Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua Puluh


__ADS_3

"Lho kemana tuh cowok manja? Kok ngilang sih?" pikir Cahaya ketika tidak mendapati siapapun di belakang.


"Ada apa?" tanya Cakra.


"Nggak ada apa-apa kok, mungkin panci ini jatuh karena kesenggol kucing," jawab Cahaya karena kebutan ada dua kucing yang berada tidak jauh darinya.


Cahaya mengambil panci yang jatuh itu dan meletakkan kembali ke tempat semula. Dia melengok ke sisi kanan dan kiri untuk kembali melihat keberadaan Bintang.


"Kemana dia? Apa dia udah pulang duluan?" Cahaya membatin.


"Kamu mencari sesuatu?" tanya Cakra lagi.


"Ah, tidak kok," jawab Cahaya. "Maaf ya Pak Dokter maksud saya Kak Cakra saya sambi beresin barang-barang nggak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa, lagian aku juga udah selesai makannya kok. Gimana kalau aku bantu kamu beberes? Sepertinya pemuda yang katanya kerja bantu-bantu kamu sudah pulang duluan," sahut Cakra karena tidak melihat ada orang lain lagi selain dirinya di sana.


"Tidak usah, Kak. Lagian Kakak kan tamu. Aku bisa beresin ini sendiri kok. Lagi pula aku sudah biasa ngelakuin ini sendiri kalau Tante lagi nggak bisa ikut berjualan," tolak Cahaya.


"Tidak apa-apa kan aku sendiri yang pingin bantuin kamu. Ya udah, kamu beresin di sini, biar aku beresin yang di depan." Tanpa menunggu jawaban dari Cahaya Cakra sudah kembali ke depan dan mulai membereskan perabotan di depan. Dia mulai menumpuk kursi plastik dan menaikannya ke atas gerobak.


Cahaya hanya bisa menghela napasnya, dia tahu dia tidak bisa mencegah Cakra untuk membantunya. Saat sedang membereskan peralatan dapur, tanpa sengaja Cahaya melihat ada tetesan darah di lantai dapur. Dia berjongkok dan menyentuh cairan berwarna merah pekat tersebut.


"Ini masih baru. Apa Bintang pulang karena dia terluka?" Entahlah tiba-tiba timbul perasaan khawatir di hati gadis berumur 19 tahun tersebut. Buru-buru dia membereskan semua peralatan dagangannya dan menaruhnya ke atas gerobak. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Bintang.


"Terima kasih ya, Kak Cakra buat bantuannya." Cahaya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Cakra setelah semua petalatan dagangnya berada di atas gerobak.


"Gimana cara kamu bawa semua ini pulang?" tanya Cakra.


"Ya... aku dorong lah sampai rumah," jawab Cahaya.


"Memangnya kamu kuat dorong barang sebanyak itu?" Cakra agak sanksi jika Cahaya akan mampu mendorong gerobknya. Apalagi gadis itu memiliki tubuh yang mungil.


"Entahlah, tapi akan aku coba," jawab Cahaya yang juga meragukan kekuatannya. Apalagi selama ini dia selalu melakukannya berdua.


"Ya, sudah biar aku bantu dorong."


"Tapi, gimana dengan mobil kamu?"


"Sepertinya tidak masalah kalau aku tinggal di sini sebentar. Nanti setelah membantumu mendorong gerobak, aku akan kembali ke sini untuk mengambil mobilku," jawab Cakra.


Karena tidak memiliki pilihan lain akhirnya Cahaya setuju dokter tersebut membantunya.


***


Bintang tiba di rumah milik Tante Laksmi dan suaminya. Tanpa mengucapkan salam pemuda tersebut langsung masuk dan menuju ke tempatnya beristirahat. Dia berbaring diatas dipan dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.


Tante Laksmi langsung melongok ke luar. Dia menghampiri Bintang kerena tidak melihat Cahaya dan gerobaknya.

__ADS_1


"Kamu kok sudah pulang? Terus Cahaya?" tanya Laksmi kepada Bintang.


"Sebentar lagi dia juga pulang kok, Tante bareng dokter itu," jawab Bintang dengan nada ketus.


"Kamu dan Aya berdebat lagi?" Bintang menggeleng.


"Apa Aya memarahimu, jadi kamu marah dan pulang?" Tante Laksmi mencecar Bintang dengan pertanyaan.


"Atau.... "


"Tidak ada apa-apa kok, Tante. Hanya saja aku sedikit agak kurang enak badan," jawab Bintang. Dia terpaksa berbohong karena tidak mungkin mengku, jika ia merasa bete melihat kedektan Cahaya dengan kakaknya tadi.


