Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Delapan


__ADS_3

"Kalau dia tinggal di sini selama sebulan, uang makan kita bakalan membengkak dong? Buat makan kita bertiga aja pas-pasan, sekarang harus nambah beban makan tuh bocah," jawab Tante Laksmi.


"Ya... Mau gimana lagi, Tante kan Tante yang udah nantangin dia barusan?" Cahaya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tante Laksmi menatap Cahaya dengan raut muka penuh penyesalan. "Apa kita batalin aja ya?"


"Tante, kalau kita batalin taruhan itu. Dia pasti bakalan hina kita habis-habisan. Sudahlah, kita jalani saja sesuai kesepakatan tadi. Aya yakin kok, kalau dia gak bakalan betah sampai sebulan," jawab Cahaya. Dia memiliki keyakinan orang kaya seperti Bintang pasti nggak akan betah hidup di rumah penuh tanpa vasilitas apa pun.


"Kamu yakin, dia nggak bakalan betah?" Tante Laksmi memastikan.


"Yakin, Tante. Jadi, Tante tenang saja. Lagian selama dia tinggal di sini bareng kita, kita kan bisa manfaatin dia. Anggap saja itu sebagai ganti biaya hidup selama dia tinggal di sini."


Tante Laksmi memikirkan jawaban yang Cahaya berikan barusan. "Kamu benar, selain kita bisa manfaatkan tenaganya untuk bantuin kita, kita juga bisa manfaatin tampangnya yang kayak artis itu. Tante yakin, kalau kita bawa dia ke lapak jualan, cewek-cewek bakalan tertarik ngelihat tampangnya yang mempesona itu, jadi mereka bakalan beli dagangan kita deh." Tante Laksmi membayangkan adegan sesuai dengan isi kepalanya saat ini.


"Memang dia tampan? Menurut Aya B aja tuh."


Sebuah toyoran melayang di kepala Cahaya. "Kamu itu! Memang matamu nggak bisa lihat kalau tuh anak beneran tampan? Memang sih kelakuan dia minus, tapi soal wajah dia termasuk idaman cewek-cewek zaman sekarang," terang Tante Laksmi.


Bintang hanya memutar kedua bola matanya.


"Ya sudah deh, Tante. Daripada Tante muji muka tuh cowok, gimana kalau kita mulai mengerjakan pekerjaan kita? Jadi, kita bisa berangkat berjualan lebih awal dari biasanya?" ajak Cahaya.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Tante yakin, jualan kita nanti bakalan laris manis. Lihat saja!" Senyum sumringah terus terukir di bibir Tante Laksmi. Semangatnya berjualan kali ini meningkat berkali-kali lipat. Apalagi ia yakin seratus bahkan seribu persen cewek-cewek bakalan terpikat oleh wajah tampan pemuda yang ditolongnya semalam.


"Ohya, Aya. Paman kamu mana? Kok nggak kelihatan sejak pagi tadi?" tanya Tante Laksmi. Dia baru ingat kalau sejak bangun tidur, ia belum melihat sosok suaminya.


"Paman ikut Pak De Rustam ke bengkelnya pagi tadi."


"Ngapain Pamanmu kesana?"


"Paman bilang mau ikut kerja di bengkelnya Pak De Rustam," jawab Cahaya.


"Pamanmu itu, padahal kesehatannya belum pulih. Kedua kakinya saja lumpuh, gimana dia bisa kerja?" Tante Laksmi menghela napas panjang. Meskipun cerewet, Tante Laksmi paling tidak tega melihat orang yang dia sayangi kepayahan. Apalagi dia adalah suaminya.


"Paman bilang, dia bisa bantu-bantu ngelap atau apa gitu di bengkelnya Pak De. Meski tidak digaji sama dengan pekerja yang lain, Paman sudah puas karena bisa memberi nafkah ke Tante. Paman bilang memberi nafkah itu sudah kewajiban dia sebagai suami. Apalagi, sudah tiga bulan dia nggak kerja apa-apa," terang Cahaya. Dia hapal betul dengan watak pamanya yang pekerja keras.


"Amin." Cahaya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ya udah, yuk. Kita juga jangan sampai kalah sama paman kamu. Kalau dia aja semangat kerja, kita juga harus lebih semangat lagi. Apalagi ada wajah mempesona yang bakal jadi jimat keberuntungan kita." Tante Laksmi cekikikan membayangkan banyak wanita muda yang akan makan di lapaknya nanti.


Cahaya kembali menghela napas, bisa-bisanya Tante Laksmi memiliki pemikiran seperti itu. Tak mau lagi berkomentar, Cahaya lebih dulu ngeloyor ke arah dapur.


"Hish, dasar bocah. Nggak tahu aja kalau wajah tampan bisa digunakan untuk media promosi. Apalagi kalau sampai viral di dunia maya," gumam Tante Laksmi. "Sayangnya, aku gak punya hape bagus, ada juga hape jadul yang cuma bisa telepon dan kirim pesan." Laksmi kembali meratapi hidupnya yang beberapa bulan ini terasa sulit. Iya, hape android milik Tante Laksmi dan Cahaya sudah dijual 3 bulan lalu untuk menyambung biaya hidup mereka dan modal berdagang.

__ADS_1


Jam 2 siang, Tante Laksmi mulai menata barang-barang dagangannya ke atas gerobak. Tidak lupa mereka meninggalkan nasi dan lauk di atas meja yang ada di ruang tengah sebagai makan malam suaminya. Siang tadi sang paman sudah memberitahu melalui pesan singkat bahwa ia sudah makan siang karena makan siang para pekerja sudah dijamin oleh Pak De Rustam. Tante Laksmi juga menitipkan kunci rumah kepada Pak mantri karena hanya laki-laki yang bekerja di dinas kesehatan itu saja tetangga yang paling dekat dengan rumahnya.


"Semua sudah dibawa kan, Aya?" Tante Laksmi bertanya untuk terakhir kalinya sebelum mereka berangkat untuk berjualan.


"Sudah, Tante," jawab Cahaya karena memang sudah memeriksa barang dagangan mereka sebanyak tiga kali. Dia yakin tidak ada yang tertinggal bahkan tenda untuk jualan pun sudah nangkring rapih di atas gerabak.


"Yo wes ayo jalan. Tante sudah tidak sabar ngelihat dagangan kita rame!" Tante Laksmi kembali antusias.


"Iya, Tante. Ayo!" balas Cahaya.


Kedua wanita berbeda usia itu bahu membahu menarik dan mendorong gerobak dagangan mereka. Hari ini keduanya berharap kalau dagangan mereka bakalan rame dan habis terjual. Apalagi, kali ini Tante Laksmi menjual barang daganganya lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.


Seperti biasa begitu sampai di lokasi berdagang, kedua wanita itu mulai menurunkan semua dagangan mereka. Mereka juga mulai memasang tenda lalu menggelar tikar sebagai alas duduk bagi pembeli. Kembali Tante Laksmi tersenyum sumringah. Dia tetap berkeyakinan bahwa dagangan mereka bakalan laku keras hari ini. Jika itu terjadi, besok dia akan membawa sang suami check up ke rumah sakit. Sejak keluar dari rumah sakit dulu belum pernah sekalipun Tante Laksmi membawa suaminya itu check up karena terkendala biaya yang mahal. Maklum mereka bukan penerima kartu KIS dari pemerintah karena mereka bukan warga asli ibu kota. Mereka hanya perantauan yang mencari nafkah di kota lain.


"Aya," panggil Tante Laksmi.


"Iya, Tante. Ada apa?" Aya menyahut.


"Beneran nggak ada barang dagangan kita yang ketinggalan?" kembali.Tante Laksmi bertanya.


Cahaya memindai seluruh barang dagangan mereka untuk memastikan. "Sepertinya sudah, Tante," jawab Aya.

__ADS_1


"Tapi, kenapa Tante merasa ada benda penting yang ketinggalan ya?" gumam Tante Laksmi yang juga ikut memindai barang dagangan mereka.


Cahaya pun kembali berpikir, hingga beberapa detik kemudian kedua wanita itu kompak membelalakkan matanya.


__ADS_2