menjelaskan soal Cahaya yang gue fitnah," jawab Bintang.


"Maksud lo si Culun itu?" tanya Eros.


"Hei, dia punya nama. Namanya Cahaya!" tegur Bintang.


"Bin, lo sehatkan? Jangan-jangan kejadian waktu itu bikin otak lo geser," sahut Faza.


"Apaan sih lo?"


"Perasaan lo nggak pernah manggil nama ke cewek mana pun. Bahkan ke cewek lo si Dahlia aja lo nggak pernah manggil namanya." Eros merasa heran.


Ah, Bintang lupa kalau dia sudah punya pacar bernama Dahlia.


"Kenapa? Lo lupa kalau lo udah punya cewek?" tebak Deny melihat ekspresi aneh Bintang.


Bintang hanya menunjukan cengiran kudanya. "Begitulah. Sudah, gue mau ke ruang rektor. Jika Dahlia nanyain gue, bilang aja nggak tahu. Gue lagi males ketemu dia."


Entahlah, sejak menghabiskan waktu bersama Cahaya. Justru wajah gadis itu yang selalu berputar di kepala.


Bintang pergi meninggalkan markas untuk menemui rektor.


Benar saja tidak lama berselang, Dahlia datang ke markas mencari Bintang. "Za, Bintang mana? Tadi, gue lihat Bintang ke sini. Kenapa sekarang nggak ada?"


Faza melempar pandanganya ke arah Eros dan Deny.


"Tadi dia emang sempet ke sini. Tapi, sekarang dia pergi lagi," jawab Eros.


"Iya, tapi kemana?"


Eros, Faza, dan Deny kompak mengedikan bahu.


Dahlia menghentakan kaki dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2