
Belum sempat Cakra menyelesaikan jawabanya, ada notif panggilan masuk di hp mereka masing-masing.
"Maaf, Kak. Aku angkat ini dulu." Cahaya menunjukan ponsel di tangan dan pergi sedikit menjauh dari Cakra.
Pun demikian dengan Cakra. Pria itu juga keluar dari rumah Cahaya untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
"Jadi, Bintang sudah mengakui kalau itu semua perbuatan dia, Pak?" tanya Cahaya pada orang yang menghubunginya dari ujung sana.
"Iya, Cahaya. Jadi, mulai besok kamu sudah bisa kembali ke kampus dan kampus akan mengembalikan semua hak-hak kamu."
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Pak, buat informasinya. Besok saya pasti akan berangkat ke kampus." Cahaya bahagia dengan berita yang baru saja diterimanya. "Tapi, Pak. Boleh saya menanyakan sesuatu?"
"Silakan!"
"Kalau boleh tahu, hukuman seperti apa yang akan Bintang dapatkan dari kesalahan ini? Dia... dia tidak akan di D.O kan?" tanya Cahaya. Entah kenapa dia jadi memikirkan nasib pemuda yang sudah membuatnya hampir kehilangan beasiswa itu.
"Kemungkinan terburuk itu."
__ADS_1
"Tidak bisakah dia hanya diberi hukuman skorsing saja? Maksudku... meskipun dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal setidaknya, dia sudah berinisiatif mengakui kesalahanya itu."
"Maaf, Cahaya. Itu bukan wewenang kami. Karena semua keputusan ada di tangan rektor," jawab orang dari ujung sana. "Ya sudah, kami menelponmu hanya ingin memberitahukan hal ini saja. Saya tutup ya!"
"Iya, Pak."
Cahaya menghela napas panjangnya. Dia kembali memikirkan nasib Bintang selanjutnya. Dulu, dia memang ingin kalau pemuda urakan yang sering mengganggunya itu dikeluarkan dari kampus. Namun, beberapa hari tinggal bersama membuat pandanganya tentang Bintang berubah. Dia yakin ada alasan kenapa pemuda itu berbuat seperti itu. Mungkin saja dia kurang diperhatikan oleh keluarga dan orang-orang dekatnya. Mungkin itu sebuah bentuk protes yang ia tunjukan kepada mereka. Ya, meski sebenarnya itu tetap salah.
Dari arah pintu Cakra datang dengan wajah cemas. Dia seperti baru mendapat kabar yang kurang menyenangkan.
"Aya, aku pamit ya," pamit Cakra.
"Barusan dari asisten rumah tangga papa, katanya adikku bikin ulah lagi. Dan sekarang aku takut, papa akan menghajar dia karena ini. Maaf ya, aku pulang sekarang," jawab Cakra.
"Iya, Kak. Hati-hati."
Setelah berpamitan Cakra langsung pergi meninggalkan rumah Cahaya.
__ADS_1
"Lho, Aya. Pak Dokter mana?" tanya tante Laksmi yang baru saja dengan membawa baki berisi dua gelas teh dan camilan.
"Kak Cakra ada urusan mendadak, Tante. Makanya dia langsung pergi," jawab Cahaya.
"Ya sudah ya, Tante. Aya mau mandi setelah itu istirahat sebentar biar nanti bisa bantuin Tante buka lapak," pamit Cahaya.
"Hari ini libur jualan saja, sepertinya kamu lelah."
"Tidak apa-apa, Tante. Kita tetap jualan saja, tapi agak sorean. Is Syaa Allah setelah istirahat bentar, tenagaku bakalan pulih lagi."
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Tante akan mulai menyiapkan barang dagangan dari sekarang. Jadi, nanti kita tinggal berangkat. Oh iya, itu tehnya diminum dulu, Aya kalau dingin nggak enak!"
"Iya, Tante." Cahaya mengambil salah satu gelas berisi teh manis hangat yang dibawa oleh tante Laksmi barusan dan langsung menyesapnya tanpa bersisa.
*
Cahaya berjalan momdar mandir di kamarnya. Dia ingin mengetahui hukuman apa yang diberikan oleh pihak kampus kepada Bintang. Cahaya berharap jika hukuman itu bukan berupa DO.
__ADS_1
"Ya Allah semoga, Bintang nggak di DO dari kampus," pinta Cahaya dalam hati. Dia sedikit menyesal karena sebelum pria itu diusir oleh omnya kemarin, dia tidak meminta nomor hpnya.
Hati Cahaya benar-benar kalut. Satu sisi dia senang karena akhirnya bisa melanjutkan kuliahnya tanpa biaya lagi. Tapi, disisi lain. Dia belum merasa tenang karena belum mengetahui hukuman yang diberikan pihak universitas kepada Bintang.