
"Kenapa kamu nggak bilang kalau tanganmu terluka? Harusnya kamu langsung bilang ke aku tadi, jadi aku bisa langsung ngobatin kamu," omel Cahaya sambil membersihkan luka di tangan Bintang. Sesekali ia menghapus air matanya.
"Sudah, jangan nangis. Gue nggak apa-apa kok, lagian ini kan hanya luka kecil," jawab Bintang yang mencoba untuk menenangkan gadis berhijab itu.
"Ya... Begitulah Aya. Jangankan manusia yang terluka, kucing di jalan berdarah karena berkelahi aja dia nangis. Untung saja pas nemuin kamu di sungai malam itu, nggak begitu ada ada darah di tubuh kamu. Kalau iya, aku yakin dia bakalan nangis kejer," sahut Tante Laksmi.
"Aw, pelan-pelan dong Culun! Lo itu sebenarnya mau ngobatin luka gue? Apa mau memperparah sih?" protes Bintang saat Cahaya mengoleskan obat di telapak tangannya dengan sedikit kasar.
"Sudah untung aku obatin, masih ngoceh aja. Udah diam aja! Siapa suruh kamu kena luka kek gini." Cahaya kembali mengomel.
"Eh, tunggu! Kenapa tanganmu bisa terlukan kayak gini?" Pertanyaan Cahaya sontak membuat Bintang salah tingkah.
"Ya, ada deh pokoknya," jawab Bintang asal.
Cahaya mengamati luka di telapak Bintang cukup lama. Luka itu seperti luka kerena kena pecahan kaca.
"Ada apa?" tanya Bintang saat melihat Cahaya menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kamu nggak berniat bunuh diri kan?" Pertanyaan Cahaya sontak membuat Bintang membelalakkan mata.
"Ngapain gue ngelakuin itu?"
"Mana aku tahu." Cahaya mengedikkan bahu.
"Nah sekarang sudah selesai," ujar Cahaya setelah selesai membungkus tangan Bintang dengan perban.
Bintang melihat tangannya yang diperban. "Ternyata lo jago juga ya ngobatin luka," puji Bintang.
"Ucapan makasihnya mana?" tanya Cahaya sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
Bintang tidak menjawab dan malah mengalihkan topik pembicaraan. "Peralatan dagang udah diberesin semua? Nggak ada yang tertinggal?"
"Ish, apaan sih? Ngucapin makasih aja susah banget." Cahaya melirik sinis Bintang. "Biasakan ngucapin terima kasih saat kamu baru dapat pertolongan dari orang! Bukan karena orang itu menginginkan imbalan atau apa. Tapi, dengan ucapan terima kasih itu seenggaknya orang yang udah nolongin kamu ngerasa dihargai."
Bintang masih terlihat enggan mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata tersebut. Hidup di keluarga kaya yang segala sesuatunya serba mengandalkan uang, membuat Bintang tidak pernah mengucapkan dua kata itu.
__ADS_1
"Ayo bilang!" suruh Cahaya.
"Aya, rasa terima kasih itu harus diucapkan dengan tulus. Bukan dengan paksaan. Sudahlah, kalau dia nggak mau ngucapin makasih jangan dipaksa!" tegur Tante Laksmi.
"Aku kan cuma mau ngajarin tuh cowok manja buat ngehargain kebaikan orang, Tante. Kalau dia nggak mau ya udah, aku juga nggak akan.... "
"Terima kasih," ucap Bintang tanpa menatap wajah Cahaya.
Cahaya terdiam, dia masih tidak percaya dengan hal yang baru saja didengarnya.
"Kamu beneran ngucapin makasih sama aku?" Cahaya memastikan.
Bukannya menjawab, Bintang malah kembali berbaring dan menutup seluruh tubuh hingga kepala dengan selimut.
"Ck. Dasar!" Cahaya berdecak sebal. Meski begitu dia tetap tersenyum karena akhirnya Bintang mau mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Ya udah, Tante. Aku juga mau ke kamar sekarang, mau istirahat." Cahaya berpamitan. Sebelum masuk ke kamarnya, ia menoleh ke arah Bintang sebentar setelah itu ia pun menutup pintu kamar.
Tante Laksmi dan Cahyono pun ikut masuk ke kamar mereka.
***
Di tempat lain....
"Bik, ada apa? Apa benar Bintang hilang?" cecar Cakra begitu ia tiba di rumah kedua orang tuanya.
"Iya, Tuan Muda. Tadi teman-teman satu geng Tuan Muda Bintang datang ke rumah menyerahkan motor yang biasa Tuan Muda Bintang kendarai. Katanya motor itu ditemukan di sungai, tapi mereka tidak menemukan siapa pun di sekitar motor itu," jelas Si Bibik.
"Papa-mama sudah tahu?" tanya Cakra lagi.
"Belum, Tuan Muda. Saya tidak berani memberitahu mereka," jawab si Bibik jujur.
Cakra menghela napasnya. "Baiklah, jangan beritahu mereka soal ini! Aku akan berusaha mencari Bintang dan menemukannya sebelum mama dan papa kembali dari luar negeri."
"Baik, Tuan Muda. Bibik akan mencari alasan, jika Tuan dan Nyonya besar menanyakan keberadaan Tuan Muda Bintang."
__ADS_1
"Terima kasih ya, Bik. Aku pasti akan segera menemukannya." Cakra langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk membantunya mencari sang adik.
"Tuan Muda Cakra, anda tidak apa-apakan?" tanya Si bibik ketika melihat wajah Cakra yang terlihat pucat.
"Tidak apa-apa, aku hanya kecapekan, Bik."
"Lebih baik malam ini Tuan Cakra tidur di sini saja sekalian istirahat. Bibik tidak tega kalau ngelihat Tuan Muda harus menyetir sendiri dalam keadaan begini." Si Bibik memberikan saran. Dia tahu Tuan Mudanya yang satu ini tidak boleh terlalu kelelahan atau kondisinya akan semakin ngedrop.
"Saya yakin, Tuan begini karena baru saja melakukan hal-hal yang berat kan?" tebak Si bibik.
Wanita yang sebagian besar hidupnya digunakan untuk mengabdi di keluarga Bimantara itu hapal hal-hal apa saja yang bisa menyebabkan kondisi tubuh Tuan Mudanya ngedrop.
"Aku tidak apa-apa kok, Bik. Baiklah malam ini aku menginap disini." Cakra terpaksa berbohong. Dia memang sedikit kelelahan karena membantu Cahaya mendorong gerobak. Hal yang juga baru pertama kali ia lakukan.
"Aku ke kamarku dulu ya, Bik. Permisi." Cakra segera naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
***
Di Markas Mortal Enemy....
"Ngapain sih, Za. Lo ngasih tahu keluarga Bintang kalau dia ilang?" tanya Aditya dengan menaikan nada bicaranya.
"Dit. Bintang ilang udah lebih dari dua hari, gue takut kalau beneran terjadi apa-apa sama dia. Semakin banyak orang yang mencari Bintang, bukan kah akan semakin cepat Bintang ditemukan?" terang Faza, dia menjelaskan alasan dia memberitahu keluarga Bintang.
"Iya, Dit. Lagian gue rasa keluarganya juga berhak tahu tentang kondisi Bintang saat ini." Deny menimpali.
"Iya, gue ngerti. Tapi, gimana kalau keluarganya justru nyalahin kita dan nganggap kalau kita lah penyebab Bintang ilang?" kembali Aditya berbicara.
"Ya, mau gimana lagi? Bukankah memang itu kenyataan? Malam itu kita semua nyelametin diri masing-masing tanpa ada yang berusaha mencari Bintang," balas Faza.
Iya, malam itu mereka semua sibuk menyelamatkan diri dari kejaran polisi tanpa ada yang berusaha mencari Bintang setelahnya. Padahal jika malam itu mereka langsung ngeh Bintang hilang, pasti saat ini Bintang masih bersama mereka.
"Kan kita ngiranya dia pulang ke rumahnya, makanya kita nggak nyari Bintang malam itu juga. Dan itu berarti kita nggak salah," Aditya membela diri.
"Apa pun alasannya harusnya kita langsung mencari tahu keberadaan Bintang pas kita tahu Bintang nggak ada di markas. Bukan malah diam dan menunggu dia yang menghubungi kita." Lagi, Faza menyahut.
__ADS_1
Jawaban Faza membuat semuanya terdiam dan tidak ada yang berani menyahut. Semua yang dikatan Faza benar. Jika mereka langsung mencari Bintang malam itu, mereka yakin Bintang tidak akan hilang seperti ini.