
Beberapa bulan sebelumnya....
Cahaya menghela napas panjang kala seseorang dengan sengaja mengendarai motor dengan sangat kencang ketika melewati kubangan lumpur dan mengenai bajunya. Ini bukan kali pertama ia harus merelakan bajunya kotor. Kemarin bahkan beberapa hari sebelimnya pun ia juga harus mengalami hal serupa. Sebenarnya Cahaya sudah muak dengan kelakuan minus dari anggota geng tersebut, sayangnya keinginan untuk bisa kuliah dengan tenang kembali memaksanya harus diam dan bersabar.
"Astaghfirullah hal adzim, astaghfirullah hal adzim, astaghfitullah hal adzim." Cahaya beristighfar untuk bisa meredakan emosi. Berkali-kali ia mengelus dada dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk sabar.
"Sabar, Aya, sabar! Kamu hanya perlu melewati ini maksimal selama 4 tahun," ucapnya.
Waktu 4 tahun memang bukan waktu yang singkat. Namun, jika ia berhasil melaluinya dan lulus dengan nilai yang bagus, semua yang menimpanya saat ini tidak akan lagi berarti. Ia akan bisa bekerja di perusahaan bonafit dan bisa membantu meningkatkan perekonomian paman dan tantenya yang saat ini terbilang sulit.
"Tarik napas hembuskan, tarik lagi hembuskan." Begitulah cara Cahaya untuk meredam emosinya.
Setelah emosinya reda, Cahaya segera mencari toilet untuk membersihkan bajunya yang kotor, setidaknya hal itulah yang bisa ia lakukan sekarang.
"Benar-benar muka tembok. Udah berkali-kali dapat perlakuan seperti itu masih aja bertahan di kampus ini."
"Gue juga heran. Harusnya kampus ini nggak perlu menerima mahasiswa miskin. Bikin muak saja."
"Iya, lo benar. Gue juga muak harus selalu melihat gembel berkeliaran di sekitar kampus ini."
Cibiran-cibiran sinis itu dilontarkan oleh beberapa mahasiswi yang kebetulan berada di toilet. Dari beberapa mahasiswa yang mendapatkan bantuan untuk kuliah di universitas itu, tinggal hitungan jari yang bertahan dan salah satunya adalah Cahaya.
Cahaya tak menanggapi. Dia kembali memilih untuk diam dan hanya membasuh bajunya yang kotor dengan air lalu mengeringkannya dengan tisu.
"Hei, lo denger omongan kita kan?"
"Jangan pura-pura budeg deh lo!"
Sentak mereka lagi. Para mahasiswi itu menghampiri Cahaya dan mendorongnya hingga jatuh.
"Sudah selesai?" tanya Cahaya kepada mereka.
__ADS_1
"Apa? Lo masih tetep mau bertahan di kampus ini?!"
"Kenapa? Ada yang salah? Aku mendapat bea siswa penuh dari universitas ini, jadi sudah sewajarnya aku memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Lagian aku juga nggak ngerepotin kalian kan? Lalu kenapa aku harus keluar dari kampus ini?" Cahaya bangun dari posisinya.
"Kalau tidak ada hal yang ingin kalian katakan lagi, aku harus ke kelas. Sebentar lagi mata kuliah pertamaku akan dimulai." Tanpa menunggu jawaban dari mereka Cahaya pergi dari sana untuk datang ke kelasnya.
***
Tawa anggota geng motor Mortal Enemy berhenti kala Cahaya datang ke kelasnya. Kelima anggota geng motor itu saling melempar pandangan.
Seekan tidak perduli dengan keberadaan para anggota geng motor tersebut, Cahaya hanya melewati mereka lalu duduk di tempat duduknya.
"Sepertinya lo suka ya di bully? Makanya tetap bertahan di kampus ini?" ejek Bintang. Pemuda itu menghampiri Cahaya dan duduk di atas meja yang berada di depan wanita berhijab tersebut.
"Sebenarnya aku tidak suka. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku harus menyelesaikan kuliahku disini. Jadi, apa pun yang kalian lakukan kepadaku, tidak akan bisa memaksaku untuk meninggalkan kampus ini," jawab Cahaya.
"Benarkah?" Bintang mengambil minuman ringan yang baru saja diteguk oleh Aditya kemudian menyiramkannya ke tubuh Cahaya.
"Sudah selesai? Atau masih ada yang ingin kamu lakukan? Mumpung dosen belum datang silakan lakukan apa pun. Dan asal kamu tahu, apa pun yang kamu lakukan terhadapku, tidak akan menyurutkan niatku untuk tetap melanjutkan kuliah di kampus ini," balas Cahaya. Dia tak lagi mempedulikan keberadaan Bintang dan gengnya di sana.
Cahaya mengeluarkan buku dan mulai membacanya. Dia berpikir daripada mengurusi perilaku Bintang dan gengnya yang minus, akan lebih baik jika ia belajar. Cahaya mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai membacanya.
Bintang kembali ke tempat duduknya ketika dosen datang. Bintang menatap Cahaya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa, Bi?" tanya Deny.
"Tidak ada apa-apa. Gue cuma ngerasa aneh saja sama tuh cewek. Udah kita kerjain tiap hari masih saja bertahan di kampus ini. Padahal mahasiswa lain selain dia baru satu dua kali kita kerjain, udah langsung tidak mau berangkat kuliah atau minimal pindah. Tapi dia justru sebalinya," jawab Bintang.
"Kalau dia nggak mau pindah, kenapa lo nggak bikin dia dikeluarkan saja dari kampus? Gue rasa itu satu-satunya cara supaya tuh cewek itu pindah dari kampus ini." Faza menyampaikan unek-unek yang ada di dalam hati.
"Tapi, apa nggak sebaiknya kita berhenti kerjain dia? Gue rasa cewek itu nggak ada masalah apa-apa sama kita," ucap Aditya.
__ADS_1
"Hey, Dit. Lo kenapa? Suka sama tuh cewek?" tanya Eros.
"Nggak lah, gue cuma kasihan aja lihat tuh cewek karena saban hari kita kerjain," jawab Aditya. "Kalau kita terus memperlakukannya seperti itu, bisa-bisa dia bunur diri karena ngerasa nggak tahan."
"Nggak bakalan lah, tuh cewek ngelakuin itu," bela Aditya
"Kenapa nggak mungkin?" kemabali Faza bertanya.
"Hei, ini bukan satu atau dua kali tuh cewek kita kerjain. Hampir dua tahu kita ngerjain dia dan selama itu dia tetap bertahan. Lagian kalau dia memang tidak tahan dengan semua ini, gue rasa sudah sejak dua tahu yang lalu dia bakalan bunuh diri," jelas Aditya.
"Lo setuju dengan perkataan Aditya berusan?" Faza melemparkan pertanyaan tersebut kepad Bintang. Bukannya menjawab, Bintang malah mengmbil tas dan pergi meninggalkan kelas. Bahkan ia tak peduli ketika dosen yang baru datang memanggilnya.
Beberapa hari kemudian terjadi pencurian soal di salah satu ruang dosen. Semua mahasiswa yang hari itu memasuki ruang dosen tersebut dijadikan tersangka, termasuk Cahaya.
"Hei, lo disuruh menghadap ke ruang dosen tuh." Salah seorang mahasiswa memberitahu Cahaya yang baru saja tiba di kelasnya.
"Menghadap? Memangnya ada apa?" Cahaya tahu pasti ada sesuatu yang terjadi kenapa dia disuruh menghadap ke dosen. Padahal hari itu ia tidak memiliki tugas yang belum diselesaikan.
"Lo pagi tadi masuk ke ruang Bu Amalia kan?"
Cahaya mengiyakan karena memang tadi pagi ia masuk ke ruangan dosen tersebut.
"Nah, Bu Amalia kehilangan soal-soal ujian yang ia simpan dan semua mahasiswa yang hari ini masuk ke ruangan Bu Amalia dijadikan tersangkanya termasuk kamu."
"Tapi, aku.... "
"Udah datang saja, kalau bukan kamu pelakunya kamu juga akan langsung dibebaskan dari kandidat tersangka. Mahasiswa yang lain yang juga masuk ke ruangan Bu Amalia dan tidak terbukti juga sudah dibebaskan. Jadi, nggak usah takut." Teman satu jurusan Cahaya itu menjelaskan.
"Benar juga, ngapain aku takut kalau aku bukan pelaku. Ya udah aku ke ruangan Bu Amalia sekarang," ucap Cahaya.
"Awas jangan terlalu pede! Biasanya orang yang terlalu percaya diri akan berakhir mengenaskan," sahut Bintang. Pria yang duduk tidak jauh dari Cahaya itu ikut berbicara.
__ADS_1
Cahaya hanya menatap Bintang sebentar dan tidak ingin menanggapi apapun yang keluar dari mulut pria arrogan itu. Dia memilih untuk langsung pergi ke ruangan Bu Amalia.