Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua belas


__ADS_3

"Hah?!" Cahaya tercengah ketika Bintang malah memberikan kopi yang baru saja ditiup kepada diririnya.


"Kopi ini buat lo saja, sepertinya lo lebih membutuhkan kopi ini dibanding gue." Bintang mengulurkan cangkir di tangannya.


"Ah, tidak usah. Kebetulan aku nggak suka kopi, kamu saja yang minum. Bukankah tadi kamu yang ingin minum kopi itu." tolak Cahaya sambil mendorong pelan cangkir kopi yang disodorkan oleh Bintang.


"Sepertinya lo nggak mau nerima kopi ini karena lo marah ya sama gue?" Bintang memasang wajah murung.


"Marah? Nggak kok. Ngapain aku marah sama kamu," sahut Cahaya. Padahal dalam hati dia membernarkan.


"Kalau gitu ambil kopi ini dan minumlah!" Bintang meletakkan kopi tersebut di tangan Cahaya.


"Tidak. Buat kamu saja!" tolak Cahaya sambil berusaha mengembalikan kopi tersebut ke tangan Bintang. Tentu saja hal tersebut akhirnya menarik perhatian Tante Laksmi.


"Ada apa ini?" tanya Tante Laksmi kepada dua pemuda di hadapannya.


"Tante, masa Bintang malah ngasih kopi yang dia minta tadi ke aku? Bukankah tadi dia minta kopi karena bilang matanya mulai mengantuk? Tarus kalau kopi itu diberikan padaku, gimana kalau pas foto sama pelanggan tiba-tiba matanya merem? Kan nggak lucu," jawab Cahaya.


"Bintang. Benar apa kata Aya, kan kamu bilang mata kamu udah mulai sepet tadi. Kenapa nggak kamu minum?" kini tatapan Tante Laksmi beralih ke arah Bintang.


"E... Anu Tante gue lupa kalau gue punya magh, jadi nggak boleh minum kopi," jawab Bintang berbohong.


"Terus kenapa tadi kamu minta Aya bikinin kopi?"


"Namanya juga lupa, Tante. Maaf ya," ucap Bintang.


"Terus kopinya gimana ini?" tanya Cahaya.


"Ya udah kamu minum aja, Aya! Lagian mubazir kalau dibuang!" seru Tante Laksmi.


"Tapi.... "


"Tante kan juga punya magh, jadi nggak bisa minum kopi. Sudah, kamu minum saja kopinya!" suruh Tante Laksmi lagi. "Tante mau bakar ayam dulu, barusan ada pembeli yang minta ayam bakar. Ingat! Diminum kopinya jangan dibuang! Kamu nggak lupa kan kalau tuh kopi belinya pakai duit?" Sebelum membakar ayam Tante Laksmi kembali mengingatkan.


"Kenapa masih dilihatin aja? Sana minum! Kopi kalau diminum dingin kurang nikmat," goda Bintang.


"Kamu sengaja kan?" ujar Cahaya.


"Sengaja apanya?" Bintang pura-pura tidak memahami maksud perkataan Cahaya.


"Kamu sengaja ngasih kopi ini ke aku lagi karena tahu aku masukin garam kan?" Cahaya keceplosan.

__ADS_1


"Ouh, jadi kopi itu sudah diberi garam? Pantes saja kamu maksa gue buat minum tuh kopi."


"Nggak, kok. Kamu salah denger tadi." Cahaya berusaha mengelak.


"Ohya? Terus kenapa belum diminum tuh kopi?" Mata Bintang memicing.


"E... Ini mau aku minum kok," jawab Cahaya. Dia terpaksa meminum sendiri kopi buatannya. Meski terasa asin, Cahaya berpura-pura menikmati kopi buatanya itu. "Nikmat juga ternyata," ungkapnya.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Baguslah. Kalau gitu gue tinggal ke sana sepertinya gue harus kembali berpose," pamit Bintang.


"Iya, sana pergi! Jangan sampai Tante menunggu lama!" Cahaya mengibaskan tangan.


Buru-buru Cahaya memuntahkan kopi yang rasanya asin itu. Dia tidak mengira kalau Bintang bakalan memberikan kopi itu kepadanya.


"Kalau tahu bakalan dikasih ke aku tuh kopi, mending ku kasih gula. Dasar apes!" Cahaya berbicara sendiri.


"Lo tuh pantesnya dikerjain orang, bukan ngerjain orang. Kena batunya kan?" Entah sejak kapan Bintang sudah berdiri di belakang Cahaya. Dia tak hentinya tertawa karena merasa puas berhasil mengerjai gadis yang biasa dipanggilnya Si Culun itu.


"Udah puas ketawanya?" tanya Cahaya dengan tatapan sinis.


"Terus ngapain masih disini?"


"Tante lo nyuruh lo bikinin 5 es teh buat pelanggan," jawab Bintang. "Awas ya kali ini jangan dikasih garem, bisa-bisa tuh pelanggan kabur," bisiknya di telinga Cahaya.


"Yang cepet! Jangan lama-lama!" Tambah Bintang sebelum pergi dari sana.


"Cih." Cahaya hanya bisa berdecih. Kali ini dia memang gagal mengerjai cowok arogan itu, tapi Cahaya yakin akan ada kesempatan untuk membalasnya.


Dagangan Tante Laksmi kali ini laris manis, bahkan semua barang dagangannya ludes tak bersisa. Tentu saja hal itu membuat Tante Laksmi berbunga-bunga.


"Alhamdulillah, Aya. Dagangan kita ludes, ini semua berkat Bintang. Dia adalah jimat keberuntungan kita," ujar Tante Laksmi sambil menghitung uang hasil penjualannya hari ini.


"Ini buat kamu!" Tante Laksmi memberikan selembar uang berwarna merah kepada Cahaya. "Dan ini buat kamu." Bintang pun memperoleh uang dengan jumlah yang sama.


"Yang ini buat modal dagangan besok dan yang ini buat biaya check up pamanmu. Kalau dagangan kita laris kayak gini, kita pasti bisa ngumpulin uang buat biaya operasi kaki pamanmu," ujar Tante Laksmi. Dia sudah membagi uang hasil dagangannya untuk masing-masing keperluan.


"Tante, uang Aya buat Tante saja. Buat tambah-tambah celengan biaya operasi paman." Cahaya mengembalikan uang seratus ribu yang baru diterimanya.

__ADS_1


"Tidak, Aya. Kamu juga membutuhkan itu buat biaya kuliah kamu." Tante Laksmi menolak. "Maafin Paman dan Tantemu ya karena belum bisa bantu biaya kuliah kamu. Padahal almarhum Mas Bian dan Mbak Zira sudah menitipkan kamu ke kami."


Cahaya menggeleng. "Tante, nggak perlu minta maaf, ini semua bukan salah paman dan tante kok. Aya, bersyukur karena kalian mau mengurus Aya."


Mendengar pembicaraan tante dan keponakannya itu terbesit perasaan bersalah di hati Bintang.


"Orang yang patut disalahkan adalah dia karena kalau bukan karena dia Aya masih bisa kuliah gratis." Cahaya melirik sinis Bintang.


Bintang hanya memutar kedua bola matanya. Meski dalam hati perasaan menyesal itu ada, tetapi dia enggan untuk mengakui kesalahannya apalagi untuk meminta maaf.


Tante Laksmi hanya menghela napas panjang. Dia juga kesal tiap kali ingat Cahaya harus kehilangan bea siswanya karena Bintang. Namun, melihat Bintang yang mau membantunya berdagang dan membuat dagangannya laris kali ini membuat hatinya sedikit melunak.


"Sudah. Kita pulang yuk! Lumayan kan malam ini kita bisa tidur lebih lama dari biasanya!" Tante Laksmi memilih mengajak keduanya untuk segera berkemas dan pulang.


Tante Laksmi, Cahaya, dan Bintang akhirnya tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam, tiga jam lebih awal dari jam biasanya mereka pulang.


Tante Laksmi membuka tudung saji di atas meja. Makanan untuk suaminya masih utuh di sana.


"Lho Aya, apa pamanmu belum ya? Tapi, kalau belum pulang, kenapa pintu rumah udah nggak terkunci?" tanya Tante Laksmi heran. "Apa jangan-jangan.... "


Raut kekhawatiran menghiasi wajah Tante Laksmi dan Cahaya. Keduanya langsung mencari keberadaan sang paman di sekitar rumah. Namun, pria yang hanya bisa melakuman aktivitas di atas kursi roda itu tidak ditemukan dimana pun.


"Bagaimana? Pamanmu ada di kamar mandi?" tanya Tante Laksmi. Cahaya menggeleng. "Di kamar juga nggak ada, lalu kemana dia?"


"Ada apa sih ribut-ribut?" suara itu muncul dari arah pintu.


Tante Laksmi dan Cahaya langsung menoleh ke sumber suara. Keduanya merasa lega melihat keberadaan Cahyono di tengah-tengah pintu. Namun, reaksi lain justru ditunjukkan oleh Bintang. Pemuda terlihat shock melihat wajah lelaki yang duduk di kursi roda itu. Bintang memang sudah tahu kalau selain Cahaya dan paman Cahaya yang juga tinggal di rumah itu. Namun, dia tidak pernah menyangka jika orang itu adalah dia.


"Kamu dari mana sih, Mas? Kamu bikin aku dan Aya panik saja."


"Maaf, Mi. Tadi pas aku baru pulang, Pak Mantri minta tolong benerin kran kamar mandi dia yang bocor, jadi saya langsung ke sana," jelas Cahyono sambil memutar roda kursinya mendekat ke arah istri dan keponakannya. "Tumben, jam segini udah pulang?"


"Alhamdulillah, dagangan kita sudah habis. Makanya kita bisa pulang gasik. Ini semua berkat Bintang," jawab Tante Laksmi.


"Bintang, ini suami Tante, pamannya Aya. Semalam kamu kan pingsan pasti tidak ingat kalau pamannya Aya ini yang bantu gantiin baju kamu semalam." Tante Laksmi mengenalkan suaminya kepada Bintang. Namun, pemuda tersebut masih diam.


"Bintang," panggil Tante Laksmi lagi.


"E... i... iya, Tante. Terima kasih karena sudah menolong saya. Nama saya Bi.... "


"Tunggu! Suaramu kenapa terdengar familiar ya?" sela Cahyono saat Bintang hendak mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Gleg!


Bintang menelan ludahnya sendiri. "Mampus gue!" batin Bintang.


__ADS_2