"Kamu sakit? Apanya yang sakit? Coba Tante periksa." Air muka Tante Laksmi langsung berubah khawatir, dia menyentuh dahi Bintang dengan tangannya.


Melihat ada orang yang mengkhawatirkan dirinya membuat Bintang terharu. Kedua orang tuanya saja tidak pernah sebegitu khawatirnya ketika mendengar ia sakit. Mereka hanya akan menyuruh asisten rumah tangga untuk mengantarkannya berobat.


"Aku hanya sedikit pusing saja, Tante tidak perlu khawatir," balas Bintang.


"Sebentar, Tante ambilkan obat sakit kepala ya."


"Tidak usah, Tante!" cegah Bintang. "Aku hanya perlu tidur saja."


"Ya sudah kalau begitu. Tapi, kalau sampai besok pagi kamu masih merasa pusing, bilang sama Tante ya. Kita periksa ke Pak Mantri," jawab Laksmi.


"Iya, Tante. Terima kasih."


"Kenapa dia?" tanya Cahyono.


"Katanya pusing, mungkin kecapekan."


"Terus Aya?"


"Bintang bilang dokter itu yang membantunya," jawab Tante Laksmi.


Cahyono menghela napasnya. "Hari ini kita semua terus merepotkan dokter itu."


"Ya... mau gimana lagi? Kita kan juga gak berniat merepotkannya," sahut Tante Laksmi.


Ternyata benar, selang beberapa menit Cahaya akhirnya tiba di rumah. Dengan dibantu oleh Cakra, dia menurunkan semua perlengkapan dagangnya dan membawanya ke dapur.


"Terima kasih ya untuk bantuannya hari ini," ucap Cahaya begitu barang terakhir sudah dimasukkan ke dalam.


"Sama-sama. Aku pamit pulang ya."


Cahaya mengangguk. "Hati-hati ya Dok, maksudku Kak Cakra."


"Lain kali aku boleh main ke sini lagi kan?"

__ADS_1


"Tentu saja kamu boleh kesini lagi. Sekali lagi terima kasih," ucap Cahaya.


Pada saat bersamaan telepon genggam milik Cakra berdering.


"Iya, Bik."


"Apa?!"


"Apa mama dan papa sudah tahu?"


"Iya-iya, aku ke rumah sekarang."


Cakra berbicara dengan seseorang di ujung sana.


"Aya, aku pamit ya. Terima kasih buat ayam bakarnya. Salam untuk paman dan tantemu," pamit Cakra.


"Iya, Kak. Hati-hati." Cahaya melambaikan tangan. Setelah Cakra tidak lagi terlihat, Cahaya juga masuk ke rumahnya.


"Tante, Bintang pulang ke rumah kan?" tanya Cahaya. Wajahnya terlihat cemas.


"Iya, sepertinya dia sakit dan sekarang dia sedang.... "


Sebelum Tante Laksmi menyelesaikan perkataannya, Cahaya langsung nyelonong ke tempat Bintang berbaring. Dia langsung membuka selimut Bintang.


"Apaan sih lo? Gue mau tidur tahu," desis Bintang.


Bukannya menjawab Cahaya langsung duduk di sebelah pemuda itu berbaring. Dia bahkan menajamkan tatapannya kepada pria itu.


"Ada apa? Sudah sana pergi! Gue mau istirahat, gue capek!" usir Bintang.


"Mana?" Cahaya menengadahkan satu tangannya.


"Mana apaan sih?" protes Bintang. Pemuda itu menatap Cahaya bingung.


Bukannya menjawab Cahaya malah membuka selimut yang menutupi tubuh Bintang. Dia memindai seluruh bagian tubuh pemuda itu hingga akhirnya dia menemukan sesuatu yang dicarinya.


"K-kamu kenapa?" tanya Bintang ketika melihat Cahaya yang tiba-tiba menangis.


"Hei... Culun! Lo nggak apa-apa kan?" tanya Bintang lagi.


Tangis Cahaya makin menjadi, kini bukan hanya Bintang yang bingung, Laksmi dan Cahyono pun ikut bingung melihat tingkah keponakannya.


"Hwa...," jerit Cahaya.


"Aya kamu kenapa nangis?"


"Iya, sayang. Ada apa?"

__ADS_1


Cahyono dan Tante Laksmi bertanya. Keduanya saling tatap karena tidak tahu apa yang terjadi dengan keponakannya.


__ADS_2