
Warung sudah mulai sepi, Bintang dan Cahaya sudah mulai mengemasi dagangan mereka. Meski tidak seramai kemarin, setidaknya mereka tetap merasa lega karena hanya tersisa beberapa potong ayam dan itu berarti keuntungan mereka malam ini juga masih lumayann besar.
Cahaya tersenyum ketika membayangkan tabungannya penuh dan itu berarti dia bisa kembali melanjutkan kuliahnya.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Kesambet?" tanya Bintang dan seperti biasa pria itu selalu berkata dengan nada jutek. "Sebulan yang lalu anjing tetangga gue kayak lo nih, senyum-senyum sendiri. Eh, gak lama tuh anjing mati."
"Ish, dasar cowok manja! Nggak bisa lihat orang lagi seneng apa, padahal baru saja aku lagi ngebayangin hal-hal yang bikin aku bahagia. Eh, kamu malah ngerecokin dan bikin aku mendadak bad mood," desis Cahaya.
"Lha, kenapa lo tiba-tiba bad mood? Karena gue bilang anjing tetangga gue mati? Kan emang kenyataannya anjing tetangga gue itu mati," sahut Bintang. Dia sengaja menggoda Cahaya agar marah. Baginya sangat menyenangkan melihat Cahaya dengan ekspresi seperti itu. Gadis yang selalu dipanggilnya si culun tersebut akan jauh terlihat lebih cantik dan mempesona.
"Dasar!" ucap Cahaya dengan mata mendelik.
Keduanya segera melihat ke depan warung ketika ada mobil yang tiba-tiba berhenti di sana.
"Itu seperti mobil milik Kak Cakra," batin Bintang. Pria itu segera mencari sesuatu untuk menutupi wajahnya.
"Sepertinya itu pembeli. Alhamdulillah, semoga saja tuh pembeli borong sisa ayam yang tinggal beberapa potong itu." Berbeda dengan Bintang, Cahaya terlihat senang ketika ada yang datang ke warungnya.
"Gue... mau nyuci piring kotor di belakang. Lo saja yang layani," ucap Bintang.
"Tumben. Biasanya kamu selalu cari kesempatan buat istirahat dengan berpura-pura melayani pembeli," sinis Cahaya.
"Tapi, bagus deh kalau kamu mau nyuci piring kotor. Jangan lupa cuci yang bersih."
Cahaya segera ke depan warung untuk menyambut calon pembelinya itu. Sementara Bintang, dia bergegas pergi ke belakang agar tidak terlihat oleh kakaknya.
"Selamat da.... " Cahaya tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat Tante Laksmi lah keluar dari dalam mobil mewah tersebut bersama pria yang sama sekali belum pernah ia temui.
"Tante." Gegas Cahaya menghampiri tantenya.
"Aya. Gimana warung hari ini? Ramai?" tanya Tante Laksmi.
"Alhamdulillah, lumayan masih ramai, Tante," jawab Cahaya. "Tapi, dia siapa Tante?"
Cahaya menatap pria yang turun dari dalam mobil bersama tantenya itu.
"Dia namanya Dokter Cakra, dia yang udah nolongin tante dan pamanmu," jawab Tante Laksmi.
"Maksudnya nolongin?"
Tante Laksmi menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Tadi pagi Tante kecopetan waktu naik angkot dan Dokter ini yang udah nolongin tante dan paman kamu."
"Innalillahi, tapi Tante nggak apa-apa kan?" Cahaya menanggapi dengan wajah cemas.
"Alhamdulillah, tante dan pamanmu tidak kenapa-napa," jelas Tante Laksmi.
"Dokter, ini keponakan saya namanya Cahaya. Tapi, kami selalu memanggilnya Aya." Tante Laksmi mengenalkan Cahaya dengan dokter yang sudah menolongnya.
"Cakra." Dokter itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.
"Aya," balas Cahaya. "Terima kasih ya, udah nolongin tante dan paman saya," ucapnya.
"Iya, sama-sama. Itu bukan hal besar kok. Lagian sebagai manusia sudah sewajarnya kita saling tolong-menolong," balas Cakra.
"Ohya, Aya. Apa ayamnya masih ada? Pak Dokter ini katanya ingin makan ayam."
__ADS_1
"Masih ada, Pak Dokter mau ayam goreng atau bakar?" tanya Cahaya.
"Menurutmu enaknya dibakar atau digoreng?" Cakra malah balik tanya.
"Dua-duanya enak, tapi kalau aku pribadi lebih suka dibakar. Rasanya jauh lebih nikmat," jawab Cahaya.
"Kalau begitu dibakar saja," sahut Cakra.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya, Dok."
"Aya, sekalian bakar juga buat lauk pamanmu di rumah!" seru Tante Laksmi.
"Iya, Tante. Beres." Cahaya mengajungkan jari jempolnya.
"Ayo, Dok. Duduk dulu!" Tante Laksmi mempersilakan.
Cakra pun duduk di salah satu bangku yang ada di warung tersebut.
"Ohya, Pak Dokter. Pak Dokter mau minum apa? Es teh, es jeruk, teh hangat, jeruk hangat, atau apa?" Cahaya kembali bertanya.
"Lho Aya, kok kamu yang nawari minum? Si Bintang mana?" tanya Tante Laksmi.
"Bintang sedang nyuci piring kotor di belakang, Tante," jawab Cahaya.
Mendengar nama adiknya disebut, sontak saja membuat Cakra menatap ke arah Laksmi dan Cahaya.
"Bintang?" Cakra bertanya.
"Iya. Kenapa, Dok? Dokter kenal?" jawab Tante Laksmi. Cakra masih diam.
"Dok. Dokter," panggil Tante Laksmi.
Cakra terkesiap dari lamunannya. "Ah... maaf, tidak apa-apa kok. Hanya saja nama itu terdengar familiar," jawab Cakra beberapa saat kemudian.
"Begitu ya? Saya kira kenapa? Saya sudah was-was kalau ternyata dia terlibat tindak kriminal atau apa." Tante Laksmi merasa lega.
"Terus Dokter jadinya mau minum apa?" Cahaya mengulang pertanyaannya.
"Jeruk hangat saja," jawab Cakra.
"Tunggu sebentar ya, Pak Dokter!" suruh Cahaya dengan suara lembut.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Cahaya datang dengan ayam bakar, nasi, dan jeruk hangat. Tidak lupa ia juga sudah membungkus nasi dan dua ayam bakar untuk dibawa pulang sang tante.
"Silakan dinikmati," ucap Bintang begitu meletakkan semua pesanan Cakra di atas meja.
"Terima kasih," jawab Cakra.
"Tante, lebih baik Tante pulang dulu aja. Kasihan Paman pasti udah lapar, ini udah Aya bungkusin dua nasi dan dua ayam bakar untuk makan Tante dan paman." Cahaya memberikan kantong plastik di tangannya kepada sang Tante.
"Ya sudah deh. Tante pulang sekarang, kasihan juga paman kamu pasti udah kelaparan karena belum makan gara-gara dompet Tante dicopet." Tante Laksmi menerima kantong plastik dari tangan keponakannya.
"Dokter, saya tinggal dulu ya. Ohya, untuk semua makanan ini Anda nggak perlu bayar. Meski tidak sebanding dengan bantuan yang Anda berikan, setidaknya saya ingin membalas kebaikan Anda, Dokter," ujar Tante Laksmi.
"Sebenarnya Anda tidak perlu melakukan ini, saya nggak minta balasan kok."
__ADS_1
"Saya tahu, tapi tolong jangan menolak ya!" pinta Tante Laksmi.
"Aya, jangan izinkan dia membayar makanannya ya." Tante Laksmi memperingatkan Cahaya agar tidak menerima bayaran dari Dokter Cakra.
"Tenang saja, Tante. Aya ngerti kok," jawab Cahaya.
"Ya sudah, Tante pulang dulu ya," pamit Tante Laksmi lagi.
Cahaya mengangguk. Gegas Tante Laksmi pun meninggalkan warung. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya kelaparan terlalu lama apalagi sang suami harus segera meminum obat yang diresepkan oleh sang dokter tadi.
"Mau tambah lagi, Pak Dokter?" tanya Cahaya ketika melihat ayam bakar di piring sudah mulai habis.
"Tidak usah. Aku sudah kenyang kok," jawab Dokter Cakra. "Dan maaf, kalau bisa jangan panggil saya Pak Dokter. Kesannya jadi saya kelihatan tua banget."
"Terus saya harus panggil apa dong kalau bukan Pak Dokter?"
"Em, apa saja yang penting jangan Pak," jawab Cakra.
"Masa aku harus panggil Anda Kak Cakra, Mas Cakra, atau Abang Cakra sih?"
"Tapi, panggilan itu lebih baik," sahut Cakra.
"Baiklah, aku panggil Kak Cakra aja ya."
"Nah, gitu dong," balas Cakra.
Cahaya dan Cakra kemudian tertawa bersama. Bintang yang melihat hal tersebut merasa tidak suka. Ingin rasanya dia menarik Cahaya dari sana, tapi tak mungkin Bintang lakukan karena dia tidak mau sang kakak melihat keberadaannya.
Tawa Cakra tiba-tiba berhenti, "Maaf."
"Ada apa?" tanya Cahaya bingung.
"Itu di wajahmu kotor," jawab Cakra.
"Disebelah mana? Sini? Atau sini?" tanya Cahaya sambil mengusap pipi kiri dan kanannya menggunakan tangan. Namun, bukannya bersih pipi Cahaya malah semakin kotor.
"Kok kamu malah ketawa sih?" protes Cahaya sambil berusaha mengusap pipinya kembali. Namun, Cakra menahannya.
"Kenapa?" tanya Cahaya sambil menatap Cakra.
"Tanganmu kotor," jawab Cakra sambil menunjukkan telapak tangan Cahaya yang kena angus. "Biar aku yang bersihkan."
Cakra mengambil tisu dan mulai membersihkan wajah Cahaya dengan tisu tersebut. Melihat hal tersebut entah kenapa membuat Bintang semakin emosi hingga membuat pria itu tanpa sadar meremas gelas di tangan hingga pecah.
"Aw," ringis Bintang saat menyadari tangannya terluka.
Teriakan Bintang membuat Cahaya dan Cakra menoleh ke arahnya. Karena tidak ingin ketahuan, Bintang berusaha pergi dari tempatnya. Namun, dia malah menyenggol panci yang baru saja dicucinya hingga jatuh.
Praaannngg
"Suara apa itu?" tanya Cakra.
"Entah. Kayaknya tuh cowok manja nggak sengaja jatuhin sesuatu," jawab Cahaya. "Sebentar ya. Aku mau lihat ke belakang dulu."
Gegas Cahaya berlari ke belakang.
__ADS_1
"Aku ikut," teriak Cakra sambil berlari membuntuti Cahaya.