
Sejak Bintang diusir oleh Paman Cahyono dua hari yang lalu, Cahaya merasa ada yang sudut yang kosong di hatinya. Tidak adalagi pertengkaran dan saling cibir selama dua hari ini dan itu membuat Cahaya merasa kesepian.
"Kamu kenapa Aya? Tante perhatikan sejak Bintang pergi kamu lebih banyak murung?" tanya Tante Laksmi. Dia duduk di bangku kosong yang ada di sebelah keponakanya tersebut.
"Tidak kok Tante, Tante pasti salah paham," jawab Cahaya.
"Mulut kamu mungkin bisa berkata tidak apa-apa, tapi mata kamu mengatakan sebaliknya. Apa kamu mulai menaruh hati dengan Bintang?" Perkataan Tante Laksmi barusan sontak membuat Cahaya menatap ke arahnya.
"Kenapa Tante bilang begitu? Mana mungkin aku menaruh hati sama cowok manja dan arrogan seperti itu? Omongan Tante ngaco," jawab Cahaya.
"Semoga saja dugaan Tante ini memang salah. Tante tidak mau kamu merasakan patah hati gara-gara laki-laki seperti dia," ujar Tante Laksmi. "Tante berharap kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang baik, yang tidak akan pernah menyakitimu, serta bisa membahagiakanmu."
"Amiin, Tante. Aya percaya kok kalau Allah tidak akan pernah salah memberikan kita jodoh. Siapa pun itu, pasti dialah yang terbaik. Jadi, Tante tidak perlu mengkhawatirkan jodoh Aya." Cahaya menatap tantenya sembari tersenyum.
"Kamu benar, ada yang bilang jodoh itu cerminan diri. Jadi, Tante yakin insya Allah kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang baik."
"Amin." Kembali Cahaya mengaminkan perkataan tantenya. Cahaya percaya setiap kata yang baik adalah doa.
"Ohya, Aya. Obat paman kamu sudah habis, kamu bisa kan bantu tante untuk membeli obat itu?"
"Insya Allah bisa, Tante," jawab Cahaya.
Tante Laksmi mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan diberikanya kepada Cahaya.
__ADS_1
"Itu untuk beli obat dan biaya transport kamu," ujar Tante Laksmi.
"Tapi... siapa yang bantuin Tante nyiapin bahan untuk jualan? Kan sudah tidak ada Bintang di sini?"
"Sebelum ada Bintang, kita juga cuma berdua saja kan? Dan nyatanya bisa, kali ini pun kita pasti akan bisa berjualan tanpa dia. Ya... meski mungkin pembeli kita akan turun drastis dari beberapa hari ini," balas Tante Laksmi.
Tidak dapat dipungkiri, keberadaan Bintang mampu meningkatkan omset penjualan ayam dan pecel lele Tante Laksmi hingga lebih dari seratus persen.
"Ya udah deh Tante, Aya berangkat sekarang biar nanti bisa cepet pulang dan bisa cepet bantuin Tante." Cahaya segera berpamitan. "Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh," jawab Tante Laksmi.
**
Cahaya memilih untuk naik ojek dibanding dengan busway atau angkot karena menurutnya akan lebih cepat jika ia memakai jasa kendaraan beroda dua tersebut.
"Totalnya Rp. 420.000," ujar sang apoteker sambil menyerah kantung plastik berisi obat.
"Sebentar ya, Mbak." Cahaya merogoh tas slempang yang ia pakai untuk mengambilnya dompetnya. Sayang, dompet tersebut tidak ia temukan.
"Dompetku? Dimana dompetku?" Cahaya mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tasnya. Akan tetapi, dompet yang dicari tak juga ditemukan.
"Bagaimana ini? Kenapa dompetku bisa hilang? Hapeku juga," gumam Cahaya.
__ADS_1
"Ada apa, Mbak? Jangan bilang kalau dompet Mbaknya hilang ya?" apoteker tersebut berucap.
"Maaf, Mbak. Tapi... dompetku benar-benar hilang," jawab Cahaya.
"Maaf, Mbak. Bukannya saya tidak berempati dengan hal yang baru saja Mbak alami, tapi... saya juga cuma pekerja disini. Saya tidak bisa memberikan obatnya kalau uang Mbak nggak ada." Kantung plastik yang tadi sudah diserahkan kepada Cahaya kembali diambil oleh apoteker tersebut.
"Iya, Mbak tidak apa-apa. Saya permisi dulu." Dengan terpaksa Cahaya pergi dari apotek dengan tangan kosong.
"Bagaimana dengan obat paman? Bagaimana juga caraku pulang ke rumah?" Cahaya bergumam.
Cahaya memilih beristirahat di sebuah halte. Entah sudah ke berapa kali orang hilir mudik naik turun bus hingga tanpa terasa sudah 2 jam lebih Cahaya duduk di sana.
"Kalau begini bagaimana caraku pulang? Tante pasti khawatir karena sampai sesore ini aku belum sampai rumah." Cahaya melihat jam yang tergantung di depan sebuah toko yang berada tepat di depan halte.
"Wah, ada cewek cantik nih." Terdengar suara seseorang yang baru datang ke halte. Ada tiga orang pemuda berandalan yang datang ke halte tersebut. Mereka menatap Cahaya dengan tatapan aneh.
"Hai, cewek. Godain kita dong!" salah satu dari tiga orang itu mulai berjalan mendekati Cahaya. Karena takut, Cahaya memilih untuk langsung meninggalkan tempat tersebut dan kurang berhati-hati hampir saja ia tertabrak mobil yang melintas.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja," ucap Cahaya dengan badan setengah membungkuk.
Orang yang mengemudikan mobil itu turun dan menghampiri Cahaya.
"Lho kok kamu di sini?" tanya orang tersebut.
__ADS_1
Cahaya mendongak.
"Kamu!" Tunjuk Cahaya kepada orang tersebut.