
Di tempat lain....
Cahaya segera menghampiri tantenya dengan segelas air di tangan saat melihat tantenya pulang dengan wajah cemas. Wanita yang sudah merawat Cahaya itu langsung meneguk air yang duberikan oleh Cahaya hingga tandas.
"Ada apa sih, Tante? Kok panik gitu?" tanya Cahaya. Dia penasaran dengan hal yang membuat tantenya itu gelisah.
"Aya, apa kamu tahu nomor teleponya Dokter Cakra?" bukannya menjawab pertanyaan Cahaya tante Laksmi malah balik bertanya.
"Ada sih. Kemarin Dokter Cakra yang justru minta nomor telepon Aya. Kenapa memangnya, Tan?"
"Kamu tahu kan kalau tante barusan dari rumah sakit untuk menanyakan jadwal pamanmu check up lagi?"
"Tante udah tahu kapan jadwal paman check up lagi?" tanya Cahaya. "Tunggu! Apa hubunganya sama nomor telepon Dokter Cakra?"
__ADS_1
"Nah, itu dia. Di rumah sakit tadi tante dengar para perawat dan dokter sedang membicarakan tentang Dokter Cakra. Katanya Dokter Cakra sakit dan keadaanya parah. Dia bahkan dirawat di ruang ICU katanya. Sebenarnya mumpung sudah ada di rumah sakit, tadinya tante mau nengokin sekalian. Tapi... Tante ingat kalau kamu harus pergi ke kampus hari ini, jadi tante langsung pulang."
"Tante yakin dokter yang dibicarakan oleh mereka adalah Dokter Cakra yang kita kenal? Mungkin saja kan ada dokter yang namanya juga sama dengan Dokter Cakra?"
Tante Laksmi terlihat berpikir. "Iya juga sih. Karena buru-buru Tante lupa nanyain tadi. Tapi, coba kamu telepon nomor Dokter Cakra tanya kabar dia hari ini!" serunya.
"Tapi, Tan... masa tiba-tiba Aya telepon dan nanyain kabar dia sih. Ntar dikira aku ada sesuatu sama dia. Enggak ah, Tan. Nanti aku coba cari tahu langsung aja setelah dari kampus. Sekalian aku mau ngembaliin uang dia," jawab Cahaya.
"Tante lupa ya? Aku kan punya sedikit tabungan yang tadinya mau buat bayar kuliah. Tapi... karena bea siswaku gak jadi dicabut, aku bisa gunain itu buat ngembaliin uang Dokter Cakra kemarin, dan sisanya kita kumpulin lagi buat biaya operasi kaki paman," jelas Cahaya.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau kamu sudah dapat kabar tentang dokter Cakra kabari tante ya. Tante merasa banyak hutang sama dia, kalau dia beneran sakit, Tante dan pamanmu akan datang untuk menjenguk nanti. Tapi, semoga saja bukan dokter baik itu," ujar tante Laksmi penuh harap.
"Amin. Ya udah ya, Tan. Aya ke kampus sekarang." Cahaya pun berpamitan. Dia pergi ke kampus dengan mengendarai ojek online.
__ADS_1
***
Hari itu setelah menghadap pihak kampus, Cahaya langsung diperkenankan untuk langsung mengikuti kuliah.
Sepanjang kuliah berlangsung, Cahaya justru kepikiran tentang nasib Bintang. Dia penasaran dengan sanksi yang dijatuhkan oleh pihak kampus kepada pria itu.
"Apa Bintang dikeluarkan dari kampus ya?" batin Cahaya. Rasanya ia tidak tega membayangkan Bintang dikeluarkan oleh kampus. Meski perbuatan Bintang sudah keterlaluan, Cahaya berharap pria itu hanya mendapat hukuman skorsing saja.
Jam kuliah pun selesai. Cahaya segera membereskan buku-bukunya dari atas meja dan memasukanya ke dalam tas. Cahaya berharap sebelum pulang, ia bisa bertemu dengan Bintang untuk menanyakan kabar pria itu. Dengan langkah gontai Cahaya berjalan meninggalkan kelas. Ia menjadi orang terakhir yang keluar dari kelas tersebut.
"Lelet banget sih lo!"
Suara itu mengagetkan Cahaya. Beberapa kali ia mengucek matanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi.
__ADS_1