
"Lho Cahaya. Kenapa kamu di sini?" tanya Cakra. Iya, orang yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut adalah Cakra.
"Pak Dokter."
"Tuh kan masih manggil aku Pak Dokter lagi." Cakra berpura-pura cemberut.
"Iya-iya, maaf. Maksudku Kak Cakra," ralat Cahaya.
"Cahaya kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku kesini karena harus membeli obat. Tapi sayangnya aku kecopetan. Jangankan untuk membeli obat, biaya untuk pulang saja aku tidak punya," jawab Cahaya sambil menghela napas berat. "Soal biaya pulangnya sih bukan masalah buatku karena aku masih punya kaki dan aku bisa pulang dengan jalan kaki."
"Ayo naik!" seru Cakra.
"Ke mana?"
"Ke apotek. Bukan kah kamu butuh obat untuk pamanmu?"
Cahaya tersenyum. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan dokter baik hati seperti Cakra. "Terima kasih ya, Kak."
"Ya sudah ayo cepat masuk ke mobil dan kita kembali ke apotek!" suruh Cakra.
Cahaya pun masuk ke dalam mobil milik Cakra tersebut. Keduanya kembali ke apotek untuk membeli obat.
"'Terima kasih ya, Kak Cakra. Suatu hari nanti aku pasti akan membalas kebaikan Kakak."
"Tidak usah dipikirkan. Aku ikhlas kok melakukanya," jawab Cakra. "Kamu pasti belum makan kan? Gimana kalau kamu temenin aku makan dulu sebelum aku anterin kamu pulang?"
"Tidak usah, Kak. Aku masih kenyang kok kalau Kakak mau makan, makan saja. Aku langsung pulang," tolak Cahaya, dia merasa tidak enak karena sudah merepokan Cakra.
Kruyukkk!
Cacing di perut Cahaya mulai memberontak dan minta untuk diisi.
Cakra tertawa. "Kamu tidak bisa berbohong. Lihatlah, cacing di perutmu saja jujur kalau dia kelaparan."
Wajah Cahaya memerah karena malu. Bisa-bisanya si cacing nggak mau diajak kompromi. Malu-maluin!
"Kita, makan dulu ya sebelum aku anterin kamu pulang?" tanya Cakra.
Tak punya alasan, Cahaya pun akhirnya menerima ajakan Cakra untuk makan.
Cakra mengajak Cahaya makan di restoran yang letaknya tidak jauh dari apotek.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Cakra sambil melihat buku menu di tanganya.
"Terserah Kak Cakra. Tenang saja, aku ini pemakan segala," jawab Cahaya.
"Omnivora dong?" sahut Cakra yang disambut dengan gelak tawa keduanya.
Cakra akhirnya memelih beberapa menu makanan untuk Cahaya. Tidak lama menu pesanan mereka tiba.
"Ayo makan!" Cakra mulai menyantap makananya. Dia kembali berhenti saat melihat gadis yang datang bersamanya itu malah diam sambil menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Cakra bingung.
"Kamu memesan aku banyak makanan enak, tapi kamu sendiri cuma makan itu!" Cahaya menunjuk salad yang sedang dimakan oleh Cakra.
"Aku tidak terlalu suka makanan berlemak apalagi berkolesterol."
"Tapi kenapa waktu tante nyuruh kamu makan di warungnya mau?" tanya Cahaya lagi. Seingat dia malam itu Cakra menikmati ayam bakar buatanya dengan lahap. "Ah, aku tahu. Pasti karena kamu tidak enak kan menolak tawaran dari om dan tanteku?" ralat Cahaya.
"Tidak juga. Hari itu seharian aku belum makan makanan berkolesterol jadi tidak masalah," tetang Cakra.
"Oh.... " Cahaya hanya ber oh ria.
"Cuma mau mengatakan itu saja kan?" tanya Cakra sebelum kembali memasukan salad ke dalam mulut.
"Kenapa ya... Setiap kali keluarga ku kesusahan, kami selalu bertemu dengan Kak Cakra. Dulu om dan tante dan sekarang aku." Cahaya menarik napas panjang kemudian menghembuskanya.
"Mungkin aku ditakdirkan untuk jadi penolong keluargamu?" ujar Cakra bercanda.
"Kayaknya sih," balas Cahaya.
Keduanya pun kembali tertawa.
"Kenapa? Kok tiba-tiba wajah Kak Cakra jadi sedih gitu?" tanya Cahaya ketika Cakra tiba-tiba terdiam.
"Adikku dia membenciku."
"Adik Kak Cakra membenci Kakak? Kenapa? Padahal Kakak kan baik."
"Dia... mungkin iri karena merasa aku diistimewakan oleh kedua orang tua kami."
"Sejak kecil adikku selalu dilarang melakukan ini itu. Dia wajib dan harus patuh dengan perintah yang diberikan oleh orang tua kami. Bahkan soal sekolah sampai kuliah saja, orang tua kami yang mengatur dan menentukan jurusan. Dan hal itu membuat adiku jadi badboy. Sering melanggar aturan, mabuk-mabukan, bahkan yang terakhir aku dengar dia sering membully temanya. Aku merasa bersalah padanya."
"Jadi, menurut Kak Cakra adik kakak itu melakukan semuanya sebagai bagian dari pemberontakan terhadap kedua orang tua kalian karena dia merasa diperlakukan tidak adil begitu?" Cakra mengangguk.
"Sejak kecil kedua orang tua kami terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai-sampai aku dan adiku merasa kalau kami itu adalah anak pembantu. Karena ada kegiatan apa pun di sekolah, selalu pembantu yang datang," cicit Cakra.
"Bukankah itu berarti kamu dan adikmy diperlakukan sama oleh kedua orang tua kalian? Lalu kenapa adikmu membencimu?"
"Karena orang tuaku memberikan aku kebebasan untuk menentukan semuanya. Aku diizinkan untuk memilih apa pun yang aku suka, termasuk cita-cita. Aku bebas memilih jurusan, sementara adiku tidak boleh."
"Kenapa orang tua kalian tidak mengizinkan adik Kak Cakra memilih?"
"Karena adikku adalah harapan mereka untuk mengelola perusahaan kami kelak."
"Maksud Kak Cakra?" tanya Cahaya bingung.
"Sudahlah, kamu tidak perlu tahu. Lanjutkan saja makanmu!" Cakra kembali mengunyah makananya.
Cahaya pun tidak bertanya lagi. Dia kembali memakan makananya.
Usai makan, Cakra menyuruh Cahaya untuk menunggunya di mobil. Tidak mau banyak bertanya, Cahaya hanya menurut. Saat sedang menunggu Cakra, tanpa sengaja pandangan Cahaya mengarah ke arah warung pedagang kaki lima yang berada di seberang jalan. Tampak seorang pemuda sedang diomeli oleh si pemilik warung. Melihat hal itu, Cahaya jadi teringat Bintang.
Iya, sudah dua hari Bintang diusir dari rumah oleh omnya dan sejak saat itu Cahaya belum mendengar kabar apa pun tentang laki-laki arrogan tersebut.
__ADS_1
"Kira-kira Bintang sedang apa ya?" gumam Cahaya. "Ish... kenapa aku jadi teringat dia. Tidak Aya, tidak boleh! Kamu tidak boleh merindukan cowok arrogan itu. Tidak boleh!"
Tidak lama kemudian, Cakra datang. "Maaf ya agak lama," ucap Cakra.
"Tidak apa-apa."
"Ini." Cakra memberikan papper bag kepada Cahaya.
"Apa ini?"
"Itu makanan buat Om dan tante kamu."
"Ngapin repot-repot? Kak Cakra kan tahu kita punya warung pecel lele. Seharusnya nggak usah."
"Makan pecel lele tiap hari apa nggak bosan? Anggap saja itu makanan selingan."
"Terima kasih."
Cakra mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukan mobil tersebut menjauh dari sana.
***
Di markas mortal enemy....
Sejak tadi, Aditya meminta semua anggota geng motor Motar Enemy menyiapkan barang yang akan dibawa ke sebuah yayasan sosial. Ini hal yang baru pertama kalinya geng itu lakukan.
"Dit, ngapain sih pakai acara ikut acara kek gitu? Si Bintang saja nggak pernah tuh ngajak kita ikut acara beginian?" protes Faza.
"Justru itu. Selama ini kan geng kita dikenal sebagai geng tukang buat masalah. Gue pingin ngerubah image geng kita," jawab Aditya.
"Apa Bintang bakal setuju?" tanya Faza lagi.
"Kenapa harus dengan persetujuan Bintang?! Dia gak ada di sini dan sekarang ini aku pemimpin geng ini. Jadi, nurut saja!" bentak Aditya sambil menggebrak meja.
"Dit, lo itu cuma pimpinan sementara! Jadi, jangan sok ngatur deh!" jawab Faza tak mau kalah.
"Hei, kalian berdua kenapa sih? Kenapa pada ribut-ribut?" tanya Eros. Dia baru saja tiba ke markas bersama dengan Deny.
"Ingetin dia buat sadar diri kalau dia cuma pimpinan sementara geng ini, jadi nggak usah sok ngatur!" jawab Faza sambil melirik Aditya.
"Hei, gue cuma mau merubah image kita jadi lebih baik. Harusnya lo nurut! Sejak geng ini dipegang oleh Bintang, image geng kita selalu negatif. Jadi gue sengaja ngajak kalian semua ikut acara sosial biar image itu berubah," jelas Aditya.
"Dit, gue tahu tujuan lo baik. Tapi, lo harusnya diskusiin sama kita dulu sebelum ambil keputusan," ujar Eros.
"Kenapa harus diskusi dulu untuk hal baik? Bintang saja nggak pernah ngajak kita diskusi kalau dia mau ngajak kita ngelakuin sesuatu," balas Aditya lagi. "Mulai sekarang kalian itu nurut saja sama gue, gue ketuanya."
"Sementara! Catet ya sementara!" sahut Faza.
Aditya tiba-tiba mencengkeram kerah baju Faza. "Bintang tidak akan pernah kembali! Jadi, mulai sekarang patuhi kata-kataku!"
Eros dan Deny berusaha melerai dan menenangkan keduanya agar tidak terjadi baku hantam.
"Kenapa gue nggak bakalan balik?"
__ADS_1
Suara dari arah pintu membuat keempat orang itu menoleh.