Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Cakra segera menghampiri Bintang ketika melihat adik satu-satunya itu pulang.


"Akhirnya kamu pulang juga Bintang, Kakak khawatir sekali dengan kamu," ucap Cakra sambil menyentuh bahu sang adik. Sayangnya Bintang langsung menepis tangan kakaknya itu.


"Bintang! Jangan bersikap kurang ajar seperti itu kepada Kakakmu!" sentak Arya.


"Pa, Bintang baru pulang. Jadi, jangan memarahinya!" Cakra berusaha membela sang adik.


"Berhenti membelaku karena itu akan semakin membuatku terlihat jelek di mata papa," ucap Bintang dengan nada ketus.


"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Apa itu caramu berbicara kepada kakakmu!" Arya kembali memarahi Bintang. "Buat apa kamu pulang? Sudah bosan bersenang-senang di luar? Atau uangmu sudah habis? Makanya kamu ingat kalau kamu masih memiliki rumah dan keluarga?"


"Rumah? Keluarga? Sejak kapan aku memiliki itu?" Bintang menatap sinis kedua orang tuanya.


"Bintang!" kembali Arya meneriaki putra bungsunya itu.

__ADS_1


"Kenapa Papa marah? Sekarang aku tanya sama Papa, kapan terakhir Papa dan Mama makan bersama denganku?" Bintang menatap kedua orang tuanya bergantian. "Tidak pernahkan? Selama ini aku selalu makan sendiri."


"Sekarang aku tanya lagi, kapan papa dan mengajakku ngobrol santai seperti keluarga lain? Tidak pernah juga kan? Kalian hanya bisa memarahiku dan memberiku hukuman saat kalian merasa aku mempermalukan kalian. Bahkan di momen kelulusanku pun kalian tidak pernah datang dan selalu mengirim pembantu. Apa pun yang berhubungan denganku kalian selalu mengabaikannya. Tapi.... "


Bintang menjeda kalimatnya sebentar lalu menatap sinis kepada sang kakak.


"Kalian bersikap berbeda terhadap dia. Kalian selalu ada waktu buat dia. Sebenarnya apa aku bukan anak kandung kalian makanya kalian tidak pernah mau memberikanku perhatian? Apa dimata kalian hanya ada dia?" Bintang menunjuk Cakra. Rasa sesak yang selama ini menghimpit akhirnya mampu ia keluarkan.


Bintang lelah terus diabaikan, dia selalu merasa iri dengan orang-orang yang memiliki keluarga bahagia. Bintang juga sama seperti anak lain yang ingin diperhatikan bukan hanya dimarahi saat ia melakukan kesalahan.


"Diam, Amara! Jangan mengatakan apapun!" sela Arya. Dia memberikan peringatan kepada sang istri untuk tidak mengatakan hal apa pun.


"Tapi, Mas.... "


"Aku bilang diam!" sentak Arya lagi. "Bintang, kamu sudah dewasa bukan lagi anak-anak. Harusnya kamu bisa memahami kondisi orang disekitarmu. Harusnya kamu bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah bukan malah lari ke hal-hal negatif. Memangnya bakal jadi apa kamu kalau kamu selalu bersikap seenaknya seperti ini, hah?!"

__ADS_1


Bintang menghela napasnya. "Selalu seperti ini, papa hanya menyuruhku untuk bersikap dewasa tanpa mengintrospeksi diri sendiri," ujarnya. "Sudahlah. Aku capek dan ingin tidur. Permisi."


Tanpa menunggu jawaban dari papa-mamanya, Bintang langsung pergi ke kamarnya.


"Mas, tidak bisakah kita bersikap lembut kepadanya?" Dia merasa kalau dia sudah gagal menjadi ibu yang baik bagi kedua putranya.


"Amara, kesehatanku semakin lama semakin buruk. Cakra juga sama. Kalau kita tidak mendidik Bintang dengan keras, saat aku tidak ada, bagaimana dia bisa mengemban tugas beratnya nanti. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa kita harapkan untuk bisa memenage perusahaan. Jika kita biarkan dia bersikap seenaknya, dia tidak mungkin bisa berubah," terang Arya. Dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada sang istri.


"Maafkan aku, Pa, Ma, jika saja aku sama seperti anak yang lain. Pasti Bintang tidak perlu digembleng sekeras ini hingga membuatnya merasa diabaikan. Sekali lagi maafkan aku!" Cakra merasa menyesal dengan yang terjadi di keluarganya.


"Tidak, Nak. Kamu tidak salah, Bintang juga tidak salah." Amara memegang pundak putra pertamanya.


"Mas, aku mohon. Mulai sekarang jangan terlalu keras lagi pada Bintang. Bagaimana pun dia hanya seorang pemuda yang rindu kasih sayang keluarganya. Berikan itu padanya, aku yakin dengan begitu dia pasti akan berubah menjadi lebih baik," ucap Amara.


Arya masih diam. Dia ragu dengan hal yang baru saja dikatakan oleh sang istri. "Apa dia benar-benar bisa berubah?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2