
"Suara lo bagus," puji Bintang. Setelah mengatakan hal tersebut, Bintang memutar badannya dan pergi dari sana.
Cahaya masih melongo mendengar perkataan Bintang barusan. "Dia bilang suaraku bagus? Aku nggak salah denger kan?" gumamnya. "Mungkin dia sedang ngigau makanya asal ngomong."
Cahaya menatap Bintang yang sudah kembali berbaring di atas dipan. "Sudahlah. Lebih baik aku tidur lagi." Cahaya pun kembali menutup pintu kamarnya.
"Bego-bego-bego! Ngapain gue bilang suara dia bagus?" rutuk Bintang. Dia sendiri tidak tahu kenapa pujian itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.
Bintang melihat ke arah kamar Cahaya dengan membuka sedikit selimutnya. Dia merasa lega karena gadis yang dipanggilnya dengan Si Culun itu sudah menutup pintu kamar.
"Semoga tuh cewek Culun nggak ingat dengan yang barusan gue katakan." Bintang pun kembali memejamkan matanya. Dia berharap Cahaya akan melupakan perkataannya.
***
Pagi itu Bintang lebih pagi dari hari kemarin karena suara bising yang ditimbulkan oleh Cahaya. Wanita itu dari tadi sibuk membersihkan ayam-ayam yang baru dibelinya dari pasar. Sebelum dijual, memang ayam-ayam tersebut harus diungkep terlebih dulu dengan bumbu rahasia yang sudah Tante Laksmi siapkan sebelumnya agar tekstur dagingnya lembut dan tidak alot saat akan dibakar atau pun digoreng. Biasanya Tante Laksmi membutuhkan waktu lebih dari 3 jam untuk 10 ekor ayam agar rasa dan tekstur yang dihasilkan sesuai dengan selera pelanggannya.
"Tante lo udah berangkat ke rumah sakit?" Bintang yang baru saja tiba dapur mendadak bertanya.
"Iya, dia dan Paman berangkat setelah sholat subuh tadi. Katanya takut sampai rumah sakit kesiangan dan dapat nomor antriannya nomor buncit," jawab Cahaya dengan tangan yang masih sibuk dengan ayam ungkepannya.
"Sini gue bantu." Bintang mengambil spatula dan sarung tangan dari Cahaya. "Ini daging ayamnya mau diapain?"
"Cuma mau ditiriskan sebelum nanti dipindahkan ke baskom dan dibawa ke tempat berjualan," jawab Cahaya.
Bintang pun membantu memindahkan ayam-ayam yang sudah diungkep tadi ke dalam wadah yang disediakan oleh Cahaya.
"Oh iya, kamu belum sarapankan? Tuh nasi goreng di atas meja," ucap Cahaya sambil menunjuk meja. "Kalau kamu mau tambah ayam juga boleh, mumpung nggak ada Tante. Biasanya mana pernah Tante ngizinin orang makan dagangannya sebelum dibawa ke lapak."
"Lo nyuruh gue nyuri?"
"Aku kira kamu nggak peduli soal itu," jawab Cahaya.
Bintang hanya memutar kedua bola matanya.
"Tenang saja, tadi sebelum pergi Tante udah ngasih izin buat kamu makan ayam kok, asal nggak lebih dari satu," ujar Cahaya. "Mau aku gorengkan sekarang?"
__ADS_1
"Tidak usah. Aku makan nasi goreng tanpa ayam juga nggak apa-apa kok."
Setelah selesai memasukkan ayam yang sudah diungkepnya kedalam wadah untuk ditiriskan, Bintang kemudian mengambil nasi goreng yang sudah disediakan oleh Cahaya sebelumnya di atas meja.
"Ada apa?" tanya Bintang saat Cahaya duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Ada yang mau lo tanyain?" tanya Bintang lagi.
"Semalam kamu bilang suaraku bagus, apa itu benar?"
Pertanyaan Cahaya membuat Bintang menyemburkan makanannya yang baru saja masuk ke dalam mulut.
"Ngomong apaan sih lo gak jelas banget," desis Bintang sambil membuang muka.
Cahaya menghela napas. "Berarti benar kalau semalam kamu itu ngigau dong?"
"Mana gue tahu, kan gue tidur," jawab Bintang.
Cahaya bangun dari tempat duduknya, sedetik kemudian dia kembali duduk dan menatap Bintang. "Beneran kamu nggak ingat pernah bilang itu semalam?"
"Gue kan udah bilang kalau gue tidur. Maksa banget pingin dipuji sama gue. Suka lo sama gue?"
"Bukan gitu, dodol. Ish, sudahlah. Anggap saja kalau semalam aku cuma berhalusinasi. Lagian siapa juga yang ngarep disukai sama kamu. Amit-amit," jawab Cahaya sambil bergidik.
"Selesai makan cuci piring dan perabotan di dapur yang kotor! Hari ini nggak ada Tante, jadi kamu harus nurut semua perkataanku kalau kamu mau makan!"
"Tapi.... "
"Nggak ada, tapi-tapi. Aku mau nyapu soalnya," sela Cahaya. Dia kemudian meninggalkan Bintang.
"Galak amat jadi cewek. Awas jadi perawan tua baru tahu rasa lo!"
"Bodo." Cahaya tidak menggubris perkataan Bintang, gadis berhijab itu kembali melanjutkan kegiatannya.
Sudut bibir Bintang tertarik ke atas, tiap melihat ekspresi galak Cahaya. Baginya, gadis itu terlihat lebih mempesona saat marah ketimbang pasrah dan diam saja seperti ekspresi saat dia membullynya di kampus.
__ADS_1
*
Bintang dan Cahaya berangkat ke lapak jualan pukul dua siang, sama seperti hari-hari sebelumnya. Dan sama halnya dengan hari kemarin, lapak mereka sudah dipenuhi dengan pembeli. Pembeli yang rata-rata kaum hawa itu sengaja datang karena ingin berfoto dengan Bintang. Bahkan ada beberapa yang meminta nomor telepon pria itu.
"Maaf, saya nggak punya hp jadi nggak punya nomor telepon." Itulah jawaban yang selalu diberikan Bintang setiap ada pembeli yang meminta nomor teleponnya.
"Hp mahal kamu kemana?" tanya Cahaya. Dia ingat, saat di kampus pria itu selalu memakai hp mahal yang mungkin harganya diatas 20 jutaan.
"Ntahlah. Mungkin jatuh pas aku jatuh ke sungai," jawab Bintang.
"Ohya, kalau boleh tahu sebenarnya malam itu kamu emang nggak sengaja jatuh atau ada orang yang memang sengaja jatuhin kamu ke sungai?" tanya Cahaya lagi. Dia penasaran hal apa yang sebenarnya membuat pria arogan itu bisa jatuh ke sungai.
"Menurutmu?"
"Aku rasa dijatuhin sama orang, soalnya kan banyak banget yang nggak suka sama sikap arogan kamu di kampus. Kalau aku ada kesempatan pun mungkin aku bakalan ngelakuin itu," jawab Cahaya.
"Apa sikapku di kampus begitu menyebalkan ya?"
"Sangat. Memang kamu nggak sadar?" jawab Cahaya.
Bintang terdiam. Dia akui kalau dia memang terlalu arogan dan semena-mena. Namun, dia sengaja melakukan hal tersebut sebagai bentuk protes kepada mama dan papanya.
"Dan aku rasa nggak semua orang yang ada di dekat kamu itu suka sama kamu. Mungkin saja satu diantara geng motor kebanggaanmu itu ada yang membencimu atau mereka semua sebenarnya membencimu, tapi mereka diam karena takut sama kamu," lanjut Cahaya.
Kembali Bintang terdiam.
"Sudah. Lupakan semua perkataanku barusan. Aku cuma asal ngomong aja kok," ralat Cahaya. Dia merasa kalau perkataannya barusan sedikit melukai hati Bintang.
"Tuh, ada pembeli lagi. Ingat pas foto dengan mereka jangan tunjukan wajah masammu, ntar mereka kabur lagi." Cahaya mengingatkan.
"Iya-iya. Dasar bawel! Lo udah kayak emak-emak tahu. Tinggal pakai daster, bawa ijuk. Nah udah pas tuh lo jadi emak-emak," ledek Bintang. Pria itu kemudian meninggalkan Cahaya sambil tertawa.
"Bintang! Awas kamu ya!" teriak Cahaya dengan memasang wajah kesal. Namun beberapa detik kemudian dia tersenyum.
"Ternyata cowok arogan kayak kamu, bisa juga tersenyum. Dan kamu terlihat sangat tampan saat tersenyum." Cahaya terus menatap Bintang yang tersenyum sambil berfoto dengan para pembelinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal adzim, Aya! Apa yang ada di otak kamu sih? Bisa-bisanya kamu muji tuh cowok manja. Ingat! Di dunia ini kalau ada cowok yang nggak boleh kamu sukai ya dia. Ingat itu!" Cahaya menggeleng. Dia kembali memfokuskan diri dengan pekerjaannya.