
Sementara itu di tempat lain. Sudah sejak jam makan siang tadi, Cakra mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Rumah itu terlihat sepi, dia juga tidak melihat keberadaan Bintang maupun kedua orang tuanya di dalam rumah.
Cakra sudah melongok kamar kedua orang tuanya maupun sang adik, tetapi tidak ada satupun dari mereka berada di kamar.
"Mama-papa pasti sibuk dengan pekerjaannya." Cakra melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jam itu adalah jam mahal hadiah dari kedua orang tuanya saat dia berhasil memperoleh gelar dokter spesialis bedah. Dia hanya bisa memakai jam tangan tersebut di luar rumah sakit, karena sebagai dokter bedah, dia harus menyingkirkan segala hal yang bisa mencelakakan pasien saat operasi. "Bintang juga pasti sedang nongkrong dengan teman-temannya," tambahnya.
"Hah. Padahal aku berharap, saat aku pulang ke rumah ada mama-papa, dan juga Bintang." Cakra menghela napas panjang. Sejak mendapat vasilitas rumah pribadi dari rumah sakit tempatnya bekerja, Cakra memilih tinggal di sana. Setidaknya di tempat itu dia masih bisa bercengkerama dengan rekan sejawatnya yang juga memperoleh fasitas yang sama.
"Bik, apa mama-papa nggak pulang buat makan siang?" tanya Cakra kepada asisten rumah tangga.
"Tuan sedang ada dinas ke Singapura, beliau berangkat malam tadi. Nyonya juga ada pekerjaan di luar kota, kalau beliau baru berangkat pagi tadi," terang asisten rumah tangga yang dipanggil Bik tersebut.
"Bintang?" Cakra juga menanyakan keberadaan adiknya.
"Tuan Muda Bintang, belum pulang sejak semalam."
"Apa dia memberitahu kemana dia pergi?" Si Bibik menggeleng.
"Tuan Cakra kayak nggak tahu sifat Tuan Muda Bintang saja. Mana pernah dia mengabari rumah kalau pergi-pergi. Biasanya akan ada orang lain yang menelpon ke rumah kalau Tuan Muda bikin gara-gara." Wanita berpakaian seragam itu menjelaskan. "Justru kalau tidak ada orang yang menelpon ke rumah, artinya Tuan Muda baik-baik saja, Tuan Cakra."
Sudah bekerja di keluarga Bimantara sejak usia belasan tahun, membuat wanita yang kini usianya setengah abad itu hapal dengan karekter masing-masing orang di keluarga ini.
"Begitu ya? Sudahlah, lebih baik aku balik ke rumah sakit lagi. Lagian nggak ada siapa-siapa juga di rumah ini." Cakra terlihat sedikit kecewa.
__ADS_1
"Kalau Tuan Cakra kangen sama Tuan Muda Bintang, kenapa nggak menelponnya?" Si Bibik berujar.
"Bintang mana mau menjawab teleponku, Bik. Selama ini dia membenciku karena menganggap mama-papa lebih menyayangiku dibanding dirinya. Padahal sama seperti dirinya, aku juga kesepian." Raut wajah Cakrawala berubah sendu kala mengataka hal tersebut. "Bedanya, aku diberi kebebasan buat memilih hal yang aku inginkan karena aku memiliki kelainan."
"Sabar Tuan Cakra, Tuan Muda Bintang bersikap begitu kan karena tidak tahu kondisi Tuan Cakra. Bibik yakin, Tuan Muda Bintang bakalan berubah kalau dia tahu kondisi Tuan Cakra." Bibik mencoba menghibur Cakra agar berlapang dada. "Tuan, kenapa Anda tidak ceritakan saja kondisi Tuan Muda yang sebenarnya kepada Tuan Muda Bintang? Bibik yakin, kalau Tuan Muda Bintang tahu keadaan Tuan Cakra yang sebenarnya, dia pasti bisa mengerti alasan papa dan mama Tuan membedakan kalian. Dan dia pasti bakalan sayang sama Tuan Cakra."
"Tidak, Bik. Aku tidak mau dikasihani, biarlah Bintang membenciku, jadi saat aku pergi, dia tidak terlalu kehilangan diriku," jawab Cakra sambil menghela napas panjang. Meski begitu Cakra berharap, sikap adiknya akan berubah sebelum dia benar-benar pergi.
Si Bibik hanya bisa mengiyakan. Ia hanya berdoa semoga kakak-beradik itu kembali rukun sama seperti saat keduanya masih kecil.
**
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Cahaya terus menggerutu. Bisa-bisanya manusi segede gaban itu ketinggalan di rumah. Dan yang lebih membuat dia kesal, kenapa tuh cowok nggak teriak manggil dirinya dan sang tante.
"Dasar cowok manja, pasti dia sengaja tuh gak teriak biar gak bantuin jualan. Emang dasarnya manja ya manja aja. Pakai sok bilang kalau aku nggak tahu apa-apa tentang hidupnya." Cahaya terus mengulang kata-kata yang sama. Rasanya dia ingin sekali getok tuh kepala cowok manja biar sadar.
"Nih, nyusahin saja!" ujar istri Pak Mantri bernama Romlah dengan nada ketus. Wanita yang usianya lebih tua dari paman dan tantenya itu selalu beranggapan bahwa dirinya ingin merebut Pak Mantri darinya. Jangankan berpikir untuk merebut Pak Mantri dari Bu Romlah, tergerak dalam hati saja enggak. Tapi, sudahlah. Percuma ia menjelaskan kepada Bu Romlah.
"Terima kasih, Bu. Nanti saya kembali ke sini lagi buat nitipin kunci rumah ke Ibu," ucap.Cahaya sambil tersenyum.
"Hem," jawab Bu Romlah singkat. Cahaya segera pergi dari sana, dia ada urusan yang lebih penting daripada mengurusi kecemburuan Bu Romlah yang tidak berdasar.
Cahaya tahu saat dirinya beranjak dari sana, mulut Bu Romlah terus komat-komit. Mungkin sedang menyumpahi dirinya, tapi Cahaya tidak mempedulikan hal itu. Biarlah itu menjadi urusan Bu Romlah.
__ADS_1
Dengan cepat Cahaya memutar kunci dari kiri ke kanan. Setelah beberapa saat akhirnya pintu rumah itu terbuka juga. Pintu rumah tantenya memang sudah agak macet, apalagi kalau musim penghujan datang.
"Cowok manja dimana kamu? Cepetan ke lapak!" seru Cahaya dengan sedikit menaikan suaranya. Belum juga ada jwaban.
"Jangan-jangan tuh cowok kabur lagi," gumam Cahaya. Dia segera berlari ke ruang tengah, tempat cowok manja tersebut beristitahat selama tinggal di sini.
"Wah dia benaran nggak ada lagi. Sudahlah, aku sudah tahu sih bakalan kayak gini. Mana mau tuh cowok manja kerja keras." Cahaya bermonolog. Cahaya pun memutuskan untuk kembali ke lapak jualan dan melaporkan hal ini kepada sang Tante. Namun, sebelum dia benar keluar dari rumah terdengar suara bising dari arah sumur. Meski rumah itu kecil, sumur dan kamar mandi mereka berada di dalam rumah.
"Apa itu suara maling ya?" batin Cahaya. Dengan berjalan sangat hati-hati dia melangkah ke sumber suara. Tidak lupa, dia membawa sapu sebagai alat perlindungan diri manakala dugaannya itu benar.
Tanpa babibu Cahaya langsung melayangkan sapu ke tubuh orang yang kebetulan sedang menimba air di sumur sambil memegangi celana pendeknya.
"Kamu maling, kan? Ayo ngaku!" cecar Cahaya yang terus memukul orang itu dengan sapu. Dia bahkan tidak memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk berbalik dan berbicara.
"Rasain, rasain." Cahaya terus memberikan pukulan dan pukulan itu baru berhenti saat kedua tangan kekar orang tersebut menahan gagang sapu yang dipegang oleh olehnya.
"Gue Bintang, Culun! Lo nggak lihat!" sentak Bintang dengan kedua tangan yang masih menahan gagang sapu di tangan Cahaya.
"Maaf, gue kira maling," ucap Cahaya sambil nyengir.
"Hei, di rumah ini kan selain lo, tante, dan paman lo ada gue yang tinggal di sini, lo lupa?" Bintang menatap sengit Cahaya.
"Iya, sorry. Aku kira kamu dah kabur tadi," ucap Cahaya.
__ADS_1
"Cih! Penerima bea siswa tapi otaknya kok di dengkul. Dasar!" Bintang berdecih sebal.
"Apa kamu bilang?!" Cahaya hendak melayangkan sapu di tangannya ke tubuh Bintang lagi. Akan tetapi saat tangan itu mulai terayun sesuatu yang dipakai Bintang melorot. Sontak saja tidak hanya Cahaya yang melotot, tetapi Bintang juga